Pinjaman Indonesia
Berita Politik Indonesia

Masalah Utang Indonesia? Itu Belum Cukup

Berita Internasional >> Masalah Utang Indonesia? Itu Belum Cukup

Pemerintah perlu menekan volatilitas nilai tukar dan mengembangkan pasar pertukaran untuk memberikan akses yang lebih baik kepada bank-bank untuk pendanaan luar negeri. Ada terlalu sedikit utang dalam sistem perbankan, dan terlalu banyak ekuitas. Jika bank-bank yang terkuras terlalu berlebihan dapat menyebabkan krisis keuangan tipe-2008, maka bank-bank yang kelebihan modal bisa menghalangi pertumbuhan ekonomi.

Oleh: Andy Mukherjee (Bloomberg)

Baca Juga: Visi Indonesia untuk Indo-Pasifik: Seruan ASEAN yang Lebih Bersatu

Masalah Indonesia dengan financial leverage adalah kebalikan dari apa yang biasanya dihadapi pasar negara berkembang. Ada terlalu sedikit utang dalam sistem perbankan, dan terlalu banyak ekuitas.

Para pemberi pinjaman Indonesia seperti PT Bank Mandiri—pemberi pinjaman terbesar Indonesia dalam hal aset—serta saingannya PT Bank Central Asia dan PT Bank Rakyat Indonesia berada di antara pemberi modal terbaik di dunia. Financial leverage—yang hanya membagi aset dengan ekuitas—adalah antara 5,5 hingga 7 untuk ketiga bank tersebut. Untuk sebagian besar pemberi pinjaman China, India, Brasil, dan Afrika Selatan, angkanya berkisar antara 11 hingga 15.

Ada yang namanya terlalu sehat. Lagi pula, ketika leverage mereka terlalu rendah, bank tidak dapat melakukan hal yang benar oleh siapa pun. Mereka membayar para deposan lebih sedikit dari yang seharusnya; memungut premi terlalu tinggi, sebelum menyerahkan dana tersebut kepada para peminjam; dan kemudian menggunakan margin yang terlalu besar untuk membayar semuanya, mulai dari kredit macet hingga birokrasi yang membengkak. Para pemegang saham juga kalah.

Benteng Indonesia

Para pemberi pinjaman negara itu memegang terlalu banyak ekuitas, yang memaksa mereka untuk mendapatkan margin bunga bersih yang terlalu tinggi untuk memenuhi ekspektasi pengembalian investor. Itu merugikan baik penabung maupun peminjam.

Ambil contoh Bank Mandiri. Bank ini mengumpulkan 2 persen lebih pengembalian aset, melipatgandakan rata-rata global untuk bank dengan nilai pasar antara $20 miliar hingga $50 miliar. Tetapi 13 persen pengembalian ekuitas—pengembalian aset dikalikan dengan leverage—tidaklah luar biasa. Itu menutup opsi untuk meningkatkan modal dari pemegang saham untuk memperluas buku pinjamannya.

Tetapi mengingat bantalan ekuitas yang empuk, mengapa bank-bank di Indonesia tidak meminjam lebih banyak? Jawabannya terletak pada pasar pendanaan yang terbatas di Indonesia. Chief Executive Officer Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, mengatakan bahwa pertumbuhan kredit lebih dari 13 persen hingga 15 persen akan menyebabkan rasio pinjaman terhadap deposito melonjak.

Mendapatkan kembali metrik tersebut akan membutuhkan pembayaran lebih banyak kepada deposan, yang pada gilirannya akan berarti mengorbankan margin bunga bersih 5,5 persen. Pengembalian aset akan turun, dan bahkan dengan leverage yang lebih tinggi, laba atas ekuitas akan tetap tidak menarik. Segalanya akan kembali ke titik awal.

Untuk melonggarkan kendala pendanaan, pihak berwenang perlu menekan volatilitas nilai tukar rupiah dan mengembangkan pasar pertukaran, sehingga bank seperti Mandiri dapat meminjam dana jangka panjang di luar negeri dan melindungi risiko mata uang mereka agar berada pada harga yang wajar.

Baca Juga: Kubu Oposisi di Indonesia Ingin Tinjau Ulang Proyek Rel China

Terlalu Banyak Kelebihan

Ketika mereka menjadi lebih kompetitif, margin bunga bersih perbankan Indonesia yang membengkak akan menyusut. Pengembalian aset juga akan turun, tetapi dengan jumlah yang lebih kecil.

Pemberi pinjaman juga memiliki peran untuk dimainkan. Permintaan kredit perusahaan besar (biasanya untuk ekspansi kapasitas) sudah sekitar 39 persen dari total buku kredit Mandiri—potensi pertumbuhan lebih lanjut dari kategori ini kelihatannya sudah usai. Jadi bank itu sekarang mencoba untuk membujuk para peminjam perusahaan besar untuk memasukkan rekening gaji mereka dalam neraca dan merujuk beberapa pemasok dan distributor yang lebih layak untuk meningkatkan eksposur mereka kepada usaha kecil dan menengah.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan fintech (teknologi keuangan) bergerak secara agresif untuk mendapatkan keuntungan dari sistem pembayaran yang sudah ketinggalan zaman. Pelanggan aplikasi transportasi seperti Grab dapat membayar 50.000 rupiah ($3,50) untuk biaya transportasi senilai 15.000 rupiah, dan langsung menerima dari pengemudi saldo 35.000 rupiah sebagai kredit di e-wallet. Ketika pelanggan ingin membelanjakan uang ini di situs populer seperti Tokopedia dan Bukalapak, Mandiri ingin membujuk mereka untuk membayar pembelian yang lebih mahal dengan kredit konsumen.

Persaingan antara bank dan fintech untuk klien ritel dan usaha kecil, akan berarti marjin bunga bersih yang lebih sempit, yang akan memaksa bank untuk memotong beberapa kelebihan. Setelah mereka sudah lebih efisien, pemberi pinjaman besar Indonesia dapat dengan mudah memanfaatkan hingga 10 kali atau lebih dan memberikan pengembalian 15 persen lebih pada ekuitas, dengan pengembalian 1,5 persen pada aset, atau bahkan kurang.

Ini akan menjadi kemenangan bagi peminjam, bagi penabung, serta bagi pemegang saham bank. Bagaimanapun juga, jika bank-bank yang terkuras terlalu berlebihan dapat menyebabkan krisis keuangan tipe-2008, maka bank-bank yang kelebihan modal bisa menghalangi pertumbuhan ekonomi.

Andy Mukherjee adalah kolumnis Opini Bloomberg yang meliput perusahaan industri dan jasa keuangan. Dia sebelumnya adalah seorang kolumnis untuk Reuters Breakingviews. Dia juga bekerja untuk Straits Times, ET NOW, dan Bloomberg News.

Keterangan foto utama: Pembayaran dan deposito akan online, dan bank-bank di Indonesia perlu mengikutinya. (Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)

Masalah Utang Indonesia? Itu Belum Cukup

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top