Barack Obama
Amerika

Perang atau Palsu: Trump Klaim Barack Obama Siap Serang Korea Utara

Berita Internasional >> Perang atau Palsu: Trump Klaim Barack Obama Siap Serang Korea Utara

Donald Trump mengklaim pendahulunya, Presiden Barack Obama, pernah sudah siap berangkat perang menuju Korea Utara. Ia mengatakan, jika ia tidak terpilih menjadi presiden, Amerika Serikat kini tengah berperang lawan Korea Utara. Klaimnya itu dibantah oleh pada staf administrasi Obama yang mengatakan sama sekali tidak mungkin Obama berniat untuk mengambil tindakan militer terhadap negara bersenjata nuklir tersebut. 

Baca Juga: Kembalinya Barack Obama: Baik Atau Buruk Bagi Demokrat?

Oleh: Peter Baker (The New York Times)

Amerika pernah berada di ambang perang. Ketika mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama bersiap untuk meninggalkan jabatannya, dia sedang memikirkan konflik lain di Asia, perang yang telah dilakoni Amerika dua kali sejak tahun 1950-an tanpa kemenangan. Kali ini, musuh memiliki senjata nuklir. Potensi kehancuran sangat besar.

Tampaknya tidak ada seorang pun yang ingat kapan Obama pernah berperang dengan Korea Utara, bahkan mereka yang bekerja untuk administrasinya.

Namun Presiden AS Donald Trump telah mengatakan baru-baru ini bahwa pendahulunya berada di jurang konfrontasi habis-habisan dengan negara pariah bersenjata nuklir tersebut. Trump menggambarkan kisahnya seolah berbagai pesawat jet benar-benar berseliweran di hanggar.

“Saya percaya dia sudah siap perang dengan Korea Utara,” kata Trump di Rose Garden Gedung Putih, Jumat (15/2). “Saya pikir dia siap berperang. Faktanya, dia memberi tahu saya bahwa dia sudah hampir memulai perang besar dengan Korea Utara.”

Gagasan bahwa Obama, yang terkenal mengelak melakukan satu pun serangan rudal terhadap Suriah yang non-nuklir sebagai hukuman karena menggunakan senjata kimia terhadap warga sipilnya sendiri, akan memulai perang penuh dengan Korea Utara tampaknya menjadi hal yang sulit dibayangkan. Tetapi anggapan ini telah menjadi bagian dari narasi Trump dalam memuji dirinya sendiri atas upaya komunikasi dengan Korut untuk menciptakan perdamaian.

Argumennya adalah bahwa jika Obama masih memegang jabatan atau jika ada orang yang menggantikannya, Amerika Serikat akan selalu menghadapi Korea Utara dengan agresi bersenjata untuk memusnahkan program senjata nuklirnya. Tetapi diplomasi Trump telah menghindari hasil yang seharusnya tak terhindarkan ini, yang berarti Trump telah sukses meskipun sejauh ini Korea Utara belum menghapuskan satu pun hulu ledak nuklir atau menyerahkan misilnya.

“Saya yakin dia akan pergi berperang dengan Korea Utara,” kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Jumat, 15 Februari 2019, di Rose Garden Gedung Putih. “Saya pikir dia telah siap berperang. Bahkan, dia mengatakan kepada saya bahwa dia hampir memulai perang besar dengan Korea Utara.” (Foto: The New York Times/Doug Mills)

“Jujur saja, itu bisa menjadi Perang Dunia III,” kata Trump pada pertemuan kabinet bulan Januari 2019. “Jika saya tidak menjadi presiden, Anda pasti sedang berperang sekarang,” katanya kepada wartawan beberapa hari kemudian. “Dan saya bisa memberitahu Anda, pemerintahan sebelumnya akan berperang sekarang jika kekuasaannya diperpanjang. Anda akan, saat ini, berada dalam perang yang bagus, besar, dan gemuk di Asia dengan Korea Utara jika saya bukan presiden terpilih.”

Kemudian dia mengulanginya ke audiensi nasional di pidato kenegaraannya: “Jika saya tidak terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, menurut saya, kita sekarang akan berada dalam perang besar dengan Korea Utara dengan kemungkinan jutaan orang terbunuh.”

Baca Juga: Barack Obama Mendesak Perlunya ‘Kewarasan dalam Politik Amerika’

Tidak mungkin membuktikan gagasan negatif, tentu saja, tetapi tidak seorang pun yang bekerja untuk Obama secara terbuka mendukung penilaian ini. Memoar yang muncul dari masa pemerintahannya tidak mengungkapkan diskusi serius adanya tindakan militer terhadap Korea Utara. Beberapa veteran era Obama menentang pernyataan publik Trump pada hari Jumat (15/2).

“Kami tidak berada di ambang perang dengan Korea Utara pada tahun 2016,” tulis Benjamin J. Rhodes, wakil penasihat keamanan nasional administrasi Obama, di Twitter.

John Brennan, direktur CIA era Obama, mengatakan kepada NBC News, “Presiden Obama tidak pernah berada di ambang memulai perang dengan Korea Utara, besar atau kecil.”

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendasarkan argumennya pada sebuah percakapan panjang yang pernah dia lakukan dengan mantan Presiden AS Barack Obama pada bulan November 2016, ketika Obama mengundang kandidat presiden terpilih ke Gedung Putih untuk membahas masalah kenegaraan yang menunggunya. (Foto: The New York Times/Stephen Crowley)

Trump mendasarkan argumennya pada sebuah percakapan panjang yang pernah ia lakukan dengan Obama. Bulan November 2016, Obama mengundang kandidat presiden terpilih ke Gedung Putih untuk berdiskusi selama 90 menit tentang masalah kenegaraan yang menantinya.

Pernyataan Trump tentang percakapan itu telah berkembang seiring waktu. Pada awalnya, dia mengatakan bahwa Obama mengatakan kepadanya bahwa Korea Utara akan menjadi tantangan kebijakan luar negeri terberat pemerintah baru, yang tampaknya cukup masuk akal. Kemudian Trump menambahkan diskusi perang di antara keduanya.

Kantor Obama tidak memberikan komentar pada hari Jumat (15/2), tetapi para mantan pembantunya mengatakan tidak ada pertimbangan aktif mengenai opsi militer pada saat itu. Obama, yang menentang perang Irak sejak awal, sangat khawatir dengan aksi militer pada akhir masa kepresidenannya dan telah mendefinisikan kebijakan luar negerinya pada saat itu sebagai “jangan melakukan hal-hal bodoh.”

Baca Juga: Cek Fakta: Barack Obama Tidak Selalu Mengatakan yang Sebenarnya

Dalam sebuah email pada hari Jumat (15/2), Rhodes mengatakan, Obama memperingatkan Trump tentang Korea Utara dalam pertemuan mereka, tetapi bukan menunjukkan bahwa Obama pernah siap menggunakan kekerasan. “Dia berbicara tentang ancaman program Korea Utara, seperti apa posisinya, apa yang menjadi kekhawatiran kami,” kata Rhodes. “Itu sangat berbeda dengan mengatakan bahwa Anda akan pergi berperang!”

Jen Psaki, direktur komunikasi Gedung Putih era Obama, juga menolak anggapan bahwa Obama memberi tahu penggantinya bahwa dia telah siap mengirim para pengebom. “Tidak ada skenario di mana saya bisa melihat dia mengatakan hal itu, mengingat dia tidak khawatir dan itulah yang berusaha dihindari semua orang selamanya,” katanya.

Korea Utara hingga saat itu telah menimbulkan kekhawatiran bagi tiga presiden terakhir, yang semuanya berusaha namun gagal menekannya untuk menghentikan program senjata nuklir melalui sanksi, sabotase, dan diplomasi.

Satu-satunya presiden Amerika Serikat yang secara vokal telah melontarkan ancaman perang terhadap Korea Utara dalam beberapa waktu terakhir adalah Donald Trump. (Foto: The New York Times/Doug Mills)

Meskipun Obama dan para pendahulunya tidak pernah secara resmi mengambil opsi militer, hal itu secara umum dipandang sebagai alternatif yang tidak mungkin. Dalam bukunya yang terbaru, Bob Woodward melaporkan bahwa setelah uji coba nuklir Korea Utara pada bulan September 2016, Obama bertanya apakah serangan yang hanya menyasar target militer (surgical strike) dapat memusnahkan persenjataan nuklir Korut, tetapi setelah diberitahu bahwa serangan itu akan memerlukan serangan darat, ia menolak tindakan apa pun sebagai “tidak terpikirkan.” Para mantan pembantunya mengatakan Obama tidak pernah mendekati upaya memerintahkan serangan.

Baca Juga: Barack Obama Tawarkan Bantuan Kepada Puerto Rico, Seakan Dia Masih Presiden

Tidak seperti Afghanistan, Irak, Libya atau tempat-tempat lain di mana Amerika Serikat berperang dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara dapat menanggapi dengan senjata nuklir yang dapat membunuh ratusan ribu orang.

Bahkan artileri konvensionalnya begitu dekat dengan Seoul, ibu kota Korea Selatan. Belum lagi puluhan ribu tentara Amerika yang ditempatkan di dekatnya, sehingga dapat menimbulkan kekacauan bahkan tanpa adanya eskalasi nuklir.

Departemen Pertahanan AS pernah memperkirakan bahwa Korea Utara dapat menimbulkan 250.000 korban di Seoul sendiri melalui artileri konvensional, menurut laporan Rand Corporation. Ledakan nuklir sebesar 100 kiloton di sebuah distrik kaya di Seoul akan menimbulkan sekitar 1.530.000 korban, termasuk 400.000 orang tewas, menurut laporan itu.

Satu-satunya presiden Amerika Serikat yang secara vokal melontarkan ancaman perang terhadap Korea Utara dalam beberapa waktu terakhir adalah Trump. Setelah uji coba rudal balistik antarbenua yang provokatif, Trump pada musim panas 2017 mengancam akan menjatuhkan “api dan amarah” pada Korut. Sebulan kemudian, Trump mengatakan kepada Majelis Umum PBB bahwa ia akan “benar-benar menghancurkan Korea Utara” jika Korut menimbulkan ancaman bagi Amerika.

Bulan Januari 2018, setelah pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, mengatakan ia memiliki tombol nuklir, Trump menulis di Twitter bahwa “Saya juga memiliki Tombol Nuklir, tetapi itu jauh lebih besar & lebih kuat daripada miliknya, dan Tombol saya berfungsi!”

Semua itu berubah beberapa bulan kemudian ketika Trump setuju untuk melakukan apa yang belum pernah dilakukan oleh para pendahulunya dan bertemu dengan pemimpin Korea Utara. Trump dan Kim berkumpul di Singapura, dan seperti yang dikatakan oleh Trump, “kami jatuh cinta.” Trump memamerkan surat-surat bernada ramah yang dia terima dari Kim kepada para pengunjung di Ruang Oval. Trump dan Kim akan kembali bertemu untuk kedua kalinya bulan Februari 2019 di Hanoi, Vietnam.

“Itu adalah dialog yang sangat sulit pada awalnya,” kenang Trump pada hari Jumat (15/2). “Api dan amarah. Penghancuran total. Tombol saya lebih besar dari tombol Anda dan tombol saya berfungsi. Ingatkah Anda? Anda tidak ingat itu. Dan orang-orang berkata, ‘Trump itu gila.’ Dan tahukah Anda akhirnya? Hubungan yang sangat baik. Saya sangat menyukainya dan dia sangat menyukai saya. Tidak ada orang lain yang akan melakukan hal itu.”

Keterangan foto utama: Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengatakan bahwa mantan Presiden AS Barack Obama pernah hampir melakukan konfrontasi habis-habisan dengan Korea Utara yang bersenjata nuklir. (Foto: The New York Times/Doug Mills)

Perang atau Palsu: Trump Klaim Barack Obama Siap Serang Korea Utara

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top