juan guaido
Amerika

Krisis Venezuela: Pemimpin Oposisi Juan Guaido Salah Perhitungan Militer

Berita Internasional >> Krisis Venezuela: Pemimpin Oposisi Juan Guaido Salah Perhitungan Militer

Pemimpin oposisi Juan Guaido, yang mengangkat dirinya sebagai presiden sementara, telah menyatukan oposisi yang rentan terhadap fragmentasi, menerima pengakuan dari sejumlah negara asing, dan mendapatkan dukungan dari berbagai lembaga internasional. Namun, ia membuat kesalahan perhitungan tentang militer Venezuela yang masih berada di bawah Nicolas Maduro. Angkatan bersenjata Venezuela tidak siap memberontak melawan Maduro dan berikut ini berbagai alasannya.

Baca Juga: Venezuela Larang Juan Guaido ke Luar Negeri, Bekukan Rekeningnya

Oleh: Asa Cusack (Al Jazeera)

Sebulan setelah keputusan Juan Guaido untuk mendeklarasikan dirinya sebagai penjabat presiden Venezuela pada saat yang sama dengan Presiden Nicolas Maduro yang masih memimpin, Venezuela tetap berada dalam limbo yang aneh dan berbahaya. Guaido telah menyatukan oposisi yang rentan terhadap fragmentasi, menerima pengakuan dari sejumlah negara asing, dan mendapatkan dukungan dari berbagai lembaga internasional.

Namun, terlepas dari tawarannya akan amnesti bagi personel militer yang mengalihkan kesetiaan mereka kepada kepresidenan Guaido, hanya segelintir dari ribuan jenderal Venezuela yang mengubah dukungan. Bahkan kebuntuan besar atas pemberian bantuan Amerika Serikat ke Venezuela tanggal 23 Februari 2019 hanya menimbulkan sejumlah kecil pembelotan oleh petugas berpangkat rendah.

Jadi apa yang salah? Singkatnya, rencana Guaido untuk menyingkirkan Maduro dengan bantuan militer dirusak oleh kesalahpahamannya tentang bagaimana militer Venezuela memandang oposisi serta seberapa tangguh aliansi sipil-militer di Venezuela yang telah berusia puluhan tahun. Namun, hal ini seharusnya tidak dilihat sebagai berita buruk. Aksi militer dalam bentuk apa pun, internal atau eksternal, akan penuh dengan bahaya dalam situasi yang rentan di Venezuela. Transisi yang dinegosiasikan menuju pemilihan bebas menawarkan cara yang jauh lebih baik ke depan.

Bertaruh dengan pemberontakan militer

Pertaruhan pertama Guaido, ketika menyatakan dirinya sebagai presiden tanggal 23 Januari 2019, adalah bahwa anggota komando tinggi militer hanya menunggu kesempatan untuk menggulingkan Maduro. Tetapi campuran memabukkan dari persatuan yang baru ditemukan dan dukungan asing terbukti menyesatkan, dan tidak ada pembelotan yang benar-benar terjadi.

Sebulan kemudian, Guaido dan pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengatur kebuntuan di perbatasan Venezuela atas masuknya bantuan kemanusiaan, berharap bahwa pejabat militer akan menolak untuk terlibat secara langsung dan terbuka dalam penderitaan rakyat Venezuela dengan menghalangi bantuan di perbatasan.

Tetapi anggapan bahwa tekanan moral dan pernyataan amnesti yang mungkin akan cukup kembali terbukti salah kaprah.

Kekuatan aliansi sipil-militer Venezuela

Latar belakang setiap diskusi tentang militer Venezuela seharusnya adalah politisasi jauh sebelum dan selama kepresidenan Hugo Chavez.

Meskipun Chavez seringkali digambarkan telah muncul dari lingkaran luar ke panggung politik Venezuela, ia mendirikan Gerakan Bolivarian Revolusioner-200 di dalam militer pada tahun 1982, 16 tahun sebelum menang pemilihan pada tahun 1998.

Tahun 1992, gerakan tersebut telah tumbuh cukup kuat untuk meluncurkan upaya kudeta yang layak terhadap Presiden Carlos Andres Perez, menempatkan Chavez di penjara dan menabur benih dukungan rakyat yang kemudian akan memenangkannya sebagai presiden.

Baca Juga: Parlemen Eropa Akui Juan Guaido sebagai Pemimpin Venezuela Sementara

Saat menjabat, Chavez mengembangkan gerakan ini menjadi aliansi sipil-militer yang lebih luas yang menekankan tanggung jawab sosial, partisipasi dalam pembangunan nasional, dan anti-imperialisme.

Saat ini, ketiga pilar aliansi sipil-militer tersebut memainkan peran yang saling bertentangan dalam krisis yang sedang berlangsung.

Anti-imperialisme dan musuh lama

Mengingat bahwa fungsi inti mereka adalah melindungi tanah air dari penjajah asing, angkatan bersenjata di mana pun pasti memiliki kecenderungan alami terhadap nasionalisme. Namun, ideologi Bolivarian yang berpusat pada melepaskan diri dari penindas hanya memperkuat kecenderungan tersebut di Venezuela. Sementara pahlawan kemerdekaan Amerika Latin Simon Bolivar menganggap Spanyol sebagai penindas, pada akhir abad ke-20 Amerika Serikat telah datang untuk menduduki peran ini.

Gagasan tersebut dengan sendirinya membuat dukungan Amerika atas pencalonan Guaido untuk menggulingkan Maduro sangat sulit dicerna bagi militer Venezuela. Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton kian menyulut konflik ketika mengakui bahwa minyak Venezuela merupakan faktor pendorong untuk keterlibatan Amerika. Trump memperburuk situasi dengan menugaskan Elliott Abrams untuk menangani Venezuela. Abrams sendiri terkenal karena perannya dalam menutupi kekejaman mengerikan dan menyalurkan dana secara ilegal ke tentara paramiliter pembunuh di Amerika Tengah pada tahun 1980-an.

Ancaman ekonomi dan eksistensial terhadap pejabat tinggi

Partisipasi dalam pembangunan nasional juga berarti bahwa seiring berjalannya waktu, terutama ketika Chavez secara bertahap kehilangan kepercayaan terhadap aktor-aktor lain, militer mulai memainkan peran yang lebih besar dalam ekonomi nasional Venezuela, secara sah maupun ilegal.

Bagi mereka yang berada di puncak kepemimpinan, akses istimewa dan tidak terkontrol dengan baik untuk apa pun yang mendapatkan subsidi negara, terutama makanan, minyak, dan dollar, telah memungkinkan berbagai bentuk spekulasi. Makanan dan minyak murah kemudian bisa diselundupkan ke Kolombia, Brazil, dan Karibia, dijual dengan harga yang sangat melonjak tinggi.

Permintaan dolar serta kontrol modal telah menciptakan pasar gelap yang nilai tukarnya segera menukik melebihi kurs resmi tetap, memungkinkan dolar negara murah untuk didaur ulang melalui dua pasar, menghasilkan perbedaan harga yang mengalir dari kas negara menuju tangan swasta. Kontrol atas perbatasan dan daerah-daerah terpencil di wilayah nasional juga memfasilitasi keterlibatan dalam perdagangan narkoba.

Baca Juga: Juan Guaido, Presiden Baru Venezuela yang Didukung AS

Sanksi Amerika Serikat terhadap para petinggi yang terlibat dalam kegiatan ini terbukti kontraproduktif, yang secara efektif menghubungkan nasib mereka dengan Maduro. Kejatuhannya dapat membuat mereka dimintai pertanggungjawaban oleh pemerintah oposisi yang baru menjabat atau diekstradisi ke Amerika untuk menghadapi tuntutan hukum.

Meskipun Guaido telah mengusulkan amnesti bagi tokoh-tokoh militer yang beralih pihak, strategi tersebut telah sangat dirusak oleh sekutu-sekutunya di AS. John Bolton, misalnya, memperingatkan bahwa Maduro bisa berakhir di Guantanamo, sedangkan Senator “pengikut Kristus” Marco Rubio mengisyaratkan nasibnya lewat mengunggah gambar-gambar di Twitter tentang persekusi brutal di era pemimpin Libya Muammar Gaddafi.

Sementara nada yang digunakan Guaido yang berwajah segar dapat menenangkan jiwa para diplomat, politisi, dan koresponden asing, realitas domestik Venezuela adalah sebuah dunia yang terpisah dari perwakilannya di luar negeri. Bagian-bagian militer yang benar-benar penting memahami dengan baik bahwa di balik citra utuh Guaido terdapat banyak pemimpin paling radikal dalam dua dekade terakhir.

Berbagai sosok tersebut termasuk mentornya, Leopoldo Lopez, yang merupakan tokoh kunci di balik strategi “salida” (keluar), yang berusaha menjatuhkan Maduro dengan cara apa pun yang diperlukan pada tahun 2014. Sosok lainnya seperti Antonio Ledezma dan Maria Corina Machado, secara eksplisit telah mengundang intervensi militer asing.

Selama bertahun-tahun, sayap oposisi telah berbicara dengan lembut di luar negeri sambil menempatkan situasi sulit di dalam negeri. Angkatan bersenjata secara alami khawatir bahwa tongkat kekuasaan belum benar-benar lenyap, bahkan ketika Guaido mengulurkan tawaran pengampunan dan rekonsiliasi.

Dilema prajurit Venezuela

Kebalikan dari semua ini adalah aspek sosial dari doktrin sipil-militer. Sebagian besar kekuatan militer mana pun cenderung berasal dari kelas sosial yang lebih rendah, yang dengan sendirinya mendukung empati bagi banyak segmen populasi yang sama. Namun aliansi sipil-militer semakin memperkuat hal ini, secara langsung melibatkan angkatan bersenjata dalam mewujudkan proyek-proyek sosial “untuk menciptakan ikatan kepercayaan, kerja sama, dan identifikasi timbal balik yang lebih dekat antara penduduk sipil dan militer.”

Krisis sosial di Venezuela telah mencapai proporsi seperti itu, dengan kekurangan makanan, disintegrasi sistem kesehatan, kejahatan yang merajalela, dan migrasi massal, sehingga tidak ada tentara yang dapat tetap tidak tersentuh oleh konsekuensi suramnya. Tidak diragukan lagi banyak di antara angkatan bersenjata Venezuela yang sangat marah dan kecewa tentang dampak buruk dari kebijakan pemerintah Maduro terhadap rakyat yang dirancang sebagai sasaran bantuan gerakan Bolivarian. Sayangnya, pangkat militer yang lebih rendah menghadapi disinsentif yang lebih kuat untuk membelot dibandingkan dengan komandan mereka.

Tidak ada gaji yang dapat menyaingi inflasi Venezuela. Namun, di militer, dibandingkan dengan di tempat lain, Maduro berusaha mempertahankan jumlah daya beli yang rendah. Kedekatan dengan negara juga memberikan akses yang lebih baik ke barang-barang bersubsidi dan layanan publik untuk pasukan keamanan dan keluarga mereka. Meskipun kebutuhan hidup mereka jauh dari tercukupi, keuntungan kecil ini memberikan perbedaan dalam situasi genting di Venezuela. Alternatif pembelotan juga menghadirkan risiko yang sangat besar, khususnya dalam hal retribusi terhadap tentara dan keluarga mereka.

Baca Juga: Krisis Venezuela: Juan Guaidó Cemooh Ancaman ‘Perang Sipil’

Efek menyakitkan dari dilema pribadi yang kejam bagi tentara terbukti selama kebuntuan bantuan di perbatasan Venezuela pada tanggal 23 Februari 2019. Beberapa personel keamanan yang memblokir perbatasan Kolombia menangis ketika para pengunjuk rasa mendesak mereka untuk membelot. Yang lain berlari melintasi perbatasan dengan berjalan kaki, ketakutan mereka yang paling buruk jelas bahwa mereka akan ditangkap di Venezuela dan harus menanggung akibatnya.

Secara keseluruhan, masalah pribadi yang parah tersebut secara alami lebih besar daripada masalah sosial yang lebih luas. Hanya jika bagian-bagian penting dari militer dapat bersama-sama mengoordinasikan pergantian melawan Maduro, kemungkinan pemberontakan yang berhasil dapat dimulai untuk mengubah perhitungan biaya-manfaat ini. Namun, pada dasarnya, pangkat menengah dan rendah di militer Venezuela tidak memiliki kekuatan untuk memerintahkan seluruh divisi untuk melakukan tindakan tegas.

Melampaui solusi militer

Kurangnya keinginan saat ini untuk intervensi militer, internal atau eksternal, bukanlah berita buruk. Wilayah Venezuela telah menjadi tuan rumah bagi sejumlah besar kelompok bersenjata, pejuang Tentara Pembebasan Nasional Kolombia (ELN), penyelundup narkoba, geng penambangan liar, milisi pro-pemerintah, dan tambahan faksi militer pro-dan anti-Guaido internal atau tentara eksternal bisa dengan mudah meledakkan konflik Venezuela.

Alternatif untuk amnesti beserta intervensi militer internal adalah amnesti dengan negosiasi yang dimediasi secara internasional. Negosiasi dan pengampunan bagi Maduro dan lingkaran dalamnya mungkin tidak adil, tidak bermoral, dan tidak menyenangkan, mengingat kejahatan berat yang telah dilakukan. Tetapi bahkan jika rasanya sulit, veteran peneliti jajak pendapat Venezuela Luis Vicente Leon dengan benar mengatakan bahwa lebih baik menjadi Spanyol, Chili, atau Afrika Selatan dengan amnesti daripada menjadi Suriah, Libya, atau Iran tanpa amnesti.

Menghindari peran langsung Amerika Serikat dan menggantinya dengan dukungan dari kelompok mitra internasional yang kurang konfrontatif dapat sangat membantu menyelesaikan krisis Venezuela.

Inisiatif Kelompok Kontak Internasional (ICG) melakukan hal itu. Anggota-anggotanya di Eropa jauh lebih lambat untuk mengenali Guaido daripada Amerika dan tidak memiliki reputasi merusak yang sama dalam hal intervensi. Tidak seperti sebagian besar Lima Group sayap kanan yang telah mendukung Guaido, Kosta Rika, Uruguay, Ekuador, dan Bolivia dari ICG diperintah oleh partai-partai sayap kiri dan tengah. Alih-alih menekan militer Venezuela untuk menggulingkan Maduro, ICG berfokus pada menemukan “solusi politik untuk masalah politik,” tetapi selalu dengan tujuan yang jelas untuk bergerak ke arah pemilihan umum yang bebas.

Meskipun Amerika Serikat tidak dapat memainkan peran langsung dalam inisiatif ini, AS dapat menawarkan pelonggaran selektif atas sanksi kuatnya terhadap minyak dan transaksi keuangan Venezuela, sebagai imbalan bagi reformasi yang penting bagi pemilihan baru, dan juga pengangkatan dewan pemilihan baru serta penerimaan pengamatan pemilu internasional.

Meskipun ini mungkin bukan rute yang dipikirkan Guaido dan para pendukungnya, ialah ICG (dan bukan militer) yang sekarang menawarkan peluang terbaik untuk membangun kembali pemerintah yang sah di Venezuela.

Dr Asa Cusack adalah Managing Editor di blog LSE Latin America and Caribbean.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden Venezuela Nicolas Maduro berbicara kepada para tentara ketika menghadiri latihan militer di Maracaibo, Venezuela, 6 Februari 2019. (Foto: Handout/Reuters)

https://www.matamatapolitik.com/news-567-tentara-venezuela-membelot-ke-kolombia-basis-kekuatan-maduro-mulai-runtuh/

Krisis Venezuela: Pemimpin Oposisi Juan Guaido Salah Perhitungan Militer

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top