Islam Moderat
Global

Bisakah Indonesia Bantu Tumbuhkan Islam Moderat di Eropa?

Berita Internasional >> Bisakah Indonesia Bantu Tumbuhkan Islam Moderat di Eropa?

Tidak banyak orang di Eropa yang tahu, organisasi Islam terbesar di dunia berhaluan moderat. Mereka adalah Nadhlatul Ulama dari Indonesia. Membangun perwakilan Islam Moderat di Eropa, khususnya di Jerman, dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk menangkal ekses Muslim ekstremis yang sedang berlangsung di ranah publik.

Baca juga: Yenny Wahid: Suara Islam Moderat yang Mencuat

Oleh: Manfred Gerstenfeld (The Jerusalem Post)

Migrasi massal umat Islam ke Eropa dengan sedikit pilihan telah membawa banyak masalah. Tidak ada kelompok Muslim berpengaruh yang muncul yang secara teratur berbicara menentang perilaku ekstremis dari kepercayaan Islam mereka.

Di masa lalu, terdapat harapan bahwa suatu ketika akan muncul Islam Eropa yang terintegrasi dengan demokrasi. Akademisi Muslim terkemuka dari Suriah, Bassam Tibi, telah mempromosikan gagasan Islam Eropa selama seperempat abad.

Tahun 2016, dia menyerah. Dia menjelaskan alasannya dalam sebuah artikel dalam bahasa Jerman yang judulnya diterjemahkan sebagai “Mengapa Saya Menyerah.”

Hanya sedikit politisi Eropa yang mengetahui bahwa organisasi Muslim terbesar di dunia memiliki haluan moderat. Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia memiliki lebih dari 45 juta anggota dan puluhan juta simpatisan tambahan.

Sekretaris jendralnya, Kyai Haji Yahya Cholil Staquf, dalam wawancara tahun 2017 dengan harian Jerman Frankfurter Algemeine Zeitung, mengatakan bahwa para politisi Barat harus berhenti mengatakan ekstremisme dan terorisme tidak ada hubungannya dengan Islam ortodoks.

Staquf menambahkan bahwa Islamisme kontemporer berakar pada ajaran Islam ortodoks yang usang dan bermasalah. Dia sangat mengkritik elit politik dan intelektual Barat yang mengklaim bahwa Islam secara inheren bersifat damai. Dia berkomentar bahwa dengan menganalisis beasiswa Muslim, siapa pun akan memahami bahwa Muslim yang di media Barat disebut Islamis dan teroris adalah elit politik Islam.

Orang-orang yang disebut sebagai kaum Islamis tersebut seringkali mengetahui yurisprudensi Islam jauh lebih baik daripada mayoritas Muslim. Mereka menafsirkan kitab suci secara harfiah serta menyerukan tindakan berdasarkan ayat-ayat dari Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad yang memerintahkan kekerasan terhadap non-Muslim.

Selanjutnya Staquf mengamati bahwa kepemimpinan masjid-masjid ekstremis seringkali menghasut kebencian dan kekerasan terhadap orang-orang yang tidak beriman. Beberapa di antaranya bahkan mendorong tindakan jihad melalui bom bunuh diri, sebuah bentuk hasutan yang sangat berbahaya, mengingat status jihad yang dihormati dalam ajaran Islam.

Barat, tambah Staquf, harus berhenti mengklaim bahwa membahas masalah-masalah tersebut adalah Islamofobia. Dia berkomentar: “Saya seorang sarjana Muslim. Apakah ada yang berkenan menyebut saya Islamofobia?”

Staquf membandingkan mayoritas moderat Muslim Indonesia dengan Islam garis keras, tapi sah, yang dihadapi dunia Barat. Dia mengatakan Muslim Indonesia moderat berpendapat bahwa tradisi tertentu dari Abad Pertengahan harus dilihat dalam konteks waktu mereka berasal, bukan sebagai instruksi operasional untuk zaman kita, dan bahwa hukum nasional lebih diutamakan daripada hukum Islam.

Seandainya semua ini dikatakan oleh seorang sarjana Muslim di Eropa, hal itu tidak akan memiliki banyak relevansi. Namun, Staquf adalah pemimpin NU dengan anggota yang jauh lebih banyak daripada jumlah Muslim di Uni Eropa. Staquf, penasihat Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo, menegaskan komentarnya dalam percakapan makan malam yang panjang selama kunjungan ke Yerusalem lebih dari setengah tahun yang lalu.

Beberapa pemerintah Eropa mengakui kebutuhan ekstrem akan organisasi-organisasi Muslim yang berpengaruh untuk menentang para ekstremis agama di negara mereka. Terdapat sebuah gagasan adalah bahwa kursus untuk melatih para imam di universitas-universitas Eropa harus didirikan. Dengan cara ini, diperkirakan bahwa jenis imam moderat baru akan muncul.

Gagasan ini tidak hanya menimbulkan masalah legitimasi di kalangan Muslim Eropa, tetapi juga ancaman bahwa para imam baru tersebut akan diintimidasi oleh umat Islam fanatik.

Menjadi suatu pandangan logis bagi pemerintah-pemerintah Barat untuk menjalin komunikasi dengan organisasi-organisasi Muslim moderat besar di luar negeri dan memberi mereka insentif untuk membangun perwakilan di negara-negara mereka. Namun, seorang pengunjung ke Jerman baru-baru ini yang bertemu dengan para pejabat senior di kementerian memberi tahu penulis bahwa para pejabat kementerian sama sekali tidak tahu tentang NU.

Mencoba mempromosikan dan mendukung representasi NU di Jerman seharusnya menjadi prioritas, karena memiliki pandangan yang terkonsolidasi tentang apa yang seharusnya menjadi Islam kontemporer moderat. Kehadiran NU bisa bersifat vokal serta menyediakan kursus dan literatur, asalkan keamanannya terjamin. Bahkan jika NU hanya berfungsi sebagai titik fokus yang kuat bagi kaum moderat Muslim di negeri tersebut, hal itu akan menjadi keuntungan besar.

Gagasan ini bukan tidak memiliki tantangan, karena umat Islam secara tradisional mencari konsep-konsep baru terutama di Timur Tengah dan, sampai batas tertentu, di Pakistan. Dengan dukungan pemerintah yang memadai, kecacatan ini mungkin dapat diatasi. Dalam kenyataan Jerman hari ini, setelah kebijakan imigrasi yang disalahpahami dalam beberapa tahun terakhir, pihak berwenang akan meraih banyak keuntungan.

Pendekatan semacam itu juga dapat membantu meningkatkan hubungan antara Muslim dan Yahudi. Satu-satunya presiden Indonesia yang telah mengunjungi Israel dalam beberapa kali adalah Kyai Haji Abdurrahman “Gus Dur” Wahid, ketua dewan eksekutif NU dari tahun 1984 hingga 1999 dan presiden Indonesia dari tahun 1999 hingga 2001.

Baca juga: Pilpres 2019: Pertarungan Islam Konservatif vs Islam Moderat?

Pengusaha Amerika C. Holland Taylor, teman Gus Dur dan Staquf, menyebutkan bahwa Gus Dur mensponsori Konferensi Holocaust Bali 2007 dengan Simon Wiesenthal Center. Dia mempelajari Kabbalah ketika dia bekerja dengan seorang Yahudi Irak di Baghdad selama tahun 1960-an.

Selama pekan pertamanya menjabat sebagai presiden, Gus Dur secara terbuka menyerukan untuk membangun hubungan diplomatik dengan Israel. Taylor mengutipnya dengan mengatakan, “Indonesia memiliki hubungan diplomatik dengan China, negara komunis dan dengan demikian ateis, mengapa kita tidak memiliki hubungan normal dengan Israel, yang rakyat dan pemerintahnya percaya pada Tuhan seperti kita?”

Taylor menyatakan bahwa hari ini, sebagian besar anggota NU dan PKB menerima sikap Gus Dur tersebut terhadap Israel.

Membangun perwakilan NU di Eropa, khususnya di Jerman, dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk menangkal ekses Muslim ekstremis yang sedang berlangsung di ranah publik.

Manfred Gerstenfeld adalah ketua emeritus dari Jerusalem Center for Public Affairs. Dia mendapatkan Penghargaan Prestasi Seumur Hidup oleh Journal for the Study of Antisemitism dan Penghargaan Kepemimpinan Internasional oleh Simon Wiesenthal Center.

Keterangan foto utama: Panorama Masjid Sehitlik di Berlin, Jerman, 28 November 2018. (Foto: Reuters/Fabrizio Bensch)

Bisakah Indonesia Bantu Tumbuhkan Islam Moderat di Eropa?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top