Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson terlibat dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera
Eropa

Opini: Islamofobia di Partai Konservatif Lebih dari Sekadar Ulah Boris Johnson

Home » Featured » Eropa » Opini: Islamofobia di Partai Konservatif Lebih dari Sekadar Ulah Boris Johnson

Citra dan retorika anti-Muslim—seperti yang digunakan oleh Boris Johnson—merugikan partai saya. Sudah waktunya untuk penyelidikan. Di bawah kepempimpinan David Cameron, partai Konservatif di Inggris membuka pintu bagi para anggota Muslim. Tapi kini, partai ini seperti dijangkiti Islamofobia.

Oleh: Hashim Bhatti (The Guardian)

Baca Juga: Menteri Brexit & Menteri Luar Negeri Inggris Mundur, Pemerintahan Theresa May Dilanda Kekacauan

Saya bergabung dengan Partai Konservatif di Inggris karena mereka adalah partai yang penuh aspirasi, yang menjanjikan bahwa saya dapat mewujudkan impian saya jika bekerja keras. Ini satu-satunya partai yang pernah saya ikuti. Dan mengapa tidak?

Partai ini telah menghasilkan menteri kabinet perempuan Muslim pertama (Baroness Warsi), menteri dalam negeri Muslim pertama (Sajid Javid), dan anggota parlemen eropa (MEP) Muslim pertama (Syed Kamall).

Saya anggota partai yang berdedikasi dan seorang anggota dewan di Windsor. Saya memimpin sayap pemuda Forum Muslim Konservatif. Saya telah aktif dalam politik Konservatif selama lebih dari delapan tahun, dan dalam semua waktu itu, saya tidak pernah memiliki perasaan buruk yang ditujukan kepada saya karena agama saya. Namun, saya telah khawatir baru-baru ini oleh ke mana arah partai ini, dalam menangani Islamofobia.

Saya ingin berbicara dalam kapasitas pribadi—bukan sebagai anggota dewan, tetapi sebagai anggota partai dan warga negara yang peduli—tentang sesuatu yang saya rasa telah salah dengan anggota Partai Konservatif. Ini adalah sesuatu yang, mungkin, selalu ada dalam beberapa bentuk, tetapi tidak diragukan lagi menjadi lebih buruk sejak pemungutan suara Brexit pada tahun 2016. Ini adalah perasaan bahwa umat Islam tidak didengarkan ketika mereka mengungkapkan kekhawatiran tentang kefanatikan yang mereka hadapi.

Sebagian besar anggota Konservatif, tentu saja, adalah orang-orang yang sepenuhnya layak. Tetapi partai tersebut juga memiliki para pembuat onar, dan ini sering terungkap ketika membahas masalah ras dan agama.

Ketika saya menjadi anggota, partai tersebut sedang dalam proses modernisasi di bawah David Cameron. Ini adalah waktu yang menarik dan optimis bagi seorang Muslim muda untuk bergabung.

Tentu, mungkin masih ada beberapa sikap penuh prasangka di pinggiran, tetapi akhirnya, Partai Konservatif menyediakan rumah bagi sejumlah besar pemilih etnis minoritas yang minat politiknya berada di kanan tengah. Stereotip lama bahwa komunitas etnis hitam dan minoritas hanya akan memilih secara massal untuk Partai Buruh, sedang runtuh, dan sangat baik untuk melihat stereotip itu sirna.

Delapan tahun kemudian, segalanya terasa sangat berbeda. Theresa May—yang mungkin pernah diandalkan untuk melanjutkan pekerjaan modernisasi Cameron—kurang terlibat dari para pendahulunya. Bahkan, ia telah sepenuhnya dikonsumsi oleh perdebatan Brexit, sementara pemungutan suara BAME (kulit hitam, Asia, dan etnis minoritas) terus terkikis.

Baca Juga: Tweet Rasis, Islamofobik Kembali Bangkitkan Kebencian Antara Trump dan Wali Kota Muslim London

Merekrut anggota muda di bawah Cameron cukup mudah, tetapi sekarang menjadi jauh lebih sulit. Misalnya, seorang Konservatif Muslim muda yang saya ajak bicara beberapa minggu lalu telah meninggalkan partai tersebut karena dia merasa bahwa dia tidak diterima lagi.

Terdapat tanda-tanda yang tidak menyenangkan sebelum pergolakan tahun 2016. Ketika Zac Goldsmith bertarung melawan Sadiq Khan untuk jabatan Wali Kota London pada bulan Mei tahun itu. Saati, partai Konservatif melakukan kampanye yang memalukan.

Dengan sinis mengambil keuntungan dari suasana menegangkan yang diciptakan oleh serangan ISIS di Inggris dan Prancis, anggota Partai Konservatif mencoba menghubungkan kandidat Partai Buruh Muslim, Sadiq Khan, dengan ekstremisme. Sebuah partai yang tampaknya mengalami kemajuan dalam hal rasisme, tiba-tiba mengalami kemunduran.

Sejak saat itu, telah terjadi peningkatan insiden yang melibatkan Partai Konservatif yang mengekspresikan pandangan mengerikan tentang Muslim. Beberapa insiden tahun ini saja mengungkapkan pola pikir beberapa sudut konservatisme kontemporer.

Pada bulan Maret, anggota parlemen Konservatif untuk Harrow East, Bob Blackman, mengunggah di Facebook sebuah artikel dari situs web Amerika Serikat (AS) yang mengusung tajuk utama “Geng seks Somalia Muslim mengatakan bahwa memperkosa anak-anak kulit putih Inggris adalah ‘bagian dari budaya mereka'”.

Oktober lalu, ia mengundang Tapan Ghosh—seorang penyebar ujaran kebencian anti-Muslim Hindu—di parlemen. Pada bulan Juli, Michael Fabricant—Anggota Parlemen untuk Lichfield—membagikan gambar Sadiq Khan dengan seekor babi. Gambar tersebut adalah rasisme yang mengerikan, membosankan, dan terbuka, yang rasanya tidak pantas untuk digambarkan di sini.

Blackman dan Fabricant sama-sama meminta maaf, tetapi yang mengganggu terkait peristiwa-peristiwa ini adalah, bahwa kedua pria itu melihat materi Islamofobia yang sangat jelas, merasa tidak ada yang salah dengan itu, dan tidak ragu membagikannya secara publik.

Minggu ini, mantan Menteri Luar Negeri Boris Johnson, menulis di Daily Telegraph seolah-olah menentang larangan Denmark terhadap burqa. Namun, dalam melakukannya, ia membandingkan para wanita tersebut dengan “kotak surat” dan “perampok bank”. Ini adalah bahasa yang—mengingat penyimpangan baru-baru ini dalam retorika dan citra anti-Muslim—merendahkan, tidak sensitif, dan tidak perlu, setidaknya.

Pemimpin Partai Konservatif Brandon Lewis kemarin meminta Johnson untuk meminta maaf. Namun Lewis terus menolak seruan untuk penyelidikan terhadap kefanatikan anti-Muslim yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh seperti Warsi, Mohamed Sheikh, dan Dewan Muslim Inggris. Seruan ini masih dibutuhkan.

Penyelidikan tersebut harus independen, dan dilakukan, mungkin, oleh seorang pensiunan hakim atau seorang QC. Penyelidikan ini harus memiliki akses kepada para pemimpin senior, tetapi juga harus berbicara dengan Konservatif akar rumput di seluruh negeri, Muslim dan non-Muslim. Penyelidikan ini bisa dimulai dengan menyusun definisi Islamofobia yang mirip dengan antisemitisme yang dikembangkan oleh International Holocaust Remembrance Alliance.

Ketakutan bahwa penyelidikan semacam itu akan membahayakan peluang pemilihan partai, harus dikesampingkan. Bahaya akibat semakin mengisolasi Muslim dan pemilih etnis minoritas lainnya—belum lagi bagaimana Islamofobia merusak inti moral partai tersebut—adalah kekhawatiran yang lebih besar.

Pertanyaannya bukan apakah kita dapat mengidentifikasi individu yang memiliki keyakinan yang memicu perpecahan, tetapi ada apa di Partai Konservatif yang membuat orang-orang fanatik percaya bahwa mereka akan menemukan rumah di partai ini.

Jika kita adalah partai yang memusuhi komunitas Muslim, itu adalah pilihan. Kita memiliki peluang baru untuk terhubung, mendengarkan, dan kembali terlibat dengan komunitas Muslim. Kita harus mengambil peluang itu.

Hashim Bhatti adalah ketua sayap pemuda Forum Muslim Konservatif.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

 

Opini: Islamofobia di Partai Konservatif Lebih dari Sekadar Ulah Boris Johnson

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top