Mohammed bin Salman
Global

Bela Uighur di China: Kesempatan Mohammed bin Salman Jadi Negarawan

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman berjalan di atas karpet merah. (Foto: Bloomberg via Getty Images/T. Narayan)
Berita Internasional >> Bela Uighur di China: Kesempatan Mohammed bin Salman Jadi Negarawan

Sebuah kesempatan menunggu Mohammed bin Salman (MBS) untuk membela Muslim di China. Dengan membela Uighur dari penindasan pemerintah China, MBS bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi negarawan. Ekspresi solidaritas diplomatik namun tegas dari MBS untuk Uighur, mungkin akan membuat jengkel China, tetapi mereka akan mengatasinya. Di dunia Muslim, sang pangeran akan mendapatkan kesan baik. Itu juga akan membungkam para kritikusnya di Barat untuk sementara.

Baca juga: Mohammed bin Salman dan Jaringan Kebohongan Mematikan

Oleh: Bobby Ghosh (Bloomberg)

Sejauh ini, apa yang terjadi sangat bisa diprediksi. Tur Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) keliling Asia telah berjalan sesuai harapan Saudi: karpet merah menyambut di Islamabad dan New Delhi, perjalanan kereta bersama Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, pelukan hangat dari Perdana Menteri India Narendra Modi, dan janji investasi miliaran dolar.

Bagi sang pangeran, sambutan hangat di sub-benua India mungkin merupakan obat untuk ‘sikap dingin’ yang diberikan Washington—di mana, sebagai akibat yang ditimbulkan oleh pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, Kongres AS sedang menyelidiki upaya Saudi untuk memperoleh teknologi nuklir.

Tetapi, dari keseluruhan arak-arakan tersebut, nyaris tak ada tanda-tanda pembentukan “poros timur” baru oleh penguasa de facto kerajaan Saudi tersebut, yang lebih dikenal dengan inisialnya MBS. Faktanya, tidak ada yang baru di sini: ayah Pangeran Mohammed, Raja Salman, melakukan perjalanan serupa pada tahun 2017, seperti yang dilakukan pamannya, Raja Abdullah, pada tahun 2006.

Arab Saudi telah memiliki kebijakan “pencarian ke timur” selama bertahun-tahun, sebagai pengakuan akan status yang dinikmati oleh negara-negara Asia yang haus, sebagai konsumen terbesar dari produk utama kerajaan Saudi.

Tetapi MBS menginginkan peran yang lebih besar di panggung dunia—untuk menjadi negarawan dalam urusan internasional, daripada hanya sebagai penjual hidrokarbon.

Di dalam negerinya, ia memimpin koalisi Arab untuk berperang di Yaman dan memboikot Qatar. Perjalanan ini adalah ujian bagi kredensial kepemimpinannya di luar Semenanjung Arab.

Sub-benua itu memberikan kesempatan untuk menunjukkan beberapa keterampilan diplomatik: serangan bunuh diri di India oleh kelompok teroris Pakistan pada malam kedatangan MBS yang memicu permusuhan antara kedua negara. Menteri Luar Negeri Saudi membuat tanggapan sopan terkait mencoba “untuk mengurangi ketegangan.”

MBS bisa saja melampaui hubungan baik ini, menggunakan kekuatan yang ia miliki atas kedua negara: Ekonomi Pakistan yang sangat bergantung pada kemurahan hati Saudi, dan India yang tertarik pada investasi Saudi.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan (kanan) menyambut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada saat kedatangannya di Angkatan Udara Pakistan (PAF) Pangkalan Nur Khan di Rawalpindi, Pakistan 17 Februari 2019. (Foto: Reuters/Departemen Informasi Pers)

Dia mungkin, misalnya, telah menawarkan untuk menjadi tuan rumah Khan dan Modi untuk pembicaraan di Riyadh. Tetapi dia memberikan komentar yang samar-samar tentang terorisme sebagai “keprihatinan bersama,” dan janji yang sama sekali tidak spesifik untuk berbagi lebih banyak intelijen dengan India.

Baca juga: Gagalnya Upaya Pencitraan Mohammed bin Salman sebagai Pembawa Kedamaian

Jelas, sang pangeran tidak siap untuk bermain sebagai penjaga perdamaian.

Beijing—perhentian terakhir dalam turnya—menawarkan kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinannya pada dunia Islam yang lebih luas. Penindasan brutal China terhadap etnis Muslim Uighur—hingga satu juta orang Uighur dilaporkan telah ditahan di “kamp pendidikan ulang”—telah ditanggapi dengan keheningan memalukan dari sebagian besar pemimpin Muslim.

Turki baru-baru ini memutuskan untuk buka suara dengan menyerukan agar kamp-kamp itu ditutup, tetapi tidak ada pemimpin besar yang berani mengganggu Beijing di sarangnya sendiri—bahkan Presiden vokal Recep Tayyip Erdogan.

MBS memiliki legitimasi dan pengaruh untuk melakukannya. Keluarga kerajaan Saudi mengaku sangat serius menjalankan perannya sebagai pemelihara situs-situs paling suci Islam, Mekah dan Madinah, dan penjaga kesejahteraan umat Islam di mana-mana. Arab Saudi juga merupakan pemasok utama minyak ke China, dan Presiden Xi Jinping menganggap Riyadh sebagai kunci utama kebijakan luar negeri dan ambisi perdagangannya di Timur Tengah.

Ekspresi solidaritas diplomatik namun tegas dari MBS untuk Uighur, mungkin akan membuat jengkel China, tetapi mereka akan mengatasinya. Di dunia Muslim, sang pangeran akan mendapatkan kesan baik yang sangat besar—hal yang sangat sedikit didapatkan Arab Saudi sejak perangnya melawan Yaman. Itu juga akan membungkam para kritikusnya di Barat untuk sementara.

Jika semua yang diinginkan MBS dari tur Asia-nya adalah untuk menjauh dari K-word selama beberapa hari, ia akan menemukan hantu jurnalis yang terbunuh menunggunya kembali di Riyadh. Jika dia ingin dianggap sebagai negarawan dan bukan sebagai salesman, sebuah kesempatan menantinya di China.

Baca juga: Turki Keluarkan Perintah Penangkapan Pembantu Mohammed bin Salman

Bobby Ghosh adalah kolumnis dan anggota dewan editorial Opini Bloomberg. Dia menulis tentang urusan luar negeri, dengan fokus khusus pada Timur Tengah dan dunia Islam yang lebih luas.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman berjalan di atas karpet merah. (Foto: Bloomberg via Getty Images/T. Narayan)

Bela Uighur di China: Kesempatan Mohammed bin Salman Jadi Negarawan

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top