Negara Muslim
Global

Alasan Negara Muslim Diam saat Uighur Ditindas: Takut pada China?

Ilustrasi penindasan Muslim Uighur di China. (Foto: M-SUR / Shutterstock.com)
Berita Internasional >> Alasan Negara Muslim Diam saat Uighur Ditindas: Takut pada China?

Penindasan terhadap Muslim Uighur di China terus berlanjut, namun negara-negara Muslim tetap diam. Apa yang membuat dunia Islam sebagian besar mengabaikan seruan dan tangisan memilukan saudara-saudara Uighur mereka? Jawabannya ada pada alasan ekonomi dan politik atau diplomatik. China telah menjadi mitra dagang utama setiap negara mayoritas Muslim. Banyak di antara mereka adalah anggota Bank Investasi Infrastruktur Asia yang dipimpin oleh China, atau berpartisipasi dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan China. Sehingga, elit di negara-negara Muslim menganggap “memiliki hubungan positif dengan China lebih penting daripada mengemukakan masalah HAM ini.”

Baca juga: Mengapa Negara-Negara Muslim Justru Berbahaya Bagi Orang Buangan Uighur?

Oleh: Lukman Harees (Islam 21c)

Masa depan lebih dari 10 juta orang Uighur—etnis minoritas Muslim yang berbahasa Turki di (yang sekarang menjadi) China—tampak semakin suram dan gelap. Tindakan keras besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah China saat ini terhadap mereka, yang dilakukan atas nama “de-ekstremifikasi,” masih terus membuat dunia terganggu.

China tidak perlu bersusah payah dalam kampanyenya yang menjengkelkan, untuk menghapus semua bukti populasi Muslim Uighur di wilayah yang oleh negara komunis itu disebut Daerah Otonomi Xinjiang Uighur, yang merupakan sebuah negara bangsa merdeka, hingga China mulai menduduki dan menjajahnya pada tahun 1949.

Setelah periode diam yang panjang—sebagian karena China berusaha untuk menghubungkan aspirasi Muslim Uighur untuk kebebasan, dengan wacana “Perang Melawan Teror” global yang menjengkelkan—seruan kini mulai terdengar di PBB dan Dunia Barat untuk menekan China agar menghentikan dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap minoritas Muslim-nya.

Sayangnya, saudara-saudara mereka sesama Muslim secara signifikan telah gagal melakukan intervensi atau bahkan memberikan kecaman tegas dalam hal ini.

Islam telah menjadi salah satu target utama dalam kampanye pemerintah China melawan Uighur, dan Islamofobia secara diam-diam didorong oleh otoritas Partai Komunis China.

Mahasiswa, akademisi yang selama ini damai, dan bahkan masyarakat biasa, karena alasan sederhana yakni beragama Islam, dipenjara, dengan pengintaian teknologi tinggi besar-besaran oleh negara yang memantau dan menilai setiap gerakan mereka, membuat kaum Uighur yang terpinggirkan secara luas dimarginalkan, dan dikekang secara brutal.

Kamp-kamp interniran telah didirikan dengan satu juta tahanan yang diindoktrinasi dan ‘dididik kembali,’ yang membuat beberapa lingkungan menjadi kosong, dengan masjid-masjid besar yang kosong di kota-kota besar Kashgar dan Urumqi. Para tahanan di kamp juga dipaksa untuk meninggalkan Tuhan dan merangkul doktrin dan doa Partai Komunis China, dengan pendidikan agama, dan puasa di bulan Ramadhan semakin dibatasi atau dilarang.

Mereka yang tidak patuh dilaporkan mengalami penyiksaan seperti kurungan isolasi, kekurangan makanan, air, dan tidur, dan bahkan dijatuhi hukuman waterboarding.

Alasan mengapa begitu banyak Uighur yang ditahan adalah karena sebagian besar ditangkap tanpa alasan yang jelas, selain untuk mengekang praktik keagamaan dan menghapus budaya Uighur.

Di China, Perusahaan Teknologi Diuntungkan dengan Program Pengawasan yang Targetkan Muslim

Muslim Uighur bersimpuh di atas sajadah di luar Masjid Id Kah pada akhir bulan Ramadan di Kashgar, Provinsi Xinjiang, China barat. (Foto: Shutterstock/Pete Niesen)

Dengan latar belakang kampanye yang didukung oleh pemerintah China terhadap saudara-saudara Muslim mereka, keheningan dari para pemimpin Muslim dan masyarakat di seluruh dunia harus dianggap memekakkan telinga. Sebagai perbandingan, sementara nasib masyarakat Palestina membangkitkan kemarahan dan perlawanan di seluruh dunia Islam, dan genosida Rohingya dengan cepat menarik perhatian kita, relatif sedikit suara yang terdengar atas nama orang Uighur. Bahkan setelah seorang pejabat PBB mengutip “laporan yang dapat dipercaya” bahwa negara itu menahan sebanyak satu juta orang Uighur yang berbahasa Turki di kamp-kamp “pendidikan ulang,” pemerintah di negara-negara mayoritas Muslim tidak mengeluarkan pernyataan penting mengenai masalah ini.

Politisi dan banyak pemimpin agama yang mengaku berbicara untuk Islam, dengan memalukan hanya terdiam di hadapan kekuatan politik dan ekonomi China. Negara-negara Islam utama seperti Indonesia, Malaysia, dan Pakistan belum merilis pernyataan publik yang bermakna tentang tindakan keras tersebut, juga tidak ada yang terdengar dari Arab Saudi.

Bahkan Turki—yang di masa lalu menawarkan kebijakan yang menguntungkan bagi kelompok-kelompok yang berbahasa Turki dan menampung sejumlah kecil penduduk Uighur—tetap diam seiring Presiden Erdogan bergulat dengan krisis ekonomi mereka sendiri.

Dan dengan demikian, kenyataan bahwa Beijing yang sejauh ini lolos dari kritik serius dari pemerintah di seluruh dunia Islam dalam menghadapi ketidakadilan yang mencolok bagi Uighur, adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan.

Peter Irwin, seorang manajer proyek di World Uyghur Congress mengatakan, “Salah satu hambatan utama kami adalah kurangnya perhatian dari negara-negara mayoritas Muslim.”

Ini bukan karena ketidaktahuan. Seperti yang dikatakan Omer Kanat, Direktur Proyek Hak Asasi Manusia Uyghur, “Ini didokumentasikan dengan sangat baik. Pemerintah negara-negara mayoritas Muslim tahu apa yang terjadi di Turkistan Timur,” katanya menggunakan istilah Uighur untuk menyebut wilayah tersebut.

Banyak pemerintah Muslim sebaliknya, telah memperkuat hubungan mereka dengan China atau bahkan dengan sukarela melayani dan mendukung penindasan China.

Pada tahun 2017, Mesir mendeportasi beberapa orang dari etnis Uighur ke China, di mana mereka menghadapi hukuman penjara yang hampir pasti dan berpotensi kematian. Mesir mengikuti langkah serupa oleh Malaysia dan Pakistan pada tahun 2011. Bahkan Organisasi Kerjasama Islam (OIC) tidak mengambil sikap, meskipun 53 dari 57 anggotanya adalah negara mayoritas Muslim.

Apa yang membuat dunia Islam sebagian besar mengabaikan seruan dan tangisan memilukan saudara-saudara Uighur mereka? Jawabannya ada pada alasan ekonomi dan politik atau diplomatik. China telah menjadi mitra dagang utama setiap negara mayoritas Muslim. Banyak di antara mereka adalah anggota Bank Investasi Infrastruktur Asia yang dipimpin oleh China, atau berpartisipasi dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road) China.

Di Asia Selatan, ini berarti investasi infrastruktur. China menyumbang sekitar sepersepuluh dari ekspor minyak Arab Saudi dan sekitar sepertiga dari Iran, menurut data pelacakan kapal yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

China juga adalah sumber utama investasi asing Malaysia. Dan China telah memastikan aliran lebih dari $60 miliar pinjaman untuk proyek infrastruktur Koridor Ekonomi China-Pakistan.

Dengan demikian, negara-negara Muslim “tidak ingin merusak hubungan mereka dengan China, dan menganggap China sekutu potensial dalam melawan Barat dan AS, dan karena itu mereka berusaha untuk tetap diam,” kata Omer Kanat.

Dengan demikian, strategi geo-ekonomi China telah menghasilkan pengaruh politik. Sehingga, elit di negara-negara Muslim menganggap “memiliki hubungan positif dengan China lebih penting daripada mengemukakan masalah HAM ini.”

Muslim Uighur

Unjuk rasa penindasan terhadap Uighur di Turki. (Foto: AFP)

Namun, ada alasan politis dan diplomatik juga, karena mempertahankan ikatan dagang bukan satu-satunya motivator. Beberapa pemerintah enggan menarik perhatian global terhadap catatan hak asasi manusia mereka yang buruk.

Beijing sebagian besar menahan diri dari melibatkan diri dalam konflik di dunia Muslim. Negara-negara itu “tidak secara khusus menghargai hak asasi manusia mereka sendiri, sehingga sulit membayangkan bahwa mereka akan mengambil kesempatan untuk mengkritik China,” kata David Brophy, Dosen Senior Sejarah China Modern di Universitas Sydney.

Selain itu, China tampaknya memiliki sedikit tempat dalam imajinasi budaya Islam, bahkan ketika kehadiran China di Timur Tengah mulai tumbuh.

Baca juga: Kenapa Negara-Negara Islam Tidak Membela Muslim Uighur?

Seperti yang dikatakan oleh Alip Erkin, seorang aktivis di Australia yang menjalankan jaringan Uyghur Bulletin, “sikap diam negara-negara mayoritas Muslim atas perlakuan mengerikan terhadap Uighur membuat frustrasi dan tidak mengejutkan.”

Bahkan ketika—seperti kata James Millward, seorang profesor di Universitas Georgetown dan penulis Eurasian Crossroads: A History of Xinjiang Opines—”penumpasan itu mulai meresap ke dalam hubungan luar negeri China. Apa yang kami lihat adalah dampak kebijakan dari pergeseran filosofi yang berkaitan dengan keragaman budaya dan keragaman etnis di China.”

Mungkin terbukti semakin sulit untuk mempertahankan keheningan komunitas internasional karena kebijakan China di Xinjiang meluas melintasi perbatasannya. Ini juga membuat frustrasi karena prinsip persaudaraan Muslim telah menjadi alat kebijakan luar negeri selektif yang lebih berkaitan dengan politik internasional negara-negara Muslim, dan kurang berkaitan dengan pesan solidaritas yang sebenarnya.

Dunia Islam dengan demikian memiliki cara aneh untuk menganggap siapa yang layak dibantu dan siapa yang tidak.

Jadi, pertanyaannya tetap sama: apakah kepemimpinan umat Islam, serta dunia pada umumnya, akan kembali duduk diam sementara genosida yang ditargetkan lainnya—serupa krisis Rohingya—terjadi di China, dan mengatakan “jangan pernah lagi” (hal semacam itu terjadi)?

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Ilustrasi penindasan Muslim Uighur di China. (Foto: M-SUR / Shutterstock.com)

Alasan Negara Muslim Diam saat Uighur Ditindas: Takut pada China?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top