berita Donald Trump terbaru
Timur Tengah

Opini: Donald Trump Tempatkan Israel dalam Bahaya

Presiden AS Donald Trump mendengarkan ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam konferensi pers gabungan di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, Rabu, 15 Februari 2017. (Foto: AP Photo/Pablo Martinez Monsivais)
Home » Featured » Timur Tengah » Opini: Donald Trump Tempatkan Israel dalam Bahaya

Netanyahu telah meyakinkan Donald Trump bahwa meninggalkan kesepakatan Iran akan melindungi Israel. Tetapi dengan Amerika Serikat meninggalkan kesepakatan itu berarti kemungkinan perang Israel-Iran di Suriah menjadi jauh lebih besar.

    Baca juga: Kedubes Baru Trump Diresmikan di Yerusalem, Gaza Banjir Darah Warga Palestina

Oleh: Michael J. Koplow (Haaretz)

Seluruh dunia menyaksikan ketika Presiden Donald Trump mengumumkan keluarnya Amerika Serikat (AS) dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA), dan pengenaan kembali berbagai sanksi terhadap Iran.

Sementara pemerintah Inggris, Prancis, dan Jerman memperjelas preferensi kuat mereka agar AS mempertahankan JCPOA, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak malu-malu dalam usahanya untuk meyakinkan Gedung Putih tentang kebijaksanaan posisinya yang berlawanan dari mereka.

Tampilnya Netanyahu di acara berbahasa Inggris, yang merupakan hal yang tidak biasa, yang disiarkan di televisi Israel di jam-jam utama pekan lalu yang membahas bukti intelijen yang dikumpulkan oleh Israel mengenai upaya Iran di masa lalu untuk membangun senjata nuklir hampir pasti ditujukan untuk Trump, baik dalam upaya untuk meyakinkannya agar Donald Trump keluar dari kesepakatan itu, atau untuk menyediakan perlindungan pada Trump saat melakukannya.

Tapi sementara Netanyahu sangat yakin dengan oposisinya terhadap JCPOA, yakin bahwa JCPOA adalah jalan yang akhirnya mengantarkan Iran untuk mendapatkan bom sambil menyediakan oksigen kepada rezim Iran untuk kelangsungan hidup rezim tersebut, Netanyahu mungkin mengabaikan aspek yang tidak terlihat dari dinamika kesepakatan Iran—dan bagaimana JCPOA hingga sekarang mencegah perang Israel-Iran di Suriah.

Kesepakatan Iran menghadapi oposisi sengit di Israel sejak saat pembuatannya hingga negosiasi dan implementasinya pada musim panas tahun 2015. Para politisi dan pejabat keamanan Israel di seluruh dewan percaya bahwa kesepakatan itu adalah gagasan yang naif dan kurang dipahami, dan oposisi Israel terhadap kesepakatan itu mencapai puncaknya saat pidato kontroversial Netanyahu pada Maret 2015 sebelum Kongres AS.

Perdebatan yang saat ini terjadi di Israel yaitu apakah akan lebih baik bagi keamanan Israel jika kesepakatan tetap dipertahankan—terlepas dari oposisi sebelumnya mengenai itu—atau jika AS menerapkan kembali sanksi dan mengambil risiko Iran memulai kembali program nuklirnya, sambil mencoba memaksa Iran ke dalam kesepakatan yang lebih baik, telah terfokus sepenuhnya pada aktivitas nuklir Iran.

Namun terdapat dimensi lain dalam perhitungan ini yang harus dipertimbangkan dan itu adalah penyokong untuk program nuklir Iran itu sendiri.

Ancaman terbesar dan yang paling dekat terhadap keamanan Israel sekarang bukanlah nuklir Iran, tetapi aktivitas Iran di Suriah.

Dalam beberapa bulan terakhir, Israel dan Iran, untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, terlibat dalam permusuhan langsung, alih-alih Israel menanggapi serangan dari proxy Iran. Pada bulan Februari, Israel menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak Iran yang telah menembus wilayah udara Israel, dan menyerang pusat komando pesawat tak berawak Iran di pangkalan udara T-4 di Suriah sebagai tanggapan atas peristiwa itu.

Pada awal bulan April, Israel kembali menyerang pangkalan udara tersebut, menewaskan tujuh tentara Korps Garda Revolusi Iran, dan pada 29 April, serangan misil yang diyakini dilakukan oleh Israel menghancurkan depot senjata di dua pangkalan yang dikendalikan Iran di Suriah.

Sebuah rudal balistik permukaan Ghadr H ditampilkan oleh Pengawal Revolusi Iran dalam demonstrasi pro-Palestina tahunan saat memperingati Hari Al-Quds (Yerusalem), di Teheran, Iran. 23 Juni 2017 (Foto: AP/Vahid Salemi)

Sebuah rudal balistik permukaan Ghadr H ditampilkan oleh Pengawal Revolusi Iran dalam demonstrasi pro-Palestina tahunan saat memperingati Hari Al-Quds (Yerusalem), di Teheran, Iran. 23 Juni 2017 (Foto: AP/Vahid Salemi)

Serangan-serangan ini terjadi di tengah pernyataan yang tak tergoyahkan oleh pemerintah Israel bahwa mereka akan terus menegakkan dua garis merah di Suriah, dan kekhawatiran meningkat karena kemungkinan tanggapan Iran yang memicu perang di barisan utara Israel.

Namun dengan semua peringatan akan pembalasan Iran untuk menghadapi serangan Israel yang lebih besar terhadap Iran, Israel masih menunggu sambil menahan nafas akan respon Iran.

Walaupun sebagian dari keengganan Iran tidak diragukan lagi merupakan akibat dari superioritas militer Israel dan sistem pencegahan yang sukses, sebagian juga karena tenggat waktu kesepakatan nuklir yang semakin mendekat.

Pemerintah Iran telah sangat jelas menyatakan bahwa pihaknya ingin kesepakatan Iran tetap dipertahankan, dengan alasan yang jelas. Kesepakatan ini telah menjadi garis hidup bagi ekonomi Iran yang goyah dan memungkinkan rezim melepaskan diri dari isolasi diplomatiknya.

Selama Iran sendiri tetap bertahan dalam kesepakatan dan tidak ada bukti mengenai pelanggaran atas ketentuan inti yang mencegahnya dari menjalankan program senjata nuklir—dan bukti yang Israel nyatakan minggu lalu mengenai kegiatan Iran di masa lalu merupakan kebohongan dan tidak menyatakan apakah Iran sedang melakukannya kegiatan tersebut sampai sekarang—pemerintah Iran masih bisa melanjutkan jalannya seperti saat ini.

    Baca juga: Trump Minta Israel Serahkan Empat Wilayah di Yerusalem Timur kepada Palestina

Satu hal yang dapat mengganggu keseimbangan ini adalah apabila Iran melancarkan perang melawan Israel, baik secara langsung atau dengan mengaktifkan Hizbullah dan ratusan ribu rudal yang diarahkan ke sasaran Israel dari Libanon.

Jika hal ini terjadi, tentu akan memancing respon diplomatik yang keras dari AS dan juga akan mempersulit E3—Inggris, Prancis, dan Jerman—untuk membantah bahwa Iran bertanggung jawab dan mengatakan bahwa layak untuk terlibat dengan rezim tersebut.

Iran tidak ingin memberikan semua negara selain Iran di kesepakatan itu alasan untuk keluar. Alasan terbaik yang bisa diberikan adalah perang yang menargetkan pusat-pusat dan infrastruktur penduduk Israel, menghancurkan daerah utara dan mengirim jutaan warga Israel ke tempat-tempat perlindungan bom.

Israel telah membuat argumen yang konsisten bahwa kesepakatan Iran buruk untuk keamanannya di bidang nuklir, tetapi ada risiko bahwa jika kesepakatan Iran hancur seluruhnya, itu akan menciptakan ancaman yang lebih langsung dan lebih dekat bagi Israel.

Kesepakatan Iran telah menahan Iran dari menanggapi serangan Israel yang dilakukan berkali-kali terhadap kepentingan Iran di Suriah.

Trump mendengar nasehat Netanyahu untuk memperbaiki apa yang dianggap perdana menteri tersebut sebagai kesalahan besar Amerika yang membuat Israel lebih rentan. Tetapi presiden AS mungkin saja akhirnya menciptakan kerentanan baru bagi Israel, dengan menghapus kekangan utama pada pasukan konvensional Iran.

Kesepakatan Iran secara khusus berfokus pada program nuklir Iran, tetapi kesepakatan itu menghasilkan serangkaian insentif lain yang berdampak pada perilaku regional Iran, menciptakan ruang bagi petualangan Iran mengekangnya dalam melakukan beberapa hal.

Keprihatinan Netanyahu sekarang akan menjadi akibat dari keluarnya Amerika dari kesepakatan itu. Dia prihatin tentang variabel nuklir Iran, ancaman yang hanya akan berdampak di masa depan, tetapi hal itu harus dikesampingkan; Keluarnya Donald Trump bisa meningkatkan dampak yang jauh lebih mendesak terhadap keamanan Israel—konflik konvensional dengan Iran di Suriah.

Michael J. Koplow adalah direktur kebijakan Israel Policy Forum. Twitter: @mkoplow.

Keterangan foto utama: Presiden AS Donald Trump mendengarkan ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam konferensi pers gabungan di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, Rabu, 15 Februari 2017. (Foto: AP Photo/Pablo Martinez Monsivais)

Opini: Donald Trump Tempatkan Israel dalam Bahaya
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top