Penilaian Risiko Perang Nuklir India dan Pakistan
Asia

Penilaian Risiko Perang Nuklir India dan Pakistan

Berita Internasional >> Penilaian Risiko Perang Nuklir India dan Pakistan

Dari banyak area konflik global, bisa dibilang yang paling berbahaya adalah konflik antara India dan Pakistan,  dan peristiwa baru-baru ini di Kashmir telah membuat situasi semakin berbahaya. Alasannya: India dan Pakistan berada dalam perselisihan yang sudah berlangsung lama dan rumit, kedua negara adalah kekuatan nuklir, dan melewati ambang batas konfrontasi dapat memicu perang nuklir di antara mereka. Memang, penyelidik kontrol senjata telah lama mengidentifikasi anak benua itu sebagai salah satu titik konflik nuklir yang paling nemungkinkan di dunia.

Oleh: Annie Waqar (The Conversation)

Baca Juga: Jet Tempur MiG-21 India Versus F-16 Pakistan di Atas Langit Kashmir

India dan Pakistan memiliki sejarah panjang dan rumit, dan mereka telah berkonflik mengenai wilayah Kashmir sejak tahun 1947. Wilayah Himalaya adalah salah satu daerah yang paling termiliterisasi di Bumi―mantan presiden AS Bill Clinton menyebut Kashmir “tempat yang paling berbahaya di dunia”.

Di bawah rencana pembagian yang disediakan oleh Undang-Undang Kemerdekaan India tahun 1947, Kashmir dengan mayoritas Muslimnya bebas untuk masuk ke India atau Pakistan. Tetapi penguasa setempat, Hari Singh, memutuskan untuk tidak memberikan penduduk di sana pilihan, meninggalkan wilayah itu berada dalam limbo geopolitik dan dengan perbatasan yang disengketakan. Perang selama dua tahun meletus antara India dan Pakistan pada 1947 dan meletus lagi pada 1965. Pada tahun 1999, krisis Kargil, ketika kedua negara kembali berperang, mungkin merupakan perang yang paling mendekati perang nuklir sejak akhir Perang Dunia II.

Intervensi diplomatik sebelumnya telah membantu meredakan ketegangan militer, tetapi perdamaian abadi tetap sulit dicapai. Kedua belah pihak telah menetap di sepanjang perbatasan yang disengketakan itu dan pertempuran militer adalah hal biasa.

Pertanyaan Nuklir

Telah lama diperdebatkan di kalangan keamanan internasional bahwa memiliki senjata nuklir menghalangi negara untuk menggunakannya dalam peperangan. Memang, di era pasca-Perang Dunia II, belum ada negara yang menggunakannya―meskipun masih ada sekitar 15.000 senjata nuklir di dunia. Tetapi proliferasi nuklir horisontal telah membuat dunia menjadi tempat yang berbahaya; semakin banyak negara yang memilikinya, semakin besar kemungkinan mereka akan digunakan pada tahap tertentu.

Baca Juga: Angkatan Laut Pakistan Hentikan Kapal Selam India Masuki Perairannya

Konflik di jalanan dapat dengan cepat berubah menjadi baku tembak di Kashmir. (Foto: Shutterstock)

Dan walaupun kehadiran senjata nuklir dapat mencegah perang nuklir, senjata nuklir tidak dapat mencegah negara-negara nuklir untuk menggunakan kekuatan militer konvensional masing-masing. Dan, karena konflik konvensional dapat dengan cepat berubah menjadi semakin intens, kemungkinan perang nuklir tetap menjadi kemungkinan nyata, walaupun kecil.

Jadi, seberapa besar kemungkinan India dan Pakistan (yang keduanya memiliki antara 130 dan 150 hulu ledak) untuk terlibat dalam perang nuklir?

Eskalasi konflik baru-baru ini hanyalah salah satu contoh dari ketegangan yang sedang berlangsung antara tetangga nuklir ini. Serangan itu dipicu oleh bom bunuh diri oleh militan Kashmir terhadap konvoi paramiliter India pada pertengahan Februari. Dalam serangan itu, lebih dari 40 orang tewas, sebagian besar personel militer India―dan Jaish-e-Mohammed, sebuah kelompok teroris Islamis yang berlokasi di Pakistan, mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Perdana Menteri India Narendra Modi, saat ini terjebak dalam demam pemilu, memperingatkan “tanggapan yang menghancurkan”, dan melancarkan serangan udara di provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang dikuasai Pakistan. Tidak lama kemudian terjadi baku tembak di Garis Kontrol.

Sementara itu, dalam pidato televisi nasional, perdana menteri Pakistan, Imran Khan, menyatakan bahwa eskalasi lebih lanjut antara kedua negara ini akan berada di luar kendali para pemimpin, memperingatkan:

Dengan senjata yang Anda miliki dan senjata yang kita miliki, dapatkah kita melakukan kesalahan perhitungan? Bukankah kita seharusnya berpikir bahwa jika konflik ini semakin intens, apa yang akan terjadi?

Keputusan sekarang ada di India. Modi memiliki pilihan untuk mengeskalasi konflik dengan mengerahkan lebih banyak jet ke wilayah Pakistan, yang bisa mengarah pada serangkaian serangan pembalasan. Jadi apa yang akan terjadi selanjutnya?

Baca Juga: Pakistan yang Terasingkan adalah Kemenangan Terbesar India

Modi menghadapi pemilu tahun ini. (Foto: Shutterstock)

Sejak tahun 1974, ketika India mengejutkan dunia dengan percobaan atomnya yang tak terduga yang dinamai “Smiling Buddha” atau “Buddha Tersenyum”, Asia Selatan dipandang sebagai masalah nuklir global. Namun demikian, sampai saat ini, India, seperti China, telah mempertahankan doktrin “No First Use” (janji atau kebijakan oleh kekuatan nuklir untuk tidak menggunakan senjata nuklir sebagai sarana perang kecuali diserang lebih dulu oleh musuh).

Ini berarti India hanya akan menggunakan senjata nuklirnya untuk menanggapi serangan nuklir. Kebijakan itu diproklamasikan pada tahun 1999, setahun setelah Pakistan secara efektif meledakkan lima senjata nuklirnya sendiri. Tetapi Pakistan sejauh ini menolak untuk mengeluarkan doktrin yang jelas yang mengatur penggunaan senjata nuklirnya sendiri.

Konsekuensinya Tinggi

Persenjataan gabungan Pakistan dan India kecil dibandingkan dengan AS, Rusia atau China. Namun demikian, mereka lebih kuat daripada yang dijatuhkan di Jepang pada tahun 1945 dan dapat menimbulkan kehancuran yang mematikan jika digunakan pada sasaran sipil. Memang, saling tembak hulu ledak antara kedua negara akan, dalam sepersekian detik, menjadi salah satu yang paling berbahaya yang pernah terjadi, terlepas dari risiko dampak radioaktif dan dampak jangka panjang pada lingkungan.

Kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir India, INS Arihant, mulai beroperasi pada tahun 2018, yang membuat India berstatus “triad nuklir”―kemampuan untuk meluncurkan serangan nuklir melalui darat, udara, dan laut. Rudal balistik darat lainnya, Agni III, memiliki jangkauan sekitar 3.000 km.

Baca Juga: Setelah Kalah dari Pakistan, Muncul Keraguan pada Militer Kuno India

Kedua negara memiliki antara 130 dan 150 senjata nuklir. (Foto: Shutterstock)

Walaupun Pakistan memiliki persenjataan nuklir yang sedikit lebih besar―diperkirakan 140-150 hulu ledak pada tahun 2017―Pakistan kurang mampu mengirimkannya ke sasaran. Meskipun Pakistan sedang mengembangkan rudal balistik baru, jangkauan rudal balistik saat ini adalah 2.000 kilometer dan negara itu tidak memiliki kapal selam bersenjata nuklir. Apa pun itu, meluncurkan rudal nuklir dari Pakistan untuk mencapai India, dan sebaliknya, hanya akan memakan waktu kurang dari empat menit.

Skenario terburuknya adalah bahwa, baik melalui kecelakaan atau kesalahan, apa yang dimulai dengan serangan teroris ini akan berkembang menjadi perang nuklir dengan sasaran penduduk sipil masing-masing. Kemajuan teknologi juga dapat memperburuk situasi yang sudah membara ini. BrahMos, gudang senjata India, berisi rudal jelajah yang dikembangkan bersama dengan Rusia, yang dapat ditembakkan dari darat, laut atau udara dan digunakan sebagai senjata tandingan. Doktrin Counterforce, dalam strategi nuklir, berarti penargetan infrastruktur militer lawan dengan serangan nuklir.

Ketidakpuasan di lembah Kashmir juga bisa mengintensifkan dan menyebabkan krisis lebih lanjut. Sejauh ini tidak ada pemerintah India yang menunjukkan kemauan politik untuk menyelesaikan krisis Kashmir, melemahkannya, atau menerapkan kecakapan diplomatik yang diperlukan untuk merundingkan solusi dengan Pakistan. Modi juga tidak mampu mengendalikan dan mencegah orang-orang Hindu garis keras untuk membentuk kelompok main hakim sendiri di wilayah tersebut dan mengancam serta membunuh mereka yang mereka anggap mencemarkan keyakinan agama mereka. Jadi, setiap hari, warga sipil terus menderita.

Di masa lalu, selama episode ketegangan global, AS telah memimpin dalam manajemen krisis. Tetapi tampaknya tidak mungkin bahwa pemerintah Pakistan atau India akan berpaling ke pemerintahan Trump untuk meminta bantuan dalam mengurangi konflik. Para pemimpin dari kedua negara juga harus mempertimbangkan reaksi dari kekuatan nuklir ketiga Asia, China, yang selalu menjadi fokus utama program nuklir India.

Untuk saat ini, India dan Pakistan menunjukkan penahanan diri masing-masing. Tetapi mereka juga harus berupaya menuju perbaikan jangka panjang. Hal terakhir yang ingin dilihat oleh pemerintah, atau dunia, adalah awan jamur.

Annie Waqar adalah Dosen, Departemen Politik dan Hubungan Internasional, Universitas Westminster

Keterangan foto utama: Orang-orang meneriakkan slogan-slogan anti-India selama protes terhadap India, di Karachi, Pakistan. 3 Maret 2019. (Foto: EPA)

Penilaian Risiko Perang Nuklir India dan Pakistan

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top