Balas Dendam atas Penangkapan Bos Huawei, China Perburuk Keadaan
Opini

Balas Dendam atas Penangkapan Bos Huawei, China Perburuk Keadaan

Polisi patroli China di depan Kedutaan Kanada di Beijing pada 14 Desember 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Greg Baker)
Berita Internasional >> Balas Dendam atas Penangkapan Bos Huawei, China Perburuk Keadaan

Aksi balas dendam China atas penangkapan bos Huawei oleh Kanada, justru memperburuk keadaan. China sebelumnya diduga melakukan diplomasi sandera, dengan menahan dua warga negara Kanada setelah Kanada menangkap bos perusahaan China Huawei. China telah kehilangan legitimasi moralnya dengan menahan warga negara Kanada secara acak. Huawei perlu meyakinkan dunia bahwa ia tidak tergantung pada politik Partai Komunis China, jika ingin negara lain mengadopsi teknologinya. Dengan main hakim sendiri, pihak berwenang China melukai—bukannya membantu—perusahaan kebanggaannya tersebut.

Oleh: Lynette H. Ong (Foreign Policy)

Baca Juga: China Keluarkan Ancaman atas Kasus Huawei, Kanada Tak Takut

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan China bukan hanya persaingan atas kecakapan ekonomi atau kekuatan teknologi, tetapi juga perselisihan terkait nilai-nilai—apakah kekuasaan pemerintah harus dibatasi, apakah perbedaan pendapat ditoleransi, dan apakah warga negara siap untuk menyerahkan kebebasan individu untuk mengejar kebaikan bersama yang dijabarkan oleh mereka yang berkuasa.

Negara-negara dengan kepentingan geopolitik atau ekonomi terkait dengan kedua negara besar ini menemukan diri mereka terjebak dalam posisi yang sulit.

Perwujudan terbaru dari permusuhan ini adalah penahanan dua warga negara Kanada oleh otoritas China pada bulan Desember, dalam apa yang secara luas dianggap sebagai pembalasan atas penangkapan Kanada terhadap pejabat keuangan Huawei, Meng Wanzhou, di Vancouver awal bulan itu.

Pengadilan China telah memerintahkan persidangan ulang terhadap warga negara Kanada yang sebelumnya divonis 15 tahun karena penyelundupan obat-obatan terlarang, yang dapat mengakibatkan hukuman mati. Kanada memandang tindakan China sebagai strategi balas dendam dan praktik diplomasi sandera.

Di sisi lain, penangkapan seorang eksekutif tinggi perusahaan teknologi China kelas satu yang jadi sumber kebanggaan nasional, Huawei, secara luas dianggap China sebagai persekongkolan Kanada dengan strategi AS yang dikalkulasi secara politis, dalam menahan pertumbuhan China sebagai negara pusat teknologi.

Media Global Times dari China—sebuah outlet yang dikendalikan negara—pertama kali menggambarkan tindakan itu sebagai “hooliganisme” Amerika. Bagi pemerintah China, Amerika Serikat menjalankan “yurisdiksi lengan panjang”, dengan secara tidak adil menegakkan hukum nasionalnya terhadap perusahaan dan individu asing.

Persepsi imperialisme AS ini diperkuat oleh fakta bahwa Amerika Serikat meminta sekutunya, Kanada, untuk melakukan penangkapan alih-alih melakukannya sendiri—dan dengan pernyataan terburu-buru dari presiden AS. Dan di China sendiri, penangkapan seorang tokoh yang kaya dan kuat niscaya akan bersifat politis.

China berpendapat bahwa Amerika Serikat memberikan tekanan pada sekutu Baratnya untuk memihaknya melawan China dalam perang teknologi. Huawei adalah penyedia terkemuka teknologi 5G, generasi telekomunikasi berikutnya—menjadikan Huawei pahlawan nasional yang menjanjikan di bidang utama, dan Amerika Serikat karenanya memiliki minat dalam menyabotasenya.

huawei

Logo Huawei terlihat di depan kantor lokal Huawei di Warsawa, Polandia, tanggal 11 Januari 2019. (Foto: Reuters/Kacper Pempel)

Pihak berwenang AS menuduh Meng melakukan penipuan keuangan dan Huawei melanggar sanksi perdagangan AS terhadap Iran. Kanada memiliki perjanjian ekstradisi yang membebankan kewajiban hukum atas penanganan Meng. China dapat menentang sifat dasar penahanan tersebut, karena Huawei bukan perusahaan pertama yang melanggar sanksi tersebut.

Klaim ini mungkin sepenuhnya berdasar, tetapi Amerika Serikat—bukan Kanada—yang mendorong keputusan itu. Sekarang Meng berada dalam tahanan Kanada, dan ekstradisinya ke Amerika Serikat adalah keputusan pengadilan Kanada, bukan keputusan pemerintah Kanada.

Pemisahan kekuasaan di Kanada—tidak seperti dalam sistem Komunis China—menghalangi pemerintah untuk campur tangan dalam keputusan pengadilan.

Pandangan paralel tersebut tercermin dalam komunitas China-Kanada yang terpecah. Satu kelompok masyarakat, terutama imigran China generasi pertama, percaya bahwa penangkapan Meng bermotivasi politik dan Kanada melakukan pekerjaan kotor Amerika Serikat. Kelompok lain yang lebih mainstream memandang penangkapan itu dibenarkan atas dasar hukum dan berpendapat bahwa kewajiban perjanjian Kanada dan keputusan pengadilan harus dihormati.

Namun, bahkan jika penangkapan Meng bermotivasi politis, China sedang berpandangan pendek. Jika negara itu ingin mendorong Huawei untuk menjadi pesaing utama teknologi generasi berikutnya dan untuk meyakinkan dunia tentang apa yang dinamakan kebangkitan damai, mereka tidak memainkan kartunya dengan benar.

Hingga terjadi penahanan warga negara Kanada oleh pihak berwenang China, masih mungkin untuk mengedepankan kasus bahwa teknologi dan politik tidak selalu saling berkaitan.

Walau terdapat kekhawatiran serius tentang privasi data di China, namun catatan perusahaan Barat seperti Google dan Facebook tampak semakin ternoda. Apakah Huawei tidak lebih dapat dipercaya daripada perusahaan lain—hanya karena mereka adalah perusahaan China—masih diperdebatkan.

Sementara itu, Huawei—dengan investasi besar dalam penelitian dan pengembangan—telah menghasilkan produk-produk unggulan dengan harga yang sangat kompetitif.

Namun China telah kehilangan legitimasi moralnya dengan menahan warga negara Kanada secara acak. Mengapa legitimasi moral penting, mungkin beberapa orang bertanya?

Karena Huawei perlu meyakinkan dunia bahwa ia tidak tergantung pada politik Partai Komunis China, jika ingin negara lain—khususnya masyarakat Barat—untuk mengadopsi teknologinya. Itu menjadi semakin sulit karena undang-undang China telah membuat peran korporasi sebagai agen negara yang mungkin menjadi lebih eksplisit—tetapi masih mungkin untuk membuat argumen, berkat catatan panjang dari kesepakatan bisnis independen dengan Barat.

Kepercayaan tidak bisa dipaksakan; itu harus dikembangkan dari waktu ke waktu, terutama dengan negara-negara dengan beragam nilai. Jadi, dengan main hakim sendiri, pihak berwenang China melukai—bukannya membantu—perusahaan kebanggaan yang dirintis di dalam negeri. Petugas intelijen Barat yang telah memiliki kasus yang melawan Huawei kemungkinan telah merasa dibenarkan oleh tindakan pemerintah China.

Baca Juga: Pendiri Huawei Bantah Tuduhan Jadi Mata-Mata untuk China

Pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei di Shenzhen, China, pada Selasa, 15 Januari 2019. (Foto: The Wall Street Journal/Theodore Kaye)

Di koridor CIA dan FBI, mereka yang melihat teknologi China sebagai ancaman harus dengan bangga menyatakan, “Sudah saya bilang!” Ini membuat pekerjaan mereka yang berusaha meyakinkan pemerintah mereka bahwa Huawei sepenuhnya jujur dengan keunggulan teknologi dan harga yang kompetitif jadi lebih sulit.

Ironisnya, banyak warga Kanada masuk ke dalam kelompok yang terakhir, terlepas dari apakah pemerintah China menyadarinya atau tidak. Kanada menonjol sebagai satu-satunya anggota aliansi intelijen “Five Eyes”—semuanya sekutu AS—yang tidak menolak penggunaan teknologi Huawei.

China mungkin ragu-ragu untuk menekan Amerika Serikat karena menginginkan agar gencatan senjata atas perang dagang bertahan lama. Sebaliknya, menyerang target yang lebih lemah seperti Kanada mungkin merupakan tindakan yang diperhitungkan.

Namun, jika China berusaha meyakinkan dunia tentang kebangkitannya yang damai atau bahwa ia adalah kekuatan yang jinak, ia membutuhkan teman, bukan musuh.

Di bawah kepemimpinan Justin Trudeau, Kanada telah melakukan investasi besar dalam membina hubungan ekonomi dan bilateral yang lebih dekat dengan China, sangat kontras dengan kebijakan para pendahulunya. Beijing, sementara itu, baru saja merayakan 40 tahun reformasi dan keterbukaan.

Selama empat dekade terakhir, China telah menjadikan dirinya sebagai tempat yang semakin menarik bagi investor asing, pengusaha, pekerja terampil, pelajar, dan wisatawan. Banyak orang mungkin tidak menyetujui sistem politiknya, tetapi China telah menawarkan lingkungan yang aman dan ramah bagi banyak orang asing.

China juga telah berinvestasi sangat besar dalam meningkatkan kekuatan lunaknya, termasuk Belt dan Road Initiative senilai $1 triliun untuk membantu negara-negara berkembang membangun infrastruktur dan memperluas pengaruh internasionalnya. Semua niat baik ini memberi kerugian kepada China jika mereka terus terlibat dalam diplomasi sandera.

Lynette H. Ong adalah Profesor Ilmu Politik dan pakar urusan China di Munk School of Global Affairs and Public Policy di University of Toront.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Polisi patroli China di depan Kedutaan Kanada di Beijing pada 14 Desember 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Greg Baker)

Balas Dendam atas Penangkapan Bos Huawei, China Perburuk Keadaan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top