berita Iran terbaru
Timur Tengah

Opini: Didasarkan pada Kebohongan, Kesepakatan Nuklir Iran Tidak Bisa Dipertahankan

Home » Featured » Timur Tengah » Opini: Didasarkan pada Kebohongan, Kesepakatan Nuklir Iran Tidak Bisa Dipertahankan

Setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (30/4) mengungkap arsip nuklir rahasia Iran, Duta Besar Israel untuk Inggris menyatakan bahwa kesepakatan nuklir Iran didasarkan pada kebohongan, dan maka dari itu tidak bisa dipertahankan. Menurutnya, perjanjian itu tidak mencegah proliferasi. Sebaliknya, kesepakatan itu justru membuka jalan yang mudah bagi negara rezim itu untuk membangun senjata nuklir.

    Baca juga: Israel Persiapkan Militernya untuk Kemungkinan Serangan Iran

Oleh: Mark Regev (The Telegraph)

Senin (30/4) lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkap gudang penyimpanan besar yang terdiri dari lebih dari 100 ribu dokumen dan berkas yang diperoleh intelijen Israel dari arsip nuklir rahasia Iran di Teheran.

Dokumen-dokumen itu termasuk surat-surat resmi, tabel, cetak biru, foto, video, dan banyak lagi, yang semuanya membuktikan rencana rahasia negara rezim itu untuk membuat senjata nuklir. Satu dokumen menyatakan pernyataan misi yang tidak menyenangkan terkait program rahasia tersebut: untuk “merancang, memproduksi, dan menguji lima hulu ledak, masing-masing dengan sepuluh kiloton TNT yang menghasilkan integrasi pada rudal.” Itu seperti lima bom Hiroshima.

Pemerintah Amerika menerima informasi intelijen yang signifikan ini beberapa minggu yang lalu, dan telah membuktikan keasliannya. Kami sekarang membagikan informasi ini dengan Kerajaan Inggris.

Menurut ketentuan perjanjian nuklir tersebut, Iran berkomitmen untuk mengungkapkan semua kegiatan nuklir militer sebelumnya ke Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Langkah ini sangat penting dalam mengukur komitmen Iran terhadap non-proliferasi, dan mengukur seberapa dekat rezim itu untuk mencapai senjata nuklir.

Materi yang telah diungkap Israel memberikan bukti dokumenter yang luar biasa bahwa Iran berbohong kepada IAEA, dengan sengaja menyembunyikan niat dan kegiatannya yang sebenarnya.

Sebelum pengungkapan penting ini, Amerika menetapkan Sabtu 12 Mei, sebagai tanggal di mana keputusan perlu diambil tentang masa depan kesepakatan nuklir tersebut.

Seperti yang terjadi saat ini, perjanjian itu tidak mencegah proliferasi. Sebaliknya, kesepakatan itu mencakup tiga masalah penting yang—jika dibiarkan tidak terselesaikan—akan membuka jalan yang mudah bagi negara rezim itu untuk membangun senjata nuklir.

Pertama, kesepakatan itu memungkinkan negara rezim itu untuk terus mengembangkan rudal balistik. Selama satu dekade terakhir, Assad telah dengan antusias memperluas gudang persenjataannya, meningkatkan jangkauan mereka dari 1.000 km hingga sekitar 2.000 km. Tidak puas hanya dengan dapat mengancam negara saya dan negara-negara lain di dekatnya, negara rezim itu berencana untuk memperluas jangkauan rudalnya, yang memungkinkan mereka untuk mencapai kota-kota di Eropa.

    Baca juga: Pangkalan Udara Suriah Ada di Jantung Potensial Perang Israel vs Iran

Masalah besar kedua dari kesepakatan itu adalah bahwa mekanisme pemeriksaan sepenuhnya tidak memadai. Iran tidak pernah menyatakan fasilitas pengayaannya secara sukarela, hanya mengakui keberadaan pengayaan itu setelah sumber lain telah mengungkapkannya. Kebenaran terlihat dari situs pengayaan uranium di Natanz pada tahun 2002 dan Fordow pada tahun 2009.

Saat ini, setiap pangkalan militer Iran dinyatakan terlarang bagi para inspektur. Untuk sebuah rezim yang berniat menyembunyikan program senjata nuklir terlarang, pengaturan seperti itu luar biasa nyaman.

Netanyahu Tuduh Iran Curangi Kesepakatan Nuklir

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato tentang program nuklir Iran di Kementerian Pertahanan di Tel Aviv. (Foto: AFP Photo)

Masalah besar ketiga adalah bahwa pembatasan dalam kesepakatan itu terhadap aktivitas nuklir akan berakhir dalam beberapa tahun saja. Kemudian, rezim itu akan bebas untuk memperkaya jumlah uranium yang tidak terbatas, menggunakan ratusan ribu sentrifugal. Pasal-pasal yang berakhir ini akan memberi imbalan kepada rezim tersebut atas tipuannya.

Para pendukung kesepakatan tersebut telah mengklaim bahwa akan lebih baik untuk mengintegrasikan Republik Islam Iran ke dalam komunitas global dan mendorong negaranya untuk bertindak lebih bertanggung jawab. Namun, tiga tahun setelah kesepakatan tersebut tercapai, tindakan rezim itu telah membuktikan sebaliknya.

Penindasan Iran terhadap para pembangkang politik dan minoritas hanya semakin memburuk. Desember lalu, ribuan orang ditangkap ketika pihak berwenang menekan keras gelombang protes nasional. Pada Februari, rezim itu memenjarakan 29 wanita karena membela kebebasan mereka.

Tetangga Republik Islam Iran semakin menderita, karena rezim tersebut mengeksploitasi manfaat ekonomi dari kesepakatan itu untuk mendanai kegiatan kejam di Irak, Lebanon, dan Yaman.

Di Suriah, Teheran terus mendukung kediktatoran brutal Bashar al-Assad, mendukung serangan mematikannya terhadap warga sipil dan penggunaan senjata kimia.

Selanjutnya, rezim itu secara aktif mendanai, melatih, dan mempersenjatai kelompok-kelompok teror seperti Hizbullah dan Hamas, serta milisi sektarian di seluruh Timur Tengah.

Gangguan dan agresi yang berkelanjutan ini—bersama dengan tiga masalah utama dalam perjanjian 2015—dan pengungkapan baru yang dramatis dari arsip nuklir Iran, semuanya membuktikan kebodohan untuk mendasarkan keamanan bersama kita pada tipuan dan kebohongan Iran.

Mencegah proliferasi nuklir Iran hanya mungkin dilakukan, jika kita dengan kuat menghadapi aktivitas nuklir rahasia Teheran, menghentikan program rudal balistiknya, dan mengkondisikan pencabutan pembatasan berdasarkan perubahan nyata dalam perilaku Iran.

Perdana Menteri Netanyahu bukan satu-satunya pemimpin yang mengkritik perjanjian 2015 sebagai ‘kesepakatan buruk’. Di seluruh Timur Tengah, para pemimpin Arab telah menyatakan kekhawatiran yang sama.

Dunia tidak cenderung mengharapkan Israel dan Arab untuk menemukan kepentingan bersama. Ketika tetangga-tetangga Iran—Arab dan Israel—setuju bahwa kesepakatan nuklir Iran tidak dapat dipertahankan, Inggris harus duduk dan memperhatikan.

Mark Regev adalah Duta Besar Israel untuk Inggris.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mempresentasikan dokumen-dokumen dan berkas rahasia dari arsip nuklir Iran. (Foto: AP Photo/Sebastian Scheiner)

Opini: Didasarkan pada Kebohongan, Kesepakatan Nuklir Iran Tidak Bisa Dipertahankan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top