Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS Lakukan Kunjungan Dadakan ke Irak
Amerika

Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS Lakukan Kunjungan Dadakan ke Irak

Berita Internasional >> Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS Lakukan Kunjungan Dadakan ke Irak

Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Amerika Serikat Patrick M. Shanahan mengunjungi Irak secara mendadak. Perjalanan Shanahan akan rumit—atau, mungkin, perlu dilakukan—setelah sebuah wawancara yang diberikan Presiden Trump bulan ini yang mengatakan bahwa pasukan Amerika dapat dikirim ke Irak untuk mengawasi negara tetangganya Iran, yang merupakan sesama negara Syiah. Menanggapi pernyataan Presiden Trump, para politisi Irak mempercepat diskusi tentang undang-undang yang akan secara ketat membatasi jumlah pasukan Amerika yang diizinkan, kegiatan mereka, dan durasi tinggal mereka.

Oleh: Alissa J. Rubin (The New York Times)

Baca Juga: Pertemuan Menteri Pertahanan Soroti Hubungan Militer Indonesia-Rusia

Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Patrick M. Shanahan, tiba di Baghdad pada Selasa (12/2) pagi untuk kunjungan dadakan dengan para pemimpin Irak. Kedua pihak akan membahas kehadiran pasukan Amerika di negara itu dan perang melawan sisa-sisa ISIS.

Perjalanan Shanahan bertepatan dengan rencana penarikan pasukan Amerika dari Suriah dan pertanyaan tentang apakah sebagian dari pasukan itu dapat berpangkalan di Irak, yang akan digunakan sebagai pangkalan untuk operasi di Suriah.

Perjalanan Shanahan akan rumit—atau, mungkin, perlu dilakukan—setelah sebuah wawancara yang diberikan Presiden Trump bulan ini yang mengatakan bahwa pasukan Amerika dapat dikirim ke Irak untuk mengawasi negara tetangganya Iran, yang merupakan sesama negara Syiah.

Sejak itu, para politisi Irak—yang banyak bersimpati kepada Iran—menjadi geram, dan mengatakan bahwa pemerintah asing tidak memiliki hak untuk menggunakan wilayah Irak untuk menyerang negara tetangga.

Pentagon—dalam sebuah pernyataan yang tampaknya bertujuan untuk menenangkan kekhawatiran atas komentar Trump terkait Iran—mengatakan bahwa Shanahan dan Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mehdi, telah menegaskan kembali “hubungan keamanan bilateral yang tumbuh” antara negara mereka, dan mencatat bahwa “kemitraan didasarkan pada mengalahkan ISIS.”

Masih ada sekitar 2.000 tentara Amerika di Suriah, banyak dari mereka adalah pasukan operasi khusus yang memerangi militan ISIS bersama dengan tentara Kurdi Suriah. Mereka telah secara drastis memangkas teritori ISIS, menyelamatkan satu atau dua kantong gerilyawan di timur jauh Suriah. Tetapi Trump telah memerintahkan pasukan untuk menyerahkan pertempuran ke pemain lain, termasuk tentara Suriah, tentara Rusia yang berperang dengan mereka, dan Turki.

Para pemimpin militer telah menentang perintah itu, baik karena mereka mengatakan bahwa ISIS masih menjadi ancaman, maupun bahwa mundur sekarang berarti meninggalkan Kurdi Suriah, yang dalam banyak kasus telah dipersenjatai, dilatih, dan berperang bersama AS.

Baca Juga: Apa yang Akan Terjadi Setelah AS Tarik Pasukan dari Suriah?

Turki menganggap Kurdi Suriah, Pasukan Demokrat Suriah, sebagai lengan militer PKK—sebuah kelompok teroris Kurdi terlarang di mata Ankara. Turki tidak melakukan banyak upaya untuk menyembunyikan niat mereka untuk mengusir Kurdi jauh dari perbatasan Turki, dan mungkin sepenuhnya keluar dari Suriah.

Ketika dia meninggalkan Washington, Shanahan tidak mengatakan apakah dia akan meminta Irak untuk menjadi tuan rumah bagi beberapa pasukan operasi khusus yang sekarang beperang di Suriah. Namun, ada diskusi tentang kemungkinan itu di kalangan militer di Baghdad dan Washington. Dari Irak, secara teori, mereka dapat membantu menghabisi ISIS dan memberikan dukungan kepada pasukan Kurdi Suriah.

Saat ini ada sekitar 5.200 tentara Amerika di Irak, yang terutama terlibat dalam pelatihan militer Irak dan kadang-kadang membantu pasukan Irak dengan memberikan pengintaian dan dukungan udara dalam perang mereka melawan pejuang ISIS di Irak. Meskipun telah ada penurunan drastis dalam jumlah serangan ISIS di Irak, namun masih terdapat setidaknya satu atau dua serangan setiap hari.

Salah satu gagasan terkait para pasukan Amerika Serikat yang datang ke Irak dari Suriah adalah, bahwa para komandan tampaknya lebih suka meninggalkan beberapa ratus pasukan operasi khusus di dekat perbatasan Suriah sehingga mereka dapat memiliki akses mudah ke Suriah.

Tetapi segala sesuatunya menjadi rumit dengan pernyataan Trump bahwa ia ingin menjaga pasukan Amerika berada di Irak untuk mengawasi Iran.

Menanggapi pernyataan Presiden Trump, para politisi Irak mempercepat diskusi tentang undang-undang yang akan secara ketat membatasi jumlah pasukan Amerika yang diizinkan, kegiatan mereka, dan durasi tinggal mereka.

Pertentangan ini hampir tidak mengejutkan, karena Iran telah secara aktif melobi di Irak dan menjangkau Muslim Syiah dan Sunni dalam berbagai masalah. Iran sangat ingin menghindari peningkatan kehadiran pasukan Amerika Serikat di Irak atau mengindari penempatan lebih banyak pasukan Amerika di dekat perbatasannya. Saat ini, hanya beberapa kontingen kecil Amerika yang aktif di Irak timur, di mana mereka membantu Tentara Irak melawan kantong-kantong perlawanan ISIS.

Sampai Trump mengunjungi Pangkalan Udara Al Asad pada bulan Desember—yang menyoroti kehadiran Amerika di negara itu—militer Amerika tetap tidak menonjolkan diri, bekerja sama dengan Tentara Irak dalam melawan ISIS. Namun, kunjungan Trump—yang tidak termasuk pertemuan dengan tokoh-tokoh politik Irak, meskipun ia berbicara dengan perdana menteri melalui telepon—membuat marah warga Irak yang melihat bahwa sikapnya lancang.

Baca Juga: Penyelidikan Mueller Batalkan Rencana Trump Rundingkan Nuklir dengan Rusia

Keterangan foto utama: Tentara Amerika berpatroli di daerah pedesaan dekat pos terdepan koalisi di Irak barat, pada bulan lalu. (Foto: Associated Press/Susannah George)

Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS Lakukan Kunjungan Dadakan ke Irak

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top