Dorong Perundingan Korea, Haruskah Donald Trump Menangkan Penghargaan Nobel Perdamaian?
Opini

Bagaimana Hubungan Antar-Korea Tahun 2019?

Kim Jong Un, Pemimpin Korea Utara, berjabat tangan dengan Moon Jae-in, Presiden Korea Selatan, di Zona Demiliterisasi pada Jumat (27/4). (Foto: Korea Summit Press/Reuters)
Berita Internasional >> Bagaimana Hubungan Antar-Korea Tahun 2019?

Berbagai perkembangan telah terjadi dalam hubungan Korea Utara dan Korea Selatan pada tahun 2018. Namun harapan untuk hubungan yang lebih baik masih tersemat pada tahun 2019. Dibutuhkan upaya bersama untuk memastikan benih diplomatik yang ditanam pada tahun 2018 dapat mengatasi kemungkinan badai dan menghasilkan buah pada tahun 2019. Bisakah Kim Jong-un dan Moon Jae-in mewujudkan perubahan di era baru hubungan antar-Korea?

Oleh: Nate Kerkhoff (The Diplomat)

Baca Juga: Diplomat Tinggi Korea Utara di Italia Diam-diam Membelot?

Melalui pidato Tahun Baru Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan konferensi pers Tahun Baru Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, garis besar hubungan antar-Korea pada tahun 2019 telah mulai terbentuk. Pidato Kim dan kunjungan berikutnya ke Beijing menggarisbawahi narasi analitis utama bahwa pada tahun 2019, fokusnya adalah pada pengembangan ekonomi Korea Utara dan memproyeksikan negara tersebut sebagai negara normal di komunitas internasional. Menjaga hubungan yang produktif dengan Korea Selatan adalah komponen kunci dari tujuan-tujuan ini.

Sedangkan bagi Korea Selatan, diplomasi yang sukses dengan Korea Utara telah menjadi pilar kebijakan dalam dan luar negeri Moon. Peringkat persetujuan di dalam negeri telah mencapai angka tertinggi selama masa dialog dengan Korea Utara. Selain tiga pertemuan puncaknya sendiri dengan Kim, Presiden Korea Selatan telah berfungsi sebagai saluran antara Amerika dan Korut selama naik turun hubungan keduanya pada tahun 2018.

Meskipun Korea Utara dan Korea Selatan berkepentingan untuk membangun kemajuan diplomatik di tahun 2018, namun seiring hubungan bergerak ke fase berikutnya, peningkatan harapan akan membawa tantangan baru di tahun 2019.

Proyek antar-Korea

Salah satu ujian besar tampaknya adalah Kompleks Industri Kaesong Resor Gunung Kumgang. Kedua operasi gabungan Korea ini terletak tepat di seberang sisi utara perbatasan dan ditutup pada tahun 2016 dan 2008. Dalam pidatonya, Kim meminta Korea Selatan untuk melanjutkan operasi di keduanya, dengan menyatakan secara eksplisit bahwa Korea Utara tidak akan menuntut kompensasi atas hilangnya pendapatan—sesuatu yang telah dilakukan Korut dalam perundingan sebelumnya, seringkali dalam jumlah yang selangit.

Selain simbolisme kerja sama, proyek-proyek tersebut penting bagi visi ekonomi Pemimpin Korea Utara. Kompleks Industri Kaesong memberikan pekerjaan kepada pekerja Korea Utara dan uang tunai yang sangat dibutuhkan pemerintahnya. Resor Kumgang adalah objek wisata yang diharapkan Kim dapat digunakan untuk menunjukkan kepada dunia dan investor bahwa Korea Utara adalah negara yang ramah bisnis dan turis.

Proyek-proyek bersama tersebut juga penting bagi Korea Selatan. Walau Moon bertahan dengan naskah pidatonya—yakni menyerukan Korea Utara untuk melakukan denuklirisasi sebagai imbalan atas keringanan sanksi—namun strategi besarnya adalah menawarkan bantuan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan melalui kerja sama, dengan harapan dapat memberikan insentif konkret bagi Korea Utara untuk melakukan denuklirisasi. Melanjutkan operasi di Kaesong dan Kumgang akan dianggap sebagai langkah signifikan bagi Korsel untuk menunjukkan kepada Korut komitmennya terhadap proses ini.

Baca Juga: Dari Ganja sampai Korea Utara, Ini 9 Isu Besar di Asia Tahun 2019

Saatnya Mengakhiri Perang Korea yang Tak Kunjung Usai

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, berjabat tangan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di desa gencatan senjata Panmunjom, tanggal 27 April 2018. (Foto: Korea Summit Press Pool/AFP/Getty Images)

Menangani hambatan kerja sama antar-Korea

Namun, serupa dengan nasib jalur kereta api antar-Korea yang terhubung pada akhir bulan Desember 2018, kemajuan di Kaesong dan Kumgang dibatasi oleh sanksi PBB yang mencegah pengiriman uang tunai dalam jumlah besar ke Korea Utara. Para pemimpin di Korea Selatan telah bertanya-tanya bagaimana mereka dapat melanjutkan operasi tersebut, tetapi jika bukan karena pengecualian khusus dari Dewan Keamanan PBB, pintu-pintu di fasilitas tersebut akan tetap tertutup bagi masyarakat internasional.

Maka, pertanyaannya adalah bagaimana kedua pihak akan merespons hambatan dalam menjalin kerja sama. Jika para pemimpin di Korea Utara dan Korea Selatan serius untuk mengubah sifat dasar hubungan mereka, mengukur kemampuan dalam memecahkan masalah adalah tempat yang baik untuk memulai.

Selama kebuntuan dalam menjalin hubungan di masa lalu, Korea Utara telah mengancam untuk membatalkan dialog atau menunda komponen negosiasi lainnya. Dalam hal ini, setelah mengikuti langkah-langkah eskalasi militer dari Deklarasi Pyongyang pada bulan September 2018, Korea Utara dapat menuduh Korea Selatan tidak melakukan upaya sungguh-sungguh untuk mengusahakan pencabutan sanksi atau menahan berakhirnya deklarasi tersebut.

Namun, tahun 2019, Kim ingin dilihat sebagai negarawan yang layak. Artinya, akan sulit secara politis untuk menghentikan hal-hal lainnya, termasuk pengiriman bantuan kemanusiaan, pertukaran budaya, dan reuni untuk keluarga yang terpisah, untuk mengirim pesan ke Korea Selatan. Korsel masih menjadi satu-satunya negara yang mengadvokasi atas nama Korea Utara sebagai sekutu Amerika Serikat (AS), bukan sebagai pesaing strategis. Selain itu, Korut membutuhkan Korsel untuk diversifikasi ekonomi.

Mempertahankan upaya lama

Dengan itu, Korea Utara akan selalu mencari titik-titik tekanan Korea Selatan. Kim mengajukan banding etnonasionalis mengenai aliansi militer AS-Korea Selatan, dengan menyerukan diakhirinya partisipasi Korea Selatan dalam latihan militer bersama. Dia mengulangi seruan yang telah diulang-ulang selama puluhan tahun bahwa urusan di Semenanjung Korea harus diarahkan oleh orang Korea saja.

Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan kerangka kerja yang akhirnya menjadi pilihan yang harus diambil Korsel di antara saudara-saudara Korea di Korea Utara, atau orang luar. Rodong Sinmun menyatakan pesan ini dalam sebuah artikel tanggal 3 Januari 2019 berjudul “Hubungan Korea Utara-Selatan Tidak Harus Menjadi Pelengkap bagi Hubungan Republik Rakyat Demokratik-Amerika Serikat.”

Meskipun ini adalah pesan yang terus-menerus diulang, namun Kim cenderung melihat hadirin yang lebih menerima di Korea Selatan daripada tahun-tahun sebelumnya karena dua alasan utama: Pertama, Kim merasa yakin dengan posisinya saat berhadapan dengan urusan semenanjung saat ini. Kedua, perjanjian pembagian biaya militer AS-Korea Selatan berakhir pada tanggal 31 Desember 2018, dan pihak AS dilaporkan telah meminta peningkatan besar dalam beban keuangan untuk Korsel.

Mengingat sikap Presiden AS Donald Trump terhadap pasukan Amerika yang ditempatkan di luar negeri, dan fakta bahwa pada pertemuan Kim-Trump di Singapura, Presiden Amerika itu sepakat untuk menghentikan “permainan perang” tanpa memberitahu para komandan di Korsel atau bahkan Departemen Pertahanan AS sendiri, menjadi tidak terbayangkan bahwa KTT Kim-Trump berikutnya akan menghasilkan perubahan lebih lanjut pada struktur militer AS di Semenanjung Korea.

Moon menanggapi situasi militer tersebut dengan cerdik, dengan menyatakan bahwa pasukan Amerika adalah bagian dari pasukan stabilitas regional, bukan pasukan invasi yang diarahkan melawan Korea Utara. Menegaskan posisi ini dimaksudkan untuk meyakinkan pihak-pihak yang skeptis mengenai pro-keterlibatan di dalam negeri dan mengirim pesan ke Korut bahwa aliansi maupun kehadiran militer AS dapat dirundingkan.

Meskipun Korea Selatan dan Amerika Serikat telah sepakat untuk mengurangi latihan militer bersama untuk tahun 2019 demi diplomasi, namun Korea Utara tampaknya akan terus berupaya untuk merusak aliansi tersebut.

Opini: Potensi Untung Besar Bisa Dorong Kesepakatan Nuklir Korea Utara

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in selama kunjungan ke Wisma Samjiyon dekat Gunung Paektu di Samjiyon. Gambar ini diambil 20 September 2018. (Foto: JNS/Kantor Berita Pusat Korea)

Kim Jong-un ke Korea Selatan?

Kim menyebutkan bahwa ia berharap untuk lebih sering bertemu dengan Pemimpin Korea Selatan pada tahun 2019. Saat ini, fokus pertemuan puncak adalah pada pertemuan kedua Trump-Kim, yang dilaporkan akan berlangsung pada pertengahan bulan Februari 2019. KTT antar-Korea berikutnya diharapkan dilaksanakan beberapa saat setelahnya.

Rencana Kim untuk mengunjungi Seoul pada akhir tahun 2018 tidak pernah terwujud, dan perjalanan oleh Pemimpin Korea Utara ke ibu kota Korea Selatan akan menjadi upaya yang sangat menantang. Namun, meskipun sulit, kedua belah pihak diharapkan dapat menemukan cara untuk membuat kunjungan ke Korea Selatan bekerja dengan baik.

Moon dan Kim telah membangun hubungan dan menghasilkan deklarasi yang berarti sehubungan dengan Semenanjung Korea, belum lagi manfaat politik yang dinikmati masing-masing pihak melalui berbagai KTT yang telah berlangsung. Korea Utara akan mendapatkan kudeta propaganda yang tak ternilai harganya, dengan pemimpinnya menjadi tuan rumah tamu terhormat di Korea Selatan. Bagi Moon, ia harus tetap mempertaruhkan posisinya ketika Korea Utara melebarkan sayap diplomatiknya melalui pertemuan dengan para pemimpin Amerika Serikat, China, dan mungkin Rusia.

Oleh karena itu, kedua belah pihak dapat menjelajahi lokasi alternatif, seperti Pulau Jeju di Korea Selatan. Dengan penduduk yang berjumlah jauh lebih sedikit daripada ibu kota yang ramai, Jeju lebih akomodatif terhadap logistik yang sangat besar yang diperlukan untuk menampung Pemimpin Korea Utara yang sangat kontroversial itu.

Diplomasi tahun 2018 adalah landasan bagi harapan Moon dan Kim untuk berada dalam era baru hubungan antar-Korea. Tetapi sekarang masa uji coba telah berakhir, dan kedua belah pihak harus terus mencari bidang kerja sama dan menunjukkan kesabaran ketika kemajuan terhenti. Dibutuhkan upaya bersama untuk memastikan benih diplomatik yang ditanam pada tahun 2018 dapat mengatasi kemungkinan badai dan menghasilkan buah pada tahun 2019.

Nate Kerkhoff memegang gelar Master untuk Urusan Global dari Universitas Yonsei di Seoul dan merupakan Sarjana Muda di Pacific Forum.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Kim Jong Un, Pemimpin Korea Utara, berjabat tangan dengan Moon Jae-in, Presiden Korea Selatan, di Zona Demiliterisasi pada Jumat (27/4). (Foto: Korea Summit Press/Reuters)

Bagaimana Hubungan Antar-Korea Tahun 2019?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top