hizbullah
Timur Tengah

Obama, Hizbullah dan Tamatnya Negara Israel

PM Israel Benyamin Netanyahu bertemu Presiden AS Barack Obama pada Maret 2012. (Foto: EPA)
Home » Featured » Timur Tengah » Obama, Hizbullah dan Tamatnya Negara Israel

Bagaimana Hizbullah menjadi ancaman bagi Israel? Saat ini, yang perlu dijelaskan lebih dulu adalah bahwa pemerintah Israel, di bawah kepemimpinan mantan Perdana Menteri Ehud Barak, pantas disalahkan atas situasi strategis Israel saat ini. Menurut David Mark dalam opini ini, penyebab masalah adalah musuh terbesar Israel diperbolehkan untuk membangun dan mengembangkan tentara dan senjatanya dengan pengetahuan penuh dan penerimaan dari mantan Presiden Obama. 

Oleh: David Mark (Jewish Press)

Ketika saya baru-baru ini duduk di rumah saya di Yerusalem Selatan, terjadi keributan yang meningkat di perbatasan Utara Israel. Keributan itu adalah poros Iran yang terdiri dari rezim Suriah, Hizbullah, dan pasukan khusus Iran. Kelompok ini saat ini berada empat kilometer dari Golan Israel—sebuah situasi yang tidak terpikirkan hanya beberapa bulan yang lalu.

Telah semakin jelas bahwa ancaman paling kuat dari ketiga tokoh jahat tersebut adalah Hizbullah Lebanon. Apa yang tadinya hanyalah perang proxy Iran, telah menjadi pertempuran selama beberapa tahun terakhir, melawan rezim Assad di Suriah. Hizbullah saat ini membanggakan lebih dari 100 ribu roket yang diarahkan ke Israel. Pasukan bersenjata mereka tidak hanya berada di Israel Utara, namun saat ini memperkuat Hermon—sebuah gunung strategis yang menghadap ke lembah Hula Israel dan daerah pesisir utara.

Bagaimana hal ini terjadi? Bagaimana Hizbullah menjadi ancaman bagi Israel? Saat ini, sebelum saya menulis lebih lanjut, saya ingin memperjelas bahwa pemerintah Israel di bawah kepemimpinan mantan Perdana Menteri Ehud Barak—yang buru-buru menarik diri dari Lebanon Selatan, sehingga menyerahkan kendali kepada Hizbullah—pantas disalahkan atas situasi strategis Israel saat ini.

Namun, menjadi jelas berkat Josh Meyer di Politico, bahwa pemerintahan Obama telah dengan sengaja menutup dan memblokir bagian-bagian penting dari Proyek Cassandra—yang merupakan sebuah program rahasia yang dimulai pada tahun 2008 di bawah naungan DEA untuk menargetkan perusahaan kejahatan bernilai miliaran milik Hizbullah. Pembiayaan Hizbullah sangat penting, dan mengubahnya dari organisasi teroris, saat ini tumbuh menjadi sebuah gerakan politik dan tentara yang tangguh.

Tulisan Meyer—yang telah menjadi fokus para politisi dan pakar sejak dipublikasikan pada tanggal 18 Desember—pada dasarnya mengungkap runtuhnya kebijakan ketenangan Obama di Iran.

“Dalam tekadnya untuk mengamankan kesepakatan nuklir dengan Iran, pemerintah Obama menggagalkan sebuah kampanye penegakan hukum yang ambisius yang menargetkan perdagangan narkoba oleh kelompok teroris yang didukung Iran, Hizbullah, bahkan saat kelompok tersebut menyalurkan kokain ke Amerika Serikat, menurut penyelidikan Politico,” tulis Meyer saat memulai artikelnya.

Artikel Meyer dipenuhi dengan penelitian yang investigatif. Terlepas pertentangan dari mantan pejabat Obama dan Clinton, sulit untuk mengabaikan penemuannya. Tidak perlu menulis kembali atas apa yang telah dilakukan oleh Meyer di Politico.

Yang penting untuk dipahami adalah, bahwa musuh terbesar Israel diperbolehkan untuk membangun dan mengembangkan tentara dan senjatanya dengan pengetahuan penuh dan penerimaan dari mantan Presiden Obama. Ini bukanlah masalah kecil, dan keputusan untuk memperbolehkan hal ini sudah jelas tidak diambil tanpa pemahaman bahwa dengan melakukan hal itu, maka akan membuat Israel berada dalam bahaya abadi seperti yang terjadi saat ini.

Poros Iran mungkin masih menguasai Beit Jinn pada satu minggu terakhir, namun kemampuannya untuk melakukan serangan melawan Israel tidak akan terlalu kuat jika bukan karena tekad Obama yang ceroboh, untuk mencapai kesepakatan dengan rezim Iran dengan mengorbankan keselamatan Israel.

Perang yang akan datang antara Israel dan musuh bebuyutannya merupakan konsekuensi langsung dari keputusan kebijakan dalam pemerintahan Obama. Tanpa kekacauan dari Kebangkitan Arab—yang diperjuangkan Obama—atau tawaran untuk rezim Iran, oleh Presiden itu sendiri, Iran tidak akan pernah bisa mencapai Levant. Iran membuat kemajuan yang terjadi, sebagian besar karena bantuan Hizbullah yang didanai dengan baik.

Minggu-minggu yang akan datang sangat penting bagi Israel, karena perang tampaknya menjadi semakin pasti. Sangat penting bahwa kebenaran dapat terungkap, terkait peran pemerintahan Obama dalam memaksa program yang dirancang untuk melemahkan salah satu musuh Israel dan AS yang paling kuat. Juga sangat penting bahwa penulis seperti Josh Meyer diperjuangkan, dan bukannya diserang seperti yang sekarang terjadi oleh agen publik yang dekat dengan tim Obama dan Clinton.

David Mark adalah CEO Grup Strategi Cahil Group yang memimpin kelompok strategi advokasi Israel yang berfokus pada hak-hak masyarakat adat Yahudi di Tanah Suci.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: PM Israel Benyamin Netanyahu bertemu Presiden AS Barack Obama pada Maret 2012. (Foto: EPA)

Obama, Hizbullah dan Tamatnya Negara Israel
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top