Kerap Serang China, Laporan Media Barat Tak Lagi Obyektif?
Asia

Kerap Serang China, Laporan Media Barat Tak Lagi Obyektif?

Warga Uighur di Xinjiang menjadi subyek dari pengawasan yang sangat intrusif dalam dunia teknologi. Di foto ini, dua orang wanita Uighur berbicara menggunakan ponsel di Kashgar, Xinjiang, April 2002. (Foto: Kevin Lee/Getty Images)
Berita Internasional >> Kerap Serang China, Laporan Media Barat Tak Lagi Obyektif?

Pemberitaan tentang pengawasan dan penindasan hak-hal Muslim Uighur di China marak diangkat oleh media-media Barat. Kritik terhadap China tak hanya sebatas tulisan di Media, tapi juga disampaikan oleh beberapa negara, khususnya Amerika Serikat. Terlepas dari apakah mereka melakukan tindakan tertentu untuk “menghukum” China, banyak pihak merasa serangan media Barat terhadap China memiliki tujuan tertentu, tak hanya sebatas menyoroti pelanggaram HAM yang dilaporkan dialami kaum Uighur di Xinjiang.

Oleh: Ai Jun (Manila Times)

Baca Juga: Kenapa Negara-Negara Islam Tidak Membela Muslim Uighur?

Majalah Time baru-baru ini menerbitkan sebuah artikel tentang Mihrigul Tursun, seorang wanita Uighur yang mengklaim dia pernah ditahan di pusat pelatihan kejuruan Xinjiang, dan video di Twitter menampilkan kesaksiannya tentang dugaan penyiksaan dengan air mata dan isak tangis.

Saya melakukan eksperimen: Mengirim tautan ini kepada warga China biasa yang saya kenal. Sebagian besar dari mereka tertawa ketika mereka mendengar kesaksian Tursun. “Itu tidak masuk akal,” adalah reaksi pertama mereka. Mengapa mereka bereaksi seperti ini?

Pertanyaannya harus diserahkan kepada editor dari majalah Time untuk dijawab. Jika mereka memperlakukan kesaksiannya dengan lebih skeptis, mengetahui betapa ketinggalan zaman bahasa yang dia gunakan dan apakah pernyataannya masuk akal, maka majalah itu tidak akan membodohi dirinya sendiri.

China telah menawarkan penjelasan yang cukup. Namun para editor itu masih tidak tahu apa-apa tentang China. Akankah lebih banyak penjelasan akan membuat mereka paham?

Laporan dan wawancara serupa dengan Tursun dapat ditemukan di banyak media Barat lainnya. Media Barat menyukainya, seolah-olah mereka mendapatkan jackpot dan akhirnya memperoleh kesaksian dari saksi hidup untuk menyerang China, sementara begitu acuh tak acuh terhadap semua celah dalam kata-katanya.

Beberapa orang asing mempercayai cerita Tursun karena mereka memiliki kesalahpahaman yang parah tentang China yang berasal dari ketidaktahuan. Cukup banyak orang Barat masih percaya bahwa China pada umumnya adalah negara terbelakang di mana orang-orangnya bekerja keras di pabrik dan memiliki sedikit kebebasan.

Apakah China punya mobil? Apakah China punya listrik? Apakah China mencintai kebebasan? Ini adalah puncak gunung es pertanyaan yang muncul di situs tanya jawab Quora di 2017.

Seharusnya menjadi tanggung jawab media arus utama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan informasi yang obyektif dan komprehensif. Sayangnya, editor dari Time tidak memiliki pengetahuan dasar tentang China dan mereka telah menjadi pencipta dan penyebar rumor.

Pola pikir mereka masih terjebak dalam Revolusi Kebudayaan. Sebelum memublikasikan artikel yang relevan, mereka mungkin hampir tidak memiliki kesempatan untuk benar-benar mengunjungi Tiongkok atau berbicara dengan orang China asli. Bagaimana orang dapat mempercayai laporan mereka?

Cerita Tursun tidak baru. Hal yang sama terjadi lebih dari sekali bahwa kesaksian yang dilontarjab di hadapan Kongres AS ternyata penuh dengan cerita-cerita palsu. Tujuannya adalah untuk mendukung tindakan politik dan militer Amerika Serikat (AS).

Sangat disayangkan melihat majalah Time, yang dinikmati para pembaca yang berpengaruh di kalangan intelektual AS, merosot menjadi salah satu media yang lebih berfokus pada penjualan cerita yang menarik dan tanpa dasar daripada fakta yang terbukti.

Setidaknya laporan-laporan ini menunjukkan beberapa wawasan ke persepsi AS tentang China. Mengapa perang dagang terjadi? Mengapa selalu ada pemikiran radikal terhadap China di AS? Mengapa ada spekulasi yang tidak benar-benar konstan tentang jumlah Muslim yang telah dikirim ke pusat pelatihan kejuruan, yang dapat menjadi satu juta hari ini atau dua juta besok?

Orang tentu saja akan bertanya-tanya apakah media Barat telah melepaskan tanggung jawab mereka untuk memberikan pelaporan yang obyektif.

Baca Juga: Xinjiang: Kehidupan Etnis Uighur Selama ‘Perang Melawan Teror’

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Warga Uighur di Xinjiang menjadi subyek dari pengawasan yang sangat intrusif dalam dunia teknologi. Di foto ini, dua orang wanita Uighur berbicara menggunakan ponsel di Kashgar, Xinjiang, April 2002. (Foto: Kevin Lee/Getty Images)

Kerap Serang China, Laporan Media Barat Tak Lagi Obyektif?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top