Lecehkan 2 Putra Altar, Kardinal Australia Dihukum 6 Tahun Penjara
Australia dan Oseania

Lecehkan 2 Putra Altar, Kardinal Australia Dihukum 6 Tahun Penjara

Berita Internasional >> Lecehkan 2 Putra Altar, Kardinal Australia Dihukum 6 Tahun Penjara

Kardinal Australia George Pell dijatuhi hukuman enam tahun penjara atas pelecehan seksual yang ia lakukan terhadap dua bocah laki-laki. Pelecehan seksual itu dilakukan Pell pada tahun 90-an saat ia menjabat sebagai uskup agung. Vatikan menolak mengomentari kasus ini.

Oleh: Sonali Paul (Reuters)

Baca Juga: Paus Fransiskus akan Rilis Arsip Rahasia Vatikan dari Era Perang Dunia II

Mantan bendahara Vatikan Kardinal George Pell, dijatuhi hukuman enam tahun penjara, Rabu (13/3), karena melakukan pelecehan seksual terhadap dua anak laki-laki anggota paduan suara di Melbourne pada tahun 1990-an. Kardinal Australia ini juga akan terdaftar sebagai pelanggar seks selama sisa hidupnya.

Ketua Pengadilan Wilayah Victoria, Peter Kidd, yang menjatuhkan hukuman dalam siaran langsung televisi, mengatakan ada kemungkinan bahwa pada usia 77 tahun, Pell dapat menghabiskan sisa hidupnya di penjara.

Pell, mantan penasihat tinggi Paus Francis, adalah penganut Katolik paling senior yang dihukum karena pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Vonisnya semakin menguak skandal pelecehan pastor di jantung administrasi kepausan yang telah merusak kredibilitas Gereja di Amerika Serikat, Chili, Australia dan negara-negara lain selama tiga dekade terakhir.

“Dalam pandangan saya, perilaku Anda diresapi oleh kesombongan Anda,” kata Kidd saat menjatuhkan hukuman karena lima tuduhan pelecehan seksual terhadap dua anak.

“Dilihat secara keseluruhan, saya menganggap kesalahan moral Anda di kedua episode itu tinggi,” katanya kepada ruang sidang yang penuh sesak.

Pell, yang hadir di pengadilan tanpa kerah pastor untuk pertama kali selama kasus ini, tidak menunjukkan emosi selama sidang hukuman yang berlangsung lebih dari satu jam itu. Dia telah mempertahankan bantahan bahwa dia tidak bersalah dan telah mengajukan banding yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada bulan Juni.

Pelecehan terhadap dua bocah lelaki berusia 13 tahun terjadi setelah misa Minggu di akhir tahun 1996 dan awal 1997 di sebuah ruangan dan sebuah koridor di Katedral St Patrick di Melbourne, di mana Pell menjabat sebagai uskup agung.

Baca Juga: Opini Masyarakat tentang KTT Vatikan Terkait Pelecehan Seksual

Salah satu korbannya meninggal pada tahun 2014. Korban lainnya, yang bersaksi dan menjalani pemeriksaan saksi di persidangan, mengeluarkan pernyataan melalui pengacaranya mengatakan bahwa ia kesulitan untuk tidak kecewa dalam putusan itu untuk saat ini.

“Menjadi saksi dalam kasus pidana tidak mudah. Saya melakukan yang terbaik untuk menyatukan diri dan keluarga saya,” kata korban, yang tidak disebutkan namanya untuk melindungi identitas korban pelecehan seksual.

Selama persidangan, korban menceritakan apa yang dilakukan Pell kepada mereka, membelai alat kelamin mereka dan melakukan masturbasi dan memaksa seorang anak lelaki untuk melakukan seks oral padanya.

Pell dinyatakan bersalah oleh juri atas empat tuduhan tindakan tidak senonoh dan satu penetrasi seksual. Dia menghadapi hukuman maksimum 10 tahun penjara untuk setiap tuduhan.

“Kardinal Pell, saya menemukan keraguan yang tidak masuk akal bahwa, pada fakta spesifik dari kasus Anda, ada hubungan kepercayaan yang jelas dengan para korban, dan Anda melanggar kepercayaan itu dan menyalahgunakan posisi Anda untuk memfasilitasi pelanggaran ini,” kata Kidd.

Kidd berkata bahwa sebagai uskup agung, Pell akan “terlindungi” dan berpikir dia bisa mengendalikan situasi jika tertangkap. Dia juga mungkin percaya bahwa korbannya tidak akan mengeluh.

Selama persidangannya, pengacara Pell sendiri menggambarkan kardinal setinggi 1,9 meter (6 kaki dan 3 inci) itu sebagai “Darth Vader” dari Gereja Katolik.

Kidd mengatakan bahwa karena Pell mempertahankan bantahan tidak bersalahnya, yang merupakan haknya, dia tidak menunjukkan penyesalan atas tindakannya dan bahwa hukumannya mencerminkan hal itu.

Ayah korban yang meninggal, yang hadir di pengadilan untuk mendengar putusan hukuman, agak kecewa dengan vonis hukuman penjara itu, kata pengacaranya kepada Reuters.

“Ketika dia membandingkan apa yang dialami putranya dan keluarganya dan dia sendiri, hukuman itu terlalu ringan,” kata Lisa Flynn, seorang pengacara di Shine Lawyers, yang bekerja untuk ayah korban pada gugatan sipil terhadap Pell dan Gereja Katolik.

Baca Juga: Homoseksualitas: Topik Tak Resmi Paling Banyak Dibicarakan di Vatikan

GEREJA KATOLIK TIDAK DIADILI

Setelah hukuman dijatuhkan, Pell menandatangani dokumen terkait dengan pendaftarannya sebagai pelanggar seks, membungkuk kepada hakim dan kemudian, dibantu oleh tongkat, dikawal keluar dari pengadilan oleh lima petugas.

Paus Fransiskus, pemimpin 1,2 miliar umat Katolik dunia, mengakhiri konferensi tentang pelecehan seksual pada bulan Februari dengan menyerukan “pertempuran habis-habisan” melawan kejahatan yang harus “dihapus dari muka bumi”.

Nasib Pell di dalam gereja belum diputuskan. Vatikan mengatakan tidak akan mengomentari kasus ini sampai setelah banding.

Jika diberhentikan, Pell akan menjadi tokoh profil tertinggi yang diberhentikan dari imamat di zaman modern dan uskup Katolik Roma kedua yang kehilangan gelar kardinal dalam hampir 100 tahun.

Kidd memperjelas bahwa hukuman Pell semata-mata didasarkan pada kejahatan yang dijatuhkan oleh juri, dan bahwa Pell tidak akan dijadikan kambing hitam atas kegagalan atau anggapan kegagalan Gereja Katolik.

“Dalam pandangan saya, episode pertama dalam kesucian imam melibatkan serangan seksual yang berani dan keras pada dua korban,” kata Kidd.

“Perbuatannya sangat seksual. Kedua korban jelas tampak dan terdengar sedih selama pelecehan ini,” katanya, seraya menambahkan bahwa perilaku Pell memiliki “unsur jahat”.

Dia menetapkan masa bebas bersyarat selama tiga tahun dan delapan bulan. Pell akan terdaftar sebagai pelanggar seks seumur hidup.

“Saya sadar bahwa dengan hukuman penjara itu … mungkin Anda sudah tidak hidup lagi saat Anda dibebaskan dari penjara,” kata hakim.

Hanya hakim yang terlihat oleh pemirsa di siaran TV itu, yang berakhir segera setelah hukuman itu dijatuhkan.

“Ini adalah hari yang penting bagi para penyintas dan korban pelecehan seksual anak terutama di dalam Gereja Katolik, karena yang ditunjukkan kepada mereka saat ini adalah bahwa mereka dapat angkat bicara, bahwa pengadilan akan mempercayai mereka dan para pelaku kejahatan terhadap mereka akan dihukum dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan, terlepas dari posisi otoritas yang mereka miliki,” kata Flynn.

Pell dinyatakan bersalah pada bulan Desember, tetapi putusannya ditunda untuk dipublikasikan di Australia atas perintah pengadilan hingga 26 Februari, ketika tuduhan pelecehan seksual anak-anak terhadap Pell sejak tahun 1970-an dibatalkan.

Keterangan foto utama: Kardinal George Pell tiba di County Court di Melbourne, Australia, 27 Februari 2019. (Foto: Reuters/AAP Image/David Crosling)

Lecehkan 2 Putra Altar, Kardinal Australia Dihukum 6 Tahun Penjara

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top