bom di Kashmir
Asia

Serangan Kashmir: Pensiunan Jenderal India Peringatkan Risiko Serang Pakistan

Berita Internasional >> Serangan Kashmir: Pensiunan Jenderal India Peringatkan Risiko Serang Pakistan

Seorang pensiunan jenderal India memperingatkan, agar pemerintahnya berhati-hati jika ingin menyerang Pakistan atas peristiwa bom bunuh diri yang menewaskan puluhan tentara India. Menteri Luar Negeri Pakistan Tehmina Janjua membantah tuduhan India tentang keterlibatan Pakistan dalam serangan itu, dan pada hari Sabtu (16/2) mengatakan bahwa itu adalah bagian dari “retorika dan taktik” pemerintah India untuk mengalihkan perhatian dunia dari pelanggaran hak asasi manusia. Menurut juru bicara kementerian luar negeri Mohammad Faisal, Janjua menyerukan implementasi resolusi PBB untuk menyelesaikan masalah Kashmir ini.

Baca Juga: Pelajaran dari Pengeboman Kashmir: AS Harus Lebih Keras pada Pakistan

Oleh: Aijaz Hussain (Associated Press)

Ketika India mempertimbangkan tanggapannya atas bom mobil bunuh diri konvoi paramiliter di wilayah Kashmir yang disengketakan yang menewaskan puluhan tentara, seorang pensiunan jenderal yang mengawasi serangan militer terhadap negara tetangga Pakistan pada tahun 2016 telah memperingatkan agar berhati-hati.

Seorang militan Kashmir setempat menabrakkan van yang didalamnya terdapat bahan peledak ke dalam bus konvoi pada hari Kamis (14/2), menewaskan 41 tentara dan melukai dua lusin warga dalam serangan terburuk terhadap pasukan pemerintah India dalam sejarah Kashmir ini. India menyalahkan serangan itu pada Pakistan dan berjanji akan mengirim “tanggapan yang menghancurkan.” Pemerintah India menuduh negara musuh bebuyutannya itu mendukung militan pemberontak di Kashmir, sebuah tuduhan yang dibantah pemerintah Pakistan.

Pensiunan jenderal tersebut, Letnan Jenderal DS Hooda, mengatakan kepada The Associated Press pada hari Sabtu (16/2) bahwa walaupun “semacam serangan (militer) terbatas (terhadap Pakistan) lebih mungkin terjadi,” ia berharap akan ada “pertimbangan kembali dan rekonsiliasi” semua pihak di konflik itu.

Mantan jenderal tersebut, yang bertanggung jawab atas komando militer di perbatasan dengan Pakistan dalam operasi Kashmir dan kontra-pemberontakan, mengawasi “serangan bedah” India pada September 2016 setelah militan menyerang sebuah pangkalan militer di kota perbatasan Uri dekat Garis Kontrol yang sangat termiliterisasi.

Sembilan belas tentara India dan tiga penyerang tewas dalam serangan itu. India langsung menyalahkan Pakistan karena mendukung para penyerang itu, yang pemerintah India duga adalah warga negara Pakistan.

Pada puncak pemberontakan sipil tahun 2016 yang dipicu oleh pembunuhan seorang pemimpin pemberontak Kashmir, Hooda menyerukan semua pihak untuk mengambil langkah mundur dari konfrontasi yang mematikan, menyarankan bahwa inisiatif politik sebaiknya diambil sebagai ganti dari konfrontasi itu. Itu adalah langkah langka oleh seorang jenderal militer India di Kashmir.

Di tahun yang sama ketika serangan di pangkalan di Uri terjadi, Hooda memerintahkan apa yang oleh pemerintah India sebut sebagai “serangan bedah” terhadap militan di bagian Kashmir yang dikuasai Pakistan―yang menurut India melibatkan pasukan khusus negara itu yang menewaskan sejumlah pemberontak yang tidak diketahui jumlahnya. Pakistan membantah bahwa serangan itu pernah terjadi, menuntut agar India menghasilkan bukti untuk mendukung klaim tersebut.

Hooda sejak itu mengatakan bahwa sensasi konstan “serangan bedah” tidak beralasan.

Baca Juga: Bom Bunuh Diri di Kashmir Tewaskan 42 Pasukan Keamanan India

Menteri Luar Negeri Pakistan Tehmina Janjua membantah tuduhan India tentang keterlibatan Pakistan dalam serangan itu, dan pada hari Sabtu (16/2) mengatakan bahwa itu adalah bagian dari “retorika dan taktik” pemerintah India untuk mengalihkan perhatian dunia dari pelanggaran hak asasi manusia. Menurut juru bicara kementerian luar negeri Mohammad Faisal, Janjua menyerukan implementasi resolusi PBB untuk menyelesaikan masalah Kashmir ini.

Kashmir terbagi antara India dan Pakistan dan diklaim oleh kedua negara tersebut secara keseluruhan. Para pemberontak telah berperang melawan pemerintah India sejak tahun 1989, menuntut Kashmir menjadi bagian dari Pakistan atau menjadi negara merdeka. Hampir 70.000 orang telah terbunuh dalam pemberontakan dan penindasan militer India sejak itu.

Sebuah video yang beredar luas di media sosial menunjukkan tersangka penyerang, Adil Ahmed Dar, mengenakan pakaian tempur yang dipenuhi oleh senjata dan granat, mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu dan mengatakan bahwa langkah-langkah seperti itu dilakukan untuk mengusir India keluar dari Kashmir.

Sejak tahun 2016, sering terjadi baku tembak antara tentara dari India dan Pakistan di sepanjang perbatasan, saling mengklaim pihak yang lain yang memulai pertempuran kecil yang mengakibatkan kematian puluhan tentara dan warga sipil di kedua belah pihak karena melanggar perjanjian gencatan senjata tahun 2003.

Hooda mengatakan bahwa, mengingat keadaan di Kashmir, dia tidak terkejut dengan pemboman itu.

“Saya hanya berharap ini semua mengarah pada beberapa introspeksi, beberapa pertimbangan mendalam dan keterlibatan untuk melakukan segalanya dari awal dan memikirkan kembali apa yang kita semua harus lakukan untuk menyelesaikan masalah ini dengan tuntas,” katanya.

Keterangan foto utama: Tentara India berpatroli di dekat perbatasan dengan Pakistan. (Foto: AP/Channi Anand)

Serangan Kashmir: Pensiunan Jenderal India Peringatkan Risiko Serang Pakistan

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top