Jangan Andalkan Gencatan Senjata dalam Perang Dagang Trump-China
Global

Jangan Andalkan Gencatan Senjata dalam Perang Dagang Trump-China

Berita Internasional >> Jangan Andalkan Gencatan Senjata dalam Perang Dagang Trump-China

Donald Trump dan China mengambil jeda sejenak dari perang dagang dengan melakukan gencatan senjata. Sayangnya, jelas terlihat keputusan itu hanya bersifat sementara. Dan, walaupun Amerika dengan tegas mengumumkan apa komitmen mereka, China tidak melakukan hal yang sama.

Baca Juga: Makan Malam Donald Trump dan Xi Jinping Berakhir dengan Tepuk Tangan

Oleh: Kimberly Ann Elliott (World Politics Review)

Seperti yang diperkirakan secara luas, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan mitranya dari China Xi Jinping, mendeklarasikan gencatan senjata dalam perang perdagangan mereka saat makan malam di Buenos Aires pada akhir pekan lalu. Menurut pernyataan Gedung Putih setelah pertemuan itu, Xi berkomitmen untuk meningkatkan impor produk pertanian dan energi Amerika untuk mengurangi defisit perdagangan bilateral, dan untuk segera memulai negosiasi atas kebijakan perdagangan China yang tidak adil.

Sebagai gantinya, Trump setuju bahwa ia tidak akan meningkatkan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen pada ekspor China senilai $200 miliar, seperti yang dijadwalkan pada tanggal 1 Januari, tetapi ia bisa melakukannya nanti jika tidak ada perjanjian yang lebih luas dalam 90 hari.

Pernyataan China tidak begitu spesifik, hanya mengatakan bahwa pihaknya akan mengimpor lebih banyak dari AS, dan bahwa kedua negara akan “bekerja sama untuk mencapai konsensus tentang masalah perdagangan,” tanpa menyebutkan tenggat waktu. Ketidakjelasan ditambah dengan tenggat waktu AS yang ketat, hampir menjamin bahwa ini hanyalah gencatan senjata sementara.

Ini semua seharusnya terdengar tidak asing. Memang, saya tergoda untuk mengatakan bahwa ini adalah déjà vu lagi. Pada tiga kesempatan sebelumnya, pejabat pemerintahan Trump mengumumkan kesepakatan serupa untuk meningkatkan ekspor Amerika dan mengatasi hambatan perdagangan di China.

Dalam contoh terbaru, pada akhir Mei, kepala penasihat ekonomi Larry Kudlow mengumumkan bahwa pemerintah AS telah mencapai kesepakatan yang akan menghindari pemberlakuan tarif atas praktik perdagangan China yang tidak adil, menyusul penyelidikan berdasarkan Bagian 301 dari Undang-Undang Perdagangan 1974. Dia mengklaim bahwa para negosiator China telah sepakat untuk mengurangi defisit perdagangan setidaknya $200 miliar, dan “yang sama pentingnya, mereka harus menurunkan tarif mereka, mereka harus menurunkan hambatan non-tarif mereka. Kita harus memiliki proses yang dapat diverifikasi di mana transfer teknologi dan pencurian kekayaan intelektual berhenti.”

Para pejabat China, bagaimanapun, membantah bahwa ada komitmen khusus untuk mengurangi defisit bilateral, dan—setelah kritik bahwa kesepakatan itu tidak mengatasi masalah mendasar dalam hubungan keduanya—Trump berbalik arah dan memberlakukan tarif 25 persen pada ekspor China senilai $50 miliar.

Setelah China membalas dengan tarif terhadap jumlah yang setara dalam ekspor AS, pemerintah AS meningkatkan perang dagang, menambahkan 10 persen retribusi pada impor China senilai $200 miliar, yang dijadwalkan meningkat menjadi 25 persen pada awal tahun depan. Ketika China kembali melakukan pembalasan, Trump mengancam akan menaikkan tarif 10 persen menjadi 25 persen, dan kemungkinan mengenakan tarif terhadap sisa $267 miliar lainnya dalam ekspor China.

Ancaman terakhir ditunda karena kesepakatan pada Sabtu (1/12), tetapi sampai berapa lama?

Perang dagang telah menyerang keras para petani Amerika dan mengguncang pasar saham. Itu—bersama dengan tanda-tanda bahwa pertumbuhan ekonomi akan melambat tahun depan—memberikan tekanan pada Presiden Trump untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.

Tetapi pada akhirnya, Trump pada dasarnya memiliki kesepakatan yang sama seperti yang telah diumumkan oleh Kudlow, Menteri Perdagangan Wilbur Ross, dan Menteri Keuangan Stephen Mnuchin setelah putaran negosiasi sebelumnya—atau mungkin bahkan kurang.

Meskipun China membantah membuat komitmen khusus untuk pengurangan defisit, namun pengumuman sebelumnya dari para pejabat Amerika mencakup target untuk peningkatan ekspor ke China sebesar $200 miliar hingga $250 miliar.

Baca Juga: Dubes China Ancam Pembalasan Jika Amerika Beri Sanksi atas Uighur

Kali ini, tidak ada klaim terkait jumlah tertentu dan, menurut Menteri Luar Negeri China Wang Yi, China “bersedia memperluas impor sesuai dengan kebutuhan pasar dan masyarakat domestik, (yang akan) secara bertahap mengurangi masalah ketidakseimbangan perdagangan.”

Meskipun terdapat kelegaan yang meluas bahwa tidak akan ada eskalasi lain dalam perang dagang pada awal tahun depan, namun kesepakatan Trump-Xi tampaknya tidak berbuat banyak untuk petani dan konsumen Amerika dalam jangka pendek. Tarif AS yang diberlakukan musim panas lalu tetap berlaku, dan tidak jelas apakah janji China untuk mengimpor lebih banyak dari AS melibatkan pencabutan tarif pembalasan mereka.

Bagaimanapun juga, kesepakatan itu sudah terlambat bagi para petani yang telah memanen tanaman tahun ini. Ancaman eskalasi jika tidak ada kesepakatan substantif dalam 90 hari—mulai 1 Desember—juga berarti bahwa petani masih harus membuat keputusan penanaman tahun depan tanpa mengetahui apakah mereka akan mendapatkan pasar di China atau tidak.

Sementara itu, sinyal perdagangan dari KTT G-20 sebelum pertemuan Trump-Xi, tidak memberikan banyak rasa aman. Pemerintahan Trump setuju untuk menandatangani komunike KTT tersebut, yang menegaskan kembali dukungan kelompok itu untuk “aturan internasional berbasis aturan.” Itu adalah kemenangan sederhana mengingat keengganan pemerintah Trump terhadap semua hal multilateral.

Tetapi Trump menolak untuk menerima referensi biasanya untuk biaya akibat proteksionisme yang telah menjadi pokok pernyataan G-20, sejak KTT G-20 pertama pada akhir tahun 2008. G-20 diciptakan pada waktu itu untuk mempromosikan kerja sama dan mencegah kebijakan ‘tetangga mengemis’, termasuk wabah proteksionisme perdagangan, yang dapat merusak upaya untuk mengurangi dan akhirnya pulih dari Resesi Hebat (Great Recession).

Masalah mendasar bagi mitra-mitra dagang Amerika—termasuk China—adalah bahwa tidak jelas apa hal inti yang diinginkan Trump. Selain itu, hal inti ini dapat berubah sesuai suasana hati Trump dan sesuai siapa penasihatnya yang mendapatkan perhatiannya. Pada awal masa jabatannya, kesenangan Trump terhadap pujian tampaknya berjalan baik dengan Xi di atas masalah perdagangan. Kemudian, di bawah kritikan pada musim semi lalu karena tidak cukup tegas, Trump mengganti persneling dan memberlakukan tarif pada China.

Kegagalan untuk memulai negosiasi serius setelah melepaskan tembakan pertama dalam perang dagang, menunjukkan bahwa pemerintah—atau setidaknya sebagian dari pemerintah—tidak memandang tarif sebagai pengaruh, tetapi sebagai akhir dari diri mereka sendiri, yang akan berkontribusi pada “pemisahan” dua negara ekonomi itu. Kecuali China memiliki keyakinan bahwa konsesi apa pun yang dibuat akan dibalas, China tidak akan bergerak melampaui isyarat simbolis, seperti mengimpor beberapa kedelai lagi.

Itu sebabnya, kelegaan akibat kesepakatan di Argentina kemungkinan akan berumur pendek. Mencapai kesepakatan pada bulan Maret mendatang terkait masalah-masalah struktural yang dalam yang membuat China sulit bagi investor asing dan eksportir, adalah jadwal yang sangat ambisius. Trump, China, dan semua orang kemungkinan akan kembali ke tempat yang sama pada awal tahun 2019, seperti di mana mereka berada pada akhir November.

Kimberly Ann Elliott adalah seorang rekan pengamat di Institut untuk Kebijakan Ekonomi Internasional Universitas George Washington, dan seorang rekan pengamat yang mengunjungi Pusat Pengembangan Global. Kolom WPR-nya muncul setiap hari Selasa.

Keterangan foto utama: Presiden China Xi Jinping (tengah), dan anggota delegasi resminya mendengarkan Presiden AS Donald Trump yang berbicara selama pertemuan bilateral mereka di KTT G-20, Buenos Aires, Argentina, pada 1 Desember 2018. (Foto: AP/Pablo Martinez Monsivais)

Jangan Andalkan Gencatan Senjata dalam Perang Dagang Trump-China

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top