Asia

Menyusul Serangan Kashmir, Terjadi Baku Tembak Tewaskan 9 Orang

Berita Internasional >> Menyusul Serangan Kashmir, Terjadi Baku Tembak Tewaskan 9 Orang

Terjadi baku tembak di Pulwama, Kashmir, menewaskan sembilan orang. Hal itu terjadi setelah pembunuhan terhadap 42 pasukan India, dalam serangan Kashmir paling mematikan selama 30 tahun konflik. Sejak awal tahun ini, ada 14 baku tembak di Kashmir.  

Oleh: Rifat Fareed (Al Jazeera)

Setidaknya sembilan orang—termasuk tiga pemberontak bersenjata, empat tentara India, dan seorang polisi—tewas dalam baku tembak di Kashmir yang dikelola India.

Baku tembak pada Senin (18/2) di desa Pinglan distrik Pulwama, terjadi beberapa hari setelah 42 personel keamanan India tewas dalam sebuah ledakan bunuh diri—serangan terburuk dalam 30 tahun konflik Kashmir. Serangan Kashmir itu telah menimbulkan kekhawatiran konfrontasi dengan musuh utama Pakistan.

Seorang pejabat senior militer India mengatakan kepada Al Jazeera, bahwa operasi melawan pemberontak diluncurkan pada Senin (18/2) pagi, setelah informasi intelijen tentang kehadiran mereka di sebuah rumah di desa Pinglan. Operasi itu berakhir pada malam hari.

Seorang pejabat polisi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa wakil inspektur jenderal polisi, Amit Kumar, terkena peluru di kakinya.

“Seorang brigadir militer juga terluka dalam pertempuran itu,” tambah pejabat tersebut.

Penduduk lokal di desa Pinglan mengatakan bahwa tiga rumah dan satu kandang sapi diledakkan oleh angkatan bersenjata, dan salah satu pemilik rumah, Mushtaq Ahmad (30 tahun), yang mengelola toko unggas di desa itu, juga tewas.

“Rumahnya adalah salah satu yang diledakkan, dia tewas namun dua anaknya selamat, berusia empat dan tiga tahun. Dia diseret keluar dari rumahnya pagi-pagi oleh tentara dan dibunuh. Anak laki-laki lain juga terkena peluru di kakinya,” Ghulam Nabi, seorang penduduk, mengatakan kepada Al Jazeera.

Polisi dalam sebuah pernyataan, mengatakan bahwa warga sipil itu terbunuh setelah pemberontak menembak “tanpa pandang bulu”. Pernyataan itu juga mengatakan bahwa dua pemberontak adalah orang asing dan satu adalah penduduk lokal.

Para pejabat mengatakan bahwa pemberontak itu adalah anggota kelompok Jaish-e-Mohammed (JeM) yang diduga melakukan serangan mematikan terhadap konvoi paramiliter India pada tanggal 14 Februari, yang menewaskan 42 orang.

“Salah satu gerilyawan yang tewas diyakini berasal dari kelompok yang melakukan serangan mematikan di Kashmir selatan. Kami masih memverifikasi identitas gerilyawan ini,” kata seorang pejabat senior.

Sejak awal tahun ini, ada 14 baku tembak di Kashmir. Pada bulan Februari saja, ada enam konflik semacam itu di mana 14 pemberontak tewas.

Jumlah pemberontak yang terbunuh pada tahun ini adalah 31 orang, sementara 49 pasukan keamanan tewas dalam periode yang sama.

Warga mengatakan bahwa mereka yang keberatan dengan operasi keamanan ditahan.

“Beberapa rumah telah diledakkan. Banyak anak muda yang memprotes telah ditangkap. Ada pengamanan yang ketat dan kami dipaksa terus berada di dalam rumah kami,” kata Abdul Hamid (50 tahun).

“Kami takut serangan balasan dari tentara setelah insiden-insiden ini,” kata Hamid, pernyataan yang mencerminkan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di lembah Kashmir, setelah serangan pada Kamis (14/2).

Pada hari itu, 42 personel Pasukan Polisi Cadangan Sentral (CRPF) terbunuh, ketika seorang pelaku bom bunuh diri berusia 20 tahun menabrakkan mobilnya yang mengandung bahan peledak ke salah satu bus dalam konvoi yang membawa para personel itu.

Serangan mematikan itu terjadi di sebuah jalan raya di Pulwama, yang menghubungkan kota utama Srinagar di wilayah yang disengketakan itu, dengan bagian selatannya.

Kelompok pemberontak yang bermarkas di Pakistan, JeM, mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, yang memaksa India untuk menjanjikan “respons kuat” dan melakukan berbagai tindakan, termasuk mencabut status negara yang paling disukai (MFN) untuk negara tetangganya yang beperang itu.

Pelaku bom tersebut telah diidentifikasi sebagai pemberontak lokal bernama Adil Dar, seorang penduduk Pulwama, yang telah bergabung dengan pasukan bunuh diri JeM hampir setahun yang lalu, menurut para pejabat polisi.

Serangan paling mematikan dalam pemberontakan bersenjata selama puluhan tahun di Kashmir tersebut, telah memicu ketegangan besar-besaran antara India dan Pakistan yang sama-sama bersenjata nuklir.

Perdana Menteri India Narendra Modi—yang menghadapi pemilihan umum yang harus dilaksanakan pada bulan Mei—berada di bawah tekanan domestik untuk mengambil tindakan tegas terhadap Pakistan.

Sementara itu, setelah serangan bunuh diri di daratan India, telah terjadi beberapa “serangan balas dendam” oleh gerombolan sayap kanan terhadap warga Kashmir yang telah “diancam untuk pergi atau akan menghadapi konsekuensinya.”

Puluhan siswa Kashmir telah meninggalkan sekolah mereka di India dan pulang.

Banyak orang di ibu kota nasional, New Delhi, dan kota-kota lain, menawarkan rumah mereka kepada warga Kashmir yang mengosongkan tempat mereka, menyusul ancaman terhadap nyawa mereka.

Pada Senin (18/2), Aakar Patel, Kepala Amnesty International India, mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa pemerintah pusat dan negara bagian di India harus memastikan bahwa “masyarakat biasa Kashmir tidak menghadapi serangan yang ditargetkan, penindasan, dan penangkapan sewenang-wenang, setelah pembunuhan terhadap 42 personel keamanan.”

Keterangan foto utama: Seorang prajurit tentara India membawa peluncur roket di dekat lokasi baku tembak di desa Pinglan. (Foto: Reuters/Younis Khaliq)

Menyusul Serangan Kashmir, Terjadi Baku Tembak Tewaskan 9 Orang

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top