Juan Guaido
Amerika

Parlemen Eropa Akui Juan Guaido sebagai Pemimpin Venezuela Sementara

Juan Guaido berbicara kepada media selama protes terhadap pemerintah Nicolás Maduro di Caracas. (Foto: Reuters/Carlos García Rawlins)
Berita Internasional >> Parlemen Eropa Akui Juan Guaido sebagai Pemimpin Venezuela Sementara

Parlemen Eropa mengakui Juan Guaido sebagai pemimpin Venezuela sementara melalui pemungutan suara. Negara-negara utama Uni Eropa pun siap untuk mengakui Guaido sebagai Presiden Venezuela sementara yang sah, jika Maduro menolak untuk mengadakan pemilu baru pada Minggu (3/2). Guaido sebelumnya mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin Venezuela sementara, setelah menyatakan bahwa Nicolas Maduro tidak sah menjabat sebagai presiden. Kepemimpinan Guaido juga telah didukung oleh Amerika Serikat.

Baca juga: Apa Selanjutnya untuk Venezuela? Ini 4 Kemungkinan Terbesar

Oleh: Patrick Wintour (The Guardian)

Parlemen Eropa telah mengakui pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido sebagai kepala negara secara de facto, yang meningkatkan tekanan terhadap Nicolás Maduro, di tengah kecaman atas penangkapan wartawan asing yang bertugas melaporkan kekacauan di negara itu.

Parlemen Eropa melakukan pemungutan suara dengan hasil 439 mendukung, 104 menolak, dan 88 abstain, pada sesi khusus di Brussels untuk mengakui kepala kongres Venezuela Guaido sebagai pemimpin sementara. Dalam sebuah pernyataan, parlemen mendesak 28 pemerintah di blok tersebut untuk menyusul dan menyatakan Guaido sebagai “satu-satunya presiden sementara yang sah” sampai ada “pemilihan presiden baru yang bebas, transparan, dan kredibel”.

“Parlemen telah berbicara. Bagi kami, Guaido adalah Presiden Venezuela dan kami berharap Uni Eropa akan menemukan posisi bersatu dalam hal ini,” Jeremy Hunt, Menteri Luar Negeri Inggris, mengatakan kepada para wartawan pada saat kedatangan pada pertemuan dua hari para Menteri Luar Negeri Uni Eropa (UE) di Bukares. Uni Eropa telah memberlakukan embargo senjata dan sanksi terhadap para pejabat Venezuela, tetapi Hunt menginginkan blok itu untuk menjatuhkan sanksi yang ditargetkan lebih lanjut.

Pada Kamis (31/1), kantor berita Spanyol EFE mengatakan bahwa tiga wartawannya—seorang wartawan Spanyol, seorang fotografer Kolombia, dan seorang produser TV Kolombia—yang telah ditahan pada Rabu (30/1), dibebaskan dan dideportasi. Dua jurnalis Prancis yang ditahan yang bekerja untuk saluran televisi TMC juga dibebaskan pada Kamis (31/1).

“Kami sangat yakin bahwa semua jurnalis harus dapat menjalankan tugas, tanggung jawab, dan hak mereka dalam melaksanakan pekerjaan mereka,” kata Federica Mogherini, kepala kebijakan luar negeri UE, di Bukares.

Erika Guevara-Rosas, Direktur Amnesty International di Amerika, mengatakan: “Penahanan para jurnalis adalah hal yang mencolok dan sangat terkait dengan serangan terhadap kebebasan berekspresi dan hak atas kebenaran. Pers bebas merupakan dasar untuk membela hak asasi manusia di negara mana pun di dunia.”

Berbicara di radio BBC, Hunt mengatakan bahwa bencana kemanusiaan sedang berlangsung di Venezuela, di mana warga berjuang untuk menemukan sisa-sisa makanan. “Kami tidak mempertimbangkan sanksi terhadap seluruh negara karena ada situasi kemanusiaan dan kami tidak ingin memperburuk situasi,” katanya. “Tetapi sanksi yang ditargetkan terhadap para kleptokrat yang telah memperkaya diri mereka sendiri di belakang masyarakat yang sangat miskin, itu adalah sesuatu yang saya pikir bisa efektif.”

perang dingin

Presiden Rusia Vladimir Putin, kanan, menyambut Presiden Venezuela Nicolas Maduro di kediaman Novo-Ogaryovo di luar Moskow, Rusia, 5 Desember 2018. (Foto: Maxim Shemetov via AP)

Negara-negara utama UE siap untuk mengakui Guaido sebagai Presiden Venezuela sementara yang sah, jika Maduro menolak untuk mengadakan pemilu baru pada Minggu (3/2). Tetapi tidak semua negara Uni Eropa mengeluarkan ultimatum tersebut, dan Rusia ingin melihat apakah perpecahan ini dapat dihargai secara terbuka. Moskow sejauh ini menawarkan dukungan penuh untuk Maduro. Diperkirakan Rusia telah menginvestasikan £13 miliar untuk Venezuela melalui pembiayaan utang negara dan melalui kesepakatan minyak dan senjata.

Anggota pemerintahan Maduro telah menolak dan mengolok-olok ultimatum negara-negara Uni Eropa tersebut, yang akan ditandai dengan satu hari protes pro-oposisi pada Sabtu (2/2).

Baca juga: Catatan Bolton Picu Pertanyaan atas Rencana Militer Amerika di Venezuela

“Orang-orang dari Uni Eropa yang menganggap Venezuela adalah sebuah koloni telah memberi kami delapan hari untuk mengadakan pemilu dan batas waktu habis pada Sabtu (2/2),” kata pemimpin partai sosialis yang berkuasa Diosdado Cabello, dalam sebuah pawai umum di kota utara Coro pada Rabu (30/1).

“Betapa menakutkan. Mengerikan sekali!” tambah Cabello mengejek. “Apakah AS akan terlibat dalam serangan terhadap Venezuela?”

Maduro menuduh Donald Trump dan “sekelompok ekstremis di sekitarnya” merencanakan untuk menggulingkannya guna merebut minyak Venezuela, dan mengatakan bahwa Trump berisiko mengubah negara itu menjadi Vietnam baru.

Pengadilan tertinggi Venezuela telah memberlakukan larangan perjalanan dan pembatasan keuangan terhadap Guaido, termasuk membekukan rekening banknya.

Guaido (35 tahun)—seorang mantan pemimpin mahasiswa dan Ketua Majelis Nasional yang dijalankan oposisi Venezuela—telah berada di garis depan dalam upaya baru untuk memaksa Maduro mundur dari kekuasaan.

Dia mengatakan dalam sebuah opini untuk New York Times pada Rabu (30/1), bahwa dia telah mengadakan pertemuan “rahasia” dengan militer untuk mencoba membujuk mereka agar menarik dukungan mereka untuk Maduro. Para pengunjuk rasa berbaris di Caracas pada Rabu (30/1), untuk menyerukan Maduro untuk mundur.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Spanyol El País, Guaido mengulangi seruan kepada angkatan bersenjata Venezuela untuk memihaknya. “Saya yakin bahwa pada titik tertentu, militer pada akhirnya akan menyuarakan ketidakpuasan mereka, dan mengambil kesempatan ini untuk berdiri memihak Konstitusi. Dan bukan hanya karena kami mengusulkan amnesti,” katanya.

Dia menambahkan bahwa dia yakin tidak ada risiko perang saudara, “karena 90 persen dari populasi menginginkan perubahan”, tetapi terdapat risiko kekerasan dari pemerintah Maduro.

Keterangan foto utama: Juan Guaido berbicara kepada media selama protes terhadap pemerintah Nicolás Maduro di Caracas. (Foto: Reuters/Carlos García Rawlins)

Parlemen Eropa Akui Juan Guaido sebagai Pemimpin Venezuela Sementara

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top