Islamofobia
Opini

Opini: Jika Mengkritik Zionisme Anti-Semit, Mengapa Mengkritik Islam Bukan Islamofobia?

Berita Internasional >> Opini: Jika Mengkritik Zionisme Anti-Semit, Mengapa Mengkritik Islam Bukan Islamofobia?

Zionisme dan Islamisme memiliki cukup kesamaan sebagai ideologi politik, di mana jika kritik terhadap Zionisme dianggap “anti-Semit”, maka kritik terhadap Islam harus dianggap sebagai Islamofobia. “Keduanya”—seperti yang pernah dikatakan oleh seorang bintang baru dalam kelompok pro-Israel, Ed Husain—”adalah ideologi politik berbahaya yang menyamar sebagai gerakan keagamaan.”

Baca juga: Islamofobia Terungkap di Korea Selatan: Krisis Pengungsi Landa Pulau Jeju

Oleh: Nasim Ahmed (Middle East Monitor)

Haruskah para kritikus politik Islam digambarkan sebagai Islamofobia rasis? Ini adalah pertanyaan yang harus dijawab melalui diskusi serius dalam rangka “anti-Semitisme” yang sedang berlangsung, yang melanda Partai Buruh di Inggris.

Zionisme dan Islamisme memiliki cukup kesamaan sebagai ideologi politik, di mana jika kritik terhadap Zionisme dianggap “anti-Semit”, maka kritik terhadap Islam harus dianggap sebagai Islamofobia. “Keduanya”—seperti yang pernah dikatakan oleh seorang bintang baru dalam kelompok pro-Israel, Ed Husain—”adalah ideologi politik berbahaya yang menyamar sebagai gerakan keagamaan.”

Menolak fakta bahwa para Zionis seperti Benjamin Netanyahu dan komentator sayap kanan Amerika, Daniel Pipes, “telah memajukan karier mereka dengan mengecam para Islamis,” Husain mempertanyakan apakah “Islamis dan Zionis benar-benar berbeda, terlepas dari permusuhan mereka yang sangat mencolok.”

“Saya kira tidak,” adalah tanggapannya yang sangat yakin, dalam sebuah artikel, satu dekade setelah tulisannya menunjukkan sejauh mana ruang untuk kebebasan berpendapat tentang Israel dan Zionisme kini menyusut.

Husain—yang dulu adalah seorang Islamis dan sekarang menjadi advokat Israel dan digambarkan oleh Lobi pro-Israel sebagai pendukung setia negara Zionis—pernah mencela Zionisme sebagai “penyimpangan dari keyakinan Ibrahim kuno Yudaisme.” Berkaca pada sejarah Zionisme, ia menulis, “Sebelum Holocaust, Zionisme adalah gerakan paria di antara komunitas Yahudi Eropa. Rabi mengecam para Zionis karena menyalahgunakan agama dan identitas agama.”

Sejauh yang diketahui Husain, para pemimpin Zionisme adalah orang-orang “yang tidak memiliki pelatihan teologis” dalam pemahaman tradisional Yudaisme. Sebagian dari Zionis yang paling gigih—dia menunjukkan—sama sekali bukan orang Yahudi; George W Bush, misalnya, dan berbondong-bondong dari kaum evangelis, “para literalis Kristen.” Para non-Yahudi Zionis, pada kenyataannya, mencakup sebagian besar pengikut ideologi ini di seluruh dunia.

Dengan komentar yang akan memancing kemarahan di bawah suasana saat ini, Husain mengatakan, “Mengabaikan kesucian hidup manusia adalah ciri khas dari Zionisme dan Islamisme.” Dia membandingkan ideologi “ekspansionis” Zionisme dengan Muslim yang menyerukan khalifah global. (di mana dia pernah menyerukannya juga) dan bersikeras bahwa, “Kita tidak akan terbantu jika kita melupakan terorisme Zionis dari Geng Stern yang terkenal buruk, pembunuhan para personel Inggris, penggerebekan di desa-desa Palestina, dan peledakan King Daud Hotel (di Yerusalem) pada tahun 1946.”

Menampilkan tingkat kejelasan intelektual yang sekarang tampaknya telah dipertukarkan untuk kepentingan pribadi, Husain telah meninggalkan masa lalunya sebagai seorang Muslim radikal: “Mengecam perbuatan Israel bukanlah anti-Semitisme; dan mengkritik Islamisme bukanlah Islamofobia.” Zionisme yang “menyamar” sebagai Yudaisme, ia menambahkan, adalah “menyesatkan” dan “menciptakan” konflik dan “merusak” agama.

Penolakan Husain terhadap Zionisme sebagai ideologi rasis dan kolonial yang mengkhianati Yudaisme, disuarakan pula oleh kritikus Islamisme lainnya, mendiang jurnalis dan penulis Christopher Hitchens. Dia mengambil cara-cara yang sama seperti Husain dalam menjadi pendorong untuk kolonialisme Barat, dan juga memendam kebencian yang kuat terhadap Zionisme, menggambarkannya sebagai sebuah “gagasan bodoh”.

Kejujuran seperti itu oleh Husain dan Hitchens, berfungsi untuk mengekspos sejauh mana kampanye oleh sayap kanan Israel dan para pendukungnya di Barat—untuk menyatukan Zionisme dengan anti-Semitisme—telah berhasil.

Kecenderungan lobi pro-Israel untuk menjaring artikel-artikel dan pidato-pidato sebelumnya oleh pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn, menunjukkan bahwa jika Hitchens masih hidup, dia akan memanfaatkan kemarahan Zionis Inggris.

“Saya pikir Zionisme, gagasan membangun negara petani Yahudi di tanah Arab di Timur Tengah, adalah gagasan yang bodoh,” katanya kepada pembawa acara bincang-bincang Amerika Serikat (AS), Charlie Rose. Hitchens pernah mencoba berbicara kepada ibunya tentang dukungannya untuk Zionisme karena itu adalah “ide mesianis”; sebuah “ide takhayul”.

Apakah Hitchens akan berani membuat komentar seperti itu sekarang, saya bertanya-tanya? Sebagai pendukung kuat kebebasan berbicara dan hak untuk menghina agama, para penganut agama, dan orang lain, apakah ia akan ditakuti oleh orang-orang seperti mantan Ketua Rabbi Lord Jonathan Sacks? Akankah dia “bertobat dan mengakui kembali”, permintaan yang dibuat oleh Corbyn? Saya setengah menduga bahwa dia mungkin telah mundur dari kritik semacam itu terhadap Zionisme, tetapi dengan mudah dapat mengecam Lord Sacks atas serangannya terhadap kebebasan berbicara.

Jika para kritikus Zionisme begitu mudah dikecam sebagai anti-Semitisme, akan sangat munafik untuk tidak mengatakan bahwa para kritikus Islam politik adalah pembenci Muslim de facto. Penyatuan semacam itu akan membuat mayoritas politisi kita, komentator media, dan orang-orang seperti Hitchens dan Husain—yang telah memajukan karier mereka dengan mengkritik politik Islam—dapat didiskreditkan sebagai orang yang rasis dan anti-Muslim fanatik. Akankah media utama dan lingkaran politik di Barat, terutama di Inggris, menerima kesimpulan seperti itu? Saya kira tidak.

Jika konsep identifikasi diri harus dinikmati oleh semua minoritas (dan, tentu saja, mayoritas dalam masyarakat mana pun), maka kita harus menerimanya ketika kaum Muslim berulang kali mengatakan bahwa istilah seperti “Islamisme” dan “Islamis” adalah istilah Islamofobia yang disebarkan oleh media, politisi, dan komentator untuk berbicara tentang Muslim dengan cara yang akan dianggap sebagai rasis jika diarahkan pada kelompok minoritas lainnya.

Kefanatikan anti-Muslim saat ini memiliki akar dalam apa yang disebut Orientalisme, yaitu lensa budaya dan sejarah di mana dunia Barat mempersepsikan, mendefinisikan, dan “mengasingkan” Timur, khususnya, Timur Tengah Muslim.

Seperti yang digambarkan oleh mendiang Profesor Palestina-Amerika, Edward Said dalam bukunya yang terkenal; ‘Orientalisme’ dapat dikatakan telah menemukan rumah baru di antara jajaran komentator media masa kini dan para politisi. Mereka menyebarkan banyak stereotip yang sama; menabur benih ketakutan dan kebencian yang sama, dan menggunakan karikatur tidak senonoh untuk memfitnah kaum Muslim dengan kedok analisis kritis terhadap Islam.

Meskipun ada banyak yang akan bersimpati dengan kampanye apa pun oleh komunitas Muslim yang menyatukan kritik Islamisme dengan Islamofobia, namun itu tidak diragukan lagi akan menghadapi oposisi. Kita juga akan melihat kemarahan nasional jika Muslim Inggris dan tokoh masyarakat melakukan perburuan terhadap pemimpin terpilih dari partai politik besar yang kemudian direndahkan, dihukum, dan diintimidasi agar “menyesal”, oleh seorang tokoh agama yang tidak terpilih.

Jika para pemimpin kita yang terpilih tidak bersedia untuk menekan kritik terhadap Islamisme, maka mereka tidak harus bertahan dalam membantu dan bersekongkol dengan para kritikus Zionisme.

Baca juga: Bolton dan Pompeo Mungkin Akan Bebaskan Hasrat Islamofobia Trump

Masyarakat yang menghargai kebebasan berbicara memiliki gagasan yang jelas tentang di mana kebebasan berbicara berakhir dan rasisme dimulai. Kebebasan berbicara ada untuk melindungi kita dari kelebihan kekuasaan; tidak ada negara, tidak ada pemerintahan, dan tentu saja tidak ada keyakinan politik, yang harus diberikan kekebalan dari kritik, termasuk Israel.

Partai Buruh Inggris memiliki kesempatan pada Selasa (4/9) untuk menetapkan batas itu. Para anggotanya perlu bersikeras bahwa walau kebencian terhadap orang Yahudi karena mereka adalah orang Yahudi adalah anti-Semit dan sepenuhnya tidak dapat diterima, namun kritik terhadap Israel dan Zionisme adalah kewajiban dan tanggung jawab moral bagi siapa pun yang peduli tentang penyalahgunaan kekuasaan oleh rezim politik, yang membuat klaim rasis dan eksklusif tentang hak mereka untuk Palestina, dan melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam mengejar hak-hak mereka.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Middle East Monitor dan Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Seorang pengunjuk rasa memegang spanduk bertuliskan “Katakan Tidak untuk Rasisme—Pengungsi dan Migran Diterima—Hentikan Islamofobia” dalam sebuah aksi untuk Resham Khan dan Janeel Muhktar yang diserang dengan asam sulfat di London, Inggris, pada tanggal 5 Juli 2017. Muhktar telah menyatakan bahwa serangan itu adalah kejahatan kebencian, dan percaya bahwa ‘ini ada hubungannya dengan Islamofobia’. Polisi memeriksa John Tomlin sehubungan dengan kejahatan itu. (Foto: Anadolu Agency/Ray Tang)

Opini: Jika Mengkritik Zionisme Anti-Semit, Mengapa Mengkritik Islam Bukan Islamofobia?

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top