Perbatasan Meksiko
Opini

Fakta vs Fiksi: Melihat Sekilas Dua Tahun Kepemimpinan Trump

Berita Internasional >> Fakta vs Fiksi: Melihat Sekilas Dua Tahun Kepemimpinan Trump

Sudah dua tahun Donald Trump menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat dan membawa dunia ke dalam perjalanan yang tidak berbeda dengan seperti menaiki roller coaster. Kepresidenan Trump adalah eksperimen waktu yang nyata dalam menjawab pertanyaan itu. Mungkin satu-satunya penghiburan adalah bahwa ia adalah kesalahan besar yang hanya bisa dilakukan oleh negara kaya, yang tidak memiliki ancaman mendesak atau krisis nyata.

Oleh: Judah Grunstein (World Politics Review)

Baca Juga: Pidato Kenegaraan Trump: Pengecekan Fakta dan Latar Belakang

Pada bulan-bulan awal kepresidenan Donald Trump, saya mencoba bermain-main membayangkan “pandangan dari tahun 2019” terhadap dua tahun pertamanya menjabat. Mengingat sekarang tahun 2019, wajar jika saya membandingkan prediksi saya dengan keadaan sebenarnya. Tidak mengejutkan, saya tidak menyukai banyak rinciannya. Secara luas, prediksi saya dekat dengan sasaran—dengan satu pengecualian utama, di mana saya benar-benar salah.

Untuk memulai dengan rincian yang terlewatkan oleh narasi fiksi saya, saya salah berasumsi bahwa apa yang disebut ‘orang dewasa di ruangan’—yang berpengaruh dalam pemerintahan pada saat itu—tidak hanya akan bertahan, tetapi juga terus menormalkan kepresidenan Trump. Peristiwa dua tahun terakhir telah memperjelas bahwa ini terlalu optimis.

Dengan pengunduran diri Menteri Pertahanan James Mattis pada bulan Desember, para ‘orang dewasa’ terakhir—dan yang terakhir dari “para jenderal Trump”—telah berpisah dengan bos impulsif mereka itu, sebuah prosesi keluar yang dimulai dengan pemecatan melalui Twitter tanpa basa-basi terhadap Menteri Luar Negeri saat itu Rex Tillerson pada Maret 2018, kurang dari setahun setelah kolom saya muncul.

Walau Mattis dan Tillerson—bersama dengan mantan Penasihat Keamanan Nasional HR McMaster dan Kepala Staf yang baru-baru ini keluar John Kelly—dilaporkan berhasil mengendalikan insting Trump yang paling aneh di saat mereka bekerja di pemerintahan, tapi juga terlalu optimis untuk berharap bahwa mereka akan berhasil menormalisasi pendekatan kepresidenan Trump dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS).

Dua tahun terakhir ini tidak ada yang normal, dari gaya komunikasi Trump hingga permusuhannya terhadap asumsi inti kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Dia terus secara terbuka mengecam sekutu dan mitra Amerika, memuja musuhnya, dan mengabaikan nilai-nilai dan cita-cita yang secara historis menginformasikan diplomasi Amerika, seringkali melalui pelanggaran.

Area lain di mana kepresidenan Trump sebagian menyimpang dari prediksi yang saya bayangkan pada tahun 2017, berkaitan dengan kesediaannya untuk menindaklanjuti beberapa ancamannya yang lebih bombastis dan kebijakan domestik yang provokatif. Dia menaikkan tarif impor China, serta impor baja dan aluminium dari Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa. Dia menarik diri dari perjanjian perubahan iklim Paris dan kesepakatan nuklir Iran. Dia juga telah memajukan lebih banyak agenda domestiknya daripada yang saya perkirakan setelah kekalahan kebijakan awalnya, terutama yang berkaitan dengan mengembalikan regulasi bisnis dan lingkungan.

Namun, dengan cara lain, gonggongan Trump memang terbukti lebih buruk daripada gigitannya, seperti yang diperkirakan. Ancamannya yang kasar terhadap Korea Utara—yang menimbulkan kekhawatiran perang yang akan terjadi sepanjang tahun 2017 dan paruh pertama tahun 2018—berubah menjadi nyanyian cinta dan kasih sayang setelah pertemuan pribadinya dengan Kim Jong-un. Meskipun bisa dibilang bukan hasil yang buruk, tapi perubahan retorika itu tidak disertai dengan kemajuan berarti pada denuklirisasi atau tujuan samar lainnya yang diuraikan dalam pernyataan bersama mereka.

Bahkan ketika Trump menindaklanjuti ancamannya, itu paling sering mengakibatkan kebuntuan atau keuntungan kecil, daripada keberhasilan. Pembicaraan dengan China terus berlanjut, tanpa tanda-tanda untuk saat ini bahwa Beijing bersedia membuat konsesi atas praktik perdagangan yang tidak adil. Perang dagang AS-UE ditangguhkan selama negosiasi yang sama-sama tidak pasti. Dan perjanjian lanjutan NAFTA—yang dinegosiasikan dengan Meksiko dan Kanada di bawah ancaman Trump untuk menarik diri jika mereka tidak mengalah pada tuntutannya—terbukti merupakan sebuah pembaruan daripada pengganti.

Banyak dari konsesi yang diperoleh Trump dalam NAFTA 2.0 sudah termasuk dalam beberapa bentuk dalam kesepakatan perdagangan multilateral Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) yang ia cemooh dan hentikan setelah menjabat. Demikian pula, meskipun sanksi AS yang diterapkan kembali terhadap Iran telah menyengat secara ekonomi, tapi Teheran belum mengubah perilaku politiknya, baik di Suriah atau di tempat lain di kawasan itu.

Ini sebagian disebabkan oleh hiruk-pikuk yang meningkat sebagai komunikasi strategis pemerintah, yang membuatnya hampir mustahil untuk membedakan apa tujuan Gedung Putih dan siapa yang mengartikulasikannya. Setelah menjabat, Trump tampaknya mencuri satu halaman dari buku pedoman “gila” Richard Nixon, menumbuhkan persepsi di antara lawan bicara bahwa ia cukup gila untuk menindaklanjuti ancamannya untuk mendapatkan konsesi dengan cepat.

Tetapi mencegah musuh dan meyakinkan sekutu, keduanya bergantung pada kredibilitas untuk memengaruhi perilaku. Dan tidak mungkin untuk mempertahankan kredibilitas ketika—dari perang dagang dengan China hingga intervensi militer AS di Suriah—tidak ada deklarasi kebijakan pemerintah yang dapat dinilai dengan objektif, dimulai dengan Trump sendiri—skenario di mana tidak ada seorang pun dapat dipercaya untuk berbicara untuk Presiden Amerika Serikat itu, bahkan Presiden Amerika Serikat itu sendiri.

Ini membawa kita ke dua poin utama dari kolom sebelumnya, satu yang saya benar dan yang lain tidak. Dalam menanggapi kekosongan kepemimpinan yang telah diperkenalkan Trump ke dalam politik global dan multilateralisme, dunia dan AS—seperti yang saya bayangkan saat itu—sebagian besar telah melawannya.

Tatanan internasional liberal telah dihancurkan, tetapi belum runtuh, karena ketahanan lembaga-lembaganya dan banyaknya manfaat yang ditawarkannya. Demikian pula, kebijakan luar negeri AS telah digambarkan dengan kesinambungan sama halnya dengan gangguan, bahkan jika itu akibat ketidakcocokan antara pernyataan Trump dan tindakan pemerintahnya yang lain.

Jika ada sesuatu yang salah, itu adalah bagian kedua dari kalimat ini: “Sederhananya, dunia tidak lagi tahu siapa yang harus dihubungi ketika ingin berbicara dengan Amerika dan menyerah untuk melakukannya.”

Dalam banyak hal, Trump telah kehilangan kemampuannya untuk mengejutkan dan memprovokasi, terutama di luar Amerika Serikat. Ketika menyangkut deklarasi kebijakan radikal atau perpindahan personel, akun Twitter-nya lebih menjadi objek cemoohan daripada ketertarikan dan kekhawatiran.

Tetapi walau Trump dikekang, dia tidak dapat diabaikan, seperti yang saya prediksi, karena alasan sederhana bahwa pemimpin negara terkaya, paling kuat, dan paling terlibat di dunia ini tidak akan pernah bisa diabaikan. Untuk saat ini, dunia tidak bisa menyerah ketika mereka harus mencoba menangani Amerika.

Berapa lama itu akan bertahan tergantung pada berapa lama AS bisa menghambur-hamburkan pengaruhnya, sebelum AS tidak lagi relevan dengan masalah mendesak yang dihadapi dunia. Kepresidenan Trump adalah eksperimen waktu yang nyata dalam menjawab pertanyaan itu. Mungkin satu-satunya penghiburan adalah bahwa ia adalah kesalahan besar yang hanya bisa dilakukan oleh negara kaya, yang tidak memiliki ancaman mendesak atau krisis nyata.

Baca Juga: Masalah dari Kebijakan Suriah Amerika Bukanlah Trump, tapi Suriah

Judah Grunstein adalah pemimpin redaksi World Politics Review.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden Donald Trump berbicara ketika berpartisipasi dalam tur prototipe tembok perbatasan. (Foto: Reuters/Kevin Lamarque)

Fakta vs Fiksi: Melihat Sekilas Dua Tahun Kepemimpinan Trump

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top