Kongres AS
Amerika

Dua Wanita Muslim Anggota Kongres AS Jadi Target Serangan Saudi-Israel

Anggota Kongres AS Ilhan Omar (D-MN) (kiri) dan Perwakilan AS dari Michigan Rashida Tlaib (D-MI) tiba untuk menyampaikan pidato State of the Union di US Capitol di Washington, DC, pada 5 Februari 2019. (Foto: AFP)
Berita Internasional >> Dua Wanita Muslim Anggota Kongres AS Jadi Target Serangan Saudi-Israel

Persahabatan Saudi-Israel yang baru membuat kedua negara ini bekerja bersama-sama untuk menyerang dua wanita Muslim Amerika yang progresif, Rashida Tlaib dan Ilhan Omar, di Kongres AS. Arab Saudi dan Israel khawatir kedua wanita yang progresif ini akan mengganggu hubungan AS-Saudi yang hangat di bawah Trump. Saudi berupaya untuk melindungi kepentingan strategisnya, sedangkan Israel berusaha melindungi dan mempertahankan pendudukannya yang ilegal di wilayah Palestina.

Baca juga: Rashida Tlaib: Anggota Kongres AS Jadi Ancaman Bagi Israel

Oleh: CJ Werleman (Middle East Eye)

Seperti biasa, hampir tidak ada yang lebih mengganggu stabilitas geopolitik di Timur Tengah daripada hubungan yang baru berkembang antara monarki Saudi dan negara Israel.

Walau persahabatan yang baru terbentuk antara kedua negara tersebut dibangun sebagian besar berdasarkan permusuhan terhadap Iran—yang merupakan musuh bersama—namun normalisasi hubungan tersebut ternyata mengorbankan Palestina, yang telah, sekali lagi, diabaikan dalam dunia politik Arab.

Kampanye Penodaan

Yang sama menggemparkannya adalah terpilihnya wanita Muslim pertama dalam Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS), di mana Rashida Tlaib (anak perempuan dari imigran Palestina) dan Ilhan Omar (anak perempuan dari pengungsi Somalia), disumpah sebagai anggota Kongres AS dengan tangan mereka masing-masing berada di atas kitab suci Alquran.

Walau terdapat total 535 anggota DPR dan Senat—dengan total 98 pejabat baru menempati jabatan masing-masing di lembaga legislatif masing-masing negara bagian di AS—namun tidak ada dua pejabat baru yang menyebabkan reaksi sebanyak dua wanita Muslim yang menjadi anggota kongres ini.

Nama mereka telah dinodai secara keliru karena “menempatkan kesetiaan mereka pada Alquran dan bukannya Konstitusi,” menempatkan Amerika Serikat dalam “degradasi peradaban,” melakukan “perang spiritual,” dan karena menganut “supremasisme Syariah.”

“Apa yang membuat anggota kongres wanita seperti Rashida Tlaib dan Ilhan Omar… sangat berbahaya adalah bahwa mereka tidak hanya berbicara dengan pakaian yang saya pikir benar digambarkan sebagai Hamas, melakukan peran sebagai (Dewan Hubungan Amerika-Islam), tetapi mereka sepenuhnya memiliki ideologi dan ambisi yang sama dengan Ikhwanul Muslim untuk mencapai kemenangan Syariah di negara kita juga,” kata Frank Gaffney, yang telah lama dianggap sebagai bapak aktivisme anti-Muslim di AS.

Tuduhan Palsu

Bisa ditebak, tuduhan palsu dan anti-Semitisme telah dilontarkan pada dua wanita Muslim wakil rakyat tersebut, terlepas dari kenyataan bahwa tidak ada di antara mereka yang mendorong penindasan atau diskriminasi terhadap orang Yahudi di mana pun di dunia, termasuk di Israel.

Sementara serangan kotor dari orang-orang yang sejalan dengan lobi Israel—seperti Gaffney—sudah bisa diprediksi, karena itu adalah cara ‘berbisa’ yang digunakan mesin propaganda Saudi untuk menargetkan keduanya, yang telah memancing perhatian.

“Akademisi, media berita, dan komentator yang dekat dengan pemerintah di Teluk Persia telah berulang kali menuduh Omar, Rashida Tlaib… menjadi anggota rahasia Ikhwanul Muslimin yang memusuhi pemerintah Arab Saudi dan UEA,” menurut sebuah artikel di Foreign Policy yang berjudul Saudi Arabia Declares War on America’s Muslim Congresswomen.

Monarki Saudi juga khawatir bahwa para pemilih dan sentimen Amerika yang progresif akan mendorong keduanya untuk merusak dukungan AS yang tidak kritis dan tidak terbatas bagi Arab Saudi, yang telah mereka terima dan nikmati dari pemerintahan Donald Trump.

Di bawah kepresidenannya, kerajaan Saudi telah menerima dukungan militer yang berkelanjutan untuk perangnya di Yaman, telah terlindung dari kritik dan hukuman AS mengenai pembunuhan brutal jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi, dan menyaksikan dengan gembira ketika Trump membatalkan komitmen AS di era Obama, yakni Kesepakatan nuklir Iran.

Ini menjelaskan mengapa situs web Al Arabiya milik Saudi menerbitkan artikel tentang Omar dengan menghubungkannya kepada musuh bebuyutan Arab Saudi, Ikhwanul Muslimin, hubungannya dengan aktivis Muslim-Amerika Linda Sarsour, sementara juga menggambarkan dia sebagai tokoh yang “bermusuhan dengan negara Teluk.”

Senator Marco Rubio mengatakan negara memiliki hak untuk mencekal perusahaan yang memboikot Israel. (Foto: AFP/File photo)

Kerjasama Saudi-Israel Melawan Tlaib dan Omar

Jadi, di sinilah kita hari ini, dengan hubungan Saudi-Israel yang masih muda, yang bekerja bersama-sama untuk mencoreng nama dan menghalangi upaya dari dua wanita Muslim progresif di Kongres AS, di mana Saudi berupaya untuk melindungi kepentingan strategisnya, dan Israel berusaha melindungi dan mempertahankan pendudukannya yang ilegal di wilayah Palestina.

Dua bulan pertama jabatan mereka di Kongres penuh dengan cobaan, dengan penodaan dan serangan datang dari semua penjuru.

Dan walau Senat AS telah mengajukan rancangan undang-undang yang bertujuan memboikot gerakan anti-Israel—atau dikenal sebagai Boikot, Divestasi, Sanksi (BDS)—namun tekanan intens dan pengawasan terhadap anggota kongres Tlaib dan Omar akan menjadi lebih fokus dan ganas.

Selasa (12/2) lalu, Senat AS melakukan pemungutan suara yang mendukung RUU yang mendorong negara untuk mencekal kontraktor yang memboikot Israel.

Baca juga: Mengapa Arab Saudi Membenci Wanita Muslim di Kongres Amerika

Pada dasarnya, RUU Senat tersebut bertujuan untuk melindungi Israel dari warga negara dan perusahaan swasta AS yang ingin memboikot bisnis Israel dan barang yang dijual Israel. BDS adalah sarana untuk menekan Israel agar mengakhiri lebih dari 50 tahun pendudukan dan penindasan terhadap rakyat Palestina.

Sekarang setelah RUU Senat diteruskan ke DPR—di mana Partai Demokrat merupakan mayoritas yang cukup besar—debat internal mengenai Israel mengancam untuk mendorong perselisihan antara para tokoh Demokrat yang kuat dan suara-suara yang lebih progresif dan pro-Palestina di dalam partai, termasuk Tlaib dan Omar.

Pemimpin Moral

Untuk itu, mereka yang pro-Israel—yang didukung oleh para pemimpin Partai Republik—telah mengisyaratkan niatnya untuk menargetkan dua wanita Muslim kongres tersebut, dan akan berusaha untuk menggambarkan mereka sebagai tokoh anti-Semit dengan harapan bahwa tuduhan palsu seperti itu tetap ada.

Sementara itu, pelobi Israel berharap dapat mendorong Partai Demokrat untuk memberikan suara mendukung RUU anti-BDS Senat.

Pada Jumat (15/2), Pemimpin Minoritas DPR Kevin McCarthy mencoba untuk mengacaukan dukungan Tlaib dan Omar untuk BDS dengan anti-Semitisme, sementara juga secara salah menyamakan kritik mereka masing-masing terhadap kebijakan Israel dengan rasisme fanatik dan retorika supremasi kulit putih dari Perwakilan Steve King, yang memiliki sejarah panjang dalam merendahkan ras minoritas.

“Kami mengambil tindakan di pihak kami sendiri (dengan menegur King). Saya pikir ketika mereka (Demokrat) diam, mereka sama bersalahnya,” kata McCarthy, merujuk pada Tlaib dan Omar. “Saya pikir ini tidak akan menjadi akhir dari semua ini.”

Sebagai tanggapan, Tlaib menggambarkan serangan Partai Republik sebagai “tidak lebih dari upaya untuk mendiskreditkan posisi saya sebagai anggota Kongres dan mengalihkan perhatian dari kebencian yang sebenarnya di dalam partai mereka sendiri—termasuk dari presiden sendiri.”

Dalam sebuah pernyataan kepada The New York Times, dia berkata: “Saya tidak akan pernah mendukung kriminalisasi terhadap segala bentuk kebebasan berbicara yang dilindungi oleh Amandemen Pertama kita.”

“Penghormatan terhadap kebebasan berpendapat ini tidak sama dengan anti-Semitisme. Saya memimpikan nenek Palestina saya yang hidup dengan hak dan martabat manusia yang setara suatu hari, dan tidak akan pernah membiarkan mimpi itu ternoda oleh segala bentuk kebencian.”

Terlepas dari serangan itu, Tlaib dan Omar telah memantapkan diri mereka sebagai pemimpin moral dalam partai mereka, memperjuangkan hak asasi manusia universal, dan kesetaraan bagi rakyat Palestina.

Baca juga: Anggota Kongres Amerika Rashida Tlaib Hapus Israel dari Peta Kantornya

Dengan melakukan itu, mereka menempatkan diri mereka sejalan dengan pandangan yang lebih progresif dan tercerahkan dari generasi pemimpin negara ini, yang mengalihkan perhatian dari dua rezim yang paling tidak liberal dan represif di Timur Tengah: Arab Saudi dan Israel.

Jadi, kemungkinan serangan dan penodaan pada keduanya akan berlanjut.

CJ Werleman adalah penulis “Crucifying America, God Hates You.” “Hate Him Back, Koran Curious,” dan pembawa acara Foreign Object. Ikuti dia di Twitter: @cjwerleman.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Anggota Kongres AS Ilhan Omar (D-MN) (kiri) dan Perwakilan AS dari Michigan Rashida Tlaib (D-MI) tiba untuk menyampaikan pidato State of the Union di US Capitol di Washington, DC, pada 5 Februari 2019. (Foto: AFP)

Dua Wanita Muslim Anggota Kongres AS Jadi Target Serangan Saudi-Israel

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top