krisis venezuela
Amerika

Tinggalkan Venezuela Demi Kehidupan Lebih Baik—Sekarang Terpaksa Jual Diri

Berita Internasional >> Tinggalkan Venezuela Demi Kehidupan Lebih Baik—Sekarang Terpaksa Jual Diri

Krisis Venezuela telah mendorong semua lapisan masyarakat untuk meninggalkan negara mereka demi mencari makanan, obat-obatan, dan kehidupan yang lebih baik, dan negara tetangga Kolombia merasakan dampak dari hal itu. Para wanita yang pergi meninggalkan Venezuela harus menerima kenyataan terburuk demi memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Dengan bercucuran air mata, para wanita itu–beberapa di antaranya adalah wanita profesional yang pernah merintis karier–menceritakan pada CNN tentang bagaimana mereka kini harus menjual diri demi sesuap nasi. Oleh: Isa Soares dan natalie Gallón (CNN)

Baca Juga: Krisis Venezuela dalam 5 Grafik

Korban manusia akibat krisis Venezuela terlihat jelas di wajah para wanita.

Mereka berbicara dengan rasa sakit di suara mereka dan kesedihan di mata mereka. Pada mulanya tenang, kemudian mereka akhirnya mengatakan, melalui air mata, bagaimana mereka berada dalam situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya: menjual diri mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Mariza, seorang perawat bersertifikat, melakukan perjalanan melintasi perbatasan dari Venezuela ke Kolombia dua tahun lalu, meninggalkan ibu dan tiga anaknya. Seperti kebanyakan imigran dengan karier profesional, ia berharap menemukan pekerjaan di bidangnya sendiri, tetapi ketika berkali-kali ditolak dan bahkan tidak mendapatkan pekerjaan bersih-bersih, Mariza mendapati dirinya membuat keputusan yang mustahil.

“Melayani satu pria dalam satu hari dan pria lainnya di hari berikutnya,” katanya tentang bagaimana ia jatuh ke dunia pelacuran, tidak mudah, dan berbahaya. Tetapi sebagai seorang ibu, “saya melakukan apa yang harus saya lakukan.” Nama Mariza telah diubah untuk melindungi identitasnya, seperti nama-nama lain dalam laporan ini.

Kekecewaan terdengar dalam suaranya ketika dia berbicara tentang waktu yang dihabiskannya untuk belajar namun akhirnya tidak dapat bekerja sebagai perawat. “Ini membuat saya frustrasi karena saya menyadari bahwa saya telah bekerja keras. Lima tahun saya habiskan untuk belajar, mempersiapkan—saat ini saya merasa bahwa saya telah kehilangan lima tahun saya karena saya tidak bisa bekerja sebagai perawat,” katanya, air mata mengalir di wajahnya.

Dulu, dia adalah seorang wanita dengan karier dan impian, tetapi krisis di Venezuela menciptakan spiral yang tidak bisa dia kendalikan.

Sebagai perawat bersertifikat, upah dari 15 hari kerjanya hanya cukup untuk membeli sekantong tepung. Belanja kebutuhan rumah tangga jadi cobaan yang berat baginya, dan bahkan pada saat itu Mariza tidak dapat menemukan barang-barang yang dibutuhkannya, seperti popok untuk bayinya.

Menurut Mariza, orang-orang menginap di depan toko-toko, menunggu untuk diberi nomor keesokan paginya. Dengan tiket di tangan, pelanggan akan menunggu di luar untuk membeli apa pun yang mungkin dimiliki toko hari itu. “Kami tidak punya pilihan selain membeli apa pun yang ada dalam stok,” katanya.

Baca Juga: Krisis Venezuela: Siapa, Mengapa, dan Apa Penyebabnya?

‘Kami selalu memilih Chavez’

Selama bertahun-tahun, Venezuela mendukung Presiden Nicolás Maduro yang, seperti pendahulunya, Hugo Chavez, menggunakan kekayaan minyak negara itu untuk mendanai program-program sosial. Tetapi ketika harga minyak mulai turun, dan ekonomi goyah, banyak rakyat Venezuela mulai memprotes pemerintah.

Mariza ada di antara mereka. Seluruh keluarganya mendukung Chavez. “Kami selalu memilih Chavez,” katanya, menyalahkan mantan pemimpin dan presiden saat ini atas kesalahan manajemen negara yang menyebabkan krisis ini.

Di masa lalu, “tidak ada kelaparan, tidak ada kekurangan, tidak ada pemisahan,” kata Mariza, menjelaskan bahwa ketika kondisi baik-baik saja, kami meninggalkan negara itu “untuk liburan, bukan karena kebutuhan.”

Keputusasaan keluarganya membawa dia ke sini, ke Cúcuta—sebuah kota perbatasan dengan salah satu tingkat pengangguran tertinggi di Kolombia—di mana dia berjuang setiap hari untuk menghasilkan uang yang cukup untuk membeli makanan dan mengirim makanan, popok, dan persediaan dasar untuk ibu dan anak-anaknya.

Jika ibunya mengetahui apa yang dia lakukan, apakah dia akan mengerti? “Ibu saya adalah ibu yang terbaik. Ibu saya adalah segalanya,” katanya, suaranya pecah lagi. “Dan saya tahu bahwa di hari dia mengetahui apa yang saya lakukan, untuk alasan apa pun, itu akan menyakitinya tetapi dia tidak akan menghakimi saya.”

“Saya melakukan hal-hal yang kelihatannya tidak baik untuk bertahan hidup”

Krisis ekonomi telah mendorong rakyat Venezuela dari semua lapisan masyarakat untuk meninggalkan negara mereka demi mencari makanan, obat-obatan, dan kehidupan yang lebih baik, dan negara tetangga Kolombia merasakan dampak dari hal itu.

Lebih dari tiga juta rakyat Venezuela telah meninggalkan rumah mereka, dengan satu juta beremigrasi ke negara tetangga Kolombia, kata UNHCR pada bulan November. Mantan pengacara Malcia tiba lebih dari seminggu yang lalu, meninggalkan kedua anaknya bersama dengan orang tuanya yang berusia 64 tahun.

“Saya hanya bisa memberi mereka sarapan, kadang-kadang hanya makan siang, dan kadang-kadang mereka tidur tanpa makan. Mereka pergi ke sekolah. Saya bahkan melakukan hal yang mustahil,” katanya, merasa sulit untuk berbicara tentang realitas kehidupan barunya.

Dia datang ke Kolombia dengan harapan menemukan pekerjaan sebagai pembersih, pengasuh anak, “apa pun.” Bahkan ketika dia berkali-kali ditolak, dia tidak pernah membayangkan dirinya “mencapai tingkat ekstrem ini.” Menyeka air mata, dia berkata, “ketika saya berada di Venezuela, saya hampir menjadi gila, dan di sini saya juga bisa menjadi gila karena saya melakukan hal-hal yang kelihatannya tidak baik untuk bertahan hidup.”

Ini adalah beban yang membebani dirinya terus-menerus. “Saya berlutut di malam hari untuk meminta kepada Tuhan—Saya bahkan pernah ke gereja untuk meminta pengampunan dari Tuhan—karena saya memikirkan wajah kecil anak-anak saya, orang tua saya … Itu tidak mudah, teman, tidak mudah,” dia kata.

“Saya adalah anak yang membesarkan anak”

Bukan hanya wanita profesional yang putus asa. Di lautan ribuan migran, ada wanita muda, Erica, yang mendapati dirinya tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Baru berusia 17 tahun, Erica menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan putranya yang berusia tujuh bulan, yang ia bawa melintasi perbatasan Kolombia di lengannya.

Mencari pekerjaan di Cúcuta, dengan tingkat pengangguran yang tinggi, terbukti sulit, dan karena ia di bawah umur, mencari pekerjaan menjadi tambah sulit, katanya, jadi dia diberi “pilihan—yang terburuk di sana.”

Jika bukan karena Maduro dan pemerintahannya, katanya, dia akan belajar untuk menjadi dokter hewan. Dan meskipun harus melepaskan mimpinya, dia berkata, sebagai seorang ibu, dia akan melakukan apa saja.

“Saya tidak akan membiarkan anakku tanpa popok, tanpa botol susu,” katanya. Pada akhirnya, dia berkata, “Saya seorang ibu, tetapi saya menganggap diri saya sebagai seorang anak yang sedang membesarkan seorang anak.”

Baca Juga: Opini: Nicolas Maduro Tak Akan Hentikan Krisis Venezuela

Keterangan foto utama: Pendukung oposisi ikut serta dalam demonstrasi di Caracas. Sebuah papan bertuliskan: “Pemilihan umum yang bebas”. (Foto: Reuters/Andres Martinez Casares)

Tinggalkan Venezuela Demi Kehidupan Lebih Baik—Sekarang Terpaksa Jual Diri

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top