Mimpi Nobel Perdamaian Trump adalah Mimpi Buruk Jepang
Global

Mimpi Nobel Perdamaian Trump adalah Mimpi Buruk Jepang

Berita Internasional >> Mimpi Nobel Perdamaian Trump adalah Mimpi Buruk Jepang

Donald Trump sesumbar bahwa Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah menuliskan surat nominasi yang “indah” sepanjang lima halaman, agar Presiden Amerika Serikat itu dianugrahi Nobel Perdamaian. Menjadi pendukung untuk delusi Nobel Trump akan menjadi racun bagi latar belakang dinasti Abe ini. Abe sekarang memiliki lima halaman alasan “indah” untuk hidup dalam ketakutan yang konstan akan pengkhianatan―dan penyiksaan nasional.

Oleh: William Pesek (Forbes)

Baca Juga: Di Era Donald Trump, Nuklir adalah Senjata Pertahanan Jepang

Ketika taruhan politik berlangsung, taruhan Shinzo Abe pada Donald Trump November 2016 mungkin akan menjadi yang terburuk dalam sejarah modern.

Sembilan hari setelah kemenangan mengejutkan pemilihan presiden AS, perdana menteri Jepang melaju ke Trump Tower di New York, pemimpin negara pertama yang melakukannya. Pada saat itu, pemerintah Jepang menandai kunjungan tersebut sebagai langkah politik yang cerdas. Menjadi orang pertama yang bertekuk lutut sebelum Donald menempatkan Jepang dalam rahmat transaksional Gedung Putih. Ini akan menjaga aliansi keamanan Jepang-AS dan memberi pemerintah Jepang akses perdagangan istimewa.

Semua itu berubah setelah 825 hari.

Petunjuk pertama bahwa penghormatan sejati mungkin tidak menjadi ciri bromance ini adalah Trump membawa anak-anaknya ke pertemuan itu pada 17 November 2016. Trump resmi melakukan persis apa yang tidak Abe inginkan: menarik AS keluar dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP).

Abe menghabiskan empat tahun sebelumnya membujuk Partai Demokrat Liberal yang proteksionis untuk bergabung dengan skema TPP 12 negara ambisius Barack Obama. Trump kemudian mendukung Kim Jong-un Korea Utara dengan cara yang membahayakan keamanan Jepang. Setelah itu, ia meluncurkan perang dagang yang membahayakan upaya Abe selama enam tahun untuk mengalahkan deflasi.

Namun penyerahan harga diri terakhir Abe pada Trump mungkin menjadi yang paling parah: berita ia menominasikan pemimpin AS yang kacau itu untuk penghargaan manusia yang paling berharga.

“Perselisihan antara Abe dan Trump bergejolak, tetapi mungkin tidak ada yang lebih memalukan Abe daripada Trump yang mengungkapkan bahwa Abe menominasikannya untuk Hadiah Nobel Perdamaian,” kata Jeff Kingston, direktur studi Asia di kampus Universitas Temple di Tokyo. “Itu membuat Abe tampak sangat butuh untuk menjalin hubungan dengan Trump, presiden AS yang paling tidak populer di Jepang.”

Baca Juga: Peraih Nobel Ramos-Horta Desak Diadakannya Dialog antara Indonesia-Papua

Presiden AS Donald Trump, kiri, menyambut Shinzo Abe, perdana menteri Jepang, ketika ia tiba di Gedung Putih di Washington, DC, pada 10 Februari 2017. (Foto: Bloomberg/Andrew Harrer)

Ketika 127 juta orang Jepang kecewa dengan ini, apakah mereka berupaya membuat perubahan? Para pembuat kebijakan yang terkejut tentu saja angkat suara, menanyai Abe di parlemen pada hari Senin (18/2). Dia menolak untuk mengonfirmasi bahwa dia telah melakukan penawaran dengan Trump. Namun dia mengatakan, “Saya tidak pernah mengatakan saya tidak” mencalonkan Trump untuk pertemuan puncaknya dengan Kim Jong-un Juni lalu.

Masalah ini bisa meledak dengan cara yang tidak terduga. Seperti yang dikatakan Yuichiro Tamaki, seorang anggota parlemen oposisi, di Twitter: tindakan seperti itu akan “mengirim pesan yang salah ke Korea Utara dan seluruh masyarakat internasional.” Ini juga mengirimkan pesan terakhir kepada orang-orang Jepang yang tidak ingin disampaikan oleh Abe: bahwa Abe, seorang nasionalis yang bangga dan bersemangat, benar-benar hanya pengikut Trump di Asia.

“Abe pasti gelisah akan kemungkinan bahwa Trump mungkin benar-benar akan mempublikasikan surat itu,” Kingston menjelaskan. “Mungkin sulit bagi Abe untuk hidup dengan menjilat dan berlutut untuk seorang pembual yang tidak pantas.”

Ini memberi sorotan tajam pada kenaifan Abe untuk berteman dengan Trump. Sampai sekarang, banyak pemilih telah mengambil pandangan kolektif tentang era Trump yang dapat disimpulkan seperti ini: Pilihan apa yang dimiliki Jepang? Mereka berada di lingkungan yang berbahaya secara unik di mana Tokyo bergantung pada payung militer Amerika. Walaupun Trump sering tidak menentu, Abe harus melakukan yang terbaik untuk Jepang.

Tarif Trump sudah membuat disonansi kognitif ini sulit dipertahankan. Hingga kuartal ketiga 2018, Jepang telah menikmati ekspansi terpanjang sejak 1980-an. Penurunan 2,5 persen dalam pertumbuhan tahunan dari Juli hingga September sebagian berkat Trump.

Saat ini, negosiator Trump sedang berunding dengan China. Berikutnya mereka akan berunding dengan Tim Abe. Prioritas utama Trump adalah kesepakatan perdagangan bilateral dengan Jepang.

Dengan prospek legislatifnya yang semakin gelap dan investigasi di dalam negeri, Trump melihat Jepang sebagai upaya terbaiknya untuk meraih kemenangan di panggung dunia. Siapa orang yang lebih baik untuk mencari bantuan daripada sahabat setianya, Abe di Tokyo?

Abe, memberi alasan Trump untuk melihatnya sebagai orang yang tunduk padanya. Trump mencium kelemahan. Dan kunjungan Abe ke Trump Tower itu lebih terlihat seperti keputusasaan daripada kekuatan. Trump tahu dia memiliki kesetiaan Jepang, seperti yang telah diketahui Korea Selatan.

Pertama, Trump memaksa Seoul untuk menegosiasikan kembali kesepakatan perdagangan bebas tahun 2012, yang menunjukkan rasa tidak hormatnya pada sekutu utama AS. Baru-baru ini, Trump memberi Presiden Moon Jae-in $500 juta untuk membayar pasukan AS di semenanjung Korea.

Jepang sudah cukup menahan beban ketidakpuasan publik dengan pangkalan Amerika, khususnya di Okinawa. Menyuruh Jepang untuk mendapatkan lebih banyak uang akan menimbulkan pertanyaan tentang taruhan Abe pada Trump.

Presiden tidak melakukan transaksi dagang. Dia melakukan penggeledahan. Tentu, Jepang memiliki pengaruh. Utang Perbendaharaan AS senilai $1,1 triliun yang dimilikinya merupakan titik tekanan. Pembuat mobil Jepang, sementara itu, mempekerjakan lebih dari 1,5 juta orang Amerika yang mereka selalu dapat pindahkan ke Kanada atau Meksiko.

Baca Juga: Perdagangan Uni Eropa-Jepang: 5 Hal tentang Kesepakatan Terbesar di Dunia

Namun Abe secara konsisten tampak ketakutan oleh keinginan Trump. Sekarang Trump memegang apa yang disebutnya “salinan paling indah” dari sebuah surat nominasi lima halaman Abe yang ditulis di Tokyo. Adakah yang benar-benar percaya bahwa Trump tidak akan membocorkannya untuk mempermalukan Abe? Untuk menjaga Tokyo sejalan dengan kebijakan Trump terhadap Korea Utara, China, Iran atau bahkan Jerman?

Jangan mengecilkan potensi absurditas Nobel ini. Seluruh modus operandi Abe sebagai politisi sedang memulihkan kehebatan Perang Dunia II Jepang. Tugas pertamanya sebagai perdana menteri dari tahun 2006 hingga 2007 dihabiskan untuk mencoba merevisi Konstitusi pasifis yang ditujukan pada generasi kakeknya (kakeknya Nobusuke Kishi adalah anggota kabinet masa perang) oleh para penculik Amerika.

Menjadi pendukung untuk delusi Nobel Trump akan menjadi racun bagi latar belakang dinasti Abe ini. Abe sekarang memiliki lima halaman alasan “indah” untuk hidup dalam ketakutan yang konstan akan pengkhianatan―dan penyiksaan nasional.

Ini telah menjadi bahan lelucon untuk para komedian di acara-acara larut malam, dengan tawa yang akan merugikan Jepang. Twitter ramai membahas tentang siapa yang mungkin memainkan Abe dalam drama pendek “Saturday Night Live” yang akan bermain dengan Alec Baldwin yang memerankan Trump.

Alec Baldwin muncul sebagai Presiden Trump di salah satu episode Saturday Night Live pada 24 Agustus 2017. (Foto: NBC/NBCU Photo Bank/Getty Images/Rosalind O’Connor)

Abe melihat tidak ada yang lucu tentang upayanya untuk membuat kekuatan global Jepang hebat lagi. Itu sebabnya mimpi Nobel Trump hanya akan menjadi mimpi buruk Tokyo.

William Pesek adalah seorang jurnalis yang berbasis di Tokyo, mantan kolumnis untuk Barron’s dan Bloomberg dan penulis “Japanization: What the World Can Learn from Japan’s Lost Decades.” Penghargaan jurnalisme saya termasuk hadiah Society of American Business Editor dan Writer untuk komentar.

Keterangan foto utama: Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menghadiri konferensi pers setelah pertemuan dengan Presiden terpilih AS Donald Trump pada 17 November 2016 di New York. (Foto: AFP/Getty Images/Kena Betancur)

Mimpi Nobel Perdamaian Trump adalah Mimpi Buruk Jepang

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top