Hubungan Amerika-Korut
Global

Hubungan Amerika-Korut: Berunding Satu-satunya Kesempatan Perdamaian

Menlu AS Mike Pompeo dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Pyongyang pada 8 Oktober 2018. (Foto: KCNA via KNS, AFP/Getty Images)
Berita Internasional >> Hubungan Amerika-Korut: Berunding Satu-satunya Kesempatan Perdamaian

Berunding adalah satu-satunya kesempatan menuju perdamaian, dalam hubungan Amerika-Korut yang rumit. Tapi betapapun rumitnya negosiasi, berunding adalah satu-satunya pilihan yang bijaksana, untuk mencegah perang nuklir yang sangat buruk. Menukarkan diplomasi dengan perang akan menyebabkan korban yang sangat banyak dan tidak akan melayani kepentingan siapa pun—tidak kepentingan kita maupun orang-orang yang tertindas di Korea Utara.

Baca juga: Amerika Hadapi Pertentangan dari Rusia dan China Terkait Sanksi Korut

Oleh: Bonnie Kristian (The Diplomat)

Amerika Serikat (AS) harus berkomitmen terhadap diplomasi dengan Korea Utara—bahkan dalam menghadapi kemunduran.

Tanda-tanda kemajuan dalam hubungan Amerika-Korut akan datang dengan cepat, sejak Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pergi ke Pyongyang pada akhir pekan untuk bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Berbeda sekali dengan kunjungan terakhir Pompeo—yang segera diikuti dengan protes rezim Kim terkait  “kanker” dan “tuntutan seperti gangster”—kedua belah pihak kali ini menilai pertemuan tersebut dengan baik. Pompeo antusias tentang “kunjungan yang sangat, sangat hebat,” dan Kim menyebutnya sebagai “hari yang sangat indah, yang menjanjikan masa depan yang baik bagi kedua negara.”

Datang pada Senin (8/10), Pompeo mengatakan bahwa Kim memberinya janji untuk mengizinkan inspektur asing ke sebuah situs pengembangan nuklir utama. “Segera setelah secara logistik kami dapat melakukannya,” lapornya, Kim akan menyambut para inspektur di fasilitas Punggye-ri, yang katanya dibongkar.

Dari Korea Selatan muncul berita bahwa Kim telah menyetujui KTT kedua dengan Presiden AS Donald Trump “pada tanggal secepat mungkin.” Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, menyatakan bahwa harapan itu akan mengarah pada “kemajuan yang tidak dapat diubah dan menentukan, dalam hal denuklirisasi serta proses perdamaian.”

Ini adalah harapan yang kita semua rasakan. Dengan semua rasa frustrasi dan kelemahan di dalam dan di luar negeri, penanganan pemerintahan Trump atas Korea Utara selama musim panas dan musim gugur yang lalu adalah pencapaian yang layak dengan semua kesombongan presiden itu.

“Kami melakukan hal yang hebat dengan Korea Utara,” ujarnya pada pawai baru-baru ini di West Virginia. “Kami akan berperang dengan Korea Utara. Itulah yang akan terjadi,” lanjut Trump. “Kami telah melalui perjalanan panjang, tetapi kami bisa saja melakukan sesuatu. Sekarang, saya tidak mengatakan—apa yang akan terjadi? Siapa yang tahu.”

Mike Pompeo

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Istana Presiden Korea Selatan Blue House di Seoul pada Minggu (7/10) setelah perjalanan keempat ke Korea Utara. (Foto: Pool/Kim Hong-Ji)

Kehati-hatian juga diperlukan, karena itu akan menjadi kesalahan serius untuk menganggap tanda-tanda kemajuan ini sebagai jaminan kesuksesan. Ini semua bisa berubah besok. Sebuah tweet yang buruk, kesalahan langkah dari China atau Korea Selatan, beberapa dinamika politik yang tidak diketahui dalam intrik tersembunyi rezim Kim—salah satu dari faktor-faktor ini atau satu juta faktor lainnya, dapat mengganggu iklim yang rapuh yang telah memungkinkan negosiasi untuk berkembang.

Trump dan Kim adalah pemimpin yang berubah-ubah; Trump telah menegaskan ketidakpastiannya, dan Kim memimpin tanpa diperiksa. Keduanya dikelilingi oleh penasihat yang tidak diragukan lagi memiliki agenda yang bersaing; walau Pompeo tampaknya dengan tulus mengejar jalur diplomatik ini, misalnya, ada alasan untuk berpikir bahwa Penasihat Keamanan Nasional John Bolton dapat melakukan sabotase.

Di luar pertimbangan interpersonal ini, sejarah panjang konflik, ketidakpercayaan, dan bahasa nekat yang menciptakan fondasi yang sangat goyah untuk kemajuan ini, bisa dengan mudah menyebabkannya runtuh.

Komitmen yang sulit tetapi diperlukan yang harus kita buat sekarang—sebelum ada kemunduran serius semacam itu—adalah dengan tetap berada di jalurnya.

Betapapun rumitnya ini—dan, sekali lagi, pencairan yang ada saat ini bukan berarti tidak akan adanya kebekuan lagi—negosiasi adalah satu-satunya pilihan yang bijaksana. Dengan didukung oleh banyak sekali pencegahan karena kekuatan militer AS, diplomasi adalah satu-satunya cara untuk memajukan kepentingan Amerika di sini, untuk mencegah prospek perang nuklir yang sangat buruk.

Trump benar dengan menganggap bahwa perang adalah kemungkinan nyata dalam ketiadaan diplomasi, dan perkiraannya yang suram tentang dampaknya juga benar. “Jutaan orang akan terbunuh” dalam Perang Korea yang diperbarui, kata Trump dalam pidato pada pawai itu. “Maksud saya, Anda punya Seoul, 30 juta orang langsung dari perbatasan (antar-Korea) 30 mil jauhnya.”

Seorang Kim yang dihadapkan dengan intervensi militer AS dan perubahan rezim—sesuatu yang sangat ingin dicegah oleh senjata nuklirnya—dapat menewaskan jutaan orang bersamanya. “Tenaga nuklir nasional Korea Utara adalah… sebuah alat pencegah perang untuk mengakhiri ancaman nuklir AS dan untuk mencegah invasi militernya,” Pyonyang menyatakan.

Memulai invasi semacam itu adalah rute paling pasti menuju mimpi buruk nuklir yang ingin kita hindari. Ini mungkin tampak jelas, tetapi di situ tertulis: Kita tidak akan lolos dari perang nuklir dengan pergi berperang melawan kekuatan nuklir yang diktator. Dan terlepas dari yang ditunjukkan oleh semua retorika denuklirisasi, melarikan diri dari perang itu adalah tujuan utama kita—atau seharusnya begitu.

Denuklirisasi akan bagus, tetapi terbukti tidak mungkin. Mempertahankan perdamaian melalui diskusi dan pencegahan, sebaliknya, adalah tujuan yang sepenuhnya dapat dicapai dan sangat penting.

Bahkan dalam skenario terbaik (jika kita dapat menyebut pengulangan dari prospek neraka ini “terbaik”), menukar diplomasi dengan perang akan menyebabkan korban yang sangat besar dan—untuk era pasca-Perang Dingin—pergolakan ekonomi dan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pemilu Paruh Waktu Amerika

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertemu di Singapura pada 12 Juni (Foto: AFP/Getty Images/Saul Loeb)

Meskipun daratan AS kemungkinan akan lolos dari serangan langsung, namun kita harus mengantisipasi kerugian militer dan tentu sipil, yang melebihi perang di Irak dan Afghanistan, serta penurunan ekonomi juga peningkatan anggaran pertahanan yang mahal, dan komitmen jangka panjang untuk pembangunan bangsa di negara yang dicuci otak dan dengan budaya yang sangat berbeda dari kita sendiri.

Apakah ini terdengar menakutkan dan menyedihkan? Seharusnya begitu, karena itu akan terjadi. Tidak seorang pun dengan hati nurani yang baik dapat mengampuni kengerian rezim Kim, tetapi tokoh-tokoh dari badan-badan Washington yang sangat mendukung perang pencegahan sangatlah naif dan tidak bertanggung jawab.

Baca juga: Amerika Siap Kembali Berunding dengan Korut, Targetkan Denuklirisasi Tahun 2021

Menukarkan diplomasi dengan perang tidak akan melayani kepentingan siapa pun—tidak kepentingan kita maupun orang-orang yang tertindas di Korea Utara.

Kemajuan baru-baru ini bisa bertahan lama, atau tidak. Trump dan Kim mungkin atau mungkin tidak tetap bersikap ramah. Inspeksi situs nuklir yang dijanjikan itu mungkin atau mungkin tidak terjadi. Tetapi apa pun yang terjadi, dan berapa lama, kita harus ingat: Berunding masih satu-satunya kesempatan kita untuk perdamaian.

Bonnie Kristian adalah pengamat di Defense Priorities dan editor akhir pekan di The Week. Tulisannya juga muncul di Time Magazine, CNN, Politico, USA Today, Los Angeles Times, Relevant Magazine, The Hill, dan The American Conservative, dan media lainnya.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Menlu AS Mike Pompeo dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Pyongyang pada 8 Oktober 2018. (Foto: KCNA via KNS, AFP/Getty Images)

Hubungan Amerika-Korut: Berunding Satu-satunya Kesempatan Perdamaian

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top