Perang Suriah
Opini

Mengapa Amerika Mundur dari Perang Suriah?

Pada 19 Desember, Presiden AS Donald Trump menyatakan kemenangan atas ISIS di Suriah, dan mengumumkan penarikan seluruh 2.000 pasukan AS dari negara itu. (Foto: Reuters)
Berita Internasional >> Mengapa Amerika Mundur dari Perang Suriah?

Mengapa sebenarnya Amerika mundur dari perang Suriah? Beberapa berpendapat bahwa Trump menggunakannya sebagai pengalih perhatian dari masalah hukumnya di AS, atau bahwa ia telah dipengaruhi oleh percakapan teleponnya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat (14/12) lalu. Terlepas dari spekulasi-spekulasi itu, Trump telah berbicara tentang penarikan pasukan AS untuk sementara waktu karena ia tidak melihat adanya nilai keuangan atau strategis dalam mempertahankan pasukan AS di Suriah.

Baca juga: Trump Tarik Pasukan Amerika dari Suriah, Nyatakan Kemenangan atas ISIS

Oleh: Joe Macaron (Al Jazeera)

Keputusan mendadak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menarik pasukan AS dari Suriah adalah pengingat bahwa ini bukan sesuatu yang biasa di Washington.

Badan-badan politik dan Kongres AS telah memaksa presiden itu untuk menangani tantangan utama kebijakan luar negeri, mulai dari Rusia hingga Arab Saudi, tetapi Trump memiliki trik di Suriah. Dia telah menegaskan kembali kekuasaan eksekutifnya di dalam negeri, dengan secara efektif bergerak untuk membatasi kekuasaan AS di luar negeri.

Sekarang 2.000 tentara AS dijadwalkan akan mundur dari Suriah utara dalam 100 hari ke depan, yang meninggalkan banyak ketidakpastian bagi sekutu dan musuh.

Apa yang Diungkapkan dari Penarikan Pasukan Ini Tentang Pemerintahan Trump?

Tidak ada penjelasan sederhana untuk waktu dan alasan keputusan ini. Beberapa berpendapat bahwa Trump menggunakannya sebagai pengalih perhatian dari masalah hukumnya di AS, atau bahwa ia telah dipengaruhi oleh percakapan teleponnya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat (14/12) lalu.

Yang lain menyatakan bahwa kesepakatan besar di Suriah sedang dibuat, dan AS telah mengorbankan mitra Kurdi mereka.

Terlepas dari spekulasi-spekulasi itu, Trump telah berbicara tentang penarikan pasukan AS untuk sementara waktu karena ia tidak melihat adanya nilai keuangan atau strategis dalam mempertahankan pasukan AS di Suriah. Maret lalu, presiden itu dengan santai mengumumkan saat pawai, bahwa pasukan AS akan “keluar dari Suriah, segera.”

Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS kemudian menyatukan upaya mereka untuk meyakinkan panglima tertinggi tersebut, bahwa pasukan AS harus tetap tinggal, tetapi pada bulan April ia memberi militer waktu enam bulan untuk menyelesaikan pekerjaan melawan ISIS.

Awal bulan ini, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi yang didukung AS merebut kota Hajin, daerah perkotaan terakhir yang dikuasai ISIS. Walau ISIS masih menjadi ancaman, namun Trump yakin bahwa waktu yang diperlukan untuk militer sudah cukup dan pasukan AS harus pulang.

Keputusannya sangat menunjukkan bagaimana pemikiran Trump telah terpisah dari tim keamanan nasionalnya. Dalam beberapa bulan terakhir, sayap konservatif pemerintahannya yang dipimpin oleh Penasihat Keamanan Nasional John Bolton dan sayap militer yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan James Mattis, membuat argumen berbeda untuk mempertahankan pasukan AS di Suriah.

Bolton—yang telah mengadvokasi selama berbulan-bulan gagasan untuk memperluas misi AS di Suriah untuk menghalangi Iran—sekarang sama sekali tidak menunjukkan apa-apa untuk itu. Dia berhasil meyakinkan Trump pada bulan September untuk menyetujui peran AS yang tak terbatas di Suriah.

Namun, gagasannya tentang “NATO Arab” sesuai dugaan tak mungkin diwujudkan, dan Arab Saudi tampaknya tidak antusias tentang mengucurkan pendanaan untuk kehadiran jangka panjang AS di Suriah utara.

Militer Amerika Tempatkan Pos Pengawas Baru di Suriah Utara

Para tentara AS dan Turki melakukan patroli gabungan pertama kalinya pada 1 November 2018, di luar Manbij, Suriah. (Foto: Spc. Arnada Jones/Militer via Military Times)

Mattis, di sisi lain, telah memperingatkan keteledoran Bolton yang mungkin berisiko menimbulkan konfrontasi dengan Iran, dan sebaliknya, dia menyatakan bahwa pasukan AS harus tinggal di Suriah untuk menghadapi ISIS dan mendorong jalan menuju resolusi konflik.

Tapi ia juga tampaknya menjadi lebih terisolasi dalam pemerintahan Trump, terutama setelah ia kehilangan sekutu kunci dengan pengunduran diri Kepala Staf Gedung Putih John Kelly.

Keputusan Trump untuk menarik diri dari Suriah mungkin memperluas ketidakpercayaan antara Gedung Putih dan militer, yang mungkin berakibat di zona perang lain seperti Afghanistan, di mana presiden itu juga percaya bahwa penarikan AS harus segera dilakukan.

Keputusan perang dan perdamaian biasanya diumumkan oleh Gedung Putih dalam konsultasi dengan lembaga-lembaga utama dan Kongres, tetapi cara keputusan ini diatur mencerminkan perpecahan yang mendalam di Washington tentang masalah ini.

Kemungkinan adanya pengunduran diri dari pemerintahan Trump dapat diumumkan dalam beberapa hari, minggu, dan bulan mendatang sebagai hasil dari keputusan ini.

Penting untuk menunjukkan bahwa kebijakan AS tentang Suriah telah gagal secara dramatis dalam tujuh tahun terakhir, dan Trump mungkin telah mengeluarkan AS dari kesengsaraannya. Tindakan penyeimbangan antara Turki dan Kurdi tidak mencapai kondisi menguntungkan dalam jangka panjang untuk mewujudkan stabilitas di Suriah utara.

Washington tidak dapat membuat kesepakatan atau mengkonfrontasi Moskow di Suriah, atau tampaknya tidak tertarik dalam mendorong proses politik yang dipimpin PBB. Utusan baru AS untuk Suriah James Jeffrey, baru-baru ini menambahkan kebingungan terhadap kebijakan AS dengan menyatakan bahwa pemerintahan Trump menginginkan perubahan dalam rezim Suriah, bukan penggantian rezim.

Ketika Gedung Putih diam-diam menyetujui Presiden Bashar al-Assad tetap berkuasa hingga pemilihan presiden Suriah berikutnya pada tahun 2021, rencana AS di Suriah bergeser menjadi mencoba untuk merendahkan dan mengganggu rencana Rusia.

Beberapa pejabat AS terus percaya bahwa AS dapat memainkan peran yang menentukan pada situasi di Suriah dan tetap menyangkal tentang batas-batas kekuasaan AS di Timur Tengah. Ada juga beberapa pemikiran bahwa Trump mungkin sekali lagi mengubah pikirannya terkait Suriah setelah mendengarkan para penasihatnya, tetapi itu tampaknya tak akan terjadi untuk kasus ini.

Apa Artinya Penarikan Pasukan AS Bagi Pemain Lain di Suriah?

Terlepas dari apakah keputusan Trump akan bertahan atau tidak, reputasi pemerintahannya kemungkinan besar akan makin tercoreng, karena semakin dilihat oleh sekutu di seluruh dunia sebagai pemerintahan yang tidak menentu dan tidak dapat diandalkan.

Fakta bahwa AS mengecewakan sekutu Kurdi mereka akan menyulitkan pasukan lain di Timur Tengah untuk memercayainya.

Perlu dicatat bahwa 2.000 pasukan AS di Suriah tidak memiliki peran agresif, dan menarik mereka bukan berarti AS akan kehilangan kemampuannya untuk meluncurkan serangan udara ketika diperlukan. Tetapi simbolisme penarikan itu signifikan ketika menyangkut kekuatan komitmen AS di Suriah.

Pada saat yang sama, penerima keuntungan yang paling jelas dari keputusan Trump mungkin menghadapi kesulitan yang tak terduga, sebagai akibat dari penarikan AS.

Langkah Trump menyerahkan beban untuk menyelesaikan situasi di Suriah utara kepada Rusia dan Turki, yang mungkin mengarah kepada celah dalam aliansi mereka seiring mereka berjuang untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh AS.

Baca juga: Rencana Trump di Suriah: Menarik Diri atau Menyerah?

SDF kemungkinan besar akan semakin dekat dengan Rusia sekarang dan memperluas keterlibatannya dengan Damaskus, yang berpotensi menyerahkan pos perbatasan di perbatasan Turki ke rezim Suriah sebagai cara untuk membangun zona penyangga terhadap kemungkinan serangan Turki.

Adapun bagi Iran, penarikan AS dari Suriah mungkin melemahkan argumennya untuk tetap menempatkan pasukan di negara itu. Dan pemerintahan Trump mungkin masih bisa mencapai kesepakatan dengan Rusia untuk membatasi kehadiran Iran di Suriah.

Pemerintahan Trump harus menjelaskan banyak hal dalam beberapa minggu mendatang mengenai batas waktu penarikan ini, dan apa yang harus diharapkan sekutu AS untuk bergerak maju.

Penarikan pasukan AS tanpa menetapkan kondisi yang diperlukan, dapat menyebabkan reaksi, atau dalam skenario terburuk—sebuah konfrontasi terbuka antara pasukan Turki dan Kurdi.

AS tidak memiliki strategi bagaimana tetap tinggal di Suriah, dan sekarang AS jelas tidak memiliki strategi bagaimana cara pergi dari sana.

Joe Macaron adalah seorang peneliti di Arab Center Washington DC.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Pada 19 Desember, Presiden AS Donald Trump menyatakan kemenangan atas ISIS di Suriah, dan mengumumkan penarikan seluruh 2.000 pasukan AS dari negara itu. (Foto: Reuters)

Mengapa Amerika Mundur dari Perang Suriah?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top