China
Global

Akhirnya Semuanya Setuju, China Tak Boleh Dibiarkan Menguasai Dunia

Berita Internasional >> Akhirnya Semuanya Setuju, China Tak Boleh Dibiarkan Menguasai Dunia

Selama bertahun-tahun, muncul polemik tentang pengaruh dan kekuasaan China di seluruh dunia. Kini, keragu-raguan itu sudah terjawab. Semua orang setuju, hegemoni China tidak bisa dibiarkan.

Baca juga: Hadang China, Indonesia Tingkatkan Kehadiran Militer di Kepulauan Natuna

Oleh: James Jay Carafano (Fox News)

Pandangan dunia terhadap hegemoni China rupanya telah banyak berubah. Eksekutif Huawei diseret ke pengadilan. Berbagai universitas di Amerika menutup Institut Konfusius. Para pemilih di Maladewa, Sri Lanka, dan di tempat lain menolak para pemimpin yang telah menjalin hubungan baik dengan China. Malaysia dan beberapa negara lainnya menuntut kesepakatan yang lebih baik dari pemerintah China atau mencoba keluar dari perangkap utang China. Dalam waktu dekat, orang-orang tak akan lagi merasa baik-baik saja dengan hegemoni China di dunia.

Selama bertahun-tahun, para pendukung kebijakan China berpendapat bahwa China yang sedang bangkit akan tumbuh untuk menerima norma-norma internasional dan menjadi kontributor bersih bagi perdamaian dan kemakmuran global. Sementara itu, para kritikus memprediksi bahwa China yang semakin kuat akan memberikan pengaruh yang semakin tidak stabil. Perdebatan itu tampaknya sudah berakhir.

Raksasa telekomunikasi China, Huawei, telah menjadi epitomi dari apa yang salah dengan China, dengan alasan yang bagus. Alih-alih bertindak sebagai perusahaan global yang bertanggung jawab dari negara yang bertanggung jawab, Huawei telah bertindak seperti bajak laut di laut lepas, tidak mematuhi hukum selain miliknya sendiri. Sekarang, keburukan perusahaan China tersebut telah berbalik menyerang dirinya sendiri.

Huawei Technologies Co. Ltd., yang bermarkas di pusat Shenzhen, mendeskripsikan dirinya sebagai bisnis “milik karyawan.” Huawei mengklaim bahwa sekitar 80.000 karyawannya memegang hampir 99 persen sahamnya. Namun, sebagian besar saham itu dikendalikan oleh sekelompok kecil orang yang menikmati hubungan dekat dengan pemerintah China dan Partai Komunis.

Hanya sedikit orang yang meragukan bahwa Huawei beroperasi sebagai perpanjangan tangan pemerintah China. Badan intelijen Amerika Serikat telah memperingatkan warga Amerika untuk tidak menggunakan produk dan layanan perusahaan Huawei.

Meng Wanzhou, kepala keuangan Huawei, dijatuhi dakwaan karena diduga berusaha menghindari sanksi AS terhadap Iran. Meng ditangkap pada bulan Desember 2018 di Kanada. Para pejabat AS kini telah mengajukan ekstradisi terhadapnya.

Secara terpisah, Huawei juga dijatuhi dakwaan karena terlibat dalam praktik perdagangan yang diduga ilegal, kebanyakan berupa pencurian barang dari T-Mobile. Mencuri kekayaan intelektual dari perusahaan AS bukanlah hal baru bagi berbagai perusahaan China. Pencurian kekayaan intelektual adalah inti dari laporan perwakilan perdagangan AS tentang praktik bisnis China pada bulan November 2018.

Selain itu, terdapat tuduhan lain, seperti upaya pemerintah China yang sangat terorganisir untuk menumbangkan sanksi perdagangan internasional. Tetapi laporan perdagangan penuh dengan bukti bahwa Huawei sebenarnya bukan perusahaan swasta yang melakukan pelanggaran. Sebaliknya, Huawei tampaknya hanyalah boneka korporat yang dikendalikan pemerintah China, yang tengah terlibat dalam perang ekonomi.

Namun demikian, bertumbuhnya kekecewaan terhadap China tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada Huawei. Kekecewaan itu dimulai dua tahun yang lalu, pada Konferensi Partai Komunis China ke-19, ketika Presiden China Xi Jinping menjabarkan visinya yang luas untuk peran China dalam ekonomi global.

Inisiatif Sabuk dan Jalan ditakdirkan untuk mengelilingi dunia dengan tentakel emas China. Bersama dengan klaim teritorialnya yang meluas, Xi dengan pasti mendulang kesetiaan terhadap partai. Tetapi Xi juga membuat seluruh dunia memikirkan kembali kebijaksanaan di balik tindakan menyerahkan hegemoni global kepada China.

Sejak saat itu, banyak penelitian telah dikhususkan untuk menganalisis perilaku China. Sebuah laporan penting dari Sharp Power menjelaskan bagaimana China memanipulasi informasi. Laporan lainnya dari Center of International Private Enterprise menjelaskan bagaimana China menggunakan “modal korosif” untuk merusak aturan hukum dan mengancam demokrasi.

Saat ini, negara-negara yang dulu menganggap China sebagai buku cek yang baik telah mulai mempertanyakan apakah merupakan tindakan yang bijaksana untuk menyerahkan struktur telekomunikasi mereka kepada perusahaan yang melakukan penawaran kekuatan asing yang agresif demi kepentingan sendiri.

Kini ketika China mendapatkan perhatian dunia, pertanyaannya ialah: Langkah apa selanjutnya?

Ini bukan saatnya untuk Perang Dingin yang baru, tetapi pemerintahan Donald Trump telah bertindak tepat dengan memberi tahu China bahwa praktik bisnis yang korup dan klaim teritorial ekspansionis tidak akan dibiarkan begitu saja. Amerika Serikat dapat dan harus membela kepentingannya untuk jangka panjang.

Terlepas dari serangan terhadap Huawei, terdapat peluang bagus bagi Amerika dan China untuk menetapkan kesepakatan perdagangan dalam 30 hari ke depan. Kesepakatan itu bukanlah hal yang buruk. Bahkan kesepakatan terbatas untuk waktu yang terbatas akan menunjukkan bahwa China memperhatikan Amerika, meningkatkan sebagian akses pasar China untuk AS, dan menghilangkan ketidakpastian dari pasar global.

Baca juga: Investasi Saudi di Pakistan Picu Ketegangan dengan China

Sementara itu, untuk berurusan dengan perusahaan yang melanggar seperti Huawei, AS harus menekankan perlunya mematuhi aturan hukum. Amerika tidak boleh menukar penuntutan pidana dengan imbalan kesepakatan dagang atau “konsesi” lainnya dari China. Ketika seseorang melanggar hukum, dia harus dituntut atas kejahatannya, bukan justru dimanfaatkan untuk menegosiasikan “pengaruh.”

Demikian pula, berdasarkan kasus Huawei/T-Mobile, perusahaan China yang mencuri rahasia dagang harus tunduk pada berbagai hukuman hukum, termasuk sanksi serta tuntutan pidana.

Lebih lanjut, perusahaan yang secara sadar menggunakan kekayaan intelektual curian harus dianggap sebagai penyelundup barang curian, dengan demikian telah melakukan pelanggaran hukum federal. Setelah dinyatakan bersalah, mereka harus dihukum seperti perusahaan atau individu mana pun yang memperdagangkan barang fisik curian.

Dunia kini mengharapkan tindakan baik dari China. Sudah waktunya bagi China untuk membayar konsekuensi tindakannya selama ini.

James Jay Carafano adalah wakil presiden studi kebijakan luar negeri dan pertahanan di The Heritage Foundation.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Ilustrasi Xi Jinping di atas peta China. (Ilustrasi: Getty Images/Foreign Policy/Etienne Oliveau)

Akhirnya Semuanya Setuju, China Tak Boleh Dibiarkan Menguasai Dunia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top