Palestina
Timur Tengah

Pasca Perginya Pemantau, Murid-Murid Palestina Harus Ditemani ke Sekolah

Berita Internasional >> Pasca Perginya Pemantau, Murid-Murid Palestina Harus Ditemani ke Sekolah

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bulan Januari 2019 bahwa dia tidak akan memperbarui mandat Kehadiran Pemantau Internasional Sementara di Hebron. Misi pemantauan itu ditetapkan setelah pembantaian warga Palestina pada tahun 1994. Para pejabat Palestina memperingatkan bahwa penarikan para pemantau internasional dapat meningkatkan pelanggaran oleh para pemukim di kota itu.

Baca juga: Belanda Akui Gaza, Tepi Barat, sebagai Tanah Kelahiran Warga Palestina

Oleh: South China Morning Post

Warga Palestina di Kota Hebron Tepi Barat yang diduduki terlihat mengantarkan anak-anak ke sekolah pada hari Minggu, mengatakan bahwa upaya melindungi para siswa dari para pemukim Israel diperlukan setelah penarikan para pemantau internasional. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bulan Januari 2019 bahwa dia tidak akan memperbarui mandat Kehadiran Pemantau Internasional Sementara di Hebron (TIPH), yang dianggapnya bias.

Misi itu telah pergi pada tanggal 31 Januari 2019. Misi TIPH ditetapkan setelah pembantaian warga Palestina pada tahun 1994. Para pejabat Palestina memperingatkan bahwa penarikan para pemantau internasional dapat meningkatkan pelanggaran oleh para pemukim di kota itu.

Seorang pemukim Israel berdebat dengan orang-orang Palestina yang mengenakan rompi biru yang menandainya sebagai “Pengamat” selama protes terhadap berakhirnya mandat untuk Kehadiran Pemantau Internasional Sementara di Hebron (TIPH) sipil di Kota Hebron Tepi Barat. (Foto: EPA-EFE)

Warga Palestina dari organisasi Youth Against Settlements menemani anak-anak ke sekolah-sekolah dalam rompi dengan kata “Pengamat” yang ditulis dalam Bahasa Inggris, Arab, dan Ibrani, menurut seorang fotografer AFP.

Baca juga: 7 Mitos Tembok Pemisah Israel yang Mengurung Warga Palestina

“Hari ini kami memulai kampanye lokal untuk mendokumentasikan pelanggaran yang dialami anak-anak di sekolah di daerah ini di mana selalu ada pemukim dan tentara pendudukan,” kata Issa Amro dari organisasi itu kepada AFP. “Kami tidak akan menggantikan pengamat internasional, tetapi kami berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa anak-anak dapat pergi ke sekolah.”

Perkelahian kecil pecah antara pemukim Israel, warga Palestina, dan tentara Israel selama perjalanan, menurut wartawan AFP. Misi TIPH diciptakan setelah 29 jamaah Palestina di sebuah masjid ditembak mati oleh seorang pemukim Israel kelahiran Amerika.

Para pengamat melakukan patroli harian dan mendokumentasikan pelanggaran hak asasi yang mereka saksikan, meskipun mereka tidak diizinkan melakukan intervensi. Misi tersebut melaporkan temuannya ke negara-negara anggotanya: Italia, Norwegia, Swedia, Swiss, Turki, serta otoritas Israel dan Palestina.

Hebron adalah suci bagi Muslim dan Yahudi serta telah menjadi titik benturan dalam konflik Israel-Palestina. Setidaknya 600 pemukim Yahudi tinggal di bawah penjagaan militer di kota itu, yang merupakan rumah bagi sekitar 200.000 warga Palestina.

Baca juga: Palestina Tolak Temui Penasihat Trump, Picu Adu Mulut Kedua Pihak di Twitter

Pemukiman Israel dipandang ilegal di bawah hukum internasional dan merupakan hambatan utama bagi perdamaian karena dibangun di atas tanah yang dianggap oleh orang Palestina sebagai bagian dari negara masa depan mereka.

Keterangan foto utama: Seorang pemukim Yahudi meneriaki para aktivis Palestina yang mengenakan rompi biru selama protes di Kota Hebron Tepi Barat, tanggal 10 Februari 2019. (Foto: Xinhua)

Pasca Perginya Pemantau, Murid-Murid Palestina Harus Ditemani ke Sekolah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top