KTT G20
Opini

Opini: Bagaimana China Tantang Kepemimpinan Dunia Amerika

Berita Internasional >> Opini: Bagaimana China Tantang Kepemimpinan Dunia Amerika

Alih-alih menyerang frontal pada kepemimpinan AS, Xi telah mengartikulasikan visinya tentang “komunitas nasib bersama,” yang didasarkan pada kerja sama, keadilan dan kesetaraan—pendekatan “baru” yang “menggantikan” model Barat yang ketinggalan jaman. Meskipun terdengar jinak, konsep komunitas ini bisa berarti akhir dari sistem aliansi yang dipimpin AS. Seperti yang dikatakan seorang pejabat China kepada saya, persekutuan semacam itu “ketinggalan zaman” dan “tidak cocok untuk zaman sekarang.”

Oleh: Elizabeth Economy (National Public Radio)

Presiden China Xi Jinping siap untuk perubahan—khususnya transformasi sistem internasional dan peran Republik Rakyat Tiongkok di dalamnya. Dalam pidato 2016 di depan para menteri dan pemimpin provinsi, Xi memberikan sinyal awal dari niatnya: “China telah menjadi faktor utama dalam mengubah lanskap politik dan ekonomi dunia…. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengubah kekuatan ekonomi kita menjadi otoritas institusional internasional.”

Namun, untuk saat ini, Xi telah menghindari untuk menghadapi Amerika Serikat (AS) secara langsung dalam persaingan untuk kepemimpinan global. Hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan bahwa ia menginginkan tanggung jawab kepemimpinan seperti itu; dunia belum mendengar proposal Republik Rakyat Tiongkok untuk menghadapi tantangan terorisme global, krisis pengungsi atau bahkan perubahan iklim.

Pendekatan Xi justru telah berupaya untuk mengikis pilar-pilar dasar kepemimpinan AS—aliansi, nilai-nilai dan norma-norma yang dijunjung oleh lembaga-lembaga internasional dan model pengembangannya—dan menggantikannya dengan yang lebih mendukung kepentingan Republik Rakyat Tiongkok. Dalam konteks ini, konflik perdagangan AS-China mungkin hanya sebagai satu pertempuran dalam perang yang berlarut-larut mengenai nilai, prinsip, dan kepemimpinan global.

Dalam keseimbangan kekuasaan global saat ini—ditopang oleh distribusi relatif dari kekayaan global dan sistem aliansi kepemimpinan AS—AS tetap menjadi pemain dominan (meskipun dominasinya tidak sebesar masa lalu).

Alih-alih menyerang frontal pada kepemimpinan AS, Xi telah mengartikulasikan visinya tentang “komunitas nasib bersama,” yang didasarkan pada kerja sama, keadilan dan kesetaraan—pendekatan “baru” yang “menggantikan” model Barat yang ketinggalan jaman. Meskipun terdengar jinak, konsep komunitas ini bisa berarti akhir dari sistem aliansi yang dipimpin AS. Seperti yang dikatakan seorang pejabat Republik Rakyat Tiongkok kepada saya, persekutuan semacam itu “ketinggalan zaman” dan “tidak cocok untuk zaman sekarang.”

Komitmen Presiden Trump yang tidak kokoh terhadap struktur aliansi Amerika telah membuka pintu untuk para diplomat dan cendekiawan China yang ditugaskan untuk mempromosikan gagasan Xi. Meskipun demikian, pemimpin Republik Rakyat Tiongkok sendiri telah merusak usaha promosi gagasan itu dengan meningkatkan aktivitas militernya di Laut China Selatan dan kesediaan untuk mengadopsi kebijakan ekonomi yang memaksa terhadap Korea Selatan, Taiwan, dan negara-negara lain.

Baca Juga: Perang Dagang Bayangi Pertemuan Para Pemimpin Keuangan Dunia

Xi, berbicara kepada Kongres Rakyat Nasional di Beijing, berupaya untuk mereformasi institusi dan norma internasional untuk mencerminkan kepentingan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok. (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)

Xi juga berupaya untuk mereformasi institusi dan norma internasional agar mencerminkan kepentingan pemerintah China. Para diplomat Beijing dengan cekatan mengeksploitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi-organisasi lain untuk mencoba mengurangi bobot relatif kebebasan individu dan kebebasan dalam wacana hak asasi manusia dan mempromosikan kedaulatan Internet, yang bertentangan dengan aliran informasi yang bebas.

Inisiatif Sabuk dan Jalan Republik Rakyat Tiongkok telah menjadi ujian bagi norma-norma yang mendukung jalur pembangunan China, yang mengabaikan pentingnya pemerintahan yang baik dalam mengejar pembangunan ekonomi yang cepat. Walaupun banyak negara dengan penuh semangat menyambut proyek Sabuk dan Jalan, banyak negara lainnya sekarang menolaknya, takut akan konsekuensi lingkungan, keuangan dan sosial.

Akhirnya, China telah secara dramatis meningkatkan sumber daya yang dimilikinya ke arah diplomasi publik, memberikan beasiswa murah hati bagi para mahasiswa dan pejabat asing untuk mempelajari model China, membuka pusat-pusat yang disponsori pemerintah untuk memajukan pemahaman bahasa dan budaya China, dan meluncurkan kampanye media untuk membentuk Narasi China.

Para pejabat di beberapa negara berkembang memahami penekanan China pada pertumbuhan yang dipicu infrastruktur, investasi asing dan stabilitas politik. Menteri transportasi dan komunikasi Tanzania mengakui praktik sensor China yang layak ditiru : “Rekan-rekan China kami telah berhasil memblokir media seperti itu di negara mereka dan menggantinya dengan situs-situs buatan mereka sendiri yang aman, konstruktif dan disukai banyak orang. Kami belum sampai di situ, tapi… kita harus waspada terhadap penyalahgunaan situs-situs tersebut.”

Selain itu, pemerintah China tidak hanya memajukan narasi China positifnya sendiri tetapi juga bergerak untuk mencegah adanya narasi lain yang bertentangan. Contohnya, setelah sebuah perusahaan China mengambil saham penting di sebuah surat kabar Afrika Selatan, seorang penulis menyadari bahwa kolomnya dihapus setelah ia menerbitkan sebuah artikel yang mengkritik penindasan China di wilayah otonomi Xinjiang Barat.

Dan di Kenya, pemerintah China mensubsidi akses televisi digital untuk 800 desa, menyediakan program-program berbahasa Mandarin secara luas sekaligus memastikan bahwa stasiun internasional lain, seperti BBC dan Al Jazeera, berada di luar jangkauan. Beberapa analis Republik Rakyat Tiongkok sekarang membanggakan tentang hubungan positif antara sistem politik “tidak bebas” dan kemakmuran ekonomi.

Amerika Serikat tidak perlu takut dengan model China atau promosi Xi itu. Karena sebenarnya itu bukanlah sistem yang tahan banting atau menarik. Tantangan lingkungan, kesehatan dan demografi sudah sangat dikenal. Ada tingkat hutang rumah tangga, perusahaan dan pemerintah yang serius dan meningkat. Dan protes yang sedang berlangsung dari berbagai sektor masyarakat—termasuk kaum feminis, pekerja, pelajar, pensiunan dan pensiunan anggota militer—menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam.

Seperti yang telah dikemukakan oleh seorang sarjana Eropa China, “Saya belum pernah melihat negara yang begitu sukses di mana begitu banyak orang yang mendapat manfaat paling besar ingin pergi dari situ.”

Namun pemerintahan AS juga tidak dapat mengabaikan Xi dan usahanya untuk mengubah sistem internasional. Pemerintah AS perlu menghidupkan konsepnya tentang Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka: pesan afirmatif dari nilai-nilai yang melekat dalam demokrasi pasar liberal dan implementasi nilai-nilai tersebut di dalam negeri, ditopang oleh serangkaian kemitraan politik, ekonomi dan keamanan yang kuat, dan komitmen untuk pembangunan internasional didasarkan pada prinsip-prinsip ini.

Jika yang terbaik yang bisa dilakukan Amerika Serikat adalah mengeluh, merengek, dan mencela China, Amerika pasti akan kalah tidak hanya di pertempuran di sepanjang jalan, tetapi juga—dan yang lebih penting—kalah di perang besarnya.

Baca Juga: Hong Kong Bersiap untuk yang Terburuk dari Perang Dagang Amerika-China

Elizabeth Economy (@LizEconomy) adalah direktur studi Asia di Council on Foreign Relations dan rekan tamu yang terhormat di Hoover Institution. Buku terbarunya adalah The Third Revolution: Xi Jinping dan New Chinese State.

Keterangan foto utama: Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping berjabat tangan dengan Presiden Trump selama pernyataan bersama di Beijing November lalu. Alih-alih menyerang frontal pada kepemimpinan AS, Xi telah mengartikulasikan visinya tentang “komunitas nasib bersama.” (Foto: AFP/Getty Images/Jim Watson)

Opini: Bagaimana China Tantang Kepemimpinan Dunia Amerika

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top