Opini: Mengapa China akan Unggul dalam Perlombaan Senjata Nuklir
Asia

Opini: Mengapa China akan Unggul dalam Perlombaan Senjata Nuklir

Kendaraan militer China yang membawa rudal balistik DF-26 melewati gerbang Tiananmen saat sebuah pawai militer untuk memperingati ulang tahun ke 70 akhir Perang Dunia II, di Beijing, September 2015. (Foto: AP)
Home » Featured » Asia » Opini: Mengapa China akan Unggul dalam Perlombaan Senjata Nuklir

Akankah perang dingin kembali terjadi? Mungkin saja sudah atau mungkin saja belum, namun kembalinya gaya perlombaan senjata nuklir seperti pada perang dingin jelas-jelas telah kembali dilakukan, pada saat tiga negara dengan militer terkuat di dunia mendendangkan lagu yag sama, mengekspresikan keinginnan mereka untuk meningkatkan kapabilitas nuklir mereka.

Oleh: Cary Huang (South China Morining Post)

Dalam Nuclear Posture Review 2018 yang baru saja mereka publikasikan, Pemerintahan Trump menyerukan agar pencegahan nuklir diperkuat untuk menghadapi “tumbuhnya ancaman” dari “kekuatan revisionis” China dan Rusia, yang keduanya sedang bersusah payah untuk memodernisasi gudang senjata mereka.

    Baca Juga : Daniel Ellsberg: ‘Mesin Hari Kiamat’ dan Ancaman Konflik Nuklir Terulang Kembali

Presiden Rusia Vladimir Putin sedang mendorong sebuah program untuk meningkatkan 90 persen kekuatan nuklir negaranya, yang merupakan kekuatan nuklir terbesar di dunia, menuju 2021. Presiden Xi Jinping baru saja mempublikasikan program ambisiusnya untuk membangun militer “kelas dunia” pada tahun 2050 untuk merealisasikan “mimpi China”-nya untuk “peremajaan nasional.” Dorongan dari pembangunan tersebut untuk mengembangkan gudang nuklir mereka menjadi semakin lantang.

Perlombaan senjata nuklir merupakan pusat bagi perang dingin. Doktrin mengenai kepastian kehancuran mutual menjelaskan bagaimana kekuatan sejati dari senjata nuklir dan ketakutan bahwa penggunaan senjata tersebut akan meyakinkan negara-negara untuk menahan diri dari melakukan perlombaan senjata nuklir, karena tidak akan ada pemenang dalam perlombaan senjata nuklir.

Mungkin fakta bahwa bom hidrogen yang diledakkan oleh Amerika Serikat pada 1952 sebenarnya memiliki kekuatan 2500 kali lebih dahsyat ketimbang bom atom Hiroshima yang berujung pelucutan senjata nuklir global dan gerekan nirproliferasi – yang menjadi tonggak membaiknya hubungan AS-Soviet pada 1970an, melalui penandatanganan  Kesepakatan Non-Proliferasi Senjata Nuklir di 1968 dan serangkaian perundingan pembatasan senjata strategis semenjak awal 1970an.

Tetap saja, ketakutan bahwa perang konvensional yang terjadi antar negara yang memiliki senjata nuklir, seperti yang dapat dilihat dalam konflik militer antara India dengan Pakistan, juga mungkin memicu terjadinya perang nuklir. Faktanya adalah selama senjata nuklir masih ada di dunia, akan selalu ada ancaman bahwa senjata tersebut akan digunakan.

Ulasan kebijakan AS kemungkinan besar merupakan dorongan pertama kompetisi antara negara-negara besar yang memiliki kekuatan nuklir. Disaat trio penguasa senjata nuklir mulai mempercanggih gudang nuklir mereka, apa yang akan dilakukan oleh Inggris dan Perancis? dan bagaimana dengan Israel, India, Pakistam, Korea Utara, dan Iran? dan bagaimana dengan negara-negara yang tidak memiliki nuklir?

Diantara tiga besar, China merupakan negara yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk memperluas gudang nuklir mereka, dalam sudut pandang kerugian komparatif kekuatan nuklir, yang tidak kompatibel dengan peningkatan kekuatan nasional mereka dengan cepat.

China belum pernah mendeklarasikan skala persediaan nuklir mereka namun Stockholm International Peace Research Institure telah menempatkan mereka sebagai negara terbesar keempat dengan persenjataan nuklir, dengan kepemilikan 270 hulu ledak. AS dan Rusia masing-masing memiliki 7000 hulu ledak. Perancis memiliki 300 dan Inggris memiliki 215.

    Baca Juga : Risiko Persaingan Nuklir Rusia-Amerika Membuat Dunia Cemas

China telah lama berkomitmen pada prinsip untuk tidak menjadi yang pertama dalam menggunakan senjata nuklir “kapan saja dalam keadaan apapun” dan telah berjanji untuk tidak menggunakan senjata nuklir melawan negara nirnuklir. China mempertahankan strategi “serangan kedua”, yang berarti “bertahan dalam serangan pertama dan kemudian membalas dengan kerusakan yang tidak dapat diterima musuh” sebagai pencegah nuklir.

Tapi China, seperti kekuatan besar yang telah bangkit, juga tidak mungkin selamanya menerima inferioritas nuklir multlak karena mereka berusaha untuk melanjutkan status historisnya sebagai kekuatan dunia yang hebat. Selain itu, superioritas Amerika dan kemampuannya untuk mengurangi atau menghilangkan kemampuan China dalam melakukan serangan balasan, dapat memaksa pemerintah China untuk mempertimbangkan sikap mereka untuk tidak menyerang terlebih dahulu.

China kemungkinan akan mempercepat pengembangan nuklirnya dan meningkatkan kemampuan pencegahannya dalam lomba mengejar ketertinggalan, karena hasutan akan perang nuklir terus berlanjut.

Cary Huang adalah seorang penulis senior di South China Morning Post. Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Kendaraan militer China yang membawa rudal balistik DF-26 melewati gerbang Tiananmen saat sebuah pawai militer untuk memperingati ulang tahun ke 70 akhir Perang Dunia II, di Beijing, September 2015. (Foto: AP)

Opini: Mengapa China akan Unggul dalam Perlombaan Senjata Nuklir
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top