Trump Ingin Tinggalkan NATO? Itu Bukan Ide Buruk
Opini

Trump Ingin Tinggalkan NATO? Itu Bukan Ide Buruk

Orang-orang berjalan di sepanjang atrium utama di markas NATO di Brussels, pada 16 Januari 2019. (Francisco Seco / AP)
Berita Internasional >> Trump Ingin Tinggalkan NATO? Itu Bukan Ide Buruk

Keinginan Trump untuk meninggalkan NATO mungkin bukanlah ide yang buruk, dan bisa dipahami. Trump sering mengeluh bahwa sekutu AS mengharapkan AS untuk memikul terlalu banyak beban. Keluhan itu tidak hanya muncul di era kepresidenan Trump saja. Pada tahun 2011, Robert Gates—Menteri Pertahanan di bawah kepresidenan George W. Bush dan Barack Obama—menghukum sekutu “yang menikmati manfaat keanggotaan NATO tetapi tidak ingin berbagi risiko dan biaya.”

Oleh: Steve Chapman (Chicago Tribune)

Baca Juga: Ivanka Trump Jadi Presiden Bank Dunia, Kenapa Tidak?

Dalam kehidupan pribadi kita, kita tahu bahwa banyak hubungan penting belum tentu permanen. Pertemanan berakhir; pernikahan bercerai; konsumen yang dulunya setia berhenti berbelanja di salah satu toko dan berbelanja di tempat yang berbeda. Jika suatu hubungan tidak lagi melayani kebutuhan satu atau lebih pihak, biasanya, masuk akal untuk tidak melanjutkan hubungan itu.

Logika itu juga berlaku untuk kemitraan antar-negara. Perdana Menteri Inggris abad ke-19 Lord Palmerston mengatakan, “Suatu bangsa tidak pernah memiliki teman atau sekutu permanen; mereka hanya memiliki kepentingan permanen.” Tetapi pemerintah Amerika Serikat (AS) sering beranggapan seolah-olah keanggotaan kami di NATO harus abadi.

Tidak ada alasan yang mengharuskan keanggotaan itu abadi. Yah, mungkin ada satu alasan: bahwa Presiden Donald Trump memiliki keinginan untuk keluar. Karena motifnya berakar pada ketidaktahuan, kekesalan, dan keinginan untuk menenangkan Presiden Rusia Vladimir Putin. Yang tak terpikirkan adalah bahwa ada kasus yang sah yang mendasari penarikan mundur Amerika secara bertahap dan teratur dari aliansi tersebut.

Dibentuk setelah dua perang dunia yang dimulai di Eropa, NATO diciptakan untuk dua tujuan dasar: mencegah agresi komunis dan menjaga perdamaian. NATO telah melakukan fungsi itu dengan baik, meskipun banyak perselisihan di antara anggota, yang sekarang berjumlah 29 di Eropa dan Amerika Utara. Aliansi militer pasca-perang ini memungkinkan Eropa Barat untuk membangun kebebasan dan kemakmuran, sangat kontras dengan kesengsaraan yang kejam di sisi lain Tirai Besi.

Tetapi tujuan awal itu telah bernasib sama seperti kekaisaran Habsburg. Rezim yang ditinggalkan oleh Lenin dan Stalin runtuh. Negara-negara Eropa Timur memperoleh kemerdekaan mereka dari Moskow. Jerman berkembang menjadi model demokrasi yang tidak mengganggu negara mana pun.

Saat ini, Rusia memiliki presiden diktator yang memenjarakan dan membunuh para pembangkang, menduduki sebagian besar Ukraina, dan berencana untuk merusak sistem Barat—terutama milik Amerika Serikat. Tetapi ancaman militer itu telah layu.

Fokus utama Putin adalah mempertahankan kekuatannya sendiri. Apa pun kekuatan militer yang ia miliki tak sebanding dengan kekuatan gabungan negara-negara Eropa di NATO—yang bersama-sama menghabiskan anggaran empat kali lebih banyak untuk pertahanan daripada Rusia. Inggris dan Prancis juga memiliki senjata nuklir sendiri.

Akademisi Hubungan Internasional Harvard, Stephen Walt, mencatat bahwa Uni Eropa memiliki tiga kali lipat populasi Rusia dan delapan kali lipat produk domestik bruto Rusia. “Prospek jangka panjang Rusia suram karena populasinya menyusut dan semakin bertambah usianya, dan seiring minyak dan gas menjadi semakin tidak penting dalam ekonomi global,” tulisnya dalam Foreign Policy. “Rusia dapat menyebabkan berbagai jenis masalah di daerah-daerah terdekat, tetapi tidak ada kemungkinan bahwa Rusia dapat berkembang secara signifikan (atau secara efektif memerintah wilayah yang direbutnya).”

Baca Juga: Trump Berencana Tarik AS dari NATO, Hadiah Besar bagi Rusia

Presiden Bill Clinton—bersama dengan para pemimpin dunia lainnya—pada pertemuan puncak peringatan 50 tahun NATO pada tahun 1999. Pertemuan peringatan ke-70 tahun ini diturunkan menjadi pertemuan para menteri luar negeri, karena para diplomat khawatir bahwa Trump dapat menggunakannya untuk memperbarui serangannya pada aliansi tersebut. (Foto: Associated Press/Doug Mills)

NATO juga bertugas menjaga Jerman—sumber dari begitu banyak masalah di paruh pertama abad ke-20—agar tidak lagi mengganggu negara atau bangsa lain. Tetapi Jerman telah kecanduan multilateralisme. Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah Jerman lebih sering merasa perlu untuk membatasi AS daripada sebaliknya.

Akhir dari Perang Dingin ini membuat NATO mencari-cari alasan untuk tetap berdiri. NATO memperluas anggotanya dan mencakup negara-negara di ambang pintu Rusia, tanpa alasan strategis yang masuk akal. Perluasan itu menumbuhkan kegelisahan dan kebencian di Rusia, sembari berkomitmen pada AS untuk melindungi negara-negara tanpa mengerahkan pasukan AS.

Trump sering mengeluh bahwa sekutu AS mengharapkan AS untuk memikul terlalu banyak beban. Keluhan itu tidak hanya muncul di era kepresidenan Trump saja. Pada tahun 2011, Robert Gates—Menteri Pertahanan di bawah kepresidenan George W. Bush dan Barack Obama—menghukum sekutu “yang menikmati manfaat keanggotaan NATO tetapi tidak ingin berbagi risiko dan biaya.”

Delapan tahun kemudian, tidak banyak yang berubah. AS mengeluarkan 3,6 persen dari PDB untuk pertahanan. Menurut NATO, hanya lima negara Eropa yang mengeluarkan 2 persen, dan Jerman hanya mengeluarkan 1,2 persen. Jika sekutu AS diwajibkan untuk menyediakan pertahanan mereka sendiri tanpa AS, mereka akan mampu melakukannya dengan mudah.

Tetapi hubungan berharga yang telah terjalin sejak lama harus diakhiri dengan motif yang terjustifikasi, di bawah rencana yang rasional, dan pada waktu yang tepat. Namun, jika Trump meninggalkan NATO, kemungkinan syarat-syarat ini tidak akan terpenuhi.

Di bawah presiden yang serius dan dengan pendekatan yang serius untuk hubungan luar negeri, memungkinkan untuk melangsungkan debat yang serius tentang bagaimana menghapus peran militer Amerika di Eropa dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Di bawah Trump, bahkan ide bagus bisa menjadi kebijakan yang buruk.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Orang-orang berjalan di sepanjang atrium utama di markas NATO di Brussels, pada 16 Januari 2019. (Francisco Seco / AP)

Trump Ingin Tinggalkan NATO? Itu Bukan Ide Buruk

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top