Amerika
Amerika

Blackface: Hantu Aneh yang Gentayangi Amerika

Berita Internasional >> Blackface: Hantu Aneh yang Gentayangi Amerika

Skandal politik yang saat ini berkembang di Virginia memaksa kita untuk melihat warisan blackface dan mempertanyakan fenomena yang begitu abadi tersebut. Blackface menghantui kita seperti hantu aneh, menyeringai dan tertawa, berharap bahwa penonton kulit putih tertentu masih melihatnya dan menertawakannya, bahkan masih merasa terhibur. Walau tidak lagi muncul secara terang-terangan, fenomena ini terus menghantui Amerika.

Baca juga: Wahai Sekutu, Amerika Tak Akan Dukung Anda

Oleh: Gabrielle Bellot (The Guardian)

“Amerika adalah negeri para pelawak topeng,” demikian tulis novelis Ralph Ellison pada tahun 1958 dalam sebuah esai tentang identitas Amerika. “Kami mengenakan topeng untuk tujuan agresi serta untuk pertahanan, ketika kami memproyeksikan masa depan dan melestarikan masa lalu. Leluconnya berada di pusat identitas Amerika.”

Ketika orang Amerika kulit putih membuang teh ke Pelabuhan Boston, Ellison berpendapat bahwa mereka mengenakan kostum dan topeng penduduk asli Amerika. Ketika orang Amerika berkulit putih ingin mengurangi ketidaknyamanan mereka dengan orang Amerika berkulit hitam, mereka hanya mengadopsi warna hitam itu sendiri sebagai kostum badut, mencoba untuk secara kasar meniru keturunan Amerika-Afrika melalui stereotipe dan membuat karikatur yang dapat dengan mudah ditertawakan dan menjadi objek pembicaraan secara merendahkan.

Keduanya adalah upaya menyerang sekaligus bertahan: serangan melalui cemoohan dan semacam pertahanan psikologis terhadap kelompok yang sangat ditakuti. Para penghibur yang mengenakan blackface, bahkan ketika mereka adalah seorang Amerika kulit hitam yang dipaksa untuk memakai riasan blackface, “selalu memiliki identitas kulit putih,” tutur Ellison.

Pada puncak popularitasnya di akhir abad ke-19, melihat pemain kulit putih yang mengenakan riasan blackface, wig wol, dan bibir merah aneh adalah salah satu hiburan paling dicintai bagi keluarga kulit putih Amerika. Sebagai gambaran, ikonografi blackface sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, muncul dalam ilustrasi era kolonial tentang orang Afrika kulit hitam.

Gambar-gambar tersebut berusaha menggambarkan orang kulit hitam sebagai badut dan makhluk aneh, membesar-besarkan berbagai fitur tubuhnya untuk menegaskan “kelainan” dari tubuh orang kulit hitam. Namun, pada tahun 1830-an, blackface mulai terlihat dalam bentuknya yang paling dikenal saat ini, ketika diintegrasikan ke dalam pertunjukan di atas panggung oleh orang kulit putih Amerika yang mengenakan riasan wajah berwarna gelap, bibir merah, dan wig keriting yang kasar, warna hitam dari riasan mereka memperkuat warna putih dari gigi dan mata mereka.

Pertunjukan dimulai di sejumlah negara bagian timur laut. Pertunjukan tersebut seringkali menampilkan nyanyian, tarian, sandiwara, dan musik instrumental, dengan musik instrumental yang seringkali menunjukkan beberapa bentuk “melodi Negro.” Pertunjukan blackface dipasarkan sebagai campuran khusus hiburan tinggi dan rendah. Pertunjukan tersebut mesum dan kasar, dengan cara ini menanamkan benih pertunjukan vaudeville, tetapi juga berusaha menerjemahkan bentuk seni yang lebih elitis, seperti opera, ke panggung yang populer.

Undang-undang segregasi Jim Crow mengambil namanya dari pertunjukan Jumping Jim Crow, oleh aktor teater blackface Thomas Dartmouth Rice, yang terkadang dianggap sebagai “bapak” dari penyanyi pertunjukan, yang mengklaim bahwa pertunjukan didasarkan pada seorang budak yang dia kenal.

“Blackface sesekali muncul sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengejek yang aneh.” (Foto: AP)

Blackface sangatlah menguntungkan sehingga bahkan pemain Afrika-Amerika tidak punya banyak pilihan selain memakainya jika mereka menginginkan sedikit keberhasilan dengan audiens kulit putih. Begitulah halnya dengan salah satu aktor panggung kulit hitam paling terkenal di abad ke-19, William Henry Lane, yang lebih dikenal sebagai “Master Juba,” yang terpaksa memakai blackface sampai ia menjadi cukup terkenal di seluruh dunia untuk bepergian dengan sekelompok aktor kulit putih tanpa mengenakan riasan blackface.

Baca juga: Kesepakatan Perdagangan Amerika China Masih Hadapi Hambatan Besar

Lane membuat kagum para penonton, menari dengan iringan musik Irlandia yang dimodifikasi menyerupai irama Afrika, yang meletakkan dasar untuk tap dance. Dia memiliki bakat menari di depan umum sejak usia 10 tahun pada pertengahan tahun 1830-an. Namun, dia harus mempermalukan dirinya sendiri untuk tetap melanjutkan karirnya.

Dia harus meletakkan pondasi eksistensinya sebagai lelucon karnaval di panggung, sehingga penonton kulit putih yang menyaksikannya, setelah tertawa dan mengejek, memiliki kesempatan untuk memperhatikan gerakan kakinya yang luar biasa. Dengan cara ini, blackface menjadi upaya yang merendahkan untuk mencapai kesuksesan, sebuah prasyarat untuk melanggengkan keturunan hingga awal abad ke-20.

Blackface kadang-kadang muncul sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengejek yang aneh. Mungkin contoh paling jelas dari hal ini adalah dalam episode Betty Boop 1932 yang luar biasa, “I’ll Be Glad When You’re Dead You Rascal You,” yang menampilkan Louis Armstrong dan bandnya.

Kartun itu dimulai dengan Armstrong dan kru yang menyediakan musik latar untuk Betty Boop, Bimbo, dan safari Koko the Clown ke dalam hutan yang luas. Kelompok itu secara tak terduga diserang oleh kanibal berkulit gelap dan berwajah aneh, yang menculik Betty Boop dan bersiap untuk memasaknya.

Dalam apa yang harus dinilai sebagai salah satu adegan rasis yang paling terang-terangan dalam sejarah kartun populer, terdapat episode ketika sahabat karib Betty Boop dikejar oleh animasi kepala melayang karikatur berbibir tebal yang tidak dapat dibedakan dari ikonografi penyanyi pertunjukan blackface, yang berubah menjadi wajah raksasa Armstrong sendiri, wajah melayang, lalu kembali ke wajah kanibal. Yang pasti, citra rasis semacam itu lazim dalam kartun Amerika awal, yang asal-usulnya terkait erat dengan penyanyi dan pertunjukan vaudeville.

Mickey Mouse, Bimbo, dan Koko bahkan dapat dibayangkan sebagai penyanyi sendiri, seperti yang dikemukakan kritikus Nicholas Sammond, bahwa pertunjukan layar mereka yang paling awal seringkali menunjukkan rutinitas tarian dan jumlah musik yang sama dengan penyanyi pertunjukan. Seiring meningkatnya kecaman dari kelompok-kelompok hak-hak sipil, rasisme terang-terangan dalam pekerjaan publik terus menghilang dan memudar, serta berubah menjadi latar belakang. Blackface tidak lagi sejelas wajah Armstrong yang bertransformasi, tetapi masih tetap ada bagi mereka yang memperhatikan.

Ketika sebuah foto buku tahunan 1984 dari Ralph Northam, gubernur Demokrat Virginia, menunjukkan seorang pria dengan blackface dan seseorang yang mengenakan jubah Ku Klux Klan, Northam mengklaim dia tidak ingat berada di foto itu, tetapi mengakui dia telah menggelapkan wajahnya di tahun yang sama ketika berpakaian seperti Michael Jackson untuk mengikuti “kontes dansa di San Antonio.”

Itu adalah penghormatan, katanya. “Di tempat dan waktu di mana saya tumbuh dewasa,” kata Northam dalam konferensi pers, “banyak tindakan yang kita anggap menjijikkan hari ini adalah hal biasa.”

Northam tampaknya percaya bahwa sifat “biasa” dari rasisme di masa lalu telah membebaskannya, meski tentu saja faktanya tidak demikian. Sangatlah luar biasa bahwa Jaksa Agung Virginia segera mengungkapkan bahwa ia juga pernah memakai riasan blackface di masa lalu. Tidak ada hal yang baru dalam politik. Gubernur Demokrat Missouri Mel Carnahan masih memenangkan kursi Senat tahun 2000 setelah sebuah fotonya muncul ketika dia bernyanyi dalam kuartet blackface.

Faktanya adalah bahwa blackface tidak pernah meninggalkan Amerika. Blackface hanya ditampilkan secara kurang terang-terangan. Blackface muncul kapan pun simbol rasis lain melakukannya: tali gantungan, semangka, asumsi bahwa tubuh kulit hitam adalah tubuh yang berbahaya, bahwa seseorang harus menyeberang jalan ketika tubuh hitam berjalan ke arah Anda, siang atau malam.

Blackface menghantui kita seperti hantu aneh, menyeringai dan tertawa, berharap bahwa penonton kulit putih tertentu masih melihatnya dan menertawakannya, bahkan masih merasa terhibur.

Blackface masih muncul dalam banyak cara: fitur berlebihan pada Aunt Jemimah, aliran mahasiswa yang tiada henti tertangkap kamera dengan wajah dicat hitam, fitur penyanyi balada dari anime dan karakter manga Jepang seperti Mr Popo yang populer di Amerika Serikat, patung karikatur Barack Obama yang didirikan oleh kaum konservatif setiap tahun untuk sasaran tembak, siksaan, atau bahkan diledakkan di depan kamera.

Baca juga: Timur Tengah Saat Ini Tak Lagi Mengagumi Amerika

Blackface adalah wujud yang mencakup segala hal dan senantiasa berubah, secara tak terhindarkan telah terjalin ke dalam jiwa Amerika. Gambaran bibir merahnya menunjukkan erotisme, yang menggambarkan stereotipe era kolonial yang masih bertahan tentang tingginya seksualitas tubuh kulit hitam, sekaligus darah, darah mayat orang kulit hitam yang membasahi tanah Amerika. Blackface masih bermain di panggung Amerika hingga hari ini.

Blackface adalah lelucon yang menghibur orang kulit putih Amerika yang, secara sadar atau tidak, takut pada orang yang tidak berkulit putih, seperti yang diketahui Ellison. Blackface tetap bertahan sebagai comfort food.

Kritikus Elias Cannetti berpendapat, dalam Crowds and Power, bahwa tertawa memungkinkan kita untuk mengambil alih kekuasaan atas yang kita tertawakan. Mungkin karena inilah, bahkan sekarang, blackface masih tetap ada sebagai upaya kasar dan kejam oleh orang kulit putih Amerika tertentu untuk mempertahankan rasa superioritas ras. Blackface adalah momok yang tidak pernah bisa kita usir karena fenomena blackface, secara menyakitkan, terlalu Amerika.

Gabrielle Bellot adalah staf penulis untuk Literary Hub.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: “Faktanya, blackface tidak pernah meninggalkan Amerika, tapi hanya ditampilkan secara kurang terang-terangan.” (Foto: AP)

Blackface: Hantu Aneh yang Gentayangi Amerika

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top