Perang Yaman
Amerika

Senat Perintahkan Militer AS Akhiri Dukungan untuk Arab Saudi di Perang Yaman

Seorang siswa Yaman berdiri di atas puing-puing bangunan sekolahnya yang runtuh karena serangan udara oleh koalisi yang dipimpin Arab Saudi di kota Taez. (Foto: AFP/Getty Images)
Berita Internasional >> Senat Perintahkan Militer AS Akhiri Dukungan untuk Arab Saudi di Perang Yaman

Senat pada Rabu (13/3) memerintahkan militer AS untuk mengakhiri dukungan untuk Arab Saudi di Perang Yaman. Ini akan menandai kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir di mana Senat telah menolak keikutsertaan Amerika Serikat dalam kampanye pengeboman oleh Arab Saudi di Yaman, yang telah dikecam oleh organisasi-organisasi hak asasi manusia karena memperburuk salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.

Baca juga: Trump Tolak Hentikan Dukungan Amerika bagi Arab Saudi di Perang Yaman

Oleh: Karoun Demirjian (The Washington Post)

Pada Rabu (13/3), Senat mengadakan pemungutan suara untuk mengakhiri dukungan Amerika Serikat (AS) untuk kampanye militer yang dipimpin Arab Saudi di Yaman—teguran terbaru untuk pemerintah Trump yang terus merangkul monarki Arab Saudi, meskipun kalangan anggota parlemen telah semakin frustrasi dengan tindakannya di panggung dunia itu.

Hasil pemungutan suara itu 54 banding 46, yang menandai kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir di mana Senat telah menolak keikutsertaan Amerika Serikat dalam kampanye pengeboman oleh Arab Saudi terhadap pemberontak Houthi Yaman, yang dilakukan atas nama menahan ekspansi Iran di wilayah tersebut.

Tetapi upaya yang dipimpin Arab Saudi—yang kadang-kadang menargetkan fasilitas sipil dan mencegah pengiriman bantuan ke Yaman—telah dikecam oleh organisasi-organisasi hak asasi manusia karena memperburuk salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.

“Kita seharusnya tidak terlibat dengan kampanye pengeboman yang kemungkinan merupakan pelanggaran berat hak asasi manusia,” kata Senator Chris Murphy (D-Conn.) di ruang Senat, pada Rabu (13/3).

Resolusi itu masih harus melalui DPR, di mana anggota DPR meloloskan resolusi yang hampir sama untuk mengakhiri partisipasi Amerika Serikat dalam perang Yaman pada awal tahun ini.

Namun, tidak mungkin kedua majelis itu akan memiliki suara yang diperlukan untuk mengakhiri dukungan Amerika Serikat di perang itu, jika Presiden Trump memveto resolusi tersebut.

Keinginan anggota parlemen untuk memutuskan hubungan dengan Arab Saudi atas Yaman semakin kuat, setelah wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi terbunuh di sebuah Konsulat Arab Saudi di Istanbul akhir tahun lalu, dan intelijen mengatakan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman—penguasa de facto negara itu—telah memerintahkan pembunuhan itu atau paling tidak mengetahui informasi mengenai pembunuhan itu.

Tahun lalu, dengan suara bulat Senat meminta putra mahkota bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi. Sekelompok anggota parlemen bipartisan telah mendukung pemberlakuan sanksi terhadap Arab Saudi atas pembunuhan Khashoggi, serta penghentian transfer senjata, dalam undang-undang komprehensif yang belum melalui proses pemungutan suara.

Baca juga: Lawan Trump, Senat Setuju Akhiri Dukungan AS dalam Perang Yaman

Hanya tujuh Senat dari Partai Republik yang bergabung dengan Demokrat pada Rabu (13/3) untuk mengakhiri dukungan Amerika untuk Arab Saudi di Perang Yaman.

Bagi para pendukungnya, pemungutan suara itu tidak hanya menunjukkan sikap moral atas catatan hak asasi manusia Arab Saudi, tetapi juga tentang menegaskan hak konstitusional Kongres untuk menyatakan perang.

“Hari ini, kita memulai proses reklamasi otoritas konstitusional kami dengan mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat dalam perang yang belum disahkan oleh Kongres dan jelas tidak konstitusional,” Senator Bernie Sanders (I-Vt.), sponsor utama resolusi tersebut, mengatakan di ruang Senat pada Rabu (13/3).

Sanders bekerja sama dengan Senator Mike Lee (R-Utah) untuk memohon Resolusi Kekuatan Perang untuk membatasi partisipasi Amerika dalam perang. Para senator juga, dengan suara bulat, mengadopsi amandemen resolusi yang menyatakan bahwa tidak ada yang dapat ditafsirkan sebagai wewenang penggunaan kekuatan militer, dan meninggalkan ruang untuk berbagi intelijen dengan pemerintah Arab Saudi.

Jika resolusi itu disetujui di kedua kamar Kongres, itu akan menjadi pertama kalinya Kongres berhasil menggunakan Resolusi Kekuatan Perang untuk mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat dalam suatu konflik.

Penentang resolusi itu pada Rabu (13/3), memperingatkan bahwa resolusi itu “secara mendasar cacat” dan akan merusak upaya untuk mendorong penyelesaian negosiasi damai untuk perang Yaman dengan membuat posisi Amerika Serikat tampak terpecah.

“Ini akan mengirim pesan kepada orang-orang bahwa mereka tidak perlu bernegosiasi sekarang, bahwa mereka sebenarnya bertambah kuat,” Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat James E. Risch (R-Idaho) mengatakan di ruang Senat sebelum pemungutan suara. “Saya akan mendesak kolega-kolega saya untuk menentang ini dan memberikan kesempatan pada kedamaian melalui negosiasi.”

Baca juga: Senat Dorong Resolusi untuk Akhiri Dukungan Amerika dalam Perang Yaman

Para pendukung, bagaimanapun, berpendapat bahwa “jika kita mengesahkan resolusi ini, perdamaian akan lebih memungkinkan,” seperti yang dikatakan Murphy pada hari Rabu (13/3), dengan alasan bahwa ketika Senat memberikan suara yang sama tahun lalu, itu tampaknya membantu mendorong pihak-pihak dalam perang untuk menyatakan gencatan senjata di Hodeidah, kota pelabuhan yang penting untuk membawa pasokan kemanusiaan ke Yaman.

Keterangan foto utama: Seorang siswa Yaman berdiri di atas puing-puing bangunan sekolahnya yang runtuh karena serangan udara oleh koalisi yang dipimpin Arab Saudi di kota Taez. (Foto: AFP/Getty Images)

Senat Perintahkan Militer AS Akhiri Dukungan untuk Arab Saudi di Perang Yaman

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top