Maduro
Amerika

Maduro Tolak Bantuan Amerika, Guaido Minta Militer Tak Blokir Bantuan

Berita Internasional >> Maduro Tolak Bantuan Amerika, Guaido Minta Militer Tak Blokir Bantuan

Berbagai organisasi kemanusiaan telah memperingatkan bahwa upaya untuk memaksa memasukkan bantuan ke negara itu akan berbahaya. Seorang pejabat tinggi AS pada hari Kamis (7/2) mengatakan bahwa Amerika tidak berencana untuk melakukannya. Palang Merah mendesak orang-orang Venezuela untuk tidak mempolitisasi masalah bantuan, tanpa mengatakan bagaimana atau apakah bantuan itu akan tiba.

Baca juga: [Berita Foto] Foto-Foto Demonstrasi Besar-Besaran di Venezuela

Oleh: Sarah Marsh dan Nelson Bocanegra (Reuters)

Pemerintah Venezuela pada hari Jumat (8/2) mengatakan bahwa Amerika Serikat harus mendistribusikan bantuan kemanusiaan di Kolombia, di mana persediaannya sedang ditimbun. Sementara itu, oposisi memperingatkan bahwa pemblokiran makanan dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sehari setelah konvoi bantuan tiba di kota perbatasan Cucuta, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mencemooh Amerika karena menawarkan sejumlah kecil bantuan sambil mempertahankan sanksi yang memblokir sekitar $10 miliar aset lepas pantai dan pendapatan.

Saingan Maduro, Juan Guaido, yang diakui oleh banyak negara sebagai pemimpin sah Venezuela, memperingatkan para perwira militer agar tidak menghalangi kedatangan bantuan di tengah penyakit yang meningkat dan kekurangan gizi yang disebabkan oleh hiperinflasi.

Seorang pekerja mengorganisir bantuan kemanusiaan untuk Venezuela di sebuah gudang dekat jembatan lintas batas Tienditas antara Kolombia dan Venezuela di Cucuta, Kolombia, 8 Februari 2019. (Foto: Reuters/Luisa Gonzalez)

“Ambil semua bantuan kemanusiaan itu dan berikan kepada orang-orang Cucuta, di mana ada banyak kebutuhan,” kata Maduro dalam konferensi pers. “Ini permainan yang mengerikan, Anda mengerti? Mereka menekan leher kami dan kemudian membuat kami meminta remah-remah. Mereka menawarkan kami tisu toilet, seperti yang dilemparkan Presiden AS Donald Trump kepada orang-orang Puerto Rico,” tutur Maduro di konferensi pers, yang mengalami kesulitan teknis termasuk pemadaman listrik dan kegagalan mikrofon. Maduro merujuk pada distribusi bantuan tahun 2018 yang diimprovisasi Trump di wilayah AS setelah badai, di mana ia melemparkan gulungan tisu toilet.

Seorang pekerja mengorganisir bantuan kemanusiaan untuk Venezuela di sebuah gudang dekat jembatan lintas batas Tienditas antara Kolombia dan Venezuela di Cucuta, Kolombia, 8 Februari 2019. (Foto: Reuters/Luisa Gonzalez)

Situasi mengerikan Venezuela telah memicu krisis politik yang telah memuncak pada bulan Januari 2019, dengan Guaido mengajukan ketentuan konstitusional untuk menyatakan dirinya sebagai presiden sementara yang sah. Juan Guaido, 35 tahun, berpendapat Maduro terpilih kembali tahun 2018 dalam pemilihan curang dan Venezuela harus mengadakan pemilihan presiden baru.

Lebih dari 40 negara termasuk Amerika Serikat, kekuatan Eropa utama, dan sebagian besar Amerika Latin telah mengakui Guaido sebagai kepala negara yang sah.

“Saya ingin melihat berapa banyak perwira militer yang bersedia melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan tidak membiarkan nyawa yang paling rentan diselamatkan, 250.000 hingga 300.000 orang berisiko mati jika mereka tidak segera mendapatkan perhatian,” kata Guaido dalam sebuah pertemuan mahasiswa.

Orang-orang mengorganisir bantuan kemanusiaan untuk Venezuela di sebuah gudang dekat jembatan lintas batas Tienditas antara Kolombia dan Venezuela di Cucuta, Kolombia, 8 Februari 2019. (Foto: Reuters/Luisa Gonzalez)

Para pejabat di gudang Cucuta mengorganisir makanan pokok dan produk sanitasi ke dalam karung selama acara yang dihadiri oleh Duta Besar AS untuk Kolombia Kevin Whitaker dan meminta angkatan bersenjata untuk membantunya menyeberang. Bantuan tampaknya tidak mungkin untuk memasuki Venezuela.

Baca juga: Krisis Berlarut, Bahaya Semakin Mengancam Venezuela

Berbagai organisasi kemanusiaan telah memperingatkan bahwa upaya untuk memaksa memasukkan bantuan ke negara itu akan berbahaya. Seorang pejabat tinggi AS pada hari Kamis (7/2) mengatakan bahwa Amerika tidak berencana untuk melakukannya. Palang Merah mendesak orang-orang Venezuela untuk tidak mempolitisasi masalah bantuan, tanpa mengatakan bagaimana atau apakah bantuan itu akan tiba.

Para pekerja mengorganisir bantuan kemanusiaan untuk Venezuela di sebuah gudang dekat jembatan lintas batas Tienditas antara Kolombia dan Venezuela di Cucuta, Kolombia, 8 Februari 2019. (Foto: Reuters/Luisa Gonzalez)

Dalam perkembangan yang ironis, sebuah kapal angkatan laut Venezuela yang dipenuhi peralatan yang dikirim oleh pemerintah Maduro untuk membantu Kuba membangun kembali setelah tornado menghantam Havana bulan Januari 2019 tiba di pelabuhan kota pada hari Jumat (8/2), menurut laporan media pemerintah Kuba. Kuba adalah salah satu dari sedikit sekutu Venezuela yang tersisa di wilayah tersebut, meskipun Venezuela tetap mendapat dukungan kuat dari Rusia, China, dan Turki, yang telah memperingatkan pihak lain agar tidak ikut campur dalam urusan dalam negerinya.

Administrasi Trump pekan lalu mengeluarkan sanksi besar-besaran terhadap perusahaan minyak negara PDVSA, membekukan keuntungan yang dihasilkan oleh anak perusahaan penyulingan Citgo, dan telah berjanji untuk memblokir pemerintah Maduro dari perolehan pendapatan.

Baca juga: Pengakuan Seorang Jenderal: Mengapa Militer Venezuela Masih Dukung Maduro

Maduro mengatakan bahwa pemblokiran pengiriman minyak negara OPEC akan menjadi “bencana” ekonomi dan sosial bagi Venezuela. Maduro menambahkan bahwa siapa pun yang menerima penunjukan dari Guaido ke pos-pos di PDVSA atau Citgo akan “menghadapi keadilan.”

Negara-negara Eropa telah secara luas mengkritik Maduro, tetapi telah berusaha untuk menyerang sikap agresif Amerika dengan mendesak dilakukannya dialog.

Maduro mengatakan dia bersedia bertemu dengan utusan yang disebut International Contact Group, yang didukung oleh Uni Eropa, tetapi mengatakan pernyataan dari pertemuan pertamanya pada hari Kamis (7/2) yang bersifat partisan dan ideologis.

“Anda mengabaikan realitas revolusi dengan warisan demokrasi selama 20 tahun. Anda hanya mengikuti maskah yang ditulis oleh ekstrem kanan,” katanya.

Para kritikus mengatakan bahwa tiga putaran dialog sebelumnya telah memungkinkan Partai Sosialis yang berkuasa untuk mengulur waktu tanpa menghasilkan konsesi berarti pada isu-isu utama, termasuk politisi oposisi yang dipenjara dan transparansi pemilu.

Guaido mengatakan bahwa waktu untuk berdialog telah habis.

Laporan oleh Sarah Marsh di Caracas dan Nelson Bocanegra di Cucuta, Colombia. Laporan tambahan oleh Helen Murphy, Mayela Armas, Brian Ellsworth, Deisy Buitrago, dan Shaylim Castro. Diedit oleh Brian Ellsworth, Jeffrey Benkoe, dan James 

Keterangan foto utama: Presiden Venezuela Nicolas Maduro menghadiri pertemuan untuk mendukung pemerintahannya di Caracas, Venezuela, 7 Februari 2019. (Foto: Reuters/Carlos Barria)

Maduro Tolak Bantuan Amerika, Guaido Minta Militer Tak Blokir Bantuan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top