Pendudukan Ilegal Israel
Timur Tengah

Airbnb Lawan Permukiman Ilegal Israel: Adakah Peluang Menang?

Anak-anak Palestina meneriakkan slogan-slogan ketika seorang tentara Israel berdiri di belakang pagar, selama protes di luar sebuah rumah Palestina yang diduduki oleh pemukim Israel, di kota Hebron, Tepi Barat, pada 27 Januari 2018. (Foto: AFP)
Berita Internasional >> Airbnb Lawan Permukiman Ilegal Israel: Adakah Peluang Menang?

Perusahaan penyewaan penginapan Airbnb baru-baru ini berusaha melawan pendudukan ilegal Israel di Palestina, dengan menghapus daftar penginapan Israel dari listing-nya. Tampaknya masuk akal untuk berasumsi bahwa Airbnb tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi, dengan terjun ke salah satu perselisihan paling sengit di dunia. Mundur sekarang akan jauh lebih memalukan daripada tindakan perusahaan lain di Tepi Barat yang tidak pernah berpura-pura menggunakan hati nurani mereka. Jadi apakah Airbnb memiliki peluang menang? Atau mundur dan diam melihat ketidakadilan?

Baca juga: Penyelidikan Kejahatan Perang Terkait Pemukiman Ilegal Bisa Jadi Kehancuran Israel

Oleh: Kieron Monks (Middle East Eye)

Dengan standar yang sangat rendah, keputusan awal Airbnb untuk menghentikan operasinya di permukiman ilegal Tepi Barat tampak mengagumkan.

Melepaskan diri dari kejahatan perang seharusnya tidak menjadi sesuatu yang dipandang luar biasa dalam hal tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi itu adalah salah satu yang gagal dilakukan oleh puluhan perusahaan internasional, yang diam-diam mengambil untung dari pendudukan ilegal Israel.

Jadi pujian layak diberikan kepada Airbnb karena mereka setidaknya mampu melakukan apa yang harus dilakukan.

Praktik yang Merusak

Penghargaan yang jauh lebih besar, tentu saja, harus diberikan kepada para aktivis dan kelompok-kelompok hak asasi manusia yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menjelaskan kepada perusahaan properti global raksasa tersebut, betapa salah dan betapa merusaknya praktik mereka di Wilayah Pendudukan Israel, dan betapa bertolak belakangnya hal itu dengan nilai-nilai liberal yang diakui perusahaan.

Kelompok-kelompok seperti Human Rights Watch (HRW) dan US Campaign for Palestinian Rights (USCPR) mampu menembus tabir asap “wilayah yang disengketakan” dan “status yang diperebutkan” untuk menunjukkan bahwa premukiman di tanah Palestina yang diduduki hanyalah sebuah perusahaan kriminal seperti yang tercantum dalam pasal 49 Konvensi Jenewa Keempat.

Tidak ada otoritas serius dari Mahkamah Internasional untuk Dewan Keamanan PBB yang membantah hal ini.

Keputusan Airbnb bertepatan dengan laporan HRW berjudul Bed and Breakfast on Stolen Land, yang merinci sumber gelap dari daftar yang tersedia bagi wisatawan, yang menawarkan pemandangan menakjubkan dan fasilitas modern untuk menginap.

Banyak penginapan tersebut berbasis di permukiman di tanah pribadi masyarakat Palestina, yang dicuri oleh bandit bersenjata, baik pemukim atau tentara Israel.

Para pemilik aslinya—yang dilarang memasuki tanah mereka sendiri yang sekarang tertutup rapat—harus melihat harta mereka disewakan kepada orang asing.

Laporan HRW ini mencatat bahwa keuntungan dari listing Airbnb memberikan aliran pendapatan yang berharga yang membantu menjaga kelangsungan usaha kriminal.

Pemukiman Israel di Pisgat Zeev (kiri) di belakang tembok pemisah kontroversial di pinggiran Yerusalem Timur, pada 27 September 2018. (Foto: AFP)

Serangan Ganas

Tampaknya masuk akal untuk berasumsi—seperti yang dilakukan Michael Koplow dari Israel Policy Forum—bahwa Airbnb tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi, dengan terjun ke salah satu perselisihan paling sengit dan pahit di dunia.

Serangan balasan yang ganas dari para pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Israel serta kelompok penekan—termasuk ancaman litigasi dan tuduhan anti-Semitisme sepanjang satu halaman penuh—tentu saja sulit untuk diabaikan. Berita bahwa Direktur Airbnb mengadakan pembicaraan pengendalian kerusakan dengan Kementerian Pariwisata Israel—yang menjadikan masalah ini sebagai prioritas utama—tidak mengejutkan.

Tetapi sekarang perusahaan tersebut memutuskan untuk mundur dari segala masalah, mengeluarkan pernyataan kontradiktif yang membuatnya dianggap rendah oleh kedua pihak yang bertikai.

Setiap upaya penuh keraguan untuk meredakan situasi hanya meningkatkan tekanan dan profil kasus ini. Untuk saat ini, penyewaan penginapan di wilayah pendudukan masih tersedia di situs web Airbnb.

Ini telah menjadi masalah kelompok. Awalnya merupakan kemenangan penting bagi BDS (Boikot, Divestasi, dan Sanksi), episode ini belum dapat menghasilkan kemunduran lebih lanjut dari gerakan boikot tersebut, yang memiliki ‘senjata legal’ yang dilatih di seluruh AS dan Eropa.

Dukungan untuk memboikot Israel sedang dikriminalisasi dengan cepat, dari Undang-Undang Anti-Boikot Israel dari Senator Ben Cardin, hingga undang-undang negara bagian yang memaksa para terapis wicara untuk menandatangani sumpah kesetiaan.

Walau gerakan BDS telah membuat keuntungan yang mencolok—seperti kedatangan para pendukung BDS di Kongres, seperti Ilhan Omar dan Rashida Tlaib—namun gerakan tersebut tidak pernah menghadapi ancaman yang lebih besar.

Kasus Airbnb bisa menjadi momen penting yang menegaskan dan memajukan gerakan boikot tersebut, atau mengirimnya kembali jauh dari sorotan, sementara juga mengajukan pertanyaan strategis yang menarik kepada para aktivis BDS, apakah mungkin ada gunanya memfokuskan kampanye mereka pada permukiman jika elemen itu adalah satu-satunya daya tarik.

Tanggung Jawab Besar

Saat ini, karena Airbnb mungkin tanpa sengaja telah jatuh ke tengah-tengah regu tembak yang bersiap membidiknya, perusahaan tersebut telah dihadapkan dengan tanggung jawab yang tidak dapat dianggap remeh.

Setiap perusahaan sinis lainnya yang beroperasi di Tepi Barat, dapat menggumamkan alasan bahwa mereka “tidak terlibat dalam politik,” terus menunduk dan terus menghasilkan uang (dari penindasan Israel terhadap rakyat Palestina).

Tetapi Airbnb memutuskan untuk melihat realita di balik tembok pembatas, mengakui fakta-fakta dan ketidakadilan yang ditunjukkan kepada mereka oleh para aktivis, dan mengatakan—meskipun tidak dengan begitu banyak kata—bahwa perusahaan itu tidak ingin menjadi bagian dari perusahaan kriminal.

Untuk melangkah mundur sekarang—dengan kesadaran penuh akan fakta-fakta di lapangan, setelah serangkaian pertemuan di ruang belakang yang nyaman dengan pejabat pemerintah Israel yang berkomitmen penuh untuk kejahatan perang besar-besaran, dan dengan para pemimpin perusahaan permukiman ilegal itu sendiri—akan jauh lebih memalukan daripada tindakan perusahaan lain yang beroperasi di Tepi Barat yang tidak pernah berpura-pura menggunakan hati nurani mereka.

Tidak ada jalan keluar yang mudah. Jika Airbnb “menangguhkan implementasi” dari kebijakan mengeluarkan permukiman ilegal di Tepi Barat dari listing-nya, mereka dapat mengharapkan reaksi lain dari kelompok-kelompok hak asasi manusia dan aktivis solidaritas Palestina yang akan menyoroti kebangkrutan moral perusahaan tersebut, dan cenderung menarik kaum muda, kaum metropolitan liberal yang merupakan inti pasar utama perusahaan tersebut.

Airbnb harus mempertimbangkan hal itu dalam menghadapi amarah dan pengaruh dari para pendukung permukiman ilegal, yang akan melakukan yang terbaik untuk menghukum mereka dan memberi peringatan kepada perusahaan-perusahaan lain. Dengan penawaran umum perdana (IPO) yang diharapkan akan dilaksanakan tahun depan, perintah komersial akan sangat membebani penilaian mereka.

Ketika dihubungi oleh Middle East Eye (MEE) untuk berkomentar, Airbnb mengirim pernyataan yang sama yang dikeluarkan pada tanggal 17 Desember, yang menyatakan: “Airbnb menyatakan penolakannya yang tegas terhadap gerakan BDS dan mengomunikasikan komitmennya untuk mengembangkan bisnisnya di Israel, memungkinkan lebih banyak wisatawan dari seluruh dunia untuk menikmati keajaiban negara ini dan rakyatnya.”

Perampasan Tanah Besar-besaran Ancam Warga Palestina di Yerusalem Timur

Bendera Israel di bangunan menandai kehadiran pemukim di Batan al-Hawa, Yerusalem Timur yang diduduki. (Foto: Al Jazeera/Mersiha Gadzo)

Teguran Keras

Kita hanya bisa berharap bahwa hal lain juga ikut dipertimbangkan. Bagi perusahaan raksasa global multi-miliaran dolar seperti Airbnb, untuk memberi sinyal dukungan terbuka bagi kejahatan perang yang mencolok dan pelanggaran hak asasi manusia akan menjadi teguran keras terhadap konsep hukum internasional dan hak asasi manusia.

Keputusan semacam itu akan memberikan legitimasi pada perusahaan permukiman Israel dan mendelegitimasi lawan-lawannya. Ini akan memberi sinyal kepada pemerintah dan perusahaan di seluruh dunia bahwa hukum itu opsional dan pelanggaran bisa menguntungkan.

Baca juga: Bagaimana Industri Pariwisata Bantu Pendudukan Ilegal Israel atas Palestina

Kita cenderung berharap terlalu banyak jika kita mengharapkan kepemimpinan moral dari perusahaan yang tidak memiliki prioritas di luar garis besarnya. Arahan harus datang dari bawah, seperti para aktivis dan kelompok hak asasi manusia yang terus menjadi duri bagi perusahaan-perusahaan permukiman, dengan hanya aliansi sementara dengan kekuatan-kekuatan komersial.

Tetapi jika Airbnb memutuskan untuk memberikan persetujuannya untuk kejahatan perang dengan mencantumkan logonya pada properti yang dicuri dari rakyat Palestina, sementara pemiliknya tidak memiliki prospek keadilan, perusahaan tersebut setidaknya dapat mengakhiri kepura-puraan memiliki nilai-nilai yang layak atas nama tersebut dan menutup mulutnya ketika subjek sejenis muncul.

Kieron Monks adalah penulis yang berbasis di London untuk beberapa media berita termasuk CNN, The Guardian, dan majalah Prospect, yang meliput gerakan sosial, olahraga, dan topik-topik lainnya.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Anak-anak Palestina meneriakkan slogan-slogan ketika seorang tentara Israel berdiri di belakang pagar, selama protes di luar sebuah rumah Palestina yang diduduki oleh pemukim Israel, di kota Hebron, Tepi Barat, pada 27 Januari 2018. (Foto: AFP)

Airbnb Lawan Permukiman Ilegal Israel: Adakah Peluang Menang?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top