denuklirisasi Korea Utara
Global

Trump Akan ‘Sangat Terkejut’ jika Kim Kembali Uji Coba Nuklir

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. (Foto: Getty Images)
Berita Internasional >> Trump Akan ‘Sangat Terkejut’ jika Kim Kembali Uji Coba Nuklir

Setelah fasilitas peluncuran roket Korea Utara dikabarkan mulai beroperasi kembali, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia akan ‘sangat terkejut’ jika Kim Jong-un kembali melakukan uji coba nuklir. Laporan ini beredar setelah dinas intelijen Korea Selatan mendeteksi aktivitas baru di pusat penelitian dan peluncuran rudal Korea Utara, setelah KTT Vietnam antara Trump dan Kim gagal mencapai kesepakatan.

Baca juga: Strategi Nuklir Korea Utara Pasca-KTT Vietnam: Tahan Ancaman, Dorong Perubahan

Oleh: Doug Stanglin (USA Today)

Di tengah laporan bahwa fasilitas peluncuran roket Korea Utara sekali lagi beroperasi, Presiden Donald Trump mengatakan pada Jumat (8/3) bahwa ia akan “sangat kecewa” jika ia melihat tanda-tanda uji coba nuklir baru di lokasi nuklir atau rudal Korea Utara.

Dia mengatakan kepada para wartawan bahwa dia memiliki “hubungan baik” dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un “dan hubungan itu tetap baik.”

“Saya akan sangat terkejut secara negatif jika dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemahaman kita,” kata Trump.

Militer Korea Selatan mengatakan pada Kamis (7/3), bahwa pihaknya secara hati-hati memonitor fasilitas nuklir dan rudal Korea Utara, setelah agen mata-mata Korea Selatan mengatakan kepada anggota parlemen bahwa aktivitas baru terdeteksi di pusat penelitian Sanumdong, di mana Korea Utara diyakini membangun rudal jarak jauh yang menargetkan daratan Amerika Serikat (AS), Associated Press melaporkan.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan Choi Hyun-soo mengatakan bahwa militer AS dan Korea Selatan berbagi intelijen atas perkembangan di pusat penelitian tersebut di pinggiran ibu kota, Pyongyang, dan di lokasi roket jarak jauh Sohae yang terpisah.

Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS)—yang berbasis di Washington—melaporkan pada Kamis (7/3), bahwa upaya Korea Utara di Sohae tampak seperti ‘pembalikan’ dari pembongkaran yang dilakukan setelah pertemuan puncak pertama antara Trump dan Kim di Singapura pada bulan Juni.

“Kegiatan pembangunan kembali di Sohae menunjukkan seberapa cepat Korea Utara mengambil langkah untuk melanjutkan program Senjata Pemusnah Massal (WMD)-nya dengan sedikit keraguan,” kata CSIS dalam sebuah studi yang ditulis oleh Joseph Bermudez dan Victor Cha. “Ini menimbulkan tantangan untuk tujuan AS mencapai denuklirisasi penuh, tidak dapat diubah, dan dapat diverifikasi.”

Sebuah situs pengawas Korea Utara 38 North, juga melaporkan pada Kamis (7/3), bahwa gambar satelit menunjukkan konstruksi cepat untuk membangun kembali landasan peluncuran dan tempat uji coba mesin roket di Sohae. Tetapi Joel Wit—seorang mantan pejabat di Departemen Luar Negeri AS dan pendiri 38 North—memperingatkan di Twitter, agar tidak terlalu banyak membaca laporan, dan menekankan bahwa situs itu digunakan untuk kendaraan peluncuran ruang angkasa dan tidak pernah digunakan untuk menguji coba rudal balistik antarbenua.

Baca juga: Mengapa Trump Gagal Tangani Masalah Nuklir Iran dan Korea Utara

Sementara itu, seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada para wartawan pada Kamis (7/3), bahwa AS sedang “mengawasi secara real time” perkembangan di situs tersebut.

Menurut pejabat itu, Kim telah dua kali berjanji untuk membongkar Sohae—sekali di KTT Singapura dan sekali lagi dalam pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada bulan September.

KTT Vietnam

Presiden Trump dan Kim Jong-un bersalaman pada KTT Vietnam. (Foto: Foto Resmi Gedung Putih/Shealah Craighead)

Kim juga mengatakan bahwa inspektur independen akan diizinkan untuk memverifikasi kepatuhan di lapangan, kata pejabat itu.

“Maksud dari Korea Utara dalam hal ini hanya diketahui oleh mereka, kami tidak tahu mengapa mereka mengambil langkah-langkah ini,” kata pejabat itu kepada para wartawan. “Mereka harus menjaga komitmen mereka kepada Presiden Amerika Serikat.”

Pejabat itu menambahkan bahwa pemerintahan Trump akan mencari klarifikasi dari Pyongyang.

Setelah runtuhnya KTT Korea Utara-AS pekan lalu di Hanoi, Trump menyalahkan Pyongyang karena menuntut agar sanksi dicabut “secara keseluruhan”, sementara menawarkan untuk mendenuklirisasi area yang “kurang penting” daripada yang diminta AS.

Para pejabat Korea Utara membantah klaim itu, dan mengatakan bahwa mereka hanya meminta keringanan sanksi parsial dengan imbalan membongkar secara permanen semua fasilitas bahan fisil di kompleks Yongbyon di negara itu.

Departemen Luar Negeri AS kemudian mengklarifikasi posisi AS, dan menarik pernyataan Trump.

Menurut seorang pejabat senior—yang memberikan pengarahan singkat kepada media dengan syarat dia tidak disebutkan namanya, karena dia tidak berwenang untuk membahas negosiasi secara terbuka—Korea Utara “pada dasarnya meminta pencabutan semua sanksi.”

Namun dia mengakui bahwa tuntutan Korea Utara hanya agar Washington mendukung pencabutan sanksi Dewan Keamanan PBB yang diberlakukan sejak Maret 2016, dan tidak termasuk resolusi lain sejak satu dekade sebelumnya.

Pada Kamis (7/3), Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa “kami akan memberi tahu Anda dalam waktu sekitar satu tahun,” tentang hasil upaya AS untuk membuat Kim melepaskan pengejaran senjata nuklir, sebagai imbalan atas keringanan sanksi.

Baca juga: Tak Ada Jawaban Mudah untuk Masalah Nuklir Korea Utara

Menghadapi masalah dalam hubungan bilateral ini, sebuah surat kabar Korea Utara meminta rakyat Korea Utara untuk mandiri dalam mencapai pembangunan independen, dan tidak tunduk pada kekuatan asing.

“Kemerdekaan nasional adalah jalan pintas menuju kekuasaan dan kemakmuran, sedangkan mengandalkan kekuatan asing adalah jalan menuju ketergantungan dan kehancuran nasional,” kata surat kabar Rodong Sinmun dalam sebuah editorial, menurut kantor berita Korea Selatan Yonhap.

“Pada masa di mana penyalahgunaan kekuasaan oleh kaum imperialis mendominasi, kita harus tetap berpegang pada kemandirian untuk mencapai pembangunan independen bangsa kita,” katanya.

Associated Press berkontribusi.

Keterangan foto utama: Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. (Foto: Getty Images)

Trump Akan ‘Sangat Terkejut’ jika Kim Kembali Uji Coba Nuklir

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top