Granat di Masjid Filipina
Asia

Serangan Granat di Masjid Filipina, 2 Orang Tewas

Berita Internasional >> Serangan Granat di Masjid Filipina, 2 Orang Tewas

Dua orang tewas dalam serangan granat di Masjid Filipina, menyusul ledakan mematikan di sebuah gereja katedral, dan setelah pemungutan suara yang mendukung pemerintahan sendiri oleh Muslim Bangsamoro. Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Presiden Rodrigo Duterte, Salvador Panelo, mengatakan bahwa para penyerang “mengejek” pemerintah terkait penanganan situasi perdamaian dan ketertiban di Mindanao. Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab.

Baca juga: Pasca-Bom Gereja ISIS di Filipina, Kota Jolo Ditutup

Oleh: Al Jazeera

Setidaknya dua orang tewas dan empat lainnya cedera dalam serangan granat di masjid Filipina selatan, kata pejabat setempat.

Serangan di kota Zamboanga terjadi pada dini hari pada Rabu (30/1), hanya beberapa hari setelah ledakan ganda yang mematikan terjadi di sebuah katedral Katolik Roma di pulau Jolo, dan setelah pemungutan suara yang mendukung pemerintahan sendiri oleh Muslim yang lebih luas di Mindanao, wilayah paling selatan yang bergejolak di negara itu.

“Sebuah granat dilemparkan ke dalam sebuah masjid yang menewaskan dua orang dan melukai empat lainnya,” kata juru bicara militer regional Letnan Kolonel Gerry Besana kepada kantor berita AFP tentang serangan di Zamboanga.

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Presiden Rodrigo Duterte, Salvador Panelo, mengatakan bahwa para penyerang “mengejek” pemerintah terkait penanganan situasi perdamaian dan ketertiban di Mindanao.

“Terorisme sekali lagi menunjukkan sifatnya yang biadab dan buruk,” kata Panelo.

Para korban dilaporkan sedang tidur di dalam masjid pada saat serangan itu, yang mendapat kecaman langsung dari para pejabat setempat.

“Tidak ada yang dapat menebus pembunuhan keji seperti itu. Ini adalah bentuk pengecut dan penistaan tertinggi untuk menyerang orang-orang yang beribadah,” kata pemimpin regional Mujiv Hataman.

“Kami menyerukan orang-orang dari semua agama… untuk bersama-sama berdoa untuk perdamaian.”

Dewan Ulama Semenanjung Zamboanga mengecam apa yang disebutnya sebagai “tindakan jahat, tidak rasional, dan tidak manusiawi”, dan mendesak masyarakat untuk waspada.

Tidak ada klaim tanggung jawab segera.

Militer menyerukan persatuan di antara komunitas Mindanao dan mendesak publik untuk menahan diri dari spekulasi di media sosial yang dapat menyebarkan informasi yang salah.

Sumber: Al Jazeera

Komandan satuan tugas regional Kolonel Leonel Nicolas menekankan bahwa insiden itu “bukan tindakan pembalasan” atas pengeboman gereja tiga hari sebelumnya.

Negara itu dalam keadaan siaga tinggi, setelah dua ledakan selama kebaktian Minggu di Katedral Our Lady of Mount Carmel di kota Jolo, Provinsi Sulu, menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai lebih dari 100 orang lainnya.

Kelompok Negara Islam Irak dan Levant (ISIL, juga dikenal sebagai ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas ledakan katedral itu—salah satu insiden kekerasan terburuk di wilayah selatan Filipina yang bergolak.

Presiden Rodrigo Duterte menyalahkan Abu Sayyaf—sebuah kelompok bersenjata domestik yang telah berjanji setia kepada ISIS dan telah melakukan berbagai pengeboman, penculikan, dan pemenggalan di Mindanao—karena telah melakukan pengeboman gereja itu.

Petugas penyelamat berupaya menyadarkan korban setelah serangan granat. (Foto: Zamboanga Quick Response System via Reuters)

“Tidak ada seorang pun yang dapat mengabadikan terorisme semacam itu di daerah ini,” katanya minggu ini saat berkunjung ke wilayah tersebut.

Insiden-insiden itu menyusul referendum tanggal 21 Januari yang sukses dan damai, yang menyetujui otonomi bagi sekitar lima juta penduduk dari sebagian besar wilayah Muslim di Mindanao.

Baca juga: Pemboman Katedral Filipina, ISIS Klaim Bertanggung Jawab

Pemilu itu menyusul perjuangan separatis selama puluhan tahun yang telah menewaskan sedikitnya 120 ribu orang.

Muslim adalah minoritas di Filipina yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, dan mewakili sekitar seperempat populasi di wilayah Mindanao.

Kekerasan sektarian tidak sering terjadi di sana, dan rencana otonomi—yang bertujuan untuk mengatasi kemiskinan kronis, keterbelakangan, dan kekerasan—sebagian besar didukung oleh masyarakat Filipina secara nasional.

Keterangan foto utama: Serangan di Zamboanga terjadi hanya beberapa hari setelah ledakan ganda mematikan di sebuah gereja Katolik di Jolo. (Foto: AP/Tentara Filipina)

Serangan Granat di Masjid Filipina, 2 Orang Tewas

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top