Konferensi Anti-Iran Amerika di Warsawa Satukan Israel dan Teluk Arab
Global

Konferensi Anti-Iran Amerika di Warsawa Satukan Israel dan Teluk Arab

Berita Internasional >> Konferensi Anti-Iran Amerika di Warsawa Satukan Israel dan Teluk Arab

Sekitar 60 negara berkumpul di Warsawa, Polandia, untuk menghadiri konferensi Timur Tengah yang disponsori Amerika Serikat untuk membahas ancaman yang ditimbulkan Iran. Konferensi itu menyatukan Israel dan beberapa negara Teluk–yang hubungan mereka kini sudah mulai mencair. Oman, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, mengirim utusan ke Warsawa dan yang berbagi kekhawatiran Israel tentang program nuklir Iran dan keterlibatan dalam beberapa konflik regional.

Oleh: Lesley Wroughton dan Justyna Pawlak (Reuters)

Baca Juga: 7 Pemerintahan yang Digulingkan oleh Amerika Serikat

Sebuah konferensi Timur Tengah yang disponsori Amerika Serikat bertujuan untuk membangun koalisi terhadap apa yang dipandang Amerika sebagai ancaman yang ditimbulkan oleh Iran serta dampak dari mencairnya hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab pada hari Rabu (13/2).

Para menteri luar negeri dan pejabat dari lebih dari 60 negara berkumpul untuk menghadiri konferensi di Warsawa, yang dimulai pada hari Rabu (13/2) malam dan yang agendanya meliputi masalah Iran, konflik di Suriah, Yaman, dan perdamaian Israel-Palestina.

Di sela pertemuan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman.

“Banyak yang mengikuti kepemimpinan Oman ini, dan bisa saya katakan, termasuk di konferensi ini,” demikian bunyi sebuah video yang dirilis oleh kantor Netanyahu menunjukkan dia berkata kepada Yousuf bin Alawi bin Abdullah, yang negara Teluknya menjadi tuan rumah bagi pemimpin Israel pada bulan Oktober 2018.

Oman tidak secara resmi mengakui Israel. Demikian juga Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang juga mengirim utusan ke Warsawa dan yang berbagi kekhawatiran Israel tentang program nuklir Iran dan keterlibatan dalam beberapa konflik regional.

Berbicara kepada Netanyahu, bin Alawi berkata: “Orang-orang di Timur Tengah telah banyak menderita karena mereka telah terjebak pada masa lalu. Sekarang kami katakan, ini adalah era baru, demi masa depan.”

Baca Juga: Amerika Serikat dan Eropa akan Kehilangan Panggung di Tahun 2019

Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjabat tangan di samping Presiden Polandia Andrzej Duda saat foto kelompok di konferensi Timur Tengah di Royal Castle di Warsawa, Polandia, 13 Februari 2019. (Foto: Reuters/Kacper Pempel)

Netanyahu, yang telah berusaha meningkatkan perolehan diplomatiknya menjelang pemilihan umum Israel pada bulan April 2019, telah sering mengisyaratkan hubungan yang lebih hangat dengan negara-negara Teluk Arab. Netanyahu yang terlihat berfoto bersama tokoh-tokoh senior dari negara-negara Arab di Warsawa akan menjadi kemenangan bagi Amerika yang berupaya meningkatkan tekanan terhadap Iran. Orang-orang Iran mengatakan bahwa pasukan yang beraliansi dengan Amerika di wilayah tersebut, bukan mereka, yang berbahaya.

Negara-negara Eropa terkemuka seperti Jerman dan Prancis memilih untuk tidak mengirim menteri luar negeri mereka karena khawatir pertemuan itu dapat menyoroti ketegangan kekuatan besar atas keputusan Amerika tahun 2018 untuk keluar dari kesepakatan nuklir Iran 2015 dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran.

Wakil Presiden AS Mike Pence memimpin delegasi AS, didampingi oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner.

“Kami sedang berusaha memperluas jumlah negara yang terlibat dan memiliki kepentingan di masa depan Timur Tengah yang damai dan makmur,” tutur Brian Hook, perwakilan khusus Departemen Luar Negeri AS untuk Iran kepada Reuters. Negara-negara Arab dan Israel menghadapi ancaman umum agresi regional Iran. Amerika Serikat tengah bekerja sama dengan negara-negara tersebut untuk menghadapi ancaman Iran, katanya. “Iran tidak berperilaku seperti negara normal. Mereka memiliki kebijakan luar negeri yang sangat ekspansionis dan hal itu mengguncang negara-negara lain,” kata Hook ketika ditanya apakah tidak adanya diplomat top Jerman dan Prancis pada pertemuan itu merupakan hal penting.

Kepala kebijakan Uni Eropa Federica Mogherini, pemain kunci dalam kesepakatan nuklir Iran, juga tidak akan menghadiri konferensi selama dua hari tersebut karena masalah penjadwalan, menurut seorang pejabat Uni Eropa, meskipun Pompeo akan melakukan perjalanan ke Brussels pada hari Jumat (15/2) untuk bertemu dengannya.

Baca Juga: Masih Bisakah Amerika Serikat Mempromosikan Demokrasi di Asia?

Rencana Israel-Palestina

Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump, akan memberi penjelasan singkat kepada para delegasi secara tertutup pada hari Kamis (14/2) tentang rencana AS untuk perdamaian antara Palestina dan Israel.

Para pejabat Palestina, yang memandang pemerintahan AS saat ini memiliki bias pro-Israel, menolak untuk menghadiri konferensi tersebut.

Menjadi tuan rumah pertemuan itu adalah kesempatan bagi pemerintah konservatif Polandia untuk meningkatkan hubungan dengan Amerika pada saat negara itu semakin terisolasi di dalam Uni Eropa, di tengah perselisihan atas kepatuhannya pada standar aturan hukum.

Kerjasama trans-atlantik diperlukan untuk menyelesaikan masalah di Timur Tengah, kata Menteri Luar Negeri Polandia Jacek Czaputowicz. “Uni Eropa sendiri, menurut pendapat saya, tidak memiliki bobot politik yang cukup untuk mencoba benar-benar memengaruhi situasi di Timur Tengah,” katanya kepada wartawan.

Laporan tambahan oleh Alan Charlish dan Joanna Plucinska di Warsawa, Dan Williams di Jerusalem. Diedit oleh Frances Kerry.

Keterangan foto utama: Peserta pertemuan berpose untuk foto kelompok di konferensi Timur Tengah di Royal Castle di Warsawa, Polandia, 13 Februari 2019. (Foto: Reuters/Kacper Pempel)

Konferensi Anti-Iran Amerika di Warsawa Satukan Israel dan Teluk Arab

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top