vladimir putin
Eropa

Rusia Berhasil Uji Rudal Hipersonik yang Tak Mampu Dilawan AS

Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri upacara untuk memberikan penghargaan negara kepada personel militer yang bertempur di Suriah, di Kremlin, Moskow, pada 28 Desember 2017. (Foto: AFP/Getty Images/Kirill Kudryavtsev)
Berita Internasional >> Rusia Berhasil Uji Rudal Hipersonik yang Tak Mampu Dilawan AS

Rusia telah berhasil menguji coba rudal hipersonik berbasis kapal yang saat ini disebut-sebut tidak dapat dilawan oleh AS. Uji coba itu dilakukan pada tanggal 10 Desember lalu, dan mencapai kecepatan tertinggi Mach 8, sekitar delapan kali kecepatan suara, atau sekitar dua mil per detik. Senjata itu diperkirakan akan diproduksi mulai tahun 2021 dan akan bergabung dengan persenjataan resmi Moskow paling lambat awal tahun 2022.

Baca juga: Rencana Militer Rusia 2019: Hipersonik Avangard dan Pembersihan Arktik

Oleh: Amanda Macias (CNBC)

Rusia telah melakukan uji coba rudal hipersonik berbasis kapal lainnya—senjata yang saat ini tidak dapat dilawan oleh Amerika Serikat (AS)—menurut dua orang yang memiliki pengetahuan langsung tentang laporan intelijen AS.

Mereka yang berbicara kepada CNBC dengan kondisi anonimitas, mengatakan bahwa Rusia total telah melakukan lima uji coba rudal hipersonik berbasis kapal sejak tahun 2015.

Uji coba terakhir yang diketahui melibatkan perangkat yang dijuluki “Tsirkon”, berhasil dilakukan 10 Desember 2018 lalu dan mencapai kecepatan tertinggi Mach 8, sekitar delapan kali kecepatan suara, atau sekitar dua mil per detik.

“Apa yang kita lihat dengan senjata khusus ini adalah bahwa Rusia merancangnya untuk memiliki kapabilitas ‘dua tujuan’, yang berarti, itu dapat digunakan melawan target di darat serta kapal di laut,” jelas salah satu sumber.

“Uji coba yang sukses minggu lalu menunjukkan bahwa Rusia mampu mencapai penerbangan berkelanjutan—suatu prestasi yang sangat penting dalam pengembangan senjata hipersonik.”

Laporan intelijen AS, menurut salah satu sumber, mencatat bahwa produksi rudal akan dimulai pada tahun 2021 dan akan bergabung dengan persenjataan resmi Kremlin paling lambat awal 2022.

Perkembangan terakhir ini membuat AS harus membuat lebih banyak lagi pengembangan, seiring Rusia dan China meningkatkan persenjataan mereka dengan senjata hipersonik dengan kecepatan yang berbahaya.

Namun, James Acton, co-director Program Kebijakan Nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, membantah anggapan bahwa perkembangan Rusia dan China akan melampaui kemampuan hipersonik AS.

“Saya tidak sepenuhnya setuju dengan karakterisasi bahwa AS tertinggal di belakang. Semua bukti yang saya lihat adalah bahwa AS memiliki tujuan yang jauh lebih ambisius daripada Rusia dan China,” katanya. “Saya tidak ingin berpura-pura bahwa perkembangan ini tidak relevan dan bahwa AS dapat mengabaikannya. Jelas, ada peningkatan kualitatif dalam tingkat ancaman dengan pengembangan rudal seperti Tsirkon, yang signifikan.”

Acton menambahkan: “Tetapi poin saya adalah, bahwa reaksi tanpa henti yang sering Anda dengar dari perkembangan ini, saya pikir, dapat dinilai berlebihan.”

Informasi tentang rudal berbasis kapal terdengar sedikitnya sembilan bulan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin disebut-sebut memuji persenjataan hipersonik negaranya sebagai (senjata yang) “tak terkalahkan.”

Rusia Cemooh Kritik AS Terkait Pengiriman Pesawat Pengebom ke Venezuela

Tu-160 Rusia, atau ‘Angsa Putih’, adalah pesawat pengebom supersonik terbesar di dunia. (Foto: AP/Misha Japaridze)

Ambisi Moskow untuk mewujudkan jenis senjata baru ini telah memicu ketakutan atas terjadinya persaingan senjata.

“Saya ingin mengatakan kepada semua orang yang telah memicu perlombaan senjata selama 15 tahun terakhir, dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan sepihak atas Rusia, memberlakukan sanksi yang melanggar hukum yang bertujuan untuk menahan pembangunan negara kami: Anda telah gagal menahan Rusia,” kata Putin pada saat pidato nasional di bulan Maret.

Dari enam senjata yang diperkenalkan Putin pada bulan Maret, CNBC telah mengetahui bahwa dua di antaranya akan siap untuk perang pada tahun 2020, menurut sumber-sumber yang mengetahui langsung dari laporan intelijen AS.

Sementara itu, Pentagon menyerahkan dua kontrak senjata hipersonik bernilai jutaan dolar kepada Lockheed Martin awal tahun ini.

Baca juga: Jet Tempur Rusia dengan Rudal Hipersonik: Ancaman Baru untuk AS

Ketika ditanya tentang persaingan dari Moskow untuk mengembangkan senjata hipersonik, Pentagon mengulangi kembali permintaan luar biasa untuk membuat Rusia kembali mematuhi Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah, atau INF.

“Kekhawatiran AS sekarang difokuskan untuk membuat Rusia kembali mematuhi perjanjian dan kesepakatan internasional saat ini,” kata juru bicara Departemen Pertahanan Eric Pahon kepada CNBC.

Pada bulan Oktober, Trump mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari Perjanjian INF—sebuah perjanjian era Perang Dingin antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.

Rusia, kata Trump, telah melanggar perjanjian senjata dengan membangun dan menempatkan senjata terlarang “selama bertahun-tahun.”

Perjanjian itu—yang ditandatangani tahun 1987 oleh Presiden Ronald Reagan dan pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev—melarang pengembangan dan penyebaran rudal-rudal berujung nuklir. Perjanjian tersebut memaksa setiap negara untuk membongkar lebih dari 2.500 rudal dengan kisaran 310 hingga 3.420 mil dari gudang senjata mereka.

Singkatnya, perjanjian itu telah menyingkirkan rudal-rudal berhulu nuklir dari benua Eropa selama 30 tahun terakhir.

Pada Kamis (20/12), Putin mengkritik langkah AS yang menarik diri dari perjanjian nuklir dan memperingatkan bahwa perang nuklir tidak boleh diabaikan.

“Mereka membuat satu langkah lagi, dan mereka menarik diri dari Perjanjian INF, jadi apa yang akan dihasilkan dari langkah itu? Sulit membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Putin dalam konferensi pers tahunan.

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri upacara untuk memberikan penghargaan negara kepada personel militer yang bertempur di Suriah, di Kremlin, Moskow, pada 28 Desember 2017. (Foto: AFP/Getty Images/Kirill Kudryavtsev)

Rusia Berhasil Uji Rudal Hipersonik yang Tak Mampu Dilawan AS

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top