Perjuangan Palestina
Timur Tengah

Opini: Jangan Sisihkan Orang Arab Kristen dari Perjuangan Palestina

Orang Kristen Palestina menyaksikan kembang api menerangi langit untuk menandai pencahayaan pohon Natal, di kota Betlehem di Tepi Barat, pada tanggal 1 Desember 2018. (Foto: Apaimages/Ahmad Arouri)
Berita Internasional >> Opini: Jangan Sisihkan Orang Arab Kristen dari Perjuangan Palestina

Orang Arab Kristen seharusnya tidak disisihkan dalam perjuangan Palestina melawan penindasan Israel. Orang Kristen dan Muslim sama-sama menderita. Mereka harus diperlakukan secara sama. Diskriminasi juga harus diakhiri untuk mendorong kontribusi yang dapat dibawa oleh orang Arab Kristen untuk memperjuangkan keadilan di Palestina.

Baca juga: Pasukan Israel Serbu Kantor Berita Pemerintah Palestina

Oleh: Ray Hanania (Middle East Monitor)

Negara-negara Arab dan Muslim tidak melakukan cukup upaya untuk memasukkan orang Arab Kristen ke dalam aktivisme mereka. Terlalu sering, orang-orang Arab Kristen—yang jumlahnya telah berkurang dengan cepat di Timur Tengah—terpinggirkan, diremehkan, atau diabaikan begitu saja.

Meskipun orang Kristen sering diundang untuk berbicara di konferensi-konferensi besar yang diselenggarakan untuk mengatasi tantangan pendudukan militer Israel terhadap Palestina dan kehadiran yang menindas di wilayah tersebut, namun kekhawatiran khusus mereka sebagai orang Arab Kristen jarang dibahas.

Peran orang-orang Arab Kristen sangat penting untuk memperjuangkan keadilan dan hak-hak sipil tidak hanya di Israel tetapi juga di dunia Arab, namun peran mereka sangat minim.

Mereka adalah hubungan agama antara Yudaisme dan Islam, dan walau nabi-nabi Alkitab dihormati oleh kedua kelompok agama lainnya, namun tidak ada upaya yang dilakukan untuk melibatkan orang Arab Kristen untuk secara formal menjadi pemangku kepentingan dalam upaya perdamaian dan keadilan.

Ini harus berubah.

Sedihnya, ketika isu orang-orang Arab Kristen dikemukakan, orang-orang yang menganjurkan untuk meningkatkan keterlibatan mereka, seringkali merasa tersinggung.

Mereka menanggapi dengan menyatakan bahwa orang Kristen dan Muslim adalah “saudara dan saudari” yang sama-sama menderita di bawah penindasan Israel dan Apartheid.

Mereka juga berpendapat bahwa mengasingkan orang-orang Arab Kristen adalah tindakan “memecah-belah”, dan bahwa perjuangan untuk keadilan haruslah sebuah kolaborasi yang tidak mementingkan salah satu pihak di atas yang lain.

Kenyataannya adalah, bahwa terdapat sikap mementingkan seperti itu. Akhir pekan lalu, Muslim Amerika untuk Palestina mengadakan konvensi di Chicago yang menarik banyak orang. Walau ada satu atau dua aktivis Kristen yang terdaftar sebagai pembicara, namun suara mereka dibungkam oleh fokus yang luar biasa pada sifat Islam dari perjuangan melawan Israel.

Saya pikir sangat bagus bahwa ada kelompok advokasi Muslim yang kuat di Amerika Serikat (AS), di mana para aktivis perlu lebih berupaya memperdebatkan kasus hak-hak Palestina lebih dari di sebagian besar negara lain. Saya bertanya-tanya apa reaksi yang akan terjadi jika kita meluncurkan sebuah kelompok yang disebut “Kristen Amerika untuk Palestina.”

Meskipun beberapa pihak bersikeras bahwa diskusi yang secara terpisah menyoroti Kristen dan Muslim hanya berfungsi untuk merusak perjuangan Palestina—omong-omong, saya tidak setuju—namun argumen tersebut tidak pernah ada ketika kelompok-kelompok yang memimpin perjuangan untuk Palestina berkumpul di bawah bendera Islam atau Muslim.

Secara pribadi, saya pikir bahwa alih-alih mengidentifikasi baik sebagai Muslim untuk Palestina atau Kristen untuk Palestina, kita justru harus berorganisasi di bawah panji “Arab untuk Palestina” yang lebih kuat. Pemisahan halus antara orang Kristen dan Muslim di berbagai peristiwa telah melemahkan basis kami dan mengangkat isu-isu keagamaan yang tidak perlu dihadapi.

Perjuangan untuk memulihkan Palestina adalah nilai inti dari Timur Tengah dan dunia Arab, dan dunia Arab harus berada di garis depan dalam setiap diskusi, setiap konferensi, dan setiap upaya untuk menghadapi kekerasan dan kekejaman hak asasi manusia yang terus berlangsung di Israel.

Sayangnya, kata “Arab” telah kehilangan banyak makna di balik dorongan yang lebih berpengaruh oleh Muslim dan Kristen.

Saya tidak yakin apakah kita dapat mengembalikan masalah hak-hak Palestina kepada “perjuangan Arab.” Semakin maraknya pemberdayaan agama telah melemahkan gerakan sekuler dan nasional Arab.

Sebagian, karena perjuangan Palestina sering dilihat oleh penonton Amerika sebagai perjuangan Muslim atau perjuangan Islam, perjuangan untuk Palestina telah kehilangan satu aset utama: masyarakat Amerika yang didominasi Kristen, dan sifat manusia yang pada dasarnya membuat manusia mengidentifikasi dengan jenis mereka sendiri.

Itu berarti bahwa pendukung Arab Kristen untuk keadilan Palestina harus memimpin upaya untuk lebih mendidik orang Amerika dan “dunia Kristen” tentang kebijakan diskriminatif Israel.

Sebaliknya, kita telah melihat gerakan-gerakan Kristen Amerika Serikat seperti kaum Evangelis mendukung Israel, sementara gagal mengakui aspek Kristen penderitaan Palestina.

Umat Kristen Palestina menghadiri sebuah kebaktian Gereja di Tepi Barat pada tanggal 2 Januari 2016. (Foto: Apaimages/Issam Rimawi)

Sementara itu, sebagian besar orang-orang Kristen Amerika yang non-Evangelis disisihkan dari fakta penderitaan orang-orang Kristen Palestina, yang akan berfungsi sebagai jembatan untuk memahami penderitaan semua orang Palestina, termasuk Muslim.

Israel, di sisi lain, mengakui masalah ini dan melobi umat Kristen aktif tidak hanya di Barat tetapi juga di seluruh dunia. Ia berpendapat dalam propagandanya, bahwa orang Israel—bukan dunia Arab atau Muslim—memiliki kepentingan terbaik bagi orang Kristen.

Itu bohong tentu saja, karena Israel mendiskriminasikan semua orang non-Yahudi, khususnya terhadap Arab Muslim dan Arab Kristen; namun dunia Arab telah mengizinkan Israel untuk menciptakan persepsi salah bahwa mereka—dan bukan orang Arab atau bahkan Palestina—peduli pada orang Kristen dan kepentingan khusus mereka.

Ini memiliki konsekuensi serius bagi perjuangan Palestina di Amerika, di mana sebagian besar orang Kristen AS bersimpati bukan dengan penderitaan saudara-saudara Arab Kristen mereka tetapi dengan orang Israel, dengan keyakinan bahwa hanya Israel yang peduli tentang melindungi kepentingan Kristen.

Sebagai seorang Kristen Palestina yang keluarganya berasal dari Yerusalem dan Betlehem, saya dapat mengatakan tanpa ragu bahwa Israel secara aktif terlibat tidak hanya dalam menindas orang Arab Muslim tetapi juga orang Arab Kristen. Keluarga saya adalah warga Israel dan korban pendudukan Israel di Yerusalem Timur dan Tepi Barat.

Namun demikian, orang Kristen Amerika mempertanyakan skenario seperti itu; mereka mendengarkan Israel lebih dari mereka mendengarkan permohonan orang Arab Kristen.

Baca juga: Kisah Cinta Palestina-Suriah Hancur karena Serangan Udara Israel

Sudah saatnya dunia Arab dan Muslim terlibat dalam diskusi yang terbuka dan jujur tentang peran yang dapat dan harus dimainkan oleh orang-orang Arab Kristen dalam mengadvokasi hak-hak Palestina.

Seorang Arab Kristen pasti akan membawa beban lebih besar dalam berbicara kepada orang Kristen Amerika daripada Arab Muslim. Itu tidak merendahkan status setara yang dimiliki oleh Arab Muslim dan Arab Kristen. Ini hanyalah kenyataan yang tidak dapat kita abaikan karena beberapa orang merasa topiknya terlalu sensitif.

Sebagai seorang Kristen, saya sering merasa tersisih dari gerakan untuk menyelamatkan Palestina, merasa terpinggirkan dan tersingkirkan. Itu adalah pengalaman baru yang kontras dengan realitas gerakan Palestina dan Arab yang ada pada tahun 1970-an dan 1980-an, ketika kami tidak pernah menggunakan kata-kata “Muslim” atau “Kristen” untuk mencapai tujuan kami.

Kami tidak bisa membiarkan perjuangan untuk Palestina menjadi pertempuran agama. Itulah yang diinginkan Israel. Orang-orang Arab perlu menjadi lebih aktif dalam merekrut suara-suara Arab Kristen untuk mengatasi kekhawatiran orang-orang Arab Kristen, atau kita perlu menyesuaikan kamus kita untuk menghilangkan referensi agama apa pun dalam perjuangan penting ini.

Orang Kristen dan Muslim sama-sama menderita. Mari kita memperlakukan mereka secara sama, dan mari kita akhiri diskriminasi halus yang tak terucapkan, yang telah membisukan kontribusi yang dapat dibawa oleh orang Arab Kristen untuk memperjuangkan keadilan di Palestina.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Orang Kristen Palestina menyaksikan kembang api menerangi langit untuk menandai pencahayaan pohon Natal, di kota Betlehem di Tepi Barat, pada tanggal 1 Desember 2018. (Foto: Apaimages/Ahmad Arouri)

Opini: Jangan Sisihkan Orang Arab Kristen dari Perjuangan Palestina

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top