Perang Suriah
Timur Tengah

Perang Suriah: Wanita dan Anak-Anak Dievakuasi dari Wilayah ISIS

SDF, yang menjadi ujung tombak pertempuran melawan ISIS, mengatakan bahwa evakuasi adalah langkah penting untuk merebut kembali Baghouz. (Foto: Reuters/Rodi Said)
Berita Internasional >> Perang Suriah: Wanita dan Anak-Anak Dievakuasi dari Wilayah ISIS

Wanita dan anak-anak dievakuasi dari wilayah Baghouz yang dikuasai ISIS pada Rabu (20/2) sore, seiring operasi untuk mengusir pasukan ISIS di Suriah terus berlanjut. SDF—yang menjadi ujung tombak pertempuran darat—mengatakan bahwa evakuasi adalah langkah penting untuk merebut kembali daerah tersebut. Baik SDF maupun pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa kehadiran warga sipil di kantong terakhir ISIS—yang menjadi sasaran serangan udara pada Selasa (19/2)—telah memperlambat kemajuan mereka dalam perang Suriah tersebut.

Baca juga: Perundingan Tentang Akhir Perang Suriah Tidak Membahas Soal Pemulihan

Oleh: Al Jazeera

Konvoi truk yang mengevakuasi warga sipil dari daerah yang dikontrol oleh pejuang ISIS di provinsi timur laut Suriah, Deir Az Zor, telah meninggalkan daerah kantong itu, sementara operasi untuk mengusir mereka terus berlanjut.

Sekitar 10 truk yang mengangkut pria, wanita, dan anak-anak muncul pada Rabu (20/2), dari ujung koridor kemanusiaan yang digunakan dalam beberapa pekan terakhir untuk mengevakuasi orang-orang dari desa Baghouz, petak terakhir ISIS di sepanjang Sungai Eufrat di Suriah timur.

Seorang juru bicara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat (AS), Mustafa Bali, mengatakan bahwa truk-truk itu mengangkut warga sipil.

Rami Abdulrahman, Kepala Badan Pengawas Hak Asasi Manusia Suriah—badan pemantau perang yang berbasis di Inggris—mengatakan kepada Al Jazeera, bahwa lebih dari 50 truk mulai meninggalkan Baghouz pada Rabu (20/2) sore.

Kendaraan itu membawa keluarga ISIS dan warga sipil lainnya yang tinggal di Baghouz, katanya, di mana beberapa orang diangkut ke kamp al-Hol, di mana kondisi kemanusiaan di sana sangat mengerikan.

SDF—yang menjadi ujung tombak pertempuran darat—mengatakan bahwa evakuasi adalah langkah penting untuk merebut kembali daerah tersebut. Baik SDF maupun pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa kehadiran warga sipil di kantong terakhir ISIS—yang menjadi sasaran serangan udara pada Selasa (19/2)—telah memperlambat kemajuan mereka dalam perang Suriah.

Sekitar 300 militan dan sekitar 2.000 warga sipil telah terperangkap di desa itu.

Kepala Hak Asasi Manusia PBB pada Selasa (19/2), mengecam kelompok bersenjata itu sebagai pelaku kejahatan perang, dan mencatat bahwa sekitar 200 keluarga menghadapi serangan intensif dari udara dan darat oleh pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat, dan warga sipil dilarang melarikan diri.

Para pejuang ISIS masih bertahan di daerah terpencil di gurun di Suriah tengah, dan telah melakukan serangan di beberapa bagian Suriah serta Irak―di mana mereka pernah mengendalikan wilayah yang cukup besar.

Baca juga: Mengapa Amerika Mundur dari Perang Suriah?

Kampanye militer terpisah menggiring kelompok itu pergi dari sebagian besar wilayahnya pada tahun 2017, termasuk kota-kota besar Mosul dan Raqqa, sekitar tiga tahun setelah militan ISIS dengan cepat mengalahkan pasukan lokal dan mendeklarasikan sebuah negara Islam di wilayah yang kira-kira seluas Inggris.

Tempat Tersulit di Dunia untuk Belajar

Anak-anak di Suriah yang mengantre untuk mendapatkan makanan gratis pada Juli 2013. (Foto: AFP/Mezar Matar)

Koridor kemanusiaan yang ‘tidak aman’

Sementara itu, puluhan ribu pengungsi Suriah terus menghadapi kondisi kehidupan yang keras di kamp al-Rukban di dekat perbatasan Suriah-Yordania, meskipun Rusia berupaya untuk membuat “koridor kemanusiaan” melalui wilayah tersebut.

Warga kamp tersebut telah menolak untuk pergi, setelah koridor itu—yang difasilitasi oleh sekutu utama Presiden Suriah Bashar al-Assad, Rusia―disahkan pada Rabu (20/2). Mereka mengatakan bahwa mereka tidak merasa cukup aman dan takut akan mendapat pembalasan dari pemerintah Suriah.

“Penyeberangan yang dibuka oleh rezim Suriah dan militer Rusia itu diklaim aman, tetapi orang-orang di sini tidak merasakan rasa aman atau stabilitas,” kata seorang warga.

Seorang lelaki lain dari kamp tersebut mengatakan, bahwa organisasi internasional seperti PBB harus memantau penyeberangan ini.

“Bagi saya, pergi dari sini berarti pergi dari satu jebakan maut ke jebakan maut yang lain,” kata seorang wanita tua, seraya menambahkan bahwa dia akan pergi hanya jika ada tempat yang aman yang dijamin untuk keluarganya.

“Membuka koridor adalah langkah yang baik, tetapi kami ingin koridor itu diawasi oleh PBB,” katanya.

Baca juga: Ketika Seorang Diplomat Menyerah dalam Tugas Mustahil: Menghentikan Perang Suriah

Imran Khan dari Al Jazeera, melaporkan dari Gaziantep, Turki, di perbatasan dengan Suriah, mengatakan bahwa penduduk memiliki “kecurigaan yang sangat besar terhadap orang-orang di kamp Rukban”.

Sekitar 60.000 pengungsi Suriah mengalami kondisi yang sulit di kamp tersebut, ​​yang terletak di wilayah padang pasir di dekat perbatasan Suriah-Yordania dan Irak.

Badan Pengawas Hak Asasi Manusia Suriah yang berbasis di Inggris, baru-baru ini melaporkan bahwa semakin banyak kematian terjadi di kamp tersebut akibat kelaparan, penyakit, dan kurangnya pasokan kemanusiaan yang parah.

Awal bulan ini, kamp tersebut menerima pengiriman bantuan pertamanya dalam tiga bulan.

Keterangan foto utama: SDF, yang menjadi ujung tombak pertempuran melawan ISIS, mengatakan bahwa evakuasi adalah langkah penting untuk merebut kembali Baghouz. (Foto: Reuters/Rodi Said)

Perang Suriah: Wanita dan Anak-Anak Dievakuasi dari Wilayah ISIS

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top