4 Kemungkinan Terbesar dari Krisis Venezuela
Amerika

Apa Selanjutnya untuk Venezuela? Ini 4 Kemungkinan Terbesar

Berita Internasional >> Apa Selanjutnya untuk Venezuela? Ini 4 Kemungkinan Terbesar

Krisis Venezuela membuat nasib negara Amerika Latin itu terombang-ambing. Belum bisa dipastikan langkah apa yang akan diambil selanjutnya oleh Nicolas Maduro, yang diprotes kepresidenannya oleh rakyat. Namun, dari beberapa kemungkinan yang bisa terjadi, perang yang menhancurkan adalah salah satunya.

Oleh: Joe Parkin Daniels (The Guardian)

Venezuela dalam kekacauan. Nicolás Maduro dan Juan Guaido keduanya mengklaim diri mereka sebagai presiden—Guaido sampai pemilu baru dapat diadakan—dan tidak ada niat untuk mundur dari keduanya.

Maduro, yang dua minggu lalu dilantik untuk masa jabatan keduanya setelah pemilu tahun lalu, memiliki sedikit dukungan publik, tetapi ia tetap mendapat dukungan militer. Guaido, di sisi lain, dapat memobilisasi massa dan mendapat dukungan populer, dan mendapat dukungan dari negara-negara demokrasi barat—tetapi memiliki sedikit kontrol atas tuas kekuasaan di Venezuela.

Jadi apa hal yang mungkin akan terjadi pada negara dengan populasi 32 juta orang—sekitar tiga juta di antaranya telah melarikan diri ke luar negeri?

Baca Juga: Krisis Venezuela: Siapa, Mengapa, dan Apa Penyebabnya?

Maduro bertahan—tapi untuk berapa lama?

Maduro telah dua kali selamat dari tantangan sebelumnya atas kekuasaannya. Setelah protes massal pada tahun 2014, ia menargetkan para pemimpin oposisi, seperti pelindung politik Guaido, Leopoldo López, yang ditangkap dan dilarang mencalonkan diri untuk jabatan presiden. Lima tahun kemudian dia masih berada dalam tahanan rumah.

Kerusuhan baru pecah pada tahun 2017 ketika Maduro absen dari majelis nasional setelah berpindah tangan ke oposisi. Demonstrasi itu disambut dengan penindasan berdarah dari militer: lebih dari 120 pendemo tewas dan ratusan lainnya terluka. Tindakan militer itu memicu kecaman internasional, tetapi Maduro berhasil mengonsolidasikan kekuasaannya.

Pendekatan itu tampaknya kurang bisa diterapkan hari ini. Meskipun Maduro tetap mendapat dukungan dari sekutu seperti Rusia, Turki dan Kuba, ia telah berada di bawah tekanan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya termasuk dari negara-negara Amerika Latin lainnya.

Petinggi militer telah menunjukkan dukungan kepada komandan mereka, tetapi ada sejumlah pembelotan oleh perwira junior. Akhir pekan lalu, atase militer Maduro menjadi tokoh paling senior yang beralih pihak.

Prajurit dari berbagai pangkat telah merasakan dampak ekonomi dari krisis negara itu, tetapi Maduro telah memberi penghargaan kepada para perwira senior dengan posisi di pemerintahan dan perusahaan minyak negara PDVSA. Tetapi sanksi AS terhadap perusahaan yang akan diberlakukan minggu ini dapat mengubah itu.

Jika Maduro ingin selamat dari tantangan saat ini, ia harus menjaga militer agar tetap ada untuknya, dan itu berarti menemukan cara untuk menggaji mereka.

Maduro diganti oleh warga sipil lain atau akan ada kudeta militer

Cara lain keluar dari kebuntuan saat ini—meskipun tidak ada yang akan menguntungkan rakyat Venezuela—yaitu kudeta militer oleh seorang jenderal atau warga sipil simpatik yang bertanggung jawab. Namun itu mungkin berarti kembali ke kondisi sebelumnya: kleptokrasi, salah urus, dan otoriterisme.

Pengganti dalam militer yang potensial adalah letnan Maduro Diosdado Cabello atau menteri pertahanan Vladimir Padrino López, yang keduanya memimpin dukungan militer namun dibenci oleh banyak orang Venezuela. Kandidat sipil yang mungkin adalah wakil presiden Delcy Rodríguez atau pendahulunya Tareck El Aissami. Keduanya adalah paria internasional.

Bagaimanapun juga, perubahan di atas tidak akan menenangkan oposisi, yang sekarang berani dan mulai memulihkan demokrasi. Dan jika opsi-opsi politik ditutup untuk selamanya, ada risiko besar bahwa para penentang rezim akan beralih ke perjuangan bersenjata—dan Amerika Latin memiliki sejarah yang bermasalah dalam menumpas pemberontakan.

Sementara itu, kecuali seorang pemimpin baru dapat membangun kembali ekonomi yang hancur di negara itu, jutaan orang akan terus melarikan diri, yang akan lebih lanjut membuat kawasan itu tidak stabil.

Rezim gaya kekuasaan rakyat berubah atau solusi yang dinegosiasikan

Transisi kembali ke demokrasi akan menjadi cara termudah untuk keluar dari kebuntuan saat ini, tetapi Maduro tidak akan mendapat banyak keuntungan dengan menyerahkan kekuasaan.

Bahkan jika Maduro setuju untuk mundur, ia tidak akan mau mengambil risiko pembalasan atas pemerintahannya yang otoriter—dan ribuan pejabat publik dan militer tidak akan memungkinkannya.

Guaido telah menjanjikan amnesti kepada anggota angkatan bersenjata yang “berkontribusi pada pembangunan kembali tatanan demokratis”.

Ada alasan pragmatis untuk langkah seperti itu, kata Dimitris Pantoulas, seorang konsultan yang berbasis di Caracas, yang menawarkan kesepakatan damai Kolombia 2016 dengan pemberontak Farc sayap kiri sebagai contoh yang memungkinkan.

“Anda tidak dapat mengirim sepuluh ribu orang pergi ke pengasingan atau diadili oleh pengadilan biasa—itu akan menjadi kekacauan,” katanya.

Maduro dan lingkaran dalamnya kemungkinan besar harus meninggalkan negara itu, tetapi tidak jelas ke mana ia bisa pergi. Satu-satunya sekutu internasional utamanya adalah Rusia, China, Kuba, dan Turki, tapi tidak jelas apa yang bisa memotivasi negara-negara itu untuk menerimanya.

Baca Juga: Opini: Nicolas Maduro Tak Akan Hentikan Krisis Venezuela

Perang

Maduro telah lama menyebut kesengsaraan negaranya sebagai hasil dari kampanye perang ekonomi “imperialis” yang telah berlangsung selama beberapa dekade oleh Amerika Serikat. Itu telah berhasil menggalang para jenderalnya untuk mendukungnya. Namun, sekarang, beberapa analis khawatir bahwa pejabat di Washington DC dan Caracas dapat memicu perang yang nyata.

Krisis Venezuela telah menyebabkan migrasi terbesar dalam sejarah modern Amerika Latin, dan negara-negara tetangga sangat membutuhkan penyelesaian yang cepat. “Jika tren memburuk, tekanan untuk melakukan serangan militer demi mengakhiri kebuntuan kemungkinan akan meningkat,” kata Phil Gunson, seorang konsultan Crisis Group yang berbasis di Caracas. “Dan itu adalah hal yang kita semua harus coba untuk hindari.”

Saat ini, konflik semacam itu masih dipandang sebagai kemungkinan yang kecil, tetapi bisa terbayangkan, pemerintah sayap kanan Brasil dan Kolombia dapat menandatangani koalisi pimpinan AS untuk melawan Maduro.

Perang semacam itu—perang antarnegara pertama di Amerika Selatan dalam lebih dari 80 tahun—akan berlangsung berlarut-larut, penuh dengan variabel yang tidak dapat diprediksi, tetapi ketika penasihat keamanan nasional Donald Trump, John Bolton, tertangkap kamera sedang memegang buku catatan dengan tulisan “5.000 tentara ke Kolombia”, hal itu memicu kekhawatiran bahwa AS serius mempertimbangkan opsi semacam itu.

“Saya pikir Bolton hanya menggertak, tetapi jika itu terjadi, pasukan itu akan siap untuk dikerahkan seandainya ada serangan dari Venezuela,” kata Adam Isacson, seorang analis keamanan Amerika Latin di Kantor Washington.

“Lalu tidak ada yang tahu bagaimana eskalasi itu akan terjadi. Setiap perang yang melibatkan Kolombia dan Venezuela akan sangat menghancurkan—kedua negara memiliki angkatan udara yang kuat sehingga akan menjadi perang yang memperebutkan infrastruktur, pangkalan militer dan kota-kota—bukan hanya perbatasan.”

Keterangan foto utama: Nicolás Maduro saat mengikuti upacara selama latihan militer di Pangkalan Udara Libertador di Maracay (Foto: AFP/Getty Images/HO)

Apa Selanjutnya untuk Venezuela? Ini 4 Kemungkinan Terbesar

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top