Militer Venezuela
Amerika

Pengakuan Seorang Jenderal: Mengapa Militer Venezuela Masih Dukung Maduro

Tentara berpartisipasi dalam sebuah parade militer-sipil untuk memperingati kemerdekaan Venezuela di Caracas, Venezuela, 5 Juli 2018. (Foto: EPA-EFE/REX/Cristian Hernández)
Berita Internasional >> Pengakuan Seorang Jenderal: Mengapa Militer Venezuela Masih Dukung Maduro

Walau Juan Guaido telah menjadi Presiden sementara Venezuela dan menyingkirkan Nicolas Maduro, namun komando tinggi militer Venezuela masih belum mengakui Guaido sebagai presiden sementara atau sebagai panglima angkatan bersenjata. Seorang jenderal yang diasingkan, Antonio Rivero, memaparkan mengapa militer Venezuela masih mendukung Maduro dan menolak untuk menentangnya.

Baca juga: Nicolas Maduro Tolak Ultimatum Uni Eropa untuk Adakan Pemilu

Oleh: Antonio Rivero (The Washington Post)

Pada bulan September tahun lalu, dengan Venezuela berada dalam pergolakan bencana kemanusiaan, saya bertemu dengan Juan Guaido di Miami untuk membahas situasi politik di negara kami. Pada bulan Mei, Nicolás Maduro terpilih kembali sebagai presiden dalam pemilu yang dikecam oleh banyak komunitas internasional karena tuduhan penipuan yang tersebar luas.

Pada saat itu, saya memiliki harapan besar bahwa Guaido—yang siap menjadi Presiden Majelis Nasional pada 5 Januari—kemudian dapat menjabat, menurut Konstitusi, sebagai presiden sementara negara itu pada 10 Januari, tanpa adanya pemimpin yang dipilih secara sah.

Walau itu memang terjadi—Guaido mengambil sumpah jabatannya pada 23 Januari, dan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS), telah mengakui dia sebagai presiden sementara—namun sebagian besar militer Venezuela terjebak di sisi Maduro.

Guaido, yang saya sebut presiden, membutuhkan dukungan militer untuk mengambil alih kekuasaan. Tetapi komando tinggi militer Venezuela masih belum mengakui Guaido sebagai presiden sementara atau sebagai panglima angkatan bersenjata, meskipun ini menjadi pilihan terbaik untuk menghindari perang internal atau intervensi internasional.

Sayangnya, mencoba membalik posisi militer akan menjadi perjuangan yang berat. Saya memegang pandangan ini berdasarkan apa yang saya dengar dari para pejabat militer—di mana saya tetap berhubungan baik dengan mereka—dan berdasarkan 30 tahun saya berada di militer (pertama saya bertugas sebagai tentara aktif dan kemudian menjadi brigadir jenderal). Ada sejumlah faktor yang sejauh ini menghalangi militer untuk secara resmi mengakui Guaido.

Pertama, dalam komando tinggi militer, ada komitmen berbakti yang sangat diresapi kepada mendiang Presiden Hugo Chavez dan ideologinya. Ini sebagian karena kenaikan pangkat sering kali didasarkan pada kesetiaan seperti itu, dan Maduro diketahui kadang-kadang menyingkirkan anggota yang tidak loyal. Kedua, angkatan bersenjata menerima hak istimewa di tingkat tertinggi, seperti kenaikan pangkat, bonus, dan suap.

Ketiga, banyak anggota militer terlibat dalam kegiatan terlarang seperti perdagangan narkoba. Mereka yang berpangkat lebih tinggi sering mengarahkan operasi-operasi itu, dan beberapa juga telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka takut ditahan dan dihukum jika Maduro jatuh. Penolakan komando tinggi militer untuk mendukung Guaido membuat angkatan bersenjata tampak—dari luar—sebagai lembaga monolitik yang setia kepada Maduro.

Venezuela

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengambil bagian dalam latihan militer di Valencia, Venezuela, 27 Januari 2019. (Foto: Istana Miraflores/Handout/Reuters)

Namun, ada bukti meningkatnya ketidakpuasan di kalangan pejabat militer menengah ke bawah, di mana banyak di antara mereka sadar akan ilegalitas Maduro. Sejumlah besar profesional dan pasukan telah meninggalkan barak selama setahun terakhir, baik mangkir maupun mundur dari dinas. Juga selama setahun terakhir, semakin banyak anggota militer yang aktif berdemonstrasi dalam protes terhadap Maduro. Ratusan dari mereka telah ditahan.

Saya percaya pemberontakan di dalam militer akan terus berlanjut, terutama dengan hukum amnesti yang baru-baru ini Guaido bantu loloskan di majelis. Undang-undang ini menawarkan jaminan kepada anggota militer bahwa mereka tidak akan dituntut jika mereka tidak mematuhi Maduro. Ini juga membatalkan prosedur hukum apa pun yang ada terhadap mereka yang telah memberontak, dan memungkinkan mereka untuk melanjutkan karier militer mereka, kecuali bagi mereka yang telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Hasil terbaik adalah komando tinggi militer—sebagai kekuatan yang bersatu—untuk secara definitif menyatakan kepatuhan militer terhadap Konstitusi dan mengakui Guaido sebagai presiden sementara dan panglima tertinggi. Ini akan menghindari konflik bersenjata, dan dengan pasukan bersenjata yang disatukan di bawah komando Guaido, dapat membantu lebih lanjut kedatangan bantuan kemanusiaan yang dikoordinasi oleh Guaido, yang telah diblokir oleh militer. Hasil ini akan membawa ketertiban di Venezuela. Tetapi itu juga tidak mungkin terjadi.

Baca juga: Venezuela: Barat Serukan Pemilu Ulang, Maduro Unjuk Kekuatan Militer

Skenario lain adalah bahwa beberapa perwira tinggi—yang sampai sekarang hanya mengakui Guaido secara diam-diam—mengambil sikap tegas dan menyatakan diri mendukung presiden sementara itu. Ini akan menimbulkan kemungkinan bahwa mereka yang mendukung Guaido akan mengikuti panutan mereka dan jajaran pasukan akan mendukungnya. Tetapi dengan skenario ini, ada juga risiko konfrontasi jika tidak semua orang di militer mengikuti.

Terserah militer untuk memecahkan kebuntuan ini. Semua pejabat militer memiliki tugas untuk berdiri di sisi kebebasan dan demokrasi, dan Guaido memimpin di sisi itu. Setiap pejabat militer harus mengingat sumpah yang diambilnya, bukan untuk melayani satu orang atau partai politik, tetapi untuk melayani bangsa. Sudah waktunya bagi kami di militer untuk berkumpul dan membela rakyat Venezuela.

Antonio Rivero adalah seorang jenderal militer Venezuela yang diasingkan. Dia telah tinggal di Miami sejak tahun 2014 setelah melarikan diri dari surat perintah penangkapan karena berpartisipasi dalam demonstrasi melawan rezim Nicolás Maduro.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Tentara berpartisipasi dalam sebuah parade militer-sipil untuk memperingati kemerdekaan Venezuela di Caracas, Venezuela, 5 Juli 2018. (Foto: EPA-EFE/REX/Cristian Hernández)

Pengakuan Seorang Jenderal: Mengapa Militer Venezuela Masih Dukung Maduro

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top