Ethiopian Airlines Jatuh
Afrika

Pesawat Ethiopian Airlines Jatuh, Semua 157 Penumpang dan Awak Tewas

Berita Internasional >> Pesawat Ethiopian Airlines Jatuh, Semua 157 Penumpang dan Awak Tewas

Terjadi kecelakaan pesawat di Ethiopia, Afrika, pada hari Minggu (10/3). Pesawat Ethiopian Airlines jatuh hanya beberapa menit setelah lepas landas di kota Addis Ababa, menewaskan seluruh 157 orang di dalamnya. Para korban terdiri dari orang-orang yang berasal dari 30 negara, termasuk 32 warga Kenya, 18 warga Kanada, sembilan warga Ethiopia, delapan warga Italia, delapan warga Amerika dan tujuh warga Inggris, serta empat orang yang memegang paspor PBB.

Baca Juga: Awan Kelabu bagi Boeing, Pasca-Kecelakaan Lion Air

Oleh: Paul Schemm (The Washington Post)

Pesawat baru Ethiopian Airlines yang terbang menuju Nairobi jatuh pada hari Minggu (10/3), menewaskan semua 157 orang di dalamnya, termasuk delapan warga Amerika dan 18 warga Kanada.

Pesawat yang baru saja diakuisisi ini adalah model Boeing 737 Max 8 yang sama seperti pesawat Lion Air yang juga mengalami kecelakaan bulan Oktober lalu. Penyelidikan awal pada kecelakaan Oktober itu berfokus pada sensor yang tidak berfungsi dan sistem komputer yang menyebabkan hidung pesawat turun kebawah.

Data dari kecelakaan Ethiopian Airlines tampaknya menunjukkan jalur penerbangan tidak menentu yang sama, dengan pesawat pertama-tama naik, lalu turun, lalu naik tajam sebelum menukik jatuh.

Menurut kepala eksekutif Ethiopian Airlines, Tewolde GebreMariam, pesawat itu lepas landas pada pukul 8:38 pagi dan kehilangan kontak dengan kontrol lalu lintas udara enam menit kemudian, jatuh di dekat Bishoftu, kurang dari 40 mil tenggara Addis Ababa.

“Pilot mengatakan dia mengalami kendala dan dia ingin kembali ke Addis Ababa, dan telah diberi izin,” kata GebreMariam.

“Ini adalah pesawat masih baru, tidak ada peringatan teknis dan diterbangkan oleh seorang pilot senior, dan tidak ada penyebab yang dapat kita ketahui saat ini,” tambahnya, mengatakan pesawat itu masih berumur empat bulan, dan baru terbang selama 1.200 jam. Pesawat itu baru kembali dari Johannesburg pagi itu.

Pilot pesawat itu adalah Yared Getachew, 28 tahun, dari Addis Ababa. Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh kerabat di Virginia Utara, Getachew memiliki 8.000 jam terbang dan merupakan pilot termuda dalam sejarah penerbangan Ethiopia yang menjadi kapten Boeing 737.

GebreMariam tidak akan berspekulasi tentang penyebab kecelakaan itu dan mengatakan penyelidikan akan melibatkan otoritas penerbangan sipil Ethiopia, perwakilan Boeing dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS.

Data penerbangan yang dilihat oleh The Washington Post menunjukkan penerbangan mendapat masalah tidak lama setelah keberangkatan. Lepas landas yang normal untuk sebagian besar pesawat penumpang yaitu pendakian yang curam hingga sekitar seribu kaki, diikuti oleh pendakian yang semakin cepat. Namun, pada penerbangan ini, satu setengah menit setelah lepas landas, pesawat itu secara misterius mulai turun―hampir satu menit―sebelum naik lagi.

Selama waktu itu, kecepatan pesawat terus meningkat hingga jauh di atas normal untuk fase lepas landas. Pesawat itu mengalami tarikan tajam―600 kaki hanya dalam 10 detik―dan terbang dengan kecepatan 380 mil laut per jam, sementara kecepatan normalnya sekitar 270 mil laut per jam.

Baca Juga: Kecelakaan Lion Air: Ada Temuan Mengerikan di Dua Pesawat Boeing 737-MAX Lainnya

Tiga menit kemudian, pesawat itu jatuh.

Para korban terdiri dari orang-orang yang berasal dari 30 negara, termasuk 32 warga Kenya, 18 warga Kanada, sembilan warga Ethiopia, delapan warga Italia, delapan warga Amerika dan tujuh warga Inggris, serta empat orang yang memegang paspor PBB. Salah satu korban tewas adalah Cedric Asiavugwa, seorang mahasiswa tahun ketiga di Universitas Georgetown.

Maskapai ini memiliki nomor hotline darurat untuk keluarga dan teman-teman korban dan mengubah gambar sampul di halaman Facebook-nya menjadi hitam.

Perdana Menteri Abiy Ahmed mengunjungi lokasi kecelakaan dan menyatakan “kesedihan mendalamnya atas hilangnya nyawa” dan berharap “kerabat dan keluarga yang kehilangan diberikan kesabaran.” Presiden Kenya Uhuru Kenyatta juga mengucapkan belasungkawanya.

Ethiopian Airlines mengumumkan akuisisi pesawat Max itu pada bulan Juli. Maskapai itu memiliki enam pesawat yang sama, dan GebreMariam mengatakan tidak ada rencana untuk menunda penggunaannya.

Model Max adalah versi terbaru dari Boeing 737, pesawat komersial paling populer di dunia.

Boeing mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa pihaknya “sangat sedih” tentang kecelakaan itu, menambahkan bahwa “tim teknis Boeing akan melakukan perjalanan ke lokasi kecelakaan untuk memberikan bantuan teknis di bawah arahan Biro Investigasi Kecelakaan Ethiopia dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS. ”

Setelah kecelakaan Lion Air Penerbangan JT610 pada bulan Oktober di Indonesia, Administrasi Penerbangan Federal mengeluarkan pemberitahuan darurat bahwa input sensor yang keliru dapat “menyebabkan awak pesawat mengalami kesulitan mengendalikan pesawat,” mengarah ke “kemungkinan jatuhnya pesawat.”

Dalam kecelakaan itu, sebuah sensor yang tidak berfungsi meyakinkan perangkat lunak pesawat bahwa penerbangannya macet dan diperbaiki dengan mengarahkan hidung pesawat ke bawah.

Tim penyelamat pada Januari lalu menemukan perekam suara kokpit dari penerbangan Lion Air. Penyelidik telah mengunduh data dari kedua perekam data pesawat―atau kotak hitam―dan menggunakannya untuk membantu penyelidikan yang sedang berlangsung mengenai penyebab kecelakaan itu.

Investigasi penuh diharapkan akan selesai tahun ini, mungkin pada bulan November, kata pejabat Indonesia.

Ethiopian Airlines adalah maskapai penerbangan terbesar di Afrika dalam hal tujuan dan penumpang. Maskapai itu memiliki ambisi untuk menjadi pintu gerbang ke Afrika dan secara luas dipandang sebagai salah satu maskapai penerbangan dengan pengelolaan terbaik di benua itu.

Maskapai ini melayani lebih dari 100 tujuan di seluruh dunia, termasuk penerbangan ke Washington, New York dan Chicago.

Kecelakaan besar terakhir maskapai itu terjadi pada 2010, ketika sebuah pesawat jatuh ke Mediterania tak lama setelah lepas landas dari bandara Beirut, menewaskan semua 90 orang di dalamnya.

Keterangan foto utama: Orang-orang berkumpul di lokasi jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines, sekitar 38 mil di tenggara Bandara Internasional Bole pada tanggal 10 Maret 2019. (Foto: Reuters)

Pesawat Ethiopian Airlines Jatuh, Semua 157 Penumpang dan Awak Tewas

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top