Krisis Venezuela
Amerika

Uang dan Air Langka, Krisis Venezuela Diperparah Pemadaman Listrik

Berita Internasional >> Uang dan Air Langka, Krisis Venezuela Diperparah Pemadaman Listrik

Krisis Venezuela terus berlanjut dan semakin buruk. Rakyat semakin sulit mendapatkan air di tengah pemadaman listrik yang diberlakukan pemerintah. Faksi-faksi oposisi Venezuela terus berupaya mendiskreditkan satu sama lain ketika mereka berupaya saling mengungguli dalam pertarungan sengit untuk mendapatkan kekuasaan yang diawasi ketat oleh dunia.

Baca juga: Pemadaman Besar-besaran, Venezuela Tuduh AS Lancarkan ‘Perang Listrik’

Oleh: Christopher Torchia (Associated Press)

Seiring krisis Venezuela yang terus berlanjut, rakyat mencapai tingkat keputusasaan baru pada hari Minggu (10/3) ketika pemadaman listrik terburuk di negara itu mulai terasa. Mereka berkumpul dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya di berbagai mata air di pegunungan Caracas untuk menampung air dan mengumpulkan uang yang langka untuk membayar makanan di beberapa toko yang masih buka.

Para insinyur memulihkan daya di beberapa tempat setelah listrik dan komunikasi ditutup secara nasional hari Kamis (7/3) malam. Namun, listrik masih padam di banyak tempat di mana orang-orang sudah menderita akibat hiperinflasi serta kekurangan makanan dan obat-obatan.

Para saksi mata melaporkan bahwa protes semalaman dan konfrontasi dengan polisi di beberapa kawasan di Caracas serta sisa-sisa barikade darurat dan puing-puing yang terbakar terlihat di beberapa persimpangan.

“Jika saya bisa, saya akan mengambil sedikit yang saya miliki dan meninggalkan negara ini,” kata Renee Martinez, seorang warga Caracas berusia 31 tahun. “Ini tidak tertahankan. Di sini, semuanya langka dan sekarang listrik juga padam.”

Orang-orang seringkali terlihat mendatangi mata air pegunungan karena mereka tidak memiliki air mengalir di rumah dan air botol dijual terlalu mahal. Ratusan orang terlihat memadati mata air hari Minggu (10/3). Beberapa di antara mereka baru datang untuk pertama kalinya karena pompa air tidak dapat berfungsi tanpa listrik.

Orang-orang mengumpulkan air dari sungai di Taman Nasional Avila selama pemadaman listrik bergilir, yang memengaruhi pompa air di rumah-rumah dan gedung-gedung apartemen, di Caracas, Venezuela, Minggu, 10 Maret 2019. Rakyat Venezuela mencapai tingkat keputusasaan baru pada hari Minggu ketika negara tersebut mengalami pemadaman listrik terburuk, berkumpul dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya di mata air di pegunungan Caracas untuk menampung air dan mengumpulkan uang yang langka untuk membayar makanan di beberapa toko yang masih buka. (Foto: AP Photo/Eduardo Verdugo)

Antrean panjang mobil terlihat menunggu di sejumlah kecil pompa bensin dengan listrik. Beberapa rumah sakit Venezuela merawat pasien mereka yang paling kritis dengan bantuan generator, tetapi banyak yang beroperasi tanpa listrik sama sekali, meningkatkan kekhawatiran tentang pasien rentan yang mengandalkan konsentrator oksigen, mesin dialisis, dan berbagai peralatan medis lainnya.

Baca juga: Krisis Venezuela: Maduro Berjanji Mengalahkan ‘Minoritas Gila’

Pemadaman listrik ini telah meningkatkan iklim politik yang beracun, dengan pemimpin oposisi Juan Guaido melontarkan dugaan korupsi dan kesalahan manajemen oleh pemerintah Venezuela. Presiden Nicolas Maduro menuduh lawannya yang didukung AS tersebut telah menyabotase jaringan listrik nasional.

Hari Minggu (10/3), Maduro menulis tweet bahwa ia telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan distribusi kebutuhan dasar, termasuk makanan dan air, ke rumah sakit dan tempat-tempat lain. Dia juga mengunggah video yang menunjukkan dirinya menggunakan radio dua arah, tampaknya berbicara dengan para komandan militer dan gubernur. Dia mengatakan bahwa “strategi mengerikan” untuk membuat rakyat Venezuela putus asa dan membuat mereka saling melawan satu sama lain akan gagal.

Menteri Informasi Venezuela Jorge Rodriguez mengatakan bahwa sekolah-sekolah dan kantor-kantor publik serta industri-industri akan ditutup hari Senin (11/3) karena pemerintah berupaya untuk menghidupkan kembali jaringan, tetapi belum memberikan kabar terbaru mengenai kemajuan.

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez mengatakan bahwa militer dikerahkan untuk melindungi instalasi listrik Venezuela dari para penyabotase. “Kami tahu siapa di balik semua ini,” kata Padrino Lopez, mengiyakan pernyataan pemerintah bahwa Amerika telah melakukan serangan siber pada infrastruktur Venezuela. Para pejabat Amerika Serikat menganggap tuduhan itu tidak masuk akal.

Guaido, pemimpin Majelis Nasional yang dikontrol oposisi, mengatakan bahwa pemerintah Venezuela menutupi dampak pemadaman listrik pada orang sakit, sehingga sulit untuk mendapatkan informasi yang akurat. Dia mengutip laporan bahwa kematian 17 pasien rumah sakit, 15 di antaranya di kota Maturin, terkait dengan pemadaman, tetapi tidak memberikan rincian. Julio Castro, seorang dokter yang mendukung Guaido, juga merujuk ke 15 kematian yang dituduhkan di Maturin.

Menteri Kesehatan Venezuela Carlos Alvarado tidak menyebutkan jumlah kematian yang dilaporkan dalam komentar di televisi pemerintah. Namun, dia mengatakan lebih dari 90 persen generator yang merupakan bagian dari rencana darurat pemerintah berhasil menyediakan listrik ke rumah sakit Venezuela, memastikan tidak ada masalah besar bagi pasien yang sakit parah.

Konfirmasi independen atas berbagai dugaan kematian tidak segera tersedia. Faksi-faksi oposisi Venezuela terus berupaya mendiskreditkan satu sama lain ketika mereka berupaya saling mengungguli dalam pertarungan sengit untuk mendapatkan kekuasaan yang diawasi ketat oleh dunia.

Amerika Serikat dan sekitar 50 negara lainnya telah mendukung klaim Guaido bahwa ia adalah presiden sementara Venezuela dan bahwa Maduro harus mengundurkan diri sehingga pemilihan umum dapat diadakan dan lebih dari 3 juta rakyat Venezuela yang telah melarikan diri dari negara mereka yang bermasalah dapat mulai kembali pulang. Maduro, yang menganggap Rusia dan Kuba sebagai sekutu, mengatakan bahwa Guaido terlibat dalam rencana kudeta AS.

Baca juga: Kembali ke Venezuela, Pemimpin Oposisi Juan Guaido Berisiko Ditangkap

Alexis Reynoso mengatakan dia meninggalkan rumahnya di ibu kota Venezuela hari Minggu (10/3) pagi untuk mencoba membeli air dan makanan, tetapi sebagian besar toko tutup. Dia mengatakan bahwa toko yang masih buka hanya menerima uang tunai, tetapi dia tidak punya cukup uang karena bank hanya mengizinkan penarikan kecil, sedangkan pembayaran dengan kartu debit tidak mungkin dilakukan karena adanya pemadaman listrik.

Dengan bolivar, mata uang lokal, berada dalam pasokan terbatas, beberapa orang mulai menjual simpanan dolar. Mahasiswa universitas, Juan Gutierrez mengatakan bahwa makan siang hari Minggu untuk keluarganya berharga US $ 20, jumlah besar di mana upah minimum bulanan yang diperoleh kebanyakan orang Venezuela adalah kurang dari US $ 6.

“Anda harus membayar dalam dolar dan itu sangat mahal bagi kami,” kata Gutierrez.

Kontributor artikel: penulis Associated Press Jorge Rueda.

Keterangan foto utama: Anak-anak muda membawa wadah kosong yang akan mereka gunakan untuk menampung air, selama pemadaman listrik bergilir memengaruhi pompa air di rumah-rumah dan gedung-gedung apartemen, di Caracas, Venezuela, Minggu, 10 Maret 2019. Rakyat Venezuela mencapai tingkat keputusasaan baru pada hari Minggu ketika negara tersebut mengalami pemadaman listrik terburuk, berkumpul dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya di mata air di pegunungan Caracas untuk menampung air dan mengumpulkan uang yang langka untuk membayar makanan di beberapa toko yang masih buka. (Foto: AP Photo/Eduardo Verdugo)

Uang dan Air Langka, Krisis Venezuela Diperparah Pemadaman Listrik

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top