Pilpres 2019
Berita Politik Indonesia

Pilpres 2019 Picu Konflik Agama dan Perpecahan Keluarga

Berita Internasional >> Pilpres 2019 Picu Konflik Agama dan Perpecahan Keluarga

Politik telah menciptakan konflik agama dan perpecahan dalam keluarga-keluarga di Indonesia. Jelang Pilpres 2019 April nanti, hal ini semakin terasa. Identitas politik telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia ini.

Baca Juga: Indonesia Banjir Hoaks Jelang Pilpres 2019

Oleh: Erwin Renaldi dan Farid Ibrahim (ABC)

Pilpres 2019 akan berlangsung bulan April nanti, dan selama musim kampanye berlangsung, perpecahan dan konflik antar warga semakin banyak terjadi. Perbedaan pilihan politik telah menciptakan konflik agama, bahkan perpecahan di dalam keluarga. Seperti yang dialami Gayatri.

Gayatri menganggap dirinya seorang wanita Muslim “normal.” Dia mengenakan jilbab, shalat lima waktu, puasa selama bulan Ramadhan, dan secara teratur bersedekah: semua rukun Islam.

Namun, ibu dua anak itu mengatakan beberapa anggota keluarga besarnya, terutama generasi yang lebih tua, mengatakan dia tidak memenuhi “standar Islam” mereka. Gayatri mengatakan semua itu dimulai setelah pemilihan gubernur Jakarta pada tahun 2017, yang secara luas dipandang sebagai ujian toleransi agama dan etnis di Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Kampanye Pilkada Jakarta 2017 sangat bergejolak dan memecah belah, berakhir dengan kandidat gubernur petahana Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama diadili atas tuduhan penistaan agama.

“Saya berbagi foto keluarga saya di grup WhatsApp. Kami semua mengenakan kemeja kotak-kotak ala Ahok, dan salah satu dari mereka bertanya mengapa saya mendukung keturunan Tionghoa Kristen?” kata Gayatri.

Ketegangan meningkat menjelang debat pilpres kedua

Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama mengenakan kemeja kotak-kotak khasnya. (Foto: AP/Dita Alangkara)

Gayatri tahu beberapa paman dan bibinya secara terbuka mendukung mantan jenderal militer Prabowo Subianto dan partai-partai Islam konservatif. “Mereka sepenuhnya sadar bahwa saya masih beribadah, tetapi tetap saja mereka mempertanyakan apakah saya mengikuti ajaran yang benar,” katanya.

Baca Juga: Analisis Pilpres 2019: Mengapa Demokrasi Indonesia Kian Terancam?

Dia mengatakan sepertinya paman dan bibinya berpikir bahwa mereka adalah Muslim yang lebih baik daripada yang lain. “Mereka menjadi menghakimi dan juga dengan mudah menuduh orang lain sebagai komunis, pro-China, atau pro-Barat.”

Banyak Muslim di Indonesia mengatakan mereka tidak keberatan dengan nasihat agama, tetapi tidak mau dihakimi. (Foto: ABC News/David Lipson)

Gayatri tidak sendirian dalam pengalamannya. Banyak orang Indonesia menghadapi perdebatan sengit tentang pilihan-pilihan politik dalam keluarga mereka sendiri dan lingkaran pertemanan hampir setiap hari. Hal itu semakin intensif menjelang Pilpres 2019 tanggal 17 April mendatang antara kandidat petahana Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo dan Prabowo, yang akan bertatap muka dalam debat pada hari Minggu (17/2) malam.

Nadirsyah Hosen, dosen senior hukum Islam di Universitas Monash, mengatakan bahwa politisasi agama telah memecah-belah bangsa hingga ke tingkat akar rumput. “Apakah ini akan bersifat sementara atau berlanjut setelah pemilihan, kita tunggu saja,” kata Hosen kepada ABC.

Baca Juga: Laga Pilpres 2019: Prabowo Dekati Etnis Tionghoa, Jokowi Manfaatkan Kebencian pada Prabowo

Dia mengatakan bahwa sementara orang luar, termasuk media barat, mungkin berpikir Indonesia telah bergeser lebih jauh ke kanan karena para ulama Islam, tidak semua ulama tergolong radikal. “Kita juga harus berhati-hati untuk tidak menggeneralisasi bahwa setiap orang yang menentang Joko Widodo adalah radikal,” kata Hosen. Dia mengatakan polarisasi politik di Indonesia adalah unik dibandingkan dengan negara-negara Muslim lainnya di Timur Tengah.

Pengaruh ulama Islam

Rizieq Shihab bersama pengusaha dan politisi Indonesia, Prabowo Subianto.

Berbicara di seminar Indonesia di Universitas Monash , associate professor Julian Millie, seorang ahli studi Islam, mengatakan ulama Muslim memiliki keterlibatan dan pengaruh yang signifikan dalam arena politik Indonesia, di tingkat nasional maupun lokal.

Salah satu contohnya adalah keputusan Jokowi, yang sering dituduh tidak cukup religious, untuk memilih ulama Muslim konservatif Ma’ruf Amin sebagai cawapres mendampinginya. Banyak pakar mengatakan bahwa pemilihan Ma’ruf Amin bertujuan menciptakan “perisai politik” bagi Jokowi.

Di sisi lain ajang pemilihan presiden, Prabowo pernah mencoba menarik dukungan Abdul Somad, ulama Islam populer dengan jutaan pengikut di media sosial, untuk menjadi cawapres mendampinginya. Abdul Somad menolak tawaran itu tetapi tetap mendukung Prabowo.

Baca Juga: Politik & Ekonomi Indonesia Pasca Pilpres 2019: Kurang Lebih Masih Sama?

Millie baru-baru ini melakukan tur sebulan penuh dengan seorang ulama Islam setelah kampanye seorang kandidat lokal di Provinsi Jawa Barat.

“Ulama Islam tersebut memberikan ceramah yang mungkin berlangsung selama 50 menit, kemudian kandidat mengatakannya selama lima menit,” katanya, menambahkan bahwa kandidat hanya ingin dikaitkan dengan ulama untuk membangun profil politik yang kuat.

Dia mengatakan bahwa dalam pemilihan lokal, para kandidat sangat bergantung pada ulama Islam untuk menyampaikan pesan mereka kepada audiens dalam jumlah besar. “Jika Anda bertanya kepada para ulama Islam mengenai calon mana yang mereka dukung, tentu saja jawaban mereka akan memengaruhi pengikut mereka. Tetapi saya tidak tahu sampai sejauh mana,” kata Millie.

‘Saya lelah dan sedih’

Banyak masyarakat Indonesia berharap hubungan keluarga mereka akan membaik setelah kampanye pemilihan umum yang menegangkan. (Foto: Flickr/Budi Nusyirwan)

Gayatri mengatakan bahwa anggota keluarga besarnya yang konservatif tidak pernah mencoba membujuk anggota keluarga lain untuk mengubah pandangan politik mereka, tetapi malah “menyerang mereka” di forum seperti WhatsApp.

“Kami mengalami dua perselisihan keluarga besar-besaran tentang pilihan politik,” katanya. “Secara pribadi, itu mengganggu bagi saya. Saya lelah dan sedih.”

Tapi Gayatri bilang dia akan terus menjadi dirinya sendiri meskipun itu tidak mudah. Terlepas dari perdebatan sengit di media sosial, Gayatri mengatakan dia masih bersedia bertemu keluarga besarnya selama perayaan Idul Fitri dan acara keluarga lainnya.

“Sebagai umat Muslim, kita wajib menjaga hubungan yang baik dengan saudara dan teman kita,” katanya. Dia mengatakan memutuskan ikatan keluarga dan persahabatan karena alasan politik tidak perlu dan juga bertentangan dengan nilai-nilai Indonesia, yang mengutamakan keluarga.

Keterangan foto utama: Selama pemilihan gubernur Jakarta pada tahun 2017, beberapa umat Muslim dipertanyakan keislamannya. (Foto: Flickr/Chris Lewis)

Pilpres 2019 Picu Konflik Agama dan Perpecahan Keluarga

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top