Amerika

Dunia Merindukan Era Pasca-Trump

Berita Internasional >> Dunia Merindukan Era Pasca-Trump

Konferensi Keamanan Munich adalah pertemuan dengan campuran yang aneh dan hampir kuno. Di acara ini, para perdana menteri dan presiden berhadapan dengan CEO dan tokoh kebijakan, percakapannya meliputi perbedaan global dan upaya untuk membentuk tatanan dunia. Dan para audiens ini, walau tidak ingin menyingkirkannya, mereka sudah tidak sabar menanti era pasca-Trump. 

Oleh: Nic Robertson (CNN)

Jika para pemimpin, diplomat, dan profesional keamanan Eropa memberikan suara dalam Pemilu Presiden Amerika Serikat (AS) tahun 2020, tampaknya tidak mungkin mereka memberikan dukungan kepada Presiden Donald Trump. Setidaknya, itulah yang tampak pada Konferensi Keamanan Munich (MSC) 2019.

Ratusan orang terhormat berdesakan di koridor yang sempit, bergerak di antara ruang pertemuan sederhana di Bayerischer Hof Hotel Munich.

Acara ini telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Ketika para perdana menteri dan presiden berhadapan dengan CEO dan tokoh kebijakan, percakapannya meliputi perbedaan global dan upaya untuk membentuk tatanan dunia.

Ini adalah campuran yang aneh dan hampir kuno. Jarang di KTT global saat ini, di mana para wartawan dapat bergaul dengan orang-orang yang mereka liput dan bahkan melibatkan mereka dalam percakapan santai.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengejutkan saya, memuji sepatu bot dan celana panjang saya yang tahan cuaca. Dia tertawa ketika saya memberitahunya bahwa dia beruntung berada di dalam. Saya berada di luar, di bawah terik matahari dan, terus terang, saya seperti terpanggang.

Tahun ini saya melihat hebatnya kesepakatan nuklir Iran era Obama berhembus di antara pertemuan-pertemuan, dengan cara yang mustahil pada puncak negosiasi tersebut.

Namun beberapa tahun ke depan, pengalaman bijak mereka akan sangat dihargai dalam banyak percakapan di ruang belakang.

Sahabat John Kerry, Wendy Sherman, berjalan menyusuri jalan melewati mantan Menteri Energi AS Ernest Moniz, yang juga anggota tim perunding kesepakatan nuklir Iran. Dia berkeliaran di sudut jalan menunggu mobil. Jika Anda memiliki pertanyaan untuk mereka, Anda bisa menanyakannya.

Orang-orang ini adalah tokoh-tokoh yang tak terlihat dalam roda-roda diplomasi internasional.

Tetapi hambatan dalam konferensi itu bagaikan Yin dan Yang dari kebijakan luar negeri AS—disampaikan oleh Wakil Presiden Mike Pence dan wakil presiden sebelumnya, Joe Biden.

Mereka berbicara pada hari yang sama, tetapi tidak mungkin lebih berbeda dalam hal nada, gaya, dan substansi.

Pence menunjukkan gaya Trump yang kuat dan blak-blakan. Penerbangan semalam Biden membuatnya sedikit loyo.

Pence bisa lebih siap, seandainya penulis pidatonya lebih cermat mengukur audiensnya sebelum wakil presiden itu berdiri di belakang teleprompter.

Sebuah petunjuk datang sehari sebelumnya, ketika Nancy Pelosi, Ketua Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat, diperkenalkan kepada para delegasi dengan tepuk tangan meriah. Itu seharusnya menjadi sinyal bagi Pence: bahwa Pence berada di antara sekutu, bukan teman.

Pence—yang jelas berharap untuk sambutan hangat yang sama—justru disambut dengan jeda diam ketika dia mengatakan bahwa dia membawa salam dari Trump.

Pidato Pence bagaikan bentuk lain dari Trump, yang menekan para sekutu NATO yang berkumpul dengan merendahkan dan memperingatkan sekutu—Inggris, Jerman, dan Prancis—karena menolak mengikuti AS  keluar dari perjanjian nuklir Iran.

Dia tidak datang untuk berteman.

Joe Biden—yang mengatakan belum memutuskan apakah akan menantang Trump pada tahun 2020—menunjukkan dirinya sebagai antitesis bagi Pence dan bosnya.

“Amerika, saya melihat nilai-nilai dasar kesusilaan manusia, tidak merebut anak-anak dari orang tua mereka atau mengabaikan pengungsi di perbatasan.”

Dia mendapat tepuk tangan yang besar, yang hanya bisa diharapkan Pence.

Bentuk pertentangan Biden terhadap Trump selama dua tahun, adalah dengan menjanjikan perubahan.

“Dan saya berjanji pada Anda, saya berjanji pada Anda. Seperti kata ibu saya, ‘ini akan berlalu.’ Kami akan kembali. Kami akan kembali. Jangan ragu tentang itu.”

Lebih banyak tepuk tangan diberikan kepadanya.

Tidak perlu menebak siapa yang akan dipilih untuk menjabat di Gedung Putih oleh kerumunan di Munich.

Dua tahun Trump telah memberikan dampak.

Acara di hotel tersebut pada akhir pekan ini, menunjukkan bahwa Trump bukan orang yang aman untuk tantangan keamanan hari ini.

Pada presentasi berjudul “NATO at 70: An Alliance in Crisis,” dua mantan perwakilan AS untuk organisasi tersebut, Douglas Lute dan Nicholas Burns, membagikan wawasan mereka dengan 55 halaman presentasinya. Wawasan itu dikumpulkan, kata mereka, dari 60 duta besar dan sekretaris kabinet masa lalu dan sekarang. Mereka menyimpulkan bahwa Trump—dan ketidakmampuannya dalam memimpin—adalah yang terbesar dari 10 ancaman yang akan segera terjadi pada NATO.

Adalah keliru jika meninggalkan kesan bahwa Bayerischer Hof Hotel mendorong kepergian Trump. Itu bukan tentang dia, tetapi momok Trump membayangi pertemuan itu.

Brad Smith, presiden dan kepala pejabat hukum Microsoft, dan Robert O. Work, Wakil Menteri Pertahanan di bawah Presiden Obama, memberikan wawasan yang menggetarkan terkait Kecerdasan Buatan (AI).

“AI adalah segalanya,” Smith memperingatkan, sebuah pengubah permainan seperti listrik. Dia menggambarkan masa kini sebagai “momen Sputnik.”

Mantan pejabat Departemen Pertahanan itu mengatakan, “ini adalah tantangan teknologi paling sulit yang pernah dihadapi AS.”

Baik Smith maupun Work melukis gambaran China yang mengejar, menangkap, dan melewati AS di bidang utama ini. Mereka menggambarkan AI sebagai pendorong untuk negara otoriter seperti Rusia dan China, dan ancaman potensial bagi demokrasi.

Dalam kata-kata Work, “AI memberikan alat tirani baru yang tidak pernah dimiliki sebelumnya dan membuatnya lebih kuat dari sebelumnya.”

Tidak ada yang mengatakan itu di ruangan tersebut, tetapi di pikiran semua orang pasti mereka memikirkan tentang kehangatan Trump untuk Presiden Putin dan Xi.

Setiap saat mereka mendapatkan kelonggaran dari Trump adalah lebih banyak kode mesin, mendongkrak program AI mereka di dalam negeri. “Kami memasuki periode kompetisi teknologi yang ketat,” kata Work.

Dalam perang berikutnya, ia memperkirakan, itu akan menjadi “AI kita melawan AI mereka, dan pihak dengan AI terbaik yang akan menang.”

Tetapi meski begitu, Munich Security Conference (MSC) 2019 juga mengulurkan harapan terhadap dunia pasca-Trump.

Sebuah dunia yang diinginkan oleh para audiens ini.

Keterangan foto utama: Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden di Konferensi Keamanan Munich. (Foto: AFP/Getty Images/Sven Hoppe)

Dunia Merindukan Era Pasca-Trump

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Kemas Zulkarnain

    February 20, 2019 at 2:45 am

    Salut buat penulis artikel ini. Tata bahasanya enak dibaca hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top