Pemakaman George H.W. Bush adalah Penolakan Kuat terhadap Trump
Opini

Pemakaman George H.W. Bush adalah Penolakan Kuat terhadap Trump

Berita Internasional >> Pemakaman George H.W. Bush adalah Penolakan Kuat terhadap Trump

Pemakaman George H.W. Bush sama sekali bukan tentang Donald Trump. Namun di saat yang sama, hal itu juga merupakan segala sesuatu tentang Trump, atau tepatnya, tentang sesuatu yang sama sekali tidak seperti Trump. Mereka yang berpidato untuk mendiang mantan presiden itu, memuji dan merayakan sifat-sifat yang dicemooh dan tak dimiliki oleh sang presiden saat ini.

Oleh: Dana Milbank (The Washington Post)

Baca Juga: Bagaimana George H.W. Bush Menjadi Seorang Demokrat Amerika

George Herbert Walker Bush, sebelum kematiannya mengatakan bahwa dia ingin Presiden Donald Trump untuk menghadiri pemakamannya—sikap murah hati yang memaafkan serangkaian hinaan yang dihujani oleh Trump kepada keluarga Bush.

Itu adalah pertunjukan terakhir dari penilaian yang dilakukan Bush dalam hidupnya.

Nama Trump tidak pernah disebutkan oleh empat orang yang menyampaikan pidato pada pemakaman di Washington National Cathedral pada Rabu (5/12). Tapi kata-kata mereka merupakan teguran implisit dari segala yang dilakukan Trump. Mereka berbicara tentang apa yang menjadikan Bush seorang pemimpin hebat, yang merupakan ciri-ciri yang—tanpa sifat-sifat itu—membuat Trump sangat tidak mampu.

Selama pidatonya, penulis biografi Bush Jon Meacham mengidentifikasi “ribuan titik cahaya” Bush—sebuah istilah yang ditertawakan Trump—sebagai “kalimat pendamping” bagi “malaikat-malaikat kita yang lebih baik” dari Abraham Lincoln, karena “Lincoln dan Bush menyerukan kepada kita untuk memilih yang benar di atas yang nyaman, untuk berharap daripada takut, dan untuk tidak menghiraukan dorongan terburuk kita, tetapi naluri terbaik kita.”

Dan di sana, di bangku depan, terdapat Trump, yang memimpin dengan memicu rasa takut dan membenarkan dorongan dasarnya.

George W. Bush bercerita tentang ayahnya: “Dalam kemenangan, ia memberikan pujian. Ketika dia kalah, dia memikul kesalahannya.” Bush menyebut “persahabatan” yang paling tidak biasa dengan Bill Clinton, ketika mereka berubah dari “lawan menjadi saudara”.

Trump—beberapa kursi dari mantan Presiden Clinton—berganti-ganti antara melipat tangan tanpa ekspresi di dadanya, dan condong ke depan dengan tidak nyaman. Mungkinkah dia memahami gagasan tentang memberi pujian, menerima kesalahan, atau memaafkan?

Teman Bush, Alan Simpson—mantan senator Wyoming—mengatakan bahwa Presiden ke-41 itu “tidak pernah membenci siapa pun” dan kesetiaan “mengalir melalui darahnya,” termasuk “kesetiaan kepada lembaga-lembaga pemerintah.” Ini harus dimengerti oleh Trump, yang menyebarkan kebencian melalui 280 karakter, menuntut kesetiaan tetapi tidak menawarkan imbalan, dan menghancurkan lembaga-lembaga pemerintahan untuk kesenangannya sendiri.

Dan Presiden Trump, walau tidak melakukan refleksi diri, tapi tidak bisa melewatkan teguran yang disampaikan oleh ahli pidato lain, mantan Perdana Menteri Kanada Brian Mulroney, yang memuji Bush karena merundingkan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (yang Trump sebut sebagai “kesepakatan perdagangan terburuk dalam sejarah ”); untuk isu lingkungan (yang dicemooh Trump); dan untuk kepemimpinan internasional (yang Trump tolak).

“Ketika George Bush menjadi presiden,” kata Mulroney, “setiap kepala pemerintahan di dunia tahu bahwa mereka berurusan dengan seorang pria, pemimpin sejati, orang yang terhormat, teguh, dan berani.”

Adakah yang bisa membayangkan, bertahun-tahun kemudian, pemimpin dunia selain diktator dan orang kuat seperti Vladimir Putin atau Mohammad bin Salman dari Arab Saudi, yang memberikan pujian kepada presiden saat ini, tentang keramahan dan keberanian?

Pemakaman Bush adalah penolakan kuat terhadap penggantinya saat ini, karena itu adalah perayaan karakter. Persahabatan disebutkan sebanyak 21 kali oleh mereka yang berpidato pada pemakaman. Kesetiaan, 10 kali. “Kehormatan,” “integritas,” “martabat,” “kesopanan”, dan perdamaian batin, semuanya disebutkan.

Tentu saja, Bush bisa menjadi partisan yang ganas dan politisi yang brutal (ingat Willie Horton?), tetapi pelayanannya dalam Perang Dunia II—ia ditembak jatuh di Pasifik—memberikannya pelajaran yang memicu kebesaran generasinya: Oposisi bukanlah musuh. Ada hal-hal yang lebih besar dari diri kita. Kekalahan politik bukanlah yang terburuk. Dan kepemimpinan Amerika di dunia sangat diperlukan.

Trump—yang merasa tidak ada yang lebih besar dari dirinya—harus berjuang untuk duduk selama 90 menit, dalam sesuatu yang tidak semuanya tentang dirinya. Malahan, itu semua tentang segalanya yang bukan dia.

Meacham—yang menggambarkan kepemimpinan Bush dalam gaya George Washington dan kedua Roosevelt—mengingat bagaimana Bush “berbicara dengan tangan-tangan besar dan kuat” (apakah dia menyindir Trump?), dan berdiri melawan totalitarianisme dan partisan buta. “Dan di bawah pengawasannya, tembok jatuh di Berlin, agresi seorang diktator tidak bertahan, dan pintu di seluruh Amerika terbuka bagi mereka yang berkekurangan,” kata Meacham—di depan seorang presiden yang akan membangun tembok, yang mendukung diktator, dan yang secara terbuka mencemooh kekurangan jurnalis.

Aturan kehidupan Bush, kata Meacham, dimulai dengan “mengatakan yang sebenarnya” dan “jangan menyalahkan orang.” Seorang Presiden yang menentang kebenaran dan selalu menyalahkan, hanya bisa mendengarkan.

Mulroney memuji kepemimpinan Bush atas keberhasilan reunifikasi Jerman “dalam NATO yang tak tergoyahkan” (yang kegunaannya telah dipertanyakan oleh Trump) dan aksi militer yang menang melawan Irak “di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa” (target favorit Trump lainnya).

Simpson melanjutkan perbedaan implisit tersebut, mengingat keputusan Bush yang secara politik merusak untuk mencapai kesepakatan yang menaikkan pajak, karena “itu bukan tentang Demokrat atau Republik, itu untuk negara kita.” Pendeta Bush, Pendeta Russell Levenson, melanjutkan perbedaannya, menyerukan bahwa Bush berteman dengan orang Yahudi dan Muslim.

Presiden ke-43, George Bush, meramalkan bahwa sejarah akan mengingat ayahnya sebagai “diplomat dengan keterampilan yang tak tertandingi” dan “seorang pria yang menjalankan tugasnya dengan martabat dan kehormatan.” Sejarah sudah mengingatnya.

Bush junior mengeluarkan isakan saat dia menutup pidatonya, lalu memberi peti ayahnya sebuah tepukan perpisahan. Saya sedih juga, karena kepemimpinan yang layak dan terhormat—yang sekarang hilang—mencerminkan kebesaran sejati Amerika.

Baca Juga: Bagaimana Kartun Kematian George H. W. Bush Menyentuh Keluarganya

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Mantan Presiden George W. Bush berjalan melewati Presiden Trump di pemakaman mantan Presiden George H.W. Bush di Washington pada Rabu (5/12). (Foto: Reuters)

Pemakaman George H.W. Bush adalah Penolakan Kuat terhadap Trump

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top