Jokowi Memimpin di Jajak Pendapat Jelang Debat Capres 2019
Berita Politik Indonesia

Pilpres 2019: Jokowi Seharusnya Berani Lawan Kritik, bukan Meredamnya

Berita Internasional >> Pilpres 2019: Jokowi Seharusnya Berani Lawan Kritik, bukan Meredamnya

Beberapa kebijakan yang diambil Presiden Jokowi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa ia bukanlah seseorang yang berani menghadapi kritik. Alih-alih mengambil langkah berani dan melanjutkan langkah yang berusaha memajukan pertumbuhan ekonomi, Jokowi berkali-kali berbalik haluan. Jelang Pilpres 2019, Jokowi perlu membuktikan kritik terhadapnya salah, alih-alih menenangkan mereka yang mengkritiknya.

Oleh: Ben Bland (Lowy Institute)

Baca Juga: Waspada Perang Boneka Asing dalam Pilpres 2019

Perubahan kebijakan Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo mengenai pembebasan ulama Islam garis keras Abu Bakar Baasyir yang dipenjara karena mengilhami kasus bom Bali harus menjadi kekhawatiran bagi investor asing. Namun kebimbangannya untuk membebaskan Abu Bakar Baasyir adalah gejala dari seorang pemimpin yang takut kritik, bahkan ketika ia bersiap untuk bertarung dalam Pilpres 2019 bulan April mendatang dengan mengantongi elektabilitas dalam jajak pendapat yang mengalahkan saingannya Prabowo Subianto.

Keraguan Jokowi juga telah menghambat kebijakan ekonominya, meskipun dia berjanji ketika terpilih pada Pilpres 2014 untuk meningkatkan pertumbuhan dan menurunkan banyak hambatan untuk investasi asing. Pendekatan Jokowi yang menghindari risiko ini telah mengasingkan banyak pendukungnya yang paling vokal, alih-alih menang atas lawan-lawannya.

Itulah sebabnya para investor internasional, yang tertarik oleh prospek pertumbuhan Indonesia sekaligus merasa frustrasi atas inefisiensinya, harus memperhatikan dengan seksama ketika perang pemilu kian memanas.

Bulan Januari 2019, pemerintah Indonesia mengindikasikan bahwa mereka akan membebaskan Abu Bakar Baasyir, narapidana terorisme berusia 80 tahun, dengan alasan kemanusiaan. Keputusan itu adalah peristiwa terbaru dari beberapa langkah yang diambil Jokowi untuk menenangkan kaum konservatif yang berpendapat bahwa ia tidak cukup Islami. Tetapi, setelah para pakar terorisme dan banyak pendukungnya yang lebih liberal menunjukkan reaksi ngeri, Jokowi tampaknya membalik arah, berjanji untuk meninjau kembali keputusan tersebut.

Tahun 2018, Jokowi telah banyak mengecewakan pendukungnya dengan cara yang sama ketika, pada menit terakhir menjelang batas pencalonan di Komisi Pemilihan Umum (KPU), ia memilih Ma’ruf Amin, seorang ulama Islam senior dengan pandangan konservatif, sebagai cawapres yang mendampinginya. Penunjukan itu dilakukan meskipun Ma’ruf Amin telah memainkan peran penting dalam dijatuhkannya vonis hukuman penjara atas kasus penistaan agama pada tahun 2017 terhadap sekutu Jokowi, Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur Jakarta yang merupakan keturunan China-Indonesia.

Dengan mencalonkan diri bersama Ma’ruf Amin, Jokowi berusaha menjauhkan diri dari mantan orang kepercayaannya tersebut dan melemahkan serangan dari kelompok garis keras agama yang telah mendukung Prabowo, seorang jenderal purnawirawan dengan retorika keras yang kalah dari Jokowi dalam Pilpres 2014.

Baca Juga: Opini: 2019, Pertempuran Hidup Mati

Kebijakan ekonomi Jokowi juga telah terhambat oleh keinginannya untuk menetralisir lawan daripada mengatasi kepentingan pribadi dan membentuk jalannya sendiri. Meskipun ada harapan yang tinggi dari investor internasional setelah terpilihnya Jokowi pada Pilpres 2014, kemajuan di bidang ekonomi telah berjalan lambat setelah langkah awalnya yang banyak dipuji untuk memotong subsidi BBM.

Pertumbuhan produk domestik bruto berada di angka sedikit di atas 5 persen per tahun, jauh di bawah janji Jokowi pada Pilpres 2014 untuk meningkatkan hingga 7 persen. Serangkaian paket reformasi ekonomi telah berhasil mendorong Indonesia naik dalam peringkat kemudahan bisnis Indonesia dari Bank Dunia, tetapi para investor masih mengeluh tentang masalah lama berupa kebijakan proteksionis dan korupsi yang mengakar.

Ada lebih banyak kemajuan di bidang infrastruktur, dengan pembangunan jalan tol dipercepat dan Jakarta yang padat akhirnya mendapatkan jalur kereta api bandara dan sistem transportasi MRT untuk pertama kalinya. Tetapi Jokowi seharusnya bisa bersikap lebih berani dalam mendukung reformasi yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan pajak, menarik lebih banyak investasi asing, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik bagi puluhan juta orang Indonesia yang memiliki pekerjaan yang kurang layak.

Prabowo telah mencoba menyoroti kekurangan ekonomi ini, menyerang Jokowi karena kegagalannya mengurangi ketidaksetaraan yang ekstrem, dan meningkatkan kualitas hidup bagi banyak orang Indonesia yang hidup di ambang kemiskinan. Namun, tidak ada satu pun kandidat yang menetapkan langkah-langkah jelas untuk mengatasi masalah ini dalam kebijakan yang diusung jelang pemilu.

Banyak investor asing masih mengharapkan kemenangan Jokowi, sebagian karena mereka menghargai gaya lugas Jokowi dan fokusnya pada ekonomi, dan sebagian karena mereka lebih suka berurusan dengan sejumlah kebijakannya yang telah banyak dikenal.

Para analis politik mengatakan Pilpres akan menjadi kekalahan Jokowi, meski dengan keunggulan Jokowi atas Prabowo di sebagian besar jajak pendapat dan semua keuntungan dari posisinya sebagai capres petahana. Diperlukan dosis besar skeptisisme, mengingat kegagalan lembaga survei untuk memprediksi kekacauan pemilu baru-baru ini mulai dari kemenangan Donald Trump, referendum Brexit, hingga penggulingan Najib Razak di negara tetangga Malaysia.

Tidak diragukan lagi, ketakutan untuk kalah ketika berada jauh di depan telah meningkatkan intensitas kehati-hatian Jokowi, masalah biasa terjadi pada banyak calon yang diunggulkan dalam pemilihan. Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang jauh lebih ambisius, siapa pun yang menang.

Salah satu juru kampanye di tim Jokowi mengatakan dia sebelumnya mengharapkan presiden untuk melakukan reformasi yang sulit dalam masa jabatan kedua, tanpa harus khawatir tentang pemilihan ulang karena batas dua periode dalam konstitusi Indonesia. Sekarang dia khawatir bahwa jika Jokowi menang, dia akan cenderung lembek, mengikuti jejak presiden sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono yang gagal memanfaatkan kemenangan telak dalam pemilihan kembali tahun 2009 untuk membuahkan prestasi spektakuler.

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri berseloroh bahwa Indonesia memiliki potensi besar, dan akan selalu bertahan demikian, karena tidak akan pernah ada yang mampu mewujudkan.

Tetapi dunia tidaklah statis. Negara-negara lain seperti Vietnam meningkatkan permainan mereka untuk menarik investasi asing. Tantangan secara luas untuk Indonesia semakin meningkat, mulai dari perubahan iklim hingga teknologi baru yang dapat mengancam penciptaan lapangan kerja yang telah melemah.

Dengan sorotan pada Indonesia menjelang Pilpres 2019, Jokowi harus mengambil kesempatan untuk menetapkan visi yang lebih berani untuk merevitalisasi ekonomi dan membuktikan bahwa mereka yang meragukannya salah, alih-alih mencoba memenuhi tuntutan mereka.

Baca Juga: Rusia Bantah Tuduhan ‘Propaganda’ Pilpres 2019

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Kandidat presiden petahana Joko Widodo. (Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)

Pilpres 2019: Jokowi Seharusnya Berani Lawan Kritik, bukan Meredamnya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top